MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Kamis, 27 September 2018 09:19
Memangkas Emisi, Menjaga Bumi
JADI PUSAT PERHATIAN: Ratana Lukanawarakul mengabadikan lokasi gambut di Desa Muara Siran, Kukar setelah terbakar pada 1998. Foto kiri, rombongan meninjau gambut di kawasan sekitar. (FOTO PEMPROV KALTIM UNTUK KALTIM POST)

PROKAL.CO, Perubahan iklim yang kian buruk tak muncul begitu saja. Hujan yang tak tentu hingga kemarau yang terbilang panjang, menjadi penanda bumi tak dalam kondisi sehat.

PEMANASAN global jadi urgensi dunia yang harus ditangani secara komprehensif. Ia menjadi bom waktu yang mengantarkan bumi pada titik nadirnya. Gunung-gunung es di kutub selatan dan utara terus tergerus seraya menyiratkan akan menghapuskan daratan dari sejarahnya, seiring penanganan emisi yang mengikis atmosfer tak bisa mengimbangi masifnya pencemaran yang dihasilkan.

Semua persoalan ini hadir dengan pelbagai pemicu dalam satu isu; emisi karbon. Semua bermula ketika revolusi industri di Britania Raya periode 1750-1850 yang begitu dinamis menjalar ke belahan dunia lain. Keasrian alam yang berisikan fauna dan hayati pun mulai terasingkan. Seiring megahnya industri yang terbangun; dari makro hingga mikro, dari manufaktur hingga ekstraktif yang hadir dengan sejuta manfaat menunjang kemajuan teknologi yang tersedia.

Sumber daya alam (SDA) dikeruk. Tak sekadar pohon yang dimanfaatkan sebagai kayu. Jauh di dalam perut bumi, fosil bernilai ekonomis yang tinggi serta bermanfaat bagi industri lain yang saban hari terus tumbuh. Alam yang setia memberi apapun yang dimilikinya perlahan meringkih dan disingkirkan dengan dalih agar ekonomi tak berguncang. Semua bersulih rupa hingga melupakan peran hutan menjaga keberagaman isinya, termasuk menyuling emisi karbon dioksida (CO2).

Negara kelompok 20 ekonomi utama menjadi penyumbang emisi karbon terbesar, yakni 82 persen dan 75 persen gas rumah kaca dari total emisi di atmosfer bumi. Emisi karbon terlalu riskan jika terus diabaikan, pada 2016 negara G20 ini akhirnya membentuk kesepakatan Paris untuk menahan laju temperatur global hingga di bawah 2 derajat celsius; kondisi atmosfer sebelum revolusi industri.

Di tahun yang sama, pada 2016, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) lewat United Nations Environment Programme (UNEP) yang membidangi lingkungan mencanangkan rehabilitasi hutan dan merestorasi lahan gambut. Indonesia dijadikan negara contoh untuk program ini dengan alasan sederhana; karena Indonesia menjadi negara pertama yang merestorasi gambut berskala besar, selepas maraknya pembakaran lahan dan penggunaan lahan gambut sebagai lahan perkebunan.

Upaya ini ternyata sejurus dengan upaya mencegah emisi karbon untuk menekan suhu bumi yang dibakukan dalam perjanjian Paris COP21. Apalagi, gambut mampu menampung karbon 10 kali lipat dari kemampuan hutan menyerap karbon. Gambut di Indonesia pun disinyalir menampung 57 miliar karbon. Jumlah yang sangat fantastis.

Membakar lahan gambut atau pengalihan fungsi justru membuat karbon yang tertampung menguap ke atmosfer. “Dilematis, di satu sisi gambut punya nilai ekonomi untuk kegiatan perekonomian, di sisi lain menjaga lingkungan,” ucap Novia Widyaningtyas, direktorat Mitigasi Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PPI KLHK), pekan lalu.

Untuk membagi dua kepentingan itu, KLHK meratifikasi beberapa aturan. Seperti PP 57/2016 yang merevisi PP 71/2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Lalu, Keputusan Menteri (Kepmen) 14/207 tentang Inventarisasi dan Kategori Fungsi Ekosistem Gambut.

Dari upaya restorasi gambut ini, sebut Novia, Kalimantan Timur bersama Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, dan Jambi menjadi daerah contoh restorasi gambut. Senada, upaya negara G20 untuk mengurangi emisi pun dapat ditempuh lewat merawat lahan gambut ini.

Jauh sebelum perjanjian paris COP21 disepakati, pada 2011 Indonesia telah masuk dalam negara contoh yang melakukan restorasi gambut. Inisiasi Bank Dunia lewat fasilitas kemitraan hutan karbon (Forest Carbon Partnership Facilities/FCPF) bersama program PBB pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation/REDD).

“Dari dua hal itu, perdagangan emisi untuk menekan emisi karbon dan efek rumah kaca diberlakukan secara internasional,” kata Novia.

Dengan demikian, jelasnya, negara-negara penyumbang emisi terbesar atau negara dengan laju pertumbuhan industri tinggi membeli emisi karbon dari negara yang mengusung deforestasi. Caranya, negara penyumbang emisi menjadi donatur untuk negara yang memiliki hutan yang luas untuk merawat keasriannya.

Peneliti senior Yayasan Bioma, Achmad Wijaya menganalogikan upaya ini seperti 10 orang yang terkurung dalam ruang tertutup, empat orang memiliki intensitas kentut lebih dari delapan kali sehari sementara sisanya hanya tiga sampai empat kali sehari. Di lain sisi, aturan dalam ruangan itu membuat standar rata-rata kentut hanya lima kali per hari. Orang-orang yang memiliki intensitas residu angin lebih tinggi membeli kuota tersisa dari orang yang rendah intensitasnya.

Itu pula yang menurutnya, negara penyumbang emisi terbesar membeli kapasitas maksimal negara rendah emisi untuk menyelaraskan emisi yang menguap. “Dengan uang itu, negara rendah emisi harus merawat hutan dan gambut agar kapasitas mereka mengurangi emisi terus tumbuh,” sebutnya.

Di lain sisi, seluruh negara juga tetap berupaya untuk menekan emisi. Salah satunya dengan menggunakan sumber daya terbarukan yang ramah lingkungan. “Kalau hanya membeli tanpa ada upaya ya enggak ada yang berubah akhirnya,” sebutnya.(tim kp)

TIM LIPUTAN:

-         ROBAYU

-         NOFIYATUL CHALIMAH

-         RICARDO BOBBY

loading...

BACA JUGA

Jumat, 02 November 2018 08:57

Tampil Cantik (Tak) Apa Adanya

Perempuan manapun ingin terlihat cantik. Menjawab kodrat itu, sederet klinik kecantikan pun hadir. Dari…

Jumat, 02 November 2018 08:54

Sensasinya Bikin Ketagihan

SEBUAH teknik perawatan kulit modern, jet peel, disukai pelanggan. Teknik ini memanfaatkan tekanan…

Jumat, 02 November 2018 08:52

Facial Minimal Tiap Dua Bulan

WAJAH putih, mulus, awet muda. Begitu kesan yang tampak saat bertemu Deriyani, owner Gloskin Balikpapan.…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:42

Janji Bawa Lagi ke Kasta Tertinggi

PERSIBA Balikpapan yang bakal kehilangan Syahril HM Taher masih menimbulkan spekulasi siapa pengelola…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .