MANAGED BY:
SABTU
20 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:05
Abstrak

Oleh: Firman Wahyudi

Firman Wahyudi

PROKAL.CO, TIGA tahun lalu, saya mengikuti pelatihan jurnalistik bagi pemimpin redaksi (pemred) se-Jawa Pos Group di Graha Pena, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Selama sembilan hari, Pembina Berau Post, Dahlan Iskan, berbagi ilmu tentang jurnalistik modern.

Hari pertama, mantan menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini telat dari skedul. Seyogianya, pelatihan dimulai pada pukul 08.00 WIB, namun Dahlan baru tiba sekitar pukul 10.00 WIB.

Hari kedua, di depan 25 pemred, Dahlan mengungkapkan alasan keterlambatannya. Dia diminta menjadi narasumber bagi direksi dan manajemen perusahaan jasa telekomunikasi yang kini terpuruk. Tak menceramahi, Dahlan malah bertanya satu demi satu para direksi, apa yang perlu diperbuat untuk memajukan kembali perusahaan yang telah beroperasi 20  tahun lebih itu. Jawabannya beragam: perlu revolusi mental, nawacita, dan masih banyak lagi.

Bagaimana caranya merevolusi mental? Bagaimana mencapai nawacita? Blak-blakan. Dahlan menjawab solusi-solusi itu abstrak. Sulit untuk mewujudkannya secara konkret.

Dahlan juga mengkritik teriakan yel-yel yang rutin digemakan oleh direksi, manajemen, dan staf sebelum memulai pertemuan-pertemuan. Apakah yel-yel itu perlu? Apakah yel-yel itu ampuh menggenjot semangat untuk memajukan perusahaan? Jawabannya bisa iya, bisa tidak.

Percuma meneriakkan yel-yel pagi, siang, malam jika dalam hati kecil masing-masing karyawan, enggan bekerja dan maju. Percuma memberi solusi-solusi dalam rapat tanpa tindak lanjut kerja nyata.

Kembali ke solusi-solusi abstrak. Saya terngiang-ngiang dengan janji-janji para politisi saat mereka berkampanye. Slogan mereka juga abstrak. Dikutip dari salah satu blog contoh slogan kampanye: Percayakan Kami untuk Bisa Mengubah. Gaya bahasa preterito adalah ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.

Dengan adanya kalimat “Percayakan kami untuk bisa mengubah”, sebenarnya calon tersebut meminta rakyat untuk memberi keyakinan untuk dapat diberi kepercayaan, bahwa dia bisa mengubah. Padahal, yang sebenarnya tidaklah demikian. Calon itu sebenarnya meminta masyarakat untuk memercayakan –menyerahkan dengan sepenuh kepercayaan– kepada mereka untuk dapat mengubah.

Hal tersebut dapat dilihat pada kalimat selanjutnya yang mengandung penegasan bahwa mereka patut untuk dipercayai. Tetapi, calon tersebut tidak mendeskripsikan apa yang akan diubah menjadi lebih baik atau mungkin malah sebaliknya, kondisi menjadi semakin buruk dari yang sebelumnya.

“Segera akan kita tingkatkan jalan ini”, atau “Insya Allah, akan kita perjuangkan semua usulan saudara-saudara semua”. Menurut saya, janji-janji ini juga abstrak dan biasa diungkapkan para politisi. Kata “segera” itu bisa saja sehari, sebulan, setahun, atau lima tahun ke depan. Jika belum terealisasi, bisa saja politisi itu meminta lima tahun lagi diberi kepercayaan menjabat untuk merealisasikannya. Makanya disebut abstrak. Dan sayangnya, masyarakat terlena dengan ungkapan-ungkapan seperti ini.

Bagi mayoritas masyarakat, slogan atau jawaban abstrak itu nyaman didengar. Seolah-olah sudah memberikan jaminan bakal direalisasikan.

Dalam pelatihan pekan lalu, Dahlan Iskan mengajak semua pemred se-Jawa Pos untuk menghindari jawaban-jawaban abstrak seperti itu. Dahlan pun mengetes jawaban-jawaban para pemred saat ditanya. “Kapan Anda selesaikan tugas ini?” tanya Dahlan.

“Dua hari selesai, Pak,” jawab salah seorang pemred.

Dahlan pun puas dengan jawaban itu.

Berkelakar, Dahlan pun memberi contoh.

Bos: Kapan tugas ini Anda selesaikan?

Staf: Secepatnya, Pak!

Bos: Oke, Segera ya!

Ini contoh jawaban-jawaban abstrak alias tak jelas kapan diselesaikan. Para pemred pun tertawa mendengar contoh percakapan “abstrak” itu.

Jika Anda pernah menonton film tentang detektif, pasti Anda pernah menyaksikan atasan si detektif itu memberi deadline untuk memecahkan sebuah kasus. Kalimat yang diucapkan bukan “segera pecahkan kasus ini”, tapi “waktumu 2x24 jam untuk menyelesaikan kasus ini”.

Semoga, memasuki musim pemilihan legislatif dan presiden ini, tak ada lagi calon-calon yang membuat slogan atau janji-janji abstrak. (ndu/k15)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:03

Inkubator untuk Korban Gempa

SELIMUT mural di badan bangunan kecil itu menyita perhatian. Didominasi warna kuning. Gambar tokoh-tokoh…

Rabu, 19 September 2018 08:58

Gaya Bebas dan Aturan yang Tak Perlu Ditaati

CATATAN: FAROQ ZAMZAMI (*) LOGIKA formalnya begini tentang eksekutif muda. Setelan hem, celana bahan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .