MANAGED BY:
RABU
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 18 September 2018 07:06
Minimnya Langkah Kaki dan Jalur Pedestrian Kita

PROKAL.CO, Oleh:Muhammad Risal
(
Mahasiswa Magister Administrasi Publik FISIP Unmul)

SALAH SATU penelitian yang menarik perhatian pada tahun 2017 adalah penelitian yang dilakukan oleh Stanford University tentang analisis rata-rata jumlah langkah kaki yang dilakukan oleh penduduk di seluruh dunia. Hasilnya cukup mengejutkan, karena Indonesia masuk dalam salah satu negara dengan orang yang paling malas berjalan kaki di dunia dengan rata-rata 3.513 langkah per hari. Sedangkan Hong Kong menjadi negara dengan orang yang paling rajin jalan kaki dengan 6.880 langkah per hari. Untuk rata-rata penduduk dunia sendiri adalah 4.961 langkah per hari. Salah satu faktor mengapa orang malas berjalan kaki dalam penelitian tersebut adalah kondisi trotoar/jalur pedestrian yang tidak layak.

Berkaca pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Stanford University, kita tidak bisa tidak untuk mengamini dan setuju dengan hasil yang ditemukan. Terutama jika kita mengaitkannya pada kehidupan manusia yang tinggal dan mendiami Samarinda. Tulisan ini ingin sedikit mengulas mengenai faktor yang menjadi penyebab orang malas untuk berjalan kaki di Samarinda, yaitu kondisi jalur pedestrian atau trotoarnya.

Samarinda adalah salah satu kota dengan perkembangan kota yang cukup pesat karena didorong oleh perkembangan ekonomi di mana selain sebagai ibu kota provinsi, Samarinda juga menjadi kota dengan layanan industri dan jasa. Perkembangan kota yang pesat, menyebabkan penataan kota dan pengelolaan ruang terbuka publik biasanya akan semakin sulit untuk dilakukan. Berkembang pesatnya sebuah kota jika tidak diimbangi penataan ruang terbuka yang baik, hanya akan menghasilkan ruang kota yang tidak layak, semrawut, dan tidak nyaman bagi penggunanya, terutama jalur pedestrian (pedestrian ways) pejalan kaki. Lalu bagaimana penataan ruang publik terbuka di Samarinda, terutama jalur pedestrian yang ada?

Tito Susan Bella dalam salah satu artikelnya menjelaskan, bahwa jalur pedestrian merupakan ruang pelayanan yang memiliki fungsi untuk kegiatan pejalan kaki dalam melakukan aktivitas, sehingga dapat meningkatkan keamanan, kelancaran dan kenyamanan bagi pejalan kaki. Dirancang sebagai ruang khusus untuk pejalan kaki, jalur pedestrian berfungsi sebagai sarana yang dapat melindungi pejalan kaki dari bahaya lalu lintas kendaraan bermotor. Selain itu, jalur pedestrian ini juga tempat terjadinya interaksi sosial antarmasyarakat, di Indonesia sendiri lebih dikenal sebagai trotoar. Jalur pedestrian juga dibangun untuk melindungi hak-hak pejalan kaki dari kendaraan-kendaraan yang melintas di jalan utama. Volume kendaraan yang tinggi membuat para pejalan kaki rawan menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Sehingga pembangunan jalur pedestrian menjadi sebuah hal yang sangat mutlak untuk dilakukan.

Kondisi jalur pedestrian di Samarinda cukup memprihatinkan. Ada tiga aspek yang dapat digunakan untuk menilainya secara ringkas, yaitu ketersediaan, keamanan, dan kegunaannya. Ketersediaan jalur pedestrian di jalanan Samarinda banyak yang minim, terutama di jalan-jalan utama. Di Jalan PM Noor, Jalan KH Wahid Hasyim II, Jalan AW Sjahranie misalnya, yang banyak dilalui kendaraan bermotor tidak memiliki jalur pedestrian yang memadai. Bahkan sebagian besar badan jalan tidak memilikinya. Aspek keamanan jalur pedestrian yang ada juga bisa dikatakan tidak terlalu aman bagi pengguna jalan. Banyak jalur pedestrian yang berlubang, rusak, licin, dan lain-lain. Namun, yang paling miris adalah banyaknya jalur pedestrian yang dilalui kendaraan beroda dua jika jalanan sedang dalam volume tertingginya. Kendaraan roda dua yang melintas di atas jalur pedestrian sebagaimana yang sering terlihat di Jalan Juanda dan Jalan Letjen Soeprapto menuju simpang Jalan Juanda sangat membahayakan pejalan kaki maupun pengguna roda dua itu sendiri.

Dalam aspek penggunaan, ada banyak trotoar di jalan Samarinda yang beralih fungsi menjadi lahan parkir liar, tempat berjualan pedagang kaki lima, maupun banyak digunakan sebagai alternatif jalan bagi kendaraan roda dua jika kondisi jalanan macet.

Ada banyak hak pejalan kaki yang terampas haknya karena kondisi trotoar jalan yang tidak layak. Pasal 25 Ayat (1) huruf h Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) menjelaskan, bahwa setiap jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum wajib dilengkapi dengan perlengkapan jalan, yang salah satunya berupa fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan yang berada di jalan dan di luar badan jalan. Ini artinya, sebagai salah satu fasilitas pendukung jalan, trotoar juga merupakan perlengkapan jalan. Pasal 28 Ayat (2) UU LLAJ juga menyatakan, bahwa setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi perlengkapan jalan. Selain UU LLAJ, hak-hak pejalan kaki ini juga diatur Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan.

Secara sosiologis, orang yang menggunakan trotoar dengan tidak semestinya di Indonesia, terutama di Samarinda, merasa tidak bersalah. Banyaknya pelanggaran yang terjadi dan tidak segera ditertibkan oleh aparat membuat orang terus-menerus melakukan pelanggaran tersebut. Kesalahan yang berulang dan tidak ditindak tegas kemudian menjadi pembenaran bagi para pelanggar. Dalam UU LLAJ, hak dan kewajiban para pejalan kaki sudah sangat jelas. Hanya saja pejalan kaki masih dianggap sebagai kaum terpinggirkan dan tidak dilindungi hak-haknya. Tidak hanya itu, jalur pedestrian atau trotoar banyak yang tidak diurus dengan layak.

Paradigma pejalan kaki sebagai kaum yang terpinggirkan dalam jalanan ini sedikit banyak memengaruhi pemerintah dalam membangun sarana dan prasarana jalur pedestrian yang baik. Pejalan kaki menempati kasta terendah dalam pembangunan transportasi kota di Samarinda sehingga nasib trotoar, penegakan hukum, dan hak pejalan kakinya terabaikan. Kebanyakan kota-kota besar di Indonesia memang dibangun dengan memprioritaskan para pengguna kendaraan bermotor, di mana semua akses memang dipermudah bagi pengguna kendaraan bermotor. Hal inilah yang jadi penyebab utama pejalan kaki sampai sekarang belum mendapatkan hak-haknya di jalan secara memadai.

Kombinasi dari perilaku pengguna kendaraan roda dua yang sering menggunakan trotoar, peruntukan trotoar yang tidak tepat, minimnya trotoar yang layak dan adanya paradigma pembangunan jalan dari pemerintah yang tidak memperhitungkan hak-hak pejalan kaki sedikit banyak menyumbang angka minimnya orang yang mau berjalan kaki di jalan Samarinda. Pada akhirnya, muara dari semua hal ini adalah minimnya jumlah langkah kaki yang dicatatkan oleh penduduk Samarinda. Padahal ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan berjalan kaki seperti memperpanjang umur, menyehatkan jantung, membakar lemak, mengurangi risiko nyeri sendi, dan meningkatkan kekebalan tubuh. (**/rsh/k15)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 23 Oktober 2018 06:59

Wajah Plastik Politik Kita

Oleh: Syamsuddin Juhran(Pegiat Samarendah Society) KESIMPULAN silogisme dari premis-premis politik partisan…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:57

Peran Pemuda dalam Menopang Perekonomian Bangsa

Oleh: Muhamad Fadhol Tamimy(Ketua Umum Genbi Kalimantan Timur) PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap…

Sabtu, 20 Oktober 2018 00:11

Berebut Suara Milenial di Pilpres 2019

PADA 20 September, KPU RI sudah menetapkan dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden untuk…

Sabtu, 20 Oktober 2018 00:10

Hari Pangan Sedunia dan Refleksi Pembangunan Ketahanan Pangan Kaltim

SETIAP 16 Oktober, dilakukan perayaan Hari Pangan Sedunia, termasuk Indonesia yang diselenggarakan di…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:14

Bekal untuk Para Caleg 2019

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan di Tenggarong) KETUA Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:07

Wujudkan Balikpapan Sebagai Kota Pariwisata Berbasis Islam

Oleh: Siti Subaidah(Pemerhati Lingkungan dan Generasi) KOTA Balikpapan di usia 121 tahun sudah menjadi…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:05

Holding Migas dalam Perspektif Geopolitik dan Geostrategi Nasional

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO, MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S3 Program…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:54

Persyaratan Bahasa Inggris bagi Pejabat Pemerintah: Yay or Nay?

Oleh: Veronika Hanna Naibaho[Widyaiswara di Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:51

Mitigasi Bencana melalui Pengenalan Bencana Geologi

Oleh: Muhammad Dahlan Balfas(Dosen Program Studi S-1 Teknik Geologi Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman)…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:49

Siapa Bilang Kalimantan Aman Gempa?

Oleh: Sunarto Satrowardojo(Dosen Sekolah Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Universitas…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .