MANAGED BY:
JUMAT
16 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 19 September 2018 13:00
Ini Dia Motif Motif Pembunuhan Pasangan Suami Istri di Balikpapan Itu...

Utang Rp 50 Juta, Tersangka Klaim Tak Berniat Habisi Pasutri

TERENCANA: Warga mengangkat peti berisi jenazah korban dibawa ke Masjid Al Mushawwir, Balikpapan untuk disalatkan kemarin. Foto bawah, dari kiri Indra Putra Pratama, Unang Sudrajat, dan MM saat dibeber di Polres Balikpapan. (FUAD MUHAMMAD/ANGGI PRADITHA/KP)

PROKAL.CO, BALIKPAPAN - Perkara utang diduga menjadi penyebab tersangka menghabisi nyawa pasangan suami istri (pasutri) Wanto (45) dan Sunarsih (42). Pembunuhan berencana itu untuk menguasai harta korban.

Selasa (18/9), para tersangka dibeber di Polres Balikpapan. Unang Sudrajat (49) dan anaknya, Indra Putra Pratama (23) yang menjadi tersangka terlihat berjalan pincang. Mengenakan baju tahanan, keduanya harus mendapat hadiah timah panas dari petugas. Unang ditembak di kedua betisnya. Sementara Indra di betis kanan. Lantaran berusaha melarikan diri dari kejaran petugas, Senin (17/9) malam lalu.

Sementara tersangka lainnya, MM (17) yang pasrah saat diamankan beberapa kali harus mengelap darah yang mengalir di kaki Unang. “Mereka (Unang dan Indra) terpaksa kami lumpuhkan karena berusaha melarikan diri meski telah ada tembakan peringatan dari anggota,” terang Kapolres Balikpapan AKBP Wiwin Firta, kemarin.

Setelah menjalani pemeriksaan terhadap tersangka, Wiwin menegaskan jika otak dalam kasus ini adalah Unang. Di mana pada Minggu (16/9) pukul 21.30 Wita, Unang mengutarakan maksudnya untuk menghabisi korban Wanto kepada Indra.

Rencana tersebut disusun Unang yang kemudian mengajak MM (karyawan bengkel yang dijalankan Unang) dengan iming-iming akan dinaikkan gajinya. “Niat membunuh direalisasikan keesokan hari (17/9) pukul 10.00 Wita. Mereka bertiga menggunakan angkutan online menuju rumah korban,” ucap Wiwin.

Setelah membunuh, tiga tersangka menguras harta korban. Di dalam rumah, para tersangka mengambil laptop, ponsel dan uang Rp 1.150.000. Kemudian Unang mengambil alih mobil Toyota Fortuner KT 1295 AY milik korban.

Rencananya, mobil tersebut akan dijual untuk melunasi utang-utangnya akibat kerap berjudi online. “Setelah keluar dari rumah korban, tersangka US (Unang) berusaha menjual mobil tersebut seharga Rp 50 juta kepada seseorang di Pasar Baru,” kata Wiwin.

Namun, usaha menjual tersebut gagal. Lantaran sebelum proses jual beli, Indra mengetahui jika rumah pembeli rupanya berdekatan dengan rumah korban. Unang pun memutuskan untuk kabur menggunakan mobil curiannya. Dia lantas pulang ke rumahnya di Graha Mulawarman, Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur. Menjemput mertua dan dua anaknya. Lalu pergi menuju rumah kerabat di Kelurahan Wonotirto, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar).

Hingga akhirnya, tim gabungan dari Opsnal Polsek Balikpapan Timur, Jatanras Polres Balikpapan, dan Direskrimum Polda Kaltim menemukan mobil yang dicuri dan menangkap tersangka US dan ISS (Indra) sekitar pukul 19.30 Wita.

NIAT INGIN MENIKAH

Penelusuran Kaltim Post menemukan faktor-faktor penting alasan mengapa Unang tega melalukan pembunuhan berencana terhadap suami istri di Strat VI RT 47 No 04, Jalan Soekarno-Hatta Km 2, Gunung Samarinda, Balikpapan Utara. Tak sekadar utang, tersangka juga ingin menikah lagi.

Menyambangi kembali kediaman Unang di Blok D Nomor 14 Perumahan Graha Mulawarman, kemarin siang, media ini bertemu Ketua RT 29 Maskur. Pria itu menyebut mengenal baik karakter Unang. Yang selama tiga tahun menjadi warganya sebelum pindah ke kontrakannya sekarang. “Rumah ini RT 59. Dikontraknya baru lima bulan terakhir. Tetapi, Pak Unang masih terdaftar di RT saya,” ucap Maskur.

Selama kenal, Maskur menyebut Unang sosok yang simpel dan tidak banyak tingkah. Namun, dia memang pelit soal uang. Karena tak pernah membayar uang rukun kematian yang ditarik warga. Meski jika dilihat secara kasatmata, usaha bengkel reparasi miliknya tergolong ramai pelanggan. “Ramai. Sampai pernah ada komplain warga lain karena mobil yang diperbaiki menghalangi jalan kampung,” ucap Maskur.

Karena alasan itu, Unang disebut pindah. Kemudian mengontrak bengkel di belakang minimarket waralaba di Jalan Manggar Damai, Balikpapan Timur. Yang disebutnya dibiayai oleh Wanto. “Saya pernah lihat korban sering berkunjung ke rumah Pak Unang. Setahu saya mereka rekan kerja,” tutur Maskur.

Dia juga mengetahui bagaimana korban dan tersangka cukup kenal dekat. Karena tiga tahun lalu, saat istri Unang meninggal dunia, Wanto dengan tangan terbuka menyediakan dana untuk acara pemakaman dan tradisi selamatan. Begitu pula ketika Unang harus dirawat di rumah sakit akibat pembengkakan di perutnya. Wanto disebut yang membiayai pengobatan tersebut. “Bahkan malam sebelum pembunuhan, tetangga melihat Pak Wanto berkunjung ke rumah Pak Unang menggunakan mobil yang dicuri,” sebut dia.

Maskur mengaku, Unang pernah mengungkapkan keinginannya menikah. Ada calon yang sudah menunggu di Banjarmasin. Unang meminta saran dan bantuan agar bisa menikah di Balikpapan. Termasuk membicarakan soal mahar. Oleh Maskur, Unang diminta mengurus surat pindah dulu dari RT 29 ke RT 59. Keterangan soal menikah ini diaminkan tetangga lain yang ditemui Kaltim Post.

Namun, sejumlah warga termasuk Maskur tak mengetahui jika Unang memiliki utang menggunung. Maskur hanya tahu, jika sebelum peristiwa ada warga yang dimintai utang oleh Unang sebesar Rp 500 ribu. Soal judi online, juga tak banyak kesaksian. Namun, ada warga yang kerap melihat Unang mabuk-mabukkan di bengkelnya. Sementara Maskur memastikan jika Unang punya hobi sabung ayam sejak tinggal di dekat rumahnya. “Kalau ayam iya. Pernah saya tanya katanya hanya sekadar hobi,” katanya.

Diakuinya, warga yang pernah mengenal Unang tak menyangka jika pria berdarah Sunda itu tega melakukan pembunuhan. Bahkan mengajak anak pertama dan anak buahnya untuk ikut terlibat. Karena itu ketika mendengar kabar dan membaca berita Unang ditangkap, warga banyak yang tak percaya. “Kami warga di sini hanya bisa prihatin,” ujar Maskur.

BERTANGAN DINGIN

Dengan peluh memenuhi wajah, Indra menahan sakit di betis kanannya yang ditembus peluru. Dia menyatakan terpaksa atas segala perbuatan biadabnya. Menjadi eksekutor Wanto dan Sunarsih. “Saya menyesal dan minta maaf kepada keluarga korban atas perbuatan saya,” kata Indra.

Dia mengatakan, harus mengikuti perintah ayahnya. Karena karakter Unang yang keras, membuatnya tak bisa menolak ketika ayahnya menyuruhnya menyiapkan tali. Bahkan ketika memberi kode untuk menjadi eksekutor pertama korban. “Saya takut sama Bapak,” ucap Indra pelan.

Dia menceritakan kembali saat-saat harus menjadi pencabut nyawa Wanto. Sesampainya di rumah korban, ketiganya sesuai undangan awal dari korban datang hendak membantu pekerjaan perbaikan mobil. Setelah disambut Wanto dan Sunarsih, ketiganya sempat mengobrol dan bekerja.

Saat Sunarsih ke dapur untuk menyiapkan makan dan minum untuk sang tamu, Indra yang membelakangi Wanto yang saat itu duduk di kursi sopir langsung menjerat leher korbannya dari kursi belakang. Untuk mempercepat proses eksekusi, Unang dan MM membantu membekap dan memegang tubuh Wanto. “Saya panas dingin ketika melakukannya,” aku Indra saat ditanya perasaannya saat itu.

Setelah memindahkan tubuh Wanto di kursi belakang mobil merah, Indra menuju dapur. Sunarsih saat itu disebutnya sedang menyiapkan minum. Memunggunginya. Tanpa berpikir jernih lagi, Indra mengaku langsung menjerat leher Sunarsih. Tak lama ayahnya dan MM datang membantu. Berbeda dengan Wanto, Sunarsih melakukan perlawanan.

Unang yang saat itu memiting Sunarsih terkena gigit di jari tangan kanannya. Membuat jejak ceceran darah. Namun, usaha Sunarsih sia-sia. Teriakan minta tolong juga tak didengar tetangga. Sunarsih diseret ke kamar tidur dan dalam posisi mencium bumi di atas kasur, perempuan itu tewas.

“Soalnya ada suara musik dangdut dari speaker mobil. Pak Wanto saat itu sebelum saya jerat memang sedang mengetes kondisi mobil. Termasuk menyalakan musik dan AC,” sebutnya.

Sementara itu, MM mengaku Unang pertama kali mengajaknya ke rumah korban pada pagi hari. Malam sebelum peristiwa dia menginap di rumah bosnya itu. MM mengetahui niat Unang membunuh karena disampaikan secara terang-terangan sebelum berangkat ke Strat VI. “Kami berangkat pagi. Sampai di rumah Pak Wanto pukul 8. Saya kerja seperti biasa. Hingga pukul 10 kejadiannya,” kata MM.

Awalnya, dia tak menyangka jika niat bosnya itu benar-benar diwujudkan. Namun, ketika Indra dilihatnya sedang melilitkan tali ke leher Wanto, MM lantas ikut membantu. Itu disebutnya spontan karena mendapat perintah dari Unang. Selama proses eksekusi dirinya mengaku sangat ketakutan. “Saya pikir hanya bercanda. Bote-bote (berbohong),” kilah MM yang masih tergolong anak berhadapan hukum (ABH). “Saya deg-degan,” ungkap remaja putus sekolah itu.

Setelah membunuh Wanto, MM menerima tali dari Unang. Dia diminta membantu Indra untuk menjerat Sunarsih. Semua disebutnya berlangsung cepat hingga membuatnya tak banyak berpikir dengan akal sehat. Sampai ketika Unang menyuruhnya ikut kabur ke arah Samboja. “Saya menolak ajakan itu. Saya mau di rumah saja,” kata MM. 

Terpisah, Unang lebih banyak menyangkal terhadap fakta-fakta pembunuhan Wanto dan Sunarsih. Termasuk soal adanya utang hingga rencana pembunuhan pada malam sebelum peristiwa. Apa yang dilakukannya terhadap korban karena faktor sakit hati. “Saya dipaksa bekerja cepat. Kalau minta cepat kerjaannya marah-marah,” ucap pria bertubuh kurus itu.

Kepada media ini, Unang mengaku tak memiliki utang kepada korban. Utang senilai Rp 8,5 juta itu hanya dari teman-temannya. Namun, dari mulut anaknya dan fakta yang ditemukan penyidik, Unang memiliki utang senilai Rp 50 juta akibat kebiasaannya berjudi online. Mobil korban yang dibawa kabur rencana akan dijual untuk menutupi utang tersebut. “Enggak pernah (judi),” bantah Unang.

Dia mengatakan, tak terlalu dekat dengan Wanto maupun Sunarsih. Dia menganggap Wanto hanya sebagai rekan kerja. Yang selama ini datang jika ada mobil yang ingin diperbaiki. Tidak lebih. Soal kedatangannya di rumah korban disebutnya murni atas undangan tuan rumah untuk memperbaiki mobil, yang menjadi tempat membunuh Wanto.

“Ke sana (rumah korban) buat kerja. Enggak ada niat bunuh. Ambil tali juga di dekat mobil,” kilahnya. Tetapi, pengakuan ini tak sejalan dengan cerita anak dan karyawannya, MM yang menyebut mendapat perintah menghabisi korban. Bahkan lewat tangan Unang, nilon untuk membunuh sudah disiapkan. “Saya sakit hati,” kata Unang dengan wajah tak beriak. Hanya diam saat ditanya soal penyesalannya. (*/rdh/rom/k15)


BACA JUGA

Selasa, 13 November 2018 10:24

DUH PAYAH..!! Persentase Kelulusan CPNS Masih Rendah

TANA PASER–Seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Assessment Center Kantor Badan…

Selasa, 13 November 2018 07:35

Tugboat Batu Bara Tenggelam di Perairan Bunyu, Dua ABK Belum Ditemukan

TARAKAN – Kecelakaan di perairan Kalimantan Utara (Kaltara) kembali terjadi. Kali ini, sebuah…

Selasa, 13 November 2018 06:41

YESS..!! Merpati Siap Kembali Mengudara Tahun Depan

JAKARTA – Setelah mengalami penghentian operasi pada 2014 silam, maskapai pelat merah, Merpati,…

Senin, 12 November 2018 11:00

KENA PAJAK..?? Menteri Keuangan Bakal Wajibkan Mahasiswa Miliki NPWP

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani berencana mewajibkan seluruh mahasiswa di Indonesia memiliki…

Senin, 12 November 2018 10:37

Angel dan Jose Makin Intim, Dikabarkan Sudah Menikah

Hubungan Angel Karamoy dengan sutradara Jose Poernomo makin intim. Buktinya, Jose Poernomo semakin sering…

Senin, 12 November 2018 10:28

Marquez Rayakan Gelar Dunia ke 7 di Kampung Halaman

UNTUK merayakan gelar juara dunia ketujuhnya, atau kelima di kelas MotoGP, Marc Marquez, pada Sabtu…

Senin, 12 November 2018 10:20

LUCU JUGA..!! Perusahaan Air Masih Terkendala Air

TANA PASER–Sepekan terakhir, masyarakat Paser, khususnya Kecamatan Tanah Grogot, mengeluhkan pelayanan…

Senin, 12 November 2018 08:49

Klasifikasikan Kualitas Pasangan, Kemampuan Biologis Juga Ditanya

Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah berhasil menyelenggarakan pernikahan mubarakah, Minggu (11/11).…

Minggu, 11 November 2018 11:11

Pulang, KRI Bima Suci Banyak Sabet Penghargaan

 Setelah mengelilingi lima negara selama 100 hari untuk mengikuti event internasional, Kapal Republik…

Minggu, 11 November 2018 11:10

Kasihan Banget..!! Banyak Guru Honor yang Pensiun dengan Gaji Rp 150 Ribu Per Bulan

Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Didi Suprijadi mengungkapkan banyak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .