MANAGED BY:
MINGGU
24 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Senin, 17 September 2018 07:21
Ibrah Tahun Baru Islam

PROKAL.CO, OLEH: MUKHTAR
(Wakil Ketua IKA PMII Kutai Timur Bidang Riset dan Teknologi)

SELASA pada 11 September 2018 lalu bertepatan dengan 1 Muharram 1440 H, yang mana Tahun Baru Islam atau juga dikenal dengan Tahun Baru Hijriah. Ini  merupakan hari yang sangat monumental bagi umat Muslim khususnya hingga diperingati dengan berbagai macam cara di setiap kehadirannya. Dalam islam, hari tersebut merupakan tonggak sejarah yang sangat penting, karena pada hari itu Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah untuk menyebarkan ajaran Islam dan membangun tatanan kehidupan yang baru.

Disebut tatanan kehidupan yang baru karena sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, kondisinya sangat heterogen dan jauh dari kedamaian. Hal ini bisa dilihat dari,  pertama, kondisi sosial budaya di Madinah terdiri dari tiga komunitas besar, Yakni Yahudi, Arab Pagan, dan Penganut Kristen. Pada sisi lain, Madinah sebelum kedatangan Nabi SAW sering terjadi peperangan antar-kabilah yang berkepanjangan, misalnya saja perang Bu’ats antara suku Aus dan Khazraj (Syafiyyurrahman Almubarakfuri: 127). Kedua, kondisi politik di Madinah tidak mencerminkan toleransi antar sesama, penduduk Madinah kehidupannya tidak teratur yang diakibatkan oleh multigolongan yang belum bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan dalam pemerintahan, hal ini bisa dilihat dari gesekan dan peperangan yang terjadi berkepanjangan karena memperebutkan kekuasaan, (Suyuti Pulungan: 40, 2014). Ketiga, kesenjangan ekonomi antargolongan yang semakin tinggi, mengingat Yahudi cukup pintar mencari sumber penghidupan dan mata pencaharian serta mampu memainkan perannya dalam mengendalikan ekonomi dengan cara riba (Syafiyyurrahman Almubarakfuri: Kathur Suhadi: 1997, 127).

Begitu Nabi Muhammad SAW Hijrah ke Madinah dan menebarkan ajaran Allah SWT, kehidupan di Madinah berubah drastis. Hal ini, ditandai dengan munculnya Piagam Madinah yang sangat fenomenal. Dengan disahkannya Piagam Madinah oleh berbagai kelompok dan agama melahirkan sebuah tatanan kehidupan yang makmur dan penuh toleransi serta persamaan derajat. Kesepakatan yang dilakukan Rasulullah SAW dengan mereka ini bertujuan agar terjaminnya sebuah keamanan dan kedamaian, juga untuk melahirkan sebuah suasana harmonis dan kondusif, saling membantu dan toleransi di antara golongan tersebut, hingga terciptalah Negara yang jauh dari permusuhan antargolongan (Ahmad al-Usairy: 105). Menurut Muhammad Al-Ghazali, persaudaraan ini dimaksudkan agar fanatisme jahiliah menjadi cair, tidak ada yang dibela kecuali islam, selain itu disparitas dan primordialisme antar-keturunan/suku, warna kulit, dan daerah menjadi hilang, tidak ada yang merasa lebih unggul dan lebih rendah kecuali karena ketakwaannya (Syafiyyurrahman Almubarakfuri: Kathur Suhadi: 1997, 127).

Semangat Tahun Baru Islam Sebagai Penguh Toleransi dan Kesatuan NKRI

Dengan diperingatinya Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1440, hendaknya ini menjadi kilas balik bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk menyerap makna dan pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalamnya, salah satunya adalah tentang toleransi dan persamaan derajat. Terlebih lagi kondisi masyarakat Indonesia hari ini yang dari hari ke hari disuguhi informasi-informasi yang penuh muatan adu domba, fanatisme golongan, isu-isu primordial, bahkan caci maki dan hujatan antar sesama anak bangsa.

Cukup terekam jelas dalam jejak digital, akhir-akhir ini informasi-informasi yang berseliweran di media sosial disertai dengan caci maki, argumentasi agama, saling menyalahkan, bahkan menjamurnya hoax tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang berkepentingan, melainkan juga oleh masyarakat secara umum, seolah-olah hal tersebut menjadi komoditas yang menguntungkan. Misalnya saja dikutip dari salah satu media online nasional, hasil penelitian di Amerika, orang berpendidikan paling banyak sebar hoax. Lebih dari itu, laporan pengaduan konten negatif yang ditujukan pada Kementerian Komunikasi dan Informatika pada tahun 2017 meningkat secara signifikan hingga mencapai 32 ribu dalam kurun waktu 7 bulan. Dikutip dari media online lainnya, konten berbau SARA dan ujaran kebencian mencapai 5.142 pada Januari 2017. Sementara itu, Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) merilis survei tentang informasi palsu (hoax) yang tengah marak di Tanah Air. Sumber utama peredaran hoax adalah media sosial.

Tidak berlebihan jika ujaran kebencian, saling ejek dan menguatnya isu primordial serta menjamurnya hoax, lambat laun akan menjadi ancaman tersendiri bagi keutuhan NKRI dan berkecamuknya konflik horizontal. Lihat saja Mesir kala itu, Presiden Mesir Hosni Mubarok dapat digulingkan pada tahun 2011 akibat revolusi yang digerakkan melalui media sosial. Bukankah dalam Islam telah diajarkan tentang pentingnya persatuan dan persaudaraan? Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran: 103, yang artinya “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara”. Al Qurthubi dalam Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an berkata tentang tafsir ayat ini, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan. Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasaan dan al jama’ah (persatuan) merupakan keselamatan”.

Tentu hal ini harus disikapi dengan bijak oleh seluruh lapisan masyarakat, dengan peran dan kapasitasnya masing-masing. Misalnya saja pemerintah menyikapi dengan kebijakan-kebijakan yang mengutamakan keadilan dan demi tegaknya NKRI, masyarakat harus mulai cerdas dan merenungi betul bagaimana pentingnya persatuan yang diajarkan Nabi SAW serta di momen Muharram ini, tentunya menjadi waktu yang sangat penting untuk memetik ibrah atau mengambil pelajaran dari sebuah perjuangan untuk membangun peradaban. Seperti halnya juga yang telah dilakukan oleh para pahlawan nasional dulu. Tak ketinggalan pula tentu peran tokoh agama dan tokoh masyarakat sangat diperlukan dalam hal ini. Karisma dan ketokohannya tentu sangat didengar masyarakat. Untuk itu peran serta tokoh agama dan masyarkat dibutuhkan untuk bersama-sama mengajarkan pentingnya persatuan dan menghindari perpecahan akibat isu SARA, isu primordial, hoax dan sebagainya. Hal ini, bisa dilakukan misalnya melalui mimbar Jumat bagi umat Islam, mimbar kebaktian bagi nasrani dan sebagainya secara kontinu. Dengan peran serta seluruh elemen masyarakat, para tokoh agama, pemerintah dan tokoh masyarakat secara kontinu untuk bersama-sama mengedepankan kepentingan Bangsa dan tegaknya NKRI, tidak menutup kemungkinan penyebaran hoax, ujaran kebencian, dan isu-isu primordial lambat laun akan berkurang dan tentunya kita bisa memetik buah manis dari semua itu yakni kedamaian dan kokohnya NKRI. (*/one/k18)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 09 Februari 2019 10:47

Stanley dan Mogulisme Media yang Anjay Sekali

Oleh: Ramon Damora Wartawan Indonesia KETUA Dewan Pers, Yosep Adi…

Selasa, 05 Februari 2019 10:18

Posisi Ketua Adat dalam Acara Pemerintah

PERINGATAN ulang tahun ke-59 Kabupaten Paser berjalan dengan sukses, meski…

Rabu, 30 Januari 2019 07:24

Guru Ideal dan Revolusioner

Oleh: Heni Susilowati MPd (Guru SMA 1 Long Kali, Paser)…

Selasa, 29 Januari 2019 07:10

Bandara APT Pranoto: Harapan dan Tantangan Pariwisata Samarinda

OLEH: ADI PURBONDARU (Analis KPw BI Kaltim) SAMARINDA yang memiliki…

Senin, 28 Januari 2019 07:00

Urgensi Elektronifikasi Transaksi Keuangan Pemerintah Daerah

OLEH: CHRISTIAN (Analis Ekonomi KPw-BI Kaltim) BANK Indonesia sebagai otoritas…

Sabtu, 26 Januari 2019 07:06

Perempuan Utusan Jiwa: Jelajah Intelektual Schimmel

SEBUAH buku dongeng terbitan 1872 menjadi titik tolak perjalanan panjang…

Sabtu, 26 Januari 2019 07:04

Kandidat Politisi Beradu Kualitas atau Isi Tas

LAYAKNYA  sebuah pesta, sudut-sudut kota semakin mendekati hari H kian…

Kamis, 24 Januari 2019 08:02

Mau Tahu Tender Pemerintah 2019?

Oleh: Naryono SKom MM (Plt Kepala UPT LPSE Dinas Komunikasi…

Kamis, 24 Januari 2019 08:00

Junjung Tinggi Demokrasi Tanpa Menebar Kebencian

Oleh: Sugeng Susilo SH (Staf Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi…

Rabu, 23 Januari 2019 08:09

Mengenal Metode Pembelajaran yang Tepat untuk IPS

Oleh: Slamet Pujiono (Guru SMP 23 Samarinda, NIP 19680427199308001) UNTUK…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*