MANAGED BY:
RABU
24 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SAMARINDA

Senin, 17 September 2018 08:55
ASTAGA..!! Tiga Anggota DPRD Samarinda Persekusi Pengguna Kaos #2019GantiPresiden

Kapolres Bilang Tak Pantas, Ahmad Vanandza Membantah

A Vanandza

PROKAL.CO, SAMARINDA – Video berdurasi 1 menit 18 detik yang merekam pengadangan pengendara motor di Jalan Teuku Umar, Sungai Kunjang, oleh tiga anggota DPRD Samarinda jadi buah bibir warganet. Dalam video yang direkam pada Sabtu (15/9), tiga anggota DPRD Samarinda dari Fraksi PDI Perjuangan memaki dua pengendara motor Yamaha Jupiter MX KT 6369 LT yang berboncengan. Mereka adalah Ahmad Vanandza, Suriani, dan Hairul Usman.

Ketiganya terekam dalam satu frame di video yang terjadi di tepi jalan. Sementara dua pemuda yang menggunakan baju bertuliskan #2019GantiPresiden tak berdaya. Dikerumuni bak maling yang tertangkap basah. Baju bagian belakang pengemudi yang ditarik paksa, sobek hingga terlepas. Tubuhnya nyaris terpental. Beruntung, Kompol Raden Sigit Satrio Hutomo, kapolsek Samarinda Ulu, bisa meredam.

Ahmad Vanandza, Suriani, dan Hairul Usman saling bersahutan melakukan serangan verbal kepada pengendara itu karena menggunakan baju bertuliskan #2019GantiPresiden. Hingga terselip kata tak pantas yang diduga dilontarkan Ahmad Vanandza, anggota Komisi I DPRD Samarinda. Sembari melepas baju dan memasang jaket, pemuda tersebut lantas pergi meninggalkan lokasi. Menanggapi aksi yang terjadi Sabtu siang, Kapolresta Samarinda Kombes Vendra Riviyanto menjelaskan, hal tersebut tentu tak dibenarkan.

“Namanya persekusi, tidak pantas,” sebutnya. Sejauh ini, polisi masih melakukan pengembangan terhadap pengguna baju #2019GantiPresiden. Perwira menengah Polri berpangkat melati tiga di pundak itu menegaskan, pihaknya tentu melihat kejadian tersebut dari berbagai sudut pandang. Namun, dari pantauan di ruang sentra pelayanan kepolisian terpadu (SPKT) Polresta Samarinda dan jajaran polsek, dia belum mendengar adanya laporan dari orang-orang yang kabarnya mendapat perlakuan kurang menyenangkan di video tersebut.

“Belum ada laporan, dan dilihat dulu bagaimana nantinya,” terangnya. Jika ada laporan, terang dia, polisi tentunya sudah bersiap. Mulai mempelajari masalahnya, hingga mencari bukti-bukti di lapangan. Terkait pasal yang dilanggar, Vendra belum bisa merincinya. “Tunggu perkembangan,” ucapnya. Agar kejadian serupa tak terulang, Vendra menegaskan agar individu maupun kelompok tidak main hakim sendiri. “Segera berkoordinasi ke kami (polisi),” sebutnya.

Dikonfirmasi kemarin, Ahmad Vanandza dengan tegas membantah telah melakukan persekusi. Menurutnya, tindakan seperti yang terekam di video tersebut sebagai bentuk bela negara. Dia beranggapan, kegiatan deklarasi ganti presiden merupakan perbuatan makar. Dirinya mengklaim, sudah berkonsultasi dengan pihak kepolisian dan dibenarkan bahwa deklarasi ganti presiden adalah perbuatan makar. Dengan begitu, seluruh warga Indonesia punya hak untuk menghalangi perbuatan tersebut.

”Kalau bukan bangsa Indonesia yang menghentikan, siapa lagi. Kalau membiarkan pun bisa kena sanksi hukum. Kalau saya dibilang persekusi, itu tidak benar. Saya hanya menyampaikan sesuatu yang saya anggap benar. Masyarakat banyak mendukung dan ini tidak ada kaitannya dengan partai (PDIP). Kalau Kapolri (Tito Karnavian) tidak mengatakan itu makar, saya tidak akan menyampaikan seperti itu,” jelas Vanandza.

Anggota Komisi I DPRD Samarinda ini mengatakan, kegiatan deklarasi ganti presiden tidak memiliki izin dari pihak kepolisian. “Saya bisa menuntut balik. Karena melakukan kegiatan yang meresahkan warga Samarinda,” tuturnya. Lain hal ketika deklarasi ganti presiden diterima seluruh rakyat Indonesia, dirinya memastikan tidak akan ribut. Apalagi, lanjut dia, kegiatan itu tidak punya izin. Sedangkan, dirinya tidak melakukan sendirian. “Ada Bu Suriani dan Pak Hairul Usman (anggota DPRD Samarinda). Masyarakat pun ikut terlibat,” beber dia.

Dirinya menegaskan, mengganti presiden ada prosesnya. ”Jangan main potong begitu saja. Presiden masih menjabat sampai 2019. Jagalah perasaan masyarakat. Ini belum waktu kampanye. Silakan manfaatkan Pilpres 2019,” sebut dia. Terkait dirinya dianggap menistakan agama, politik PDIP ini membantah hal tersebut.

“Saya tidak bilang khilafah (maaf, red) taik. Saya bilang, memangnya kamu mau bikin negara khilafah? (maaf, red) taik kamu. Ini negara republik. Itu yang saya katakan. Kalau mengganti presiden, berarti mengubah sistem dan saya tidak menyetujui Indonesia menjadi negara khilafah,” paparnya. Menurutnya, khilafah diartikan sebagai sistem pemerintahan. Sama halnya dengan sistem kerajaan dan republik.

“Saya menista di mana? Saya tidak menghina Alquran, hadis, dan agama Islam. Saya juga penganut agama Islam. Nama saya Ahmad, merupakan nama kecil rasul (Muhammad),” ucap dia.

Terkait pernyataan dari Ketua MUI Samarinda KH Zaini Zain, dia enggan beradu argumen. “Mungkin beliau (Zaini Zain) tidak melihat video secara langsung. Kan bahasanya terputus, tapi nyambung. Atau mungkin hanya mendengar sepihak. Pak Zaini orang baik, saya mengerti itu,” ungkapnya. Dikonfirmasi terpisah, Ketua DPC PDIP Samarinda Siswadi memastikan, parpolnya tidak ada kaitannya dengan video yang beredar. “Kalau ikut terlibat (PDIP) massanya pasti ribuan. Tidak mungkin sedikit. Itu murni suara rakyat,” ujarnya.

Dia pun sependapat bawah deklarasi ganti presiden merupakan perbuatan makar. Apalagi, lanjut wakil ketua DPRD Samarinda ini, mengganti kekuasaan sebelum waktunya. “Mungkin menurut mereka (Ahmad Vanandza, Suriani, dan Hairul Usman)

ini tindakan inkonstitusional dan tidak berdasarkan konstitusi. Mungkin mereka khawatir tidak ada lagi yang peduli. Ini bentuk kepedulian sebagai masyarakat,” tutur Siswadi. (*/dq*/dra/riz/k18)


BACA JUGA

Rabu, 24 April 2019 09:23

BISA DICEK..!! Formulir C1 Sudah Diumumkan di Setiap Kelurahan

SAMARINDA- Untuk transparansi serta melaksanakan amanat undang-undang, Komisi Pemilihan Umum…

Rabu, 24 April 2019 09:10

Sarang Sabu di Kota Samarinda Kembali Digerebek, 15 Orang Diangkut BNNP

SAMARINDA – Sarang 'narkotika' Samarinda berada di Jalan Kesejahteraan I…

Selasa, 23 April 2019 09:34
Kasus “Serangan Fajar” di Jalan Pramuka

Bukti Bertambah, Seorang Caleg Diperiksa

SAMARINDA–Desakan agar Bawaslu Samarinda menuntaskan dugaan “serangan fajar” di Jalan…

Selasa, 23 April 2019 09:33

Jarang Sosialisasi, Kerap Keluar Malam

SAMARINDA–Aktivitas, Senin (22/4) pagi, warga Jalan Lambung Mangkurat, Gang Syahdan…

Selasa, 23 April 2019 09:32

“Tambang, Bom Waktu yang Mengancam Lingkungan”

Hari Bumi Internasional bisa dimaknai dengan banyak cara. Salah satunya…

Selasa, 23 April 2019 09:31

Masih Menunggu Validasi di Kecamatan

SAMARINDA–Informasi perolehan suara dalam pemilu serentak terus diperbarui. Terbaru, dari…

Selasa, 23 April 2019 09:31

Pelaku di-SP I, Kasus Diserahkan ke Inspektorat

SAMARINDA–Kasus dugaan pungutan liar (pungli) di lingkungan Kecamatan Samarinda Ulu…

Senin, 22 April 2019 21:41

Job Market Fair Digelar di Kantor Disnakertrans Kaltim, Terdapat 1.377 Lowongan Kerja

SAMARINDA - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kaltim menggelar…

Senin, 22 April 2019 09:18

Pulang Kerja, Rumah Tinggal Bara

NASIB malang menimpa Novi Diana Wati (32). Perempuan yang kesehariannya bekerja…

Senin, 22 April 2019 09:18

Sulit Harapkan APBD Perubahan

SAMARINDA–Renovasi SD 005 di Loa Janan Ilir jadi sorotan Panitia…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*