MANAGED BY:
KAMIS
23 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:47
Minum Air Mentah dari Sumur, Jalan 13 Km Cari Santri yang Hilang

Kisah Warga Kaltim yang Selamat dari Bencana di Sulteng (3)

MASIH TRAUMA: Ramadhan R Lapatang (tengah) bersama orangtuanya saat tiba di PPU, Rabu (3/10).

PROKAL.CO, Santri di Pondok Pesantren  Alkhairaat, Kampus Madinatul Ilmi Dolo, Sigi, tengah bersiap menunaikan salat Magrib berjamaah, saat gempa menghantam Sulawesi Tengah (Sulteng). Mereka berlarian menyelamatkan diri. Termasuk Ramadhan R Lapatang, warga Penajam Paser Utara (PPU), yang sedang mengenyam pendidikan di pondok itu.

 RIKIP AGUSTANI, PENAJAM  

 MKANAN terasa hambar di mulut Kasmawati (42). Dia terus memikirkan keselamatan anaknya yang menempuh pendidikan di Sigi. Saat gempa dahsyat mengguncang Palu, Jumat (28/9) petang. Anak keduanya, Ramadhan R Lapatang (16) merantau ke kabupaten yang berbatasan dengan Kota Palu tersebut. Sejak satu setengah tahun lalu. Untuk mendalami ilmu agama di Pondok Pesantren  Alkhairaat, Kampus Madinatul Ilmi Dolo.

 Suaminya, Ruslan (42) pun demikian. Warga Jalan Propinsi, Km 22, RT 06, Desa Sesulu, Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) ini, sibuk mengganti kanal berita nasional yang menayangkan informasi mengenai gempa di Sulteng. Mencari kepastian informasi, keselamatan anaknya yang masih duduk di kelas XI Madrasah Aliyah (MA)–setingkat SMA–tersebut. “Metro TV, Kompas TV. Itu-itu saja pulang balik kita putar,” cerita dia. “Adiknya Rama itu (sapaan akrab Ramadhan R Lapatang), mau nonton Spongebob. Dilarang nonton. Pokoknya berita terus, kita putar,” timpal Kasmawati.

 

          Komunikasi saat itu benar-benar terputus. Sehingga sangat sulit mencari informasi mengenai kondisi Sigi, pasca gempa melanda. Kanal berita nasional pun minim menyampaikan informasi di sana. Sehingga Ruslan dan istrinya tak bisa tenang. Memikirkan kondisi anak mereka yang belum ada kabarnya itu. Hingga Sabtu (29/9) siang, Rama menelepon dan menyampaikan bahwa dirinya dalam kondisi selamat. “Dia menelepon hanya sebentar. Sudah agak tenang setelah itu,” ucapnya.

 

          Rama hanya sesekali mengabarkan kondisinya melalui sambungan telepon yang singkat. Membuatnya berkeinginan menjemput anaknya itu langsung ke Palu. Namun, dilarang oleh Rama. Karena transportasi menuju ke sana, sangat terbatas. Tiba-tiba, Rabu (3/10) dini hari, siswa yang biasa menjadi imam di kampung halamannya, Desa Sesulu, Kecamatan Waru itu kembali mengabarkan akan pulang ke Balikpapan.

Dengan menumpang Pesawat Hercules. Mendengar informasi tersebut, Ruslan bersama sang istri, pagi harinya bergegas berangkat ke Balikpapan. Guna menjemput buah hatinya itu, di Base Ops Lanud Dhomber, Balikpapan. Keduanya baru tiba di PPU sekira pukul 16.30 Wita, Rabu.

 

 

 

          Kaltim Post sempat berbincang dengan Rama beserta keluarganya di kediaman neneknya, RT 06 Kelurahan Sungai Parit, Kecamatan Penajam. Rama sedikit menceritakan kondisi yang dialami saat guncangan gempa melanda Sigi. Tanah tiba-tiba berguncang, setelah azan Magrib selesai dikumandangkan. Rama yang saat itu ingin menunaikan salat berjamaah langsung panik. Dia bersama santri putra lainnya, lantas mengamankan diri ke lapangan di kompleks pesantren. Pun demikian dengan warga yang bermukim di depan pondok pesantren.

 

          Enam bangunan di pesanten itu masih berdiri kukuh. Hanya retakan di dinding, akibat gempa. Namun, beberapa tiang listrik tumbang. Membuat kondisi petang itu menjadi gelap gulita. Bahkan gempa susulan, terjadi hampir setiap 15 menit. Membuat para santri dan warga yang mengamankan diri di lapangan semakin panik. “Alhamdulillah semua santri selamat. Ada yang sedikit luka, karena menyelamatkan diri,” ungkapnya.   

 

          Seluruh santri dan warga sekitar yang mengungsi ke lapangan, terpaksa tidur tanpa alas. Bahkan tak ada tenda untuk bernaung. Mereka tidak memiliki persiapan sama sekali. Sehingga sepanjang malam harus bersiaga. Takut ada gempa susulan dengan getaran yang sama tiba-tiba datang. Akhirnya pada Sabtu (29/9) dini hari, air dari sungai yang tak jauh dari pesantren, masuk membanjiri lapangan tersebut. Membuat mereka kembali mengungsi ke lapangan yang ada di areal bangunan sekolah. Waktu itu, ada sekira 400-an santri putra dan 150-an santri putri beserta warga yang terpaksa mengungsi.

 

          Untuk mencukupi logistik, para santri dan warga terpaksa mengonsumsi air mentah dari sumur bor di pesantren. Pasalnya, harga satu galon air minum cukup mahal. Mencapai Rp 100 ribu per galon. Selama tiga hari, sejak Sabtu (29/9) hingga Senin (1/10) sebelum dievakuasi, mereka harus minum air mentah.

 

 

 

          Jika ingin dimasak, air juga tidak bisa langsung dikonsumsi. Harus menunggu suhu air menurun. Padahal jumlah pengungsi di dalam pesantren cukup banyak, dan mereka membutuhkan air minum cepat. Makanan juga dibatasi. Hanya dijatah satu bungkus mi instan per hari. Karena keterbatasan logistik ini, mereka kadang berebutan untuk mendapatkannya. “Air panas hanya dipakai untuk masak mi,” katanya.

 

          Rama dan beberapa santri lain sempat ditugaskan mencari sisa rekan mereka yang sempat ke luar pondok. Karena sehari sebelum gempa mengguncang Palu, ada beberapa santri yang keluar pesantren tanpa izin. Mereka tidak pulang, setelah menghadiri acara selawatan dengan mendatangkan habib dari Jakarta. Sementara orang tuanya banyak yang datang mencari anak mereka ke pesantren. Rama dan temannya pun berjalan sejauh 13 km dari Pondok Pesantren Alkhairaat Kampus Madinatul Ilmi Dolo di Jalan Palu Kulawi, Km 11, Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, menuju Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.

 

 

          Sebab, menurut informasi, banyak santri yang berada di sana.  Dalam perjalanan, dia melihat banyak mayat korban gempa yang bergelimpangan di pinggir jalan. Ditambah aroma busuk yang menyeruak. Akhirnya beberapa santri yang hilang banyak ditemukan di rumah sakit. “Alhamdulillah semua santri yang hilang sudah ditemukan,” ujarnya.

 

          Selama di pengungsian, jam tidur Rama sangatlah terbatas. Dia sangat bersyukur bisa tidur selama tiga jam, saat tiga hari mengungsi di dalam areal pesantren. Pasalnya getaran terus terjadi hampir setiap jam. Pada malam hari, hujan tiba-tiba di tengah lapangan, tempat mereka beristirahat.

 

          Tidak ada tenda yang menaungi, membuat mereka harus berlindung di teras kelas. Tiba-tiba getaran datang. Mereka harus berlari ke tengah lapangan di tengah guyuran hujan. “Jadi hampir tidak ada tidur. Baju ini saja, belum diganti sejak Sabtu (29/9) lalu. Karena jumlah pakaian terbatas,” ungkapnya.

 

          Peluang untuk pulang datang saat ada salah seorang pengajar di Pondok Pesantren Al-Khairaat, Kabupaten Tana Tidung (KTT), yang ingin menjemput putrinya. Yang juga menjadi santriwati di pondok pesantren tersebut. Seluruh santri yang berasal dari Kalimantan, pun ikut dalam rombongan tersebut. Jumlahnya sebanyak 16 orang. Menggunakan mobil operasional pondok pesantren, mereka menuju Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu. “Penajam cuma saya sendiri. Sisanya santri dari KTT semua,” ucapnya.

 

          Setibanya di Bandara, Rama pun mencari informasi untuk kepulangannya ke Balikpapan. Kondisi bandara saat itu sangatlah kacau. Ribuan orang berebutan ingin mencari penerbangan. Agar bisa keluar dari Palu. Saat itu, ada tiga rute penerbangan yang disiapkan. Yakni penerbangan ke Balikpapan, Manado, dan Makassar.

         

          Menumpang Pesawat Hercules milik TNI. Rama yang tiba sejak Selasa (2/10) pun harus menginap selama semalam. Dia baru berangkat pada Rabu (3/10) sekira pukul 12.00 Wita. Tidak perlu mendaftar untuk menumpang pesawat tersebut. Hanya perlu mengantre sesuai tujuan penerbangannya. Pesawat Hercules yang digunakan untuk mengangkut para korban gempa Palu menuju Balikpapan juga kelebihan muatan. Daya tampungnya hanya sekira 150 orang. Namun rombongan saat itu mencapai 200 orang. Karena saat itu, masih ada sisa 50 orang yang juga ingin berangkat ke Balikpapan, yang merupakan keberangkatan terakhir. Sehingga harus ditampung dalam pesawat. “Jadi duduk berdesakan di dalam pesawat,” kenangnya.

 

          Hingga kemarin, putra kedua dari tiga bersaudara ini masih trauma atas kejadian yang menimpanya di Sigi. Dia pun belum memutuskan untuk kembali menyelesaikan pendidikannya di pesantren di Sigi pascapemulihan nanti. “Belum terpikir ke sana. Apakah akan kembali (ke Sigi) atau mencari sekolah dengan yayasan yang sama atau tidak,” ucapnya. (fir/far/k16)

 

loading...

BACA JUGA

Kamis, 16 Mei 2019 14:55
Berbincang dengan dr Joseph, Bule Brazil Penjaga Pohon Kurma di Islamic Center

Bule Rawat 165 Pohon Kurma tanpa Digaji, Yakin Kurmanya Berbuah Tiga Tahun Lagi

Masjid Hubbul Wathan Islamic Center ditanami 165 pohon kurma. Uniknya,…

Senin, 06 Mei 2019 13:16
Ketika Dua Bule Aktivis Lingkungan Prihatin dengan Sampah di Indonesia

Ajak Mencintai Bumi, Ingatkan Dampak Negatif Plastik

Mereka bukan asal Indonesia. Yang satu, Adriana María Olarte dari…

Senin, 06 Mei 2019 13:13
Padusan, “Ritual” Sambut Ramadan yang Jadi Tradisi

Umat Islam Padati Tempat-Tempat Pemandian Alami

SLEMAN – Sudah menjadi tradisi tahunan tiap H-1 Ramadan masyarakat…

Minggu, 05 Mei 2019 09:16
Refleksi Hari Pendidikan di Kukar

Dela Tak Lagi Mengayuh dengan Sepatu Bolong

Bukan ponsel canggih apalagi motor beken untuk berkeliling kampung. Hanya…

Rabu, 24 April 2019 10:27
Caleg Pasutri yang Diprediksi Lolos, Suastika Hindari Simakrama Bareng Istri

Bukan Haus Jabatan, Tapi Karena Penugasan Partai

Calon legislatif (caleg) DPRD pasangan suami-istri (pasutri) yang kemungkinan besar…

Kamis, 04 April 2019 10:32
Berbincang dengan Setyo Pranoto, Pria Berjuluk Manusia Jadul

Keliling Jawa dan Kalimantan untuk Berburu Handphone Jadul

Teknologi semakin maju. Telepon genggam pun semakin canggih dengan desain…

Kamis, 04 April 2019 10:30
Bule Perancis Keliling Dunia Pakai Sepeda

Telah Singgahi 10 Negara, di Indonesia Doyan Makan Tempe dan Bakso

Victor Habchy punya nyali tinggi. Bule asal Prancis itu berkeliling…

Rabu, 03 April 2019 12:19
Ribuan Anak Yaman Angkat Senjata di Garda Depan

Dijanjikan Uang dan Pekerjaan, tapi Disuruh Perang

Anak-anak di Yaman tidak hanya harus tumbuh dengan melihat pemandangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*