MANAGED BY:
KAMIS
13 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:03
Inkubator untuk Korban Gempa

Oleh: Duito Susanto

Duito Susanto

PROKAL.CO, SELIMUT mural di badan bangunan kecil itu menyita perhatian. Didominasi warna kuning. Gambar tokoh-tokoh kartun itu seolah bahagia menatap para remaja yang berlenggak-lenggok di depannya. Di halaman. Bergerak berirama bersama lantunan lagu. Bukan, mereka tidak menari. Mereka senam, Rabu (3/10) pagi itu.

Belasan anak itu berkebutuhan khusus. Beragam keterbatasan; tuli, bisu, hingga autis. Ada juga yang tuna-ganda. Rabu memang hari yang menyenangkan bagi penghuni inkubator bisnis (inbis) itu. Jika sedang ‘on fire’, mereka bisa berolahraga hingga tengah hari.

Tempat itu dikenal sebagai Inbis Permata Bunda. Di Bontang. Dinakhodai Anggi V Goenadi dan istri. Mertua Anggi memiliki sekolah; Permata Bunda. Satu dari lima sekolah yang konsentrasi pada penanganan anak-anak berkebutuhan khusus di Bontang. Setelah meninggal dunia, Anggi dan istri lah yang diwarisi tanggung jawab memikirkan masa depan anak-anak istimewa itu.

Anggi dan istri awalnya adalah karyawan di perusahaan swasta di Bontang. Perusahaan yang cukup besar. Dengan jabatan yang menjanjikan. Keputusan pindah kemudi ke urusan yang secara bisnis tak begitu menggiurkan itu pun membuat para kolega mengelus dada.

“Awalnya, jujur, terpaksa,” tutur pria berbadan tambun itu. Dia menghela napas. Yang pertama kali memutuskan turun tangan mengurus anak-anak itu adalah istrinya. Anggi bahkan masih kerap memperolok. Namun kemudian, dia menangkap semacam kegelisahan anak-anak berkebutuhan khusus itu.

“Jika anak-anak normal, pada umumnya kelas dua atau tiga SMA mereka semangat. Selepas ini mau kuliah, kerja, atau kuliah sambil kerja. Tetapi, tidak dengan anak-anak berkebutuhan khusus,” ujar Anggi.

Anak berkebutuhan khusus, pada fase yang sama, justru gamang. Setelah selesai sekolah, lalu apa? Siapa yang memberi beasiswa? Siapa yang menanggung biaya hidup yang selama ini dipikul sekolah? Apalagi tingkat penerimaan mereka dalam masyarakat masih rendah. “Apalagi berbicara lapangan kerja,” tutur Anggi.

Anggi dan istri kemudian memutuskan harus take action. Dimulai dengan membuka unit usaha desain interior. Pekerjanya anak-anak berkebutuhan khusus. Sempat berjalan, kemudian terimbas badai defisit keuangan pemerintah. Tsunami anggaran. “Orang gila macam apa yang memutuskan mendesain rumahnya saat mereka tak bisa beli beras,” kata Anggi.

Pasang surut terus terjadi. Desakan anak-anak itu membuat mereka membuka lini usaha baru. Kali ini event organizer. Khusus seminar dan pelatihan pendidikan. Ternyata tak cukup membantu. Lalu buka lagi usaha cuci mobil dan motor. Tak banyak menyelesaikan masalah. Sampai mereka harus memutuskan menjual aset untuk membayar utang.

Surut ternyata lebih sering datang ketimbang pasang. Tetapi, semangat anak-anak berkebutuhan khusus masih menyala. Mereka senang bisa bekerja. Untuk menjaga semangat itu, Anggi dan istri bahkan harus bikin proyek-proyekan. Didesain sendiri, dikerjakan sendiri, dan dibiayai sendiri. Yang penting anak-anak bisa bekerja dan mendapat upah.

Hingga pada 2016, angin segar mulai berembus. Anggi dan istri bertemu perusahaan multinasional di Bontang; PT Pupuk Kaltim. Visi dan misinya nyambung. Kerja sama terjalin. Keran dana terbuka. Tujuan utamanya memberdayakan anak berkebutuhan khusus. Dilatih. Dimagangkan. Diberi pekerjaan. Golnya, mereka punya usaha sendiri.

Anak-anak berkebutuhan khusus yang kami temui di Inbis Permata Bunda Rabu lalu rerata masih pada fase pelatihan. Ini semacam tahap pencarian bidang yang sesuai. Mereka maunya apa. Mereka bisanya apa. Yang cocok apa.

Saat ini, Inbis Permata Bunda sudah memiliki 12 lini usaha. Tiga di antaranya sudah menghasilkan. Lainnya, ada yang masih tahap pematangan atau menunggu launching. Dikelola anak berkebutuhan khusus. Hasil pematangan di inkubator.

Nama inkubator bisnis sendiri terilham dari kelahiran anak Anggi dan istri. Setelah lahir, anak mereka tak bisa lepas begitu saja. harus dimatangkan di inkubator lebih dulu. Agar bisa menjalani hidup. “Begitu juga anak-anak ini, mereka harus dimatangkan dari awal hingga nantinya bisa mandiri. Punya usaha sendiri. Menghasilkan uang sendiri,” pungkas Anggi.

Setelah dari Inbis Permata Bunda, saya dan teman-teman meninggalkan Bontang. Pulang ke Samarinda. Kami memilih jalur alternatif. Untuk menghindari jalan berlubang yang tersebar sepanjang poros Samarinda-Bontang. Juga untuk mendapatkan jalur yang lebih sepi kendaraan. Kami melalui jalan Bontang-Muara Badak.

Jalur ini tak begitu ramai. Jalannya, meski tak semulus pipi Luna Maya, tapi tak juga rusak parah. Kami berkendara menyisir dataran rendah. Melalui Marangkayu hingga ke Muara Badak. Sepanjang jalur ini banyak lahan kosong. Saya pun teringat korban gempa Palu dan Donggala yang dievakuasi ke Balikpapan.

“Bagaimana kalau mereka ditempatkan di sini saja,” celetuk saya. Toh, daerah itu banyak dihuni warga asal Sulawesi.

Tentu saja opsi itu tak mudah direalisasikan. Bahkan bisa jadi sekadar lelucon. Balikpapan, seperti juga Makassar, menjadi tujuan evakuasi korban gempa. Balikpapan sendiri sudah disambangi ribuan pengungsi. Namun, sebagian besar hanya transit. Numpang lewat di Kota Minyak. Mereka kemudian menyebar ke berbagai daerah.

Mungkin, bagi korban gempa dan tsunami dari kalangan menengah ke atas, pemulihan hidup setelah tragedi itu tak begitu sulit. Tapi tidak bagi yang dari kelas bawah. Mereka sudah kehilangan segalanya. Bahkan mungkin tak ada lagi yang tersisa.

Di sinilah pemerintah perlu menyiapkan inkubator. Agar mereka bisa bertahan. Dan melanjutkan hidup. Secara bertahap. Hingga kembali mandiri.

Entah bagaimana sistem pendataan korban gempa yang hijrah ke daerah lain. Entah mereka terdeteksi atau tidak. Mestinya pemerintah tahu. Sehingga bisa dibuatkan program berkesinambungan untuk mereka mendapatkan kembali kehidupan yang layak. (ndu/k15)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .