MANAGED BY:
SENIN
10 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Senin, 17 September 2018 07:23
Perkuat Identitas Bangsa di Kalangan Milenial

PROKAL.CO, OLEH: MAYA RETNO SARI

GENERASI milenial sudah sangat sering diperbincangkan oleh banyak kalangan saat ini, generasi Y atau orang yang lahir pada kisaran tahun 1981-1994-an dan generasi Z yang lahir pada tahun 1995-2010 bisa dikategorikan menjadi generasi milenial. Generasi milenial sendiri tentunya sudah sangat berbeda dari generasi sebelumnya (generasi X), generasi Y dan Z baik dari segi pola pikirnya maupun dalam hal penguasaan teknologi yang berkembang dewasa ini. Dilihat dari aktivitas di sosial media, generasi milenial mendominasi jika dibandingkan dengan generasi X.

Wajah Indonesia pada masanya akan dihias oleh generasi milenial, untuk mengetahui tentang karakter sebuah bangsa tentunya tercermin dari gambaran social culture dalam sebuah lingkup lingkungan. Identitas diri menjadi penting bagi generasi milenial untuk menunjukkan diri terhadap lingkungan. Ada tantangan dalam menggali identitas diri dalam perkembangan dunia yang semakin melaju, kemampuan beradaptasi juga perlu dipercepat dengan perkembangan yang terjadi.

Kemajuan teknologi dan kemampuan beradaptasi menjadi penting adanya dalam sebuah perubahan yang tanpa menggerus sebuah karakter yang menjadi identitas bangsa. Identitas akan berwujud dalam berbagai hal dalam segi budaya dan bisa tergambar dari watak. Apa yang disebut identitas bangsa? Bagaimanakah karakter sebuah bangsa? Jawaban itu sudah ada dalam Pancasila. Implementasinya, pancasila dalam pembukaan UUD 1945 yang merupakan landasan bangsa ada tiga nilai yang dapat dimaknai yaitu nilai spiritual bahwa pancasila terdapat nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai selanjutnya institusional, bahwasanya Pancasila sebagai landasan utama untuk mencapai cita-cita bangsa dalam bernegara dan dalam penyelenggaraan pemerintah. Terakhir nilai kultural yang terkandung di dalamnya, bermakna pandangan hidup bernegara dan Pancasila sebagai dasar negara.

Transisi teknologi yang begitu cepat terkadang dapat melunturkan nilai-nilai Pancasila. Akibatnya permasalahan yang ada semakin kompleks dan ancaman yang timbul semakin beragam tentu menjadi tugas kita semua sebagai warga negara khususnya keberadaan kaum milenial untuk “memerangi” ancaman yang mematahkan nilai-nilai beragama yang menekankan pada nilai moral dan etika. Dengan membangun semangat nasionalisme pada generasi muda saat ini jiwa-jiwa pancasila sudah seharusnya melekat menjadi karakter bangsa. Semangat bela negara seharusnya berjalan beriringan dengan semangat pancasila yang sudah sepatutnya tertanam pada jiwa-jiwa generasi muda sebagai ujung tombak pembangunan bangsa.

Pemberian pemahaman pada generasi muda penting adanya untuk menumbuhkan semangat nasionalisme. Sehingga dukungan dan semangat patriotik dalam media sosial tidak hanya menjadi trend saja. Adanya semangat bela negara dalam nawa cita pada poin delapan yaitu melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Membangun nilai-nilai patriotik menggambarkan semangat nawa cita sebagai nilai-nilai optimisme yang harus tumbuh dalam jiwa setiap warga negara.

Penerimaan CPNS tahun 2017 lalu, terlihat para generasi milenial mengisi wajah-wajah pemerintahan saat ini. Sesuai yang diamanatkan Undang-Undang No. 5 tahun 2014 tentang ASN, Pasal 63 Ayat 3 dan 4 bahwa dalam masa percobaan sebagai CPNS dilaksanakan proses pendidikan dan pelatihan terintegrasi untuk membangun integritas moral, kejujuran, semangat dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan bertanggung jawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang. Di dalam Peraturan Lembaga Administrasi Negara Nomor 25 tahun 2017 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III, diperlukan sebuah penyelenggaraan Pelatihan yang inovatif dan terintegrasi, yaitu penyelenggaraan Pelatihan yang memadukan pembelajaran klasikal dan non-klasikal di tempat Pelatihan dan di tempat kerja sehingga memungkinkan peserta (CPNS) mampu menginternalisasi, menerapkan, dan mengaktualisasikan, serta membuatnya menjadi kebiasaan (habituasi). Selain ANEKA ada tiga mata pelatihan diklat untuk kegiatan pembelajaran agenda kedudukan dan peran PNS dalam NKRI, pertama Manajemen ASN, Pelayanan Publik, dan terakhir Whole of Government.

Ada lima materi diklat dasar yang dikenal dengan sebutan ANEKA yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika publik, Komitmen mutu dan Anti korupsi, kelima nilai merupakan nilai dasar yang wajib dimiliki setiap ASN sebagai public servants dalam melaksanakan tugas jabatan sebagai Aparatur Sipil Negara. Salah satu nilai yang berkaitan dengan bela negara adalah nilai Nasionalisme. Menilai internalisasi ANEKA sebagai CPNS yang mengikuti diklat prajabatan sangat perlu nilai ini diterapkan untuk membentuk ASN yang profesional juga membentuk jati diri dengan semangat nasionalisme. Dapat dilihat dari Peraturan Kepala LAN Nomor 21 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III, yang kemudian disempurnakan dengan Peraturan Lembaga Administrasi Negara Nomor 25 Tahun 2017.

Pedoman penyelenggaraan Pelatihan dasar Calon Pegawai Negeri Sipil, memerlukan muatan materi dalam meningkatkan kapasitas dan sinergi antara kementerian, lembaga maupun pemerintah daerah dalam menghadapi ancaman dengan melalui peningkatan kesadaran bela negara di lingkungan kementerian, lembaga, dan juga pemerintah daerah. Peraturan LAN nomer 25 Tahun 2017 ini telah berlaku pada tanggal 2 Januari 2018. Adanya internalisasi nilai-nilai ANEKA yang diterapkan dalam Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil, dapat membentuk ASN yang memiliki hati nurani dalam perwujudan nilai ANEKA untuk dilaksanakan dalam setiap bentuk perbuatan.

Sebagai generasi milenial yang didukung oleh waktu dan sudah seharusnya generasi milenial bisa menentukan diri sendiri sebagai jati diri. Generasi milenial lain halnya dengan generasi “instan” yang dimanja dengan teknologi saja. Generasi milenial bukan hanya hasil dari “rebusan” generasi sebelumnya tetapi juga penentu arah bangsa. Butuh sebuah keberanian untuk sebuah generasi dalam menentukan nilai, menemukan caranya sendiri dalam membangun citra diri jati bangsa, yang perlu generasi milenial perhatikan sekali lagi adalah zaman boleh berubah-ubah tetapi nilai-nilai Pancasila tetap harus tumbuh sebagai karakter dan identitas bangsa. (*/one/k18)

loading...

BACA JUGA

Senin, 10 Desember 2018 06:58

Atlet Jadi Idola Baru Kawula Muda

Oleh: Elsa Malinda EUFORIA Asian Games 2018 memang telah berlalu,…

Senin, 10 Desember 2018 06:56

Potensi Kawasan Karst Kaltim

Oleh: Meltalia Tumanduk S. Pi (Pemerhati Lingkungan) KAWASAN karst di…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:45

Embrio: Manusia Kecil yang Harus Diselamatkan

DEWASA  ini kemajuan biomedis menawarkan aneka manfaat bagi manusia. Teknologi…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:43

Mengenal Obat Diabetes Oral dan Suntikan Insulin

MENURUT data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi penyakit…

Jumat, 07 Desember 2018 06:57

Kegalauan antara Haq dan Hak (HAM)

Oleh: Andi Putri Marissa SE (Relawan Penulis Balikpapan) BELUM lama…

Jumat, 07 Desember 2018 06:55

Guru Honorer Dulu dan Kini

Oleh: Isromiyah SH (Pemerhati Generasi dan Mengajar di Lembaga Al…

Jumat, 07 Desember 2018 06:53

Suguhkan Kepakaran Seseorang dalam Teknologi

Oleh: Olli Chandra (Mahasiswa Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer &…

Kamis, 06 Desember 2018 07:05

Longsor Sanga-Sanga: Kehendak Tuhan atau Ulah Manusia?

OLEH: FUAD FANSURI (Dosen Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Samarinda…

Kamis, 06 Desember 2018 07:02

Psikologi Lingkungan: Ironi dan Kutukan SDA di “Odah Etam”

OLEH: RANDI M GUMILANG (Dosen Bimbingan dan Konseling Islam/Gusdurian Kaltim)…

Rabu, 05 Desember 2018 06:49

Marginalisasi Penyandang Disabilitas: Renungan Hari Disabilitas dalam Perspektif Kebijakan Publik

Oleh: Dr Bambang Irawan (Kepala Laboratorium Kebijakan Publik FISIP Universitas…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .