MANAGED BY:
SENIN
10 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Selasa, 18 September 2018 10:15
Ketika Kubu Jokowi Tak Gentar dengan Hasil Ijtima Ulama
PDIP Yakin Hasil Survey Masih Kuat
Joko Widodo dan Prabowo

PROKAL.CO, TIM kampanye nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin mengklaim, hasil Ijtima Ulama II tak akan menggerus kantung suaranya. Terlebih, Koalisi Indonesia Kerja (KIK) terlebih dahulu sudah melaksanakan apa yang diamanatkan pakta integritas hasil Ijtima Ulama II.

Sekretaris TKN, Hasto Kristiyanto menyampaikan, beberapa bukti pemerintahan Jokowi telah mendengarkan aspirasi ulama, yaitu menetapkan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober dan memilih Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presidennya.

"Pak Jokowi dalam kepemimpinannya sudah melakukan apa yang digariskan dalam pakta integritas itu. Menjalankan program-program keumatan. Pak Jokowi dengan Kiai Ma’ruf sebagai cawapres tentunya ke depan juga akan menguatkan kepemimpinan untuk rakyat ini,” ujar Hasto kepada wartawan, Senin (17/9/2018).

Menurut Hasto, hasil Ijtima Ulama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) diyakini tidak akan memengaruhi kantung suara umat muslim bagi Jokowi-Ma’ruf. Hasto menilai, hasil survei beberapa lembaga masih menyatakan umat muslim cenderung memilih pasangan Jokowi-Ma’ruf.

"Beberapa survei menunjukan dukungan umat muslim kepada Pak Jokowi-Kyai Ma’ruf jauh lebih besar. Hal ini mengingat Kyai Ma’ruf memiliki pengalaman di dalam organisasi baik itu di NU maupun MUI. Ini jadi aspek-aspek positif," tutur Hasto.

Wakil Sekretaris TKN, Raja Juli Antoni mengatakan, hasil Ijtima Ulama II tidak mewakili seluruh ulama maupun tokoh agama Islam di Indonesia. Menurut dia, dalam Ijtima Ulama tersebut hanya menghadirkan ulama yang mendukung Prabowo. Tidak ada perwakilan ulama dari organisasi Islam besar, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhamamdiyah, Al Washliyah, atau Tarbiyah Islamiyah.

Sedangkan Ketua DPP PKB, Lukman Edy menilai, Ijtimak Ulama jilid II tidak merepresentasikan pemuka agama Islam se-Indonesia. Para ulama yang tergabung dalam Ijtimak Ulama II merupakan pemuka agama partisan yang arah politiknya sudah jelas, yakni mendukung Prabowo Subianto -Sandiaga Uno.

"Dari awal sikap politiknya sudah jelas. Jadi bagi kami tidak aneh," kata Lukman di Media Center KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (17/9/2018). Lukman juga melayangkan kritik Ijtima Ulama Jilid II yang masih membicarakan adanya kriminalisasi ulama oleh negara. Menurutnya, perlu ada pembuktian lebih lanjut untuk dapat membuktikan kebenaran klaim tersebut. "Mana ulama yang merasa di kriminalisasi? Apalagi dikriminalisasi oleh rezim. Oleh Pak Jokowi misalnya. Mana?," jelasnya.

Terpisah, peneliti dari lembaga Indonesia Public Institute (IPI)  Jerry Massie menilai,  hasil ijtima ulama menunjukkan adanya pertarungan ulama di dalam Pilpres 2019. “Bisa dibilang saat ini kekuatan di ulama 50-50 dengan lawannya, Jokowi-Ma'ruf yang lebih dulu dikenal sebagai pasangan nasionalis religius," ujar Jerry kepada INDOPOS di Jakarta,  Senin (17/9/2018).

Mengapa begitu? Kata Jerry, sejak Prabowo tidak memilih cawapres hasil rekomendasi Ijtima Ulama I pada akhir Juli lalu, membuat umat Muslim,  khususnya alumni 212 langsung terpecah.

"Tapi dengan adanya Ijtima Ulama jilid II serta adanya penandatanganan Pakta Integritas yang didalamnya ada perjanjian untuk membela ulama,  maka ruh dan semangat umat serta alumni 212 kembali sedikit menyatu," ujarnya.

Dian pun menilai,  pemilih di kalangan ulama cukup berpengaruh dari total 187 juta pemilih menurut data KPU. Ia menilai akan ada perebutan suara umat Islam yang merupakan pemilih mayoritas di Pulau Jawa.

"Jadi influence atau pengaruh khusus pemilih di daerah yang basisnya santri dan ulama cukup besar misalkan Jatim, Jabar Banten dan sebagainya," ungkapnya. Peraih gelar doktor politik dari salah satu universitas di Amerika Serikat ini menjelaskan, tinggal bagaimana dukungan ulama di Ijtima Ulama jilid II ini dikembangkan dengan visi-misi serta materi kampanye dari pasangan Prabowo-Sandi.

"Kans menang bagi Prabowo-Sandi cukup terbuka usai dukungan ulama. Nah, tinggal ramuan dan racikan manajemen di lapangan dari tim sukses seperti apa yang mereka lakukan selanjutnya. Karena jika salah melangkah pasti hasilnya buruk," cetusnya.

Khususnya bagaimana meraih pemilih mengambang dari kaum milenial, kaum buruh, dan kaum emak-emak. "Yang jumlahnya  saya kira mencapai lebih dari 80 juta orang," pungkasnya. Adanya pengaruh dukungan umat Islam juga diakui pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  Lili Romli. Tapi hal itu,  bagi Lili hanya sebatas kepada kaum muslim pendukung aksi 212.

"Saya kira tentu ada pengaruhnya,  tapi lebih kepada kaum muslim pendukung aksi 212," kata Lili  kepada INDOPOS. Namun di alumni 212 pun,  ucap Lili,  dinilai akan terpecah suara dukungan kepada kedua paslon. Mengingat munculnya nama Ma'ruf Amin selaku cawapres dari Joko Widodo.

"Lain hal jika yang jadi cawapresnya bukan Ma'ruf Amin. Karena selaku Ketua MUI dan adanya fatwa MUI maka kasus Al Maidah 51 mendapat dukungan umat Islam sehingga memenjarakan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama)," tukasnya. Dirinya pun melihat ada sejumlah alumni 212 yang juga turut menjadi pendukung paslon Jokowi-Ma'ruf.

"Jadi saya melihat di alumni 212 sendiri saat ini sudah terpecah dukungannya kepada kedua paslon.  Maka keputusan Ijtima Ulama II itu tidak akan berpengaruh besar kepada umat Islam untuk mendukung Prabowo- Sandi," jelasnya.

Pengamat politik dari Universitas Sebelas Maret Surakarta,  Agus Riewanti juga menuturkan, dukungan ulama yang muncul saat Intima Ulama II tidak akan berjalan efektif di masyarakat umum.  "Dikarenakan rakyat sekarang kian independen dan bisa mendapat akses informasi pilihan politik dari sumber dan tokoh lain," jelasnya kepada INDOPOS.

Selain itu,  jika kubu Prabowo-Sandi memainkan sentimen agama,  lanjut Agus,  juga tidak efektif mengingat pertarungan di Pilpres sudah berbeda dengan saat Pilkada DKI Jakarta lalu.

"Dimana saat Pilkada DKI ada sosok sentral,  yakni Ahok yang dinilai telah menistakan agama Islam. Jadi isu agama sulit dimainkan di Pilpres,  terlebih ada sosok Ma'ruf Amin yang merupakan Ketua MUI dan juga Rais Aam PBNU," jelasnya.

Lebih lanjut,  dalam ilmu politik, ucap Agus,  setiap moment politik dalam satu periode tahun politik biasanya terjadi sekali dan tak berulang. "Setiap masa punya sejarah dan dimensinya yang berbeda. Sehingga Pilkada dan pilpres yang berdekatan,  isu agama akan efektif disaat pilkada DKI saja dan tidak sampai ke Pilpres," tambahnya. (aen/dil)


BACA JUGA

Minggu, 09 Desember 2018 11:08

Rencana Menikah Tinggal Kenangan

Tak pernah terbersit di benak keluarga, Muhammad Agus alias Aso…

Minggu, 09 Desember 2018 10:59

Video Call sebelum Tidur

Kesibukan menjadi kepala negara, ditambah anak-anaknya yang tengah fokus membangun…

Minggu, 09 Desember 2018 10:57

Setahun Lebih Tersangka, Eks Kabid Ditahan KPK

JAKARTA – Setelah setahun lebih berstatus tersangka, mantan Kepala Bidang…

Sabtu, 08 Desember 2018 13:59

Elektabilitas Jokowi Stagnan, Ma'ruf Amin yang Disalahkan

JAKARTA- Diberitakan JawaPos.com, menjelang hari pemilihan pada Pilpres 2019, dua…

Jumat, 07 Desember 2018 08:36

NGERI..!! Kelompok Begal "Ero-Ero" Rekrut Pelajar

MAKASSAR- Kecanduan narkoba dan tergabung dalam kelompok begal sadis. Rieynandi…

Jumat, 07 Desember 2018 08:25

Ma’ruf Bantah Sakit, Hanya Terkilir

JAKARTA – Akhir-akhir ini, cawapres Ma’ruf Amin lebih sering berada…

Jumat, 07 Desember 2018 08:24

Orang Gila Masuk dalam DPT Masih Jadi Perdebatan

JAKARTA – Keberadaan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di daftar…

Kamis, 06 Desember 2018 10:35
Wawancara dengan Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom

Serangan Berlanjut hingga Revolusi Total

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengaku bertanggung…

Kamis, 06 Desember 2018 10:35

Ajukan JC, Budi Mulya Siap Buka-bukaan

JAKARTA – Keluarga terpidana korupsi bailout Bank Century Budi Mulya…

Kamis, 06 Desember 2018 10:34

Bertambah Satu Korban Selamat

JAKARTA – Pasukan gabungan TNI dan Polri terus berusaha masuk…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .