MANAGED BY:
SELASA
19 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Selasa, 18 September 2018 10:15
Ketika Kubu Jokowi Tak Gentar dengan Hasil Ijtima Ulama
PDIP Yakin Hasil Survey Masih Kuat
Joko Widodo dan Prabowo

PROKAL.CO, TIM kampanye nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin mengklaim, hasil Ijtima Ulama II tak akan menggerus kantung suaranya. Terlebih, Koalisi Indonesia Kerja (KIK) terlebih dahulu sudah melaksanakan apa yang diamanatkan pakta integritas hasil Ijtima Ulama II.

Sekretaris TKN, Hasto Kristiyanto menyampaikan, beberapa bukti pemerintahan Jokowi telah mendengarkan aspirasi ulama, yaitu menetapkan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober dan memilih Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presidennya.

"Pak Jokowi dalam kepemimpinannya sudah melakukan apa yang digariskan dalam pakta integritas itu. Menjalankan program-program keumatan. Pak Jokowi dengan Kiai Ma’ruf sebagai cawapres tentunya ke depan juga akan menguatkan kepemimpinan untuk rakyat ini,” ujar Hasto kepada wartawan, Senin (17/9/2018).

Menurut Hasto, hasil Ijtima Ulama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) diyakini tidak akan memengaruhi kantung suara umat muslim bagi Jokowi-Ma’ruf. Hasto menilai, hasil survei beberapa lembaga masih menyatakan umat muslim cenderung memilih pasangan Jokowi-Ma’ruf.

"Beberapa survei menunjukan dukungan umat muslim kepada Pak Jokowi-Kyai Ma’ruf jauh lebih besar. Hal ini mengingat Kyai Ma’ruf memiliki pengalaman di dalam organisasi baik itu di NU maupun MUI. Ini jadi aspek-aspek positif," tutur Hasto.

Wakil Sekretaris TKN, Raja Juli Antoni mengatakan, hasil Ijtima Ulama II tidak mewakili seluruh ulama maupun tokoh agama Islam di Indonesia. Menurut dia, dalam Ijtima Ulama tersebut hanya menghadirkan ulama yang mendukung Prabowo. Tidak ada perwakilan ulama dari organisasi Islam besar, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhamamdiyah, Al Washliyah, atau Tarbiyah Islamiyah.

Sedangkan Ketua DPP PKB, Lukman Edy menilai, Ijtimak Ulama jilid II tidak merepresentasikan pemuka agama Islam se-Indonesia. Para ulama yang tergabung dalam Ijtimak Ulama II merupakan pemuka agama partisan yang arah politiknya sudah jelas, yakni mendukung Prabowo Subianto -Sandiaga Uno.

"Dari awal sikap politiknya sudah jelas. Jadi bagi kami tidak aneh," kata Lukman di Media Center KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (17/9/2018). Lukman juga melayangkan kritik Ijtima Ulama Jilid II yang masih membicarakan adanya kriminalisasi ulama oleh negara. Menurutnya, perlu ada pembuktian lebih lanjut untuk dapat membuktikan kebenaran klaim tersebut. "Mana ulama yang merasa di kriminalisasi? Apalagi dikriminalisasi oleh rezim. Oleh Pak Jokowi misalnya. Mana?," jelasnya.

Terpisah, peneliti dari lembaga Indonesia Public Institute (IPI)  Jerry Massie menilai,  hasil ijtima ulama menunjukkan adanya pertarungan ulama di dalam Pilpres 2019. “Bisa dibilang saat ini kekuatan di ulama 50-50 dengan lawannya, Jokowi-Ma'ruf yang lebih dulu dikenal sebagai pasangan nasionalis religius," ujar Jerry kepada INDOPOS di Jakarta,  Senin (17/9/2018).

Mengapa begitu? Kata Jerry, sejak Prabowo tidak memilih cawapres hasil rekomendasi Ijtima Ulama I pada akhir Juli lalu, membuat umat Muslim,  khususnya alumni 212 langsung terpecah.

"Tapi dengan adanya Ijtima Ulama jilid II serta adanya penandatanganan Pakta Integritas yang didalamnya ada perjanjian untuk membela ulama,  maka ruh dan semangat umat serta alumni 212 kembali sedikit menyatu," ujarnya.

Dian pun menilai,  pemilih di kalangan ulama cukup berpengaruh dari total 187 juta pemilih menurut data KPU. Ia menilai akan ada perebutan suara umat Islam yang merupakan pemilih mayoritas di Pulau Jawa.

"Jadi influence atau pengaruh khusus pemilih di daerah yang basisnya santri dan ulama cukup besar misalkan Jatim, Jabar Banten dan sebagainya," ungkapnya. Peraih gelar doktor politik dari salah satu universitas di Amerika Serikat ini menjelaskan, tinggal bagaimana dukungan ulama di Ijtima Ulama jilid II ini dikembangkan dengan visi-misi serta materi kampanye dari pasangan Prabowo-Sandi.

"Kans menang bagi Prabowo-Sandi cukup terbuka usai dukungan ulama. Nah, tinggal ramuan dan racikan manajemen di lapangan dari tim sukses seperti apa yang mereka lakukan selanjutnya. Karena jika salah melangkah pasti hasilnya buruk," cetusnya.

Khususnya bagaimana meraih pemilih mengambang dari kaum milenial, kaum buruh, dan kaum emak-emak. "Yang jumlahnya  saya kira mencapai lebih dari 80 juta orang," pungkasnya. Adanya pengaruh dukungan umat Islam juga diakui pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  Lili Romli. Tapi hal itu,  bagi Lili hanya sebatas kepada kaum muslim pendukung aksi 212.

"Saya kira tentu ada pengaruhnya,  tapi lebih kepada kaum muslim pendukung aksi 212," kata Lili  kepada INDOPOS. Namun di alumni 212 pun,  ucap Lili,  dinilai akan terpecah suara dukungan kepada kedua paslon. Mengingat munculnya nama Ma'ruf Amin selaku cawapres dari Joko Widodo.

"Lain hal jika yang jadi cawapresnya bukan Ma'ruf Amin. Karena selaku Ketua MUI dan adanya fatwa MUI maka kasus Al Maidah 51 mendapat dukungan umat Islam sehingga memenjarakan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama)," tukasnya. Dirinya pun melihat ada sejumlah alumni 212 yang juga turut menjadi pendukung paslon Jokowi-Ma'ruf.

"Jadi saya melihat di alumni 212 sendiri saat ini sudah terpecah dukungannya kepada kedua paslon.  Maka keputusan Ijtima Ulama II itu tidak akan berpengaruh besar kepada umat Islam untuk mendukung Prabowo- Sandi," jelasnya.

Pengamat politik dari Universitas Sebelas Maret Surakarta,  Agus Riewanti juga menuturkan, dukungan ulama yang muncul saat Intima Ulama II tidak akan berjalan efektif di masyarakat umum.  "Dikarenakan rakyat sekarang kian independen dan bisa mendapat akses informasi pilihan politik dari sumber dan tokoh lain," jelasnya kepada INDOPOS.

Selain itu,  jika kubu Prabowo-Sandi memainkan sentimen agama,  lanjut Agus,  juga tidak efektif mengingat pertarungan di Pilpres sudah berbeda dengan saat Pilkada DKI Jakarta lalu.

"Dimana saat Pilkada DKI ada sosok sentral,  yakni Ahok yang dinilai telah menistakan agama Islam. Jadi isu agama sulit dimainkan di Pilpres,  terlebih ada sosok Ma'ruf Amin yang merupakan Ketua MUI dan juga Rais Aam PBNU," jelasnya.

Lebih lanjut,  dalam ilmu politik, ucap Agus,  setiap moment politik dalam satu periode tahun politik biasanya terjadi sekali dan tak berulang. "Setiap masa punya sejarah dan dimensinya yang berbeda. Sehingga Pilkada dan pilpres yang berdekatan,  isu agama akan efektif disaat pilkada DKI saja dan tidak sampai ke Pilpres," tambahnya. (aen/dil)


BACA JUGA

Senin, 18 Februari 2019 10:32

Pendaftar SNMPTN Masih Minim, Tidak Ada Perpanjangan Waktu

JAKARTA-Panitia Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) tidak akan memperpanjang…

Senin, 18 Februari 2019 10:31

Polisi Lambat Tangani Kasus Penganiayaan Pegawai KPK

JAKARTA-Polda Metro Jaya belum menetapkan tersangka kasus penganiayaan pegawai Komisi…

Senin, 18 Februari 2019 10:31

TNI-AL Tangkap Delapan Kapal Asing

JAKARTA – Pelanggaran undang-undang pelayaran oleh kapal-kapal asing masih sering…

Minggu, 17 Februari 2019 22:45

Prabowo : Belum Semua Petani Bisa Kita Bela

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto berbicara mengenai perkembangan…

Minggu, 17 Februari 2019 22:33

Sempat Terdengar Ledakan, Pendukung Capres Berhamburan

Bunyi ledakan terdengar jelas di luar lokasi debat kedua berlangsung.…

Minggu, 17 Februari 2019 22:25
Debat Kedua Pilpres

Jokowi Terus Menyindir, Bilang Prabowo Kurang Optimis

Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) menyindir calon…

Minggu, 17 Februari 2019 12:16

Energi Terbarukan di Debat Kedua

Sehari jelang perhelatan debat malam nanti, Cawapres nomor urut 02…

Minggu, 17 Februari 2019 11:41
Kemenlu Terima Penundaan Mendadak

Belum Ada Jadwal Baru Kunjungan MBS

JAKARTA – Pemerintah Indonesia sudah mempersiapkan penyambutan kunjungan kerja Pangeran…

Minggu, 17 Februari 2019 11:36

Pembagian Kuota Haji Tidak Berubah

JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) sudah mengeluarkan Keputusan Menteri Agama…

Sabtu, 16 Februari 2019 12:48

PSSI Bantah Joko Driyono Jadi Tersangka Kasus Pengaturan Skor, Jadi Apa Dong?

PSSI membantah Joko Driyono ditetapkan sebagai tersangka kasus pengaturan skor. Menurut mereka,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*