MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Rabu, 03 Oktober 2018 09:10
Tren Menanjak Minat Menjadi Vegetarian
Saipul Anwar

PROKAL.CO, HASRAT menjadi vegetarian bahkan vegan trennya menanjak. Termasuk Kaltim. Berikut wawancara dengan Koordinator Indonesia Vegetarian Society (IVS) & Vegan Society of Indonesia (VSI) Kaltim-Kaltara DharmadiSuryawan.


Kaltim Post (KP): Berapa banyak masyarakat yang memilih bervegetarian atau bervegan di Kaltim?

DharmadiSuryawan (DS): Saat ini sudah mencapai lebih 10 ribu orang di Kaltim. Dengan berbagai profesi dan usia. Bahkan ada yang dari kandungan sudah bervegetarian atau vegan. Karena vegetarian itu bukan persoalan keyakinan tertentu, tetapi sudah menjadi gaya hidup dan pola hidup yang dipilih untuk menuju hidup sehat. Bahkan pemerintah sudah bekerja sama dengan IVS dan VSI untuk menyosialisasikan agar masyarakat suka makanan berbasis nabati tersebut.

KP: Berarti IVS dan VSI serta pola hidup vegetarian ini sudah diakui oleh pemerintah ya?

DS: Ya, karena pemerintah sendiri sudah menyadari bahwa yang banyak saat ini bukan lagi penyakit menular. Tetapi penyakit yang muncul diakibatkan dari pola makan dan gaya hidup. Di antaranya, jantung, stroke, dan kanker. Kalau sosialisasi atas pola hidup ini berhasil, rumah sakit pun akan sepi.

KP: Siapa saja tokoh yang bervegetarian atau bahkan bervegan

DS: Di pusat ada Kaka Slank, Kak Seto, dan Sofia Latjuba. Bahkan ada juga dokter dari Berau dan yang lainnya.

KP: Bagaimana kesulitan melakukan sosialisasi dan seorang yang menjadi vegetarian dan vegan?

DS : Saat ini ada pandangan bahwa makanan daging-dagingan itu dianggap menjadi simbol kemapanan. Mungkin karena faktor harga dan lainnya. Termasuk keyakinan bahwa makanan hewani tersebut ada kandungan gizi baik yang tidak terdapat pada makanan nabati. Nah, ini yang kita sosialisasikan terus-menerus dan kita lakukan edukasi agar dipahami bahwa makanan nabati ini jauh lebih sehat dan lainnya. Bahkan, Vitamin B12 yang sebelumnya disebut hanya ada di daging, ternyata ada di tempe. Ini sudah diteliti secara ilmiah dan diakui dunia.

Selain itu, ada yang menyebut makanan vegetarian dan vegan itu mahal. Padahal, faktanya tidak. Justru makanan olahan hewani yang lebih mahal dengan cara pengolahannya menggunakan bumbu-bumbu tertentu. Dulu memang untuk mengolah makanan nabati tersebut, harus menggunakan bahan-bahan yang bahkan harus diimpor agar menyerupai menu makanan hewani. Tapi saat ini, makanan alami sebenarnya justru lebih baik. Saat ini menu vegetarian lebih alami dan bagus.

KP: Selain tentang kesehatan, apalagi yang memotivasi seseorang untuk bervegetarian?

DS: Salah satunya dukungan tentang kelestarian lingkungan. Saat ini kebutuhan hewan-hewan seperti sapi, ayam, kambing dan sebagainya juga membuat daerah hijau atau bahkan hutan beralih fungsi. Belum lagi pencemaran akibat limbah dan lainnya. Padahal, kebutuhan nabati sebenarnya sudah sangat cukup untuk makanan manusia. Kami memang tidak aktif untuk menjaga bumi, tapi secara langsung sebenarnya sudah dilakukan.

KP: Kapan berdirinya IVS?

DS: Kita berdiri sejak 8 Agustus 2008 di Indonesia. Sedangkan Kaltim, berdiri seminggu setelahnya. Kami bersyukur sekali ternyata warga masyarakat begitu antusias. Sudah sangat terasa sekali dan tidak sulit menemukan makanan vegetarian dan vegan. Bahkan pada menu-menu acara pernikahan dan pesta-pesta. Padahal dulunya sangat jarang. Artinya antusias masyarakat sudah begitu besar. Banyak juga warga yang susah untuk bervegetarian, tapi mereka sudah mengurangi porsi makanan daging-dagingan.

KP: Kegiatan rutin apa saja mengenalkan hidup sehat dengan vegetarian dan vegan?

DS: Ada semacam diskusi, seminar. Sebelumnya, Kak Seto juga pernah diundang untuk mengenalkan pola hidup vegetarian. Tema yang dibahas waktu itu soal hubungan vegan dan emosional pada anak. Dari kegiatan tersebut, digambarkan bahwa emosional anak akan lebih baik dengan bervegetarian dan vegan.

KP: Dukungan pemerintah bagaimana?

DS: Saat ini kami juga ada perjanjian untuk melakukan sosialisasi dengan makanan vegetarian. Kami juga oleh BPOM ditunjuk untuk melakukan kewenangan sertifikasi untuk label makanan vegan. Jadi kalau sebuah makanan ada label vegan, tidak lagi diragukan unsur nabatinya 100 persen. Sebab, orang vegetarian dan vegan juga sangat peka sekali.

KP: Ada tidak kesulitan awal menjadi vegetarian dan vegan?

DS: Dulu memang harus melakukan persiapan khusus. Misalnya harus membawa makanan sendiri dan sebagainya. Tapi kalau saat ini, menu vegetarian dan vegan tidak sulit ditemukan. Tapi ada juga memang rumah makan yang harus diedukasi terkait pengolahannya. Misalnya, minyak bekas hewani tidak boleh digunakan. Serta alat masak bekas makanan juga harus dicuci bersih dulu. Selain itu, banyak komunitas yang ingin diajarkan mengolah makanan secara khusus. Dimulai dengan menu-menu sederhana. (timkp)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 02 November 2018 08:57

Tampil Cantik (Tak) Apa Adanya

Perempuan manapun ingin terlihat cantik. Menjawab kodrat itu, sederet klinik kecantikan pun hadir. Dari…

Jumat, 02 November 2018 08:54

Sensasinya Bikin Ketagihan

SEBUAH teknik perawatan kulit modern, jet peel, disukai pelanggan. Teknik ini memanfaatkan tekanan…

Jumat, 02 November 2018 08:52

Facial Minimal Tiap Dua Bulan

WAJAH putih, mulus, awet muda. Begitu kesan yang tampak saat bertemu Deriyani, owner Gloskin Balikpapan.…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:42

Janji Bawa Lagi ke Kasta Tertinggi

PERSIBA Balikpapan yang bakal kehilangan Syahril HM Taher masih menimbulkan spekulasi siapa pengelola…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .