MANAGED BY:
KAMIS
23 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 15 September 2018 01:57
Pangan Masih Bergantung, kalau Gelombang Harga Ikut Bergoyang

Bawa Rp 100 Ribu ke Pandansari, Dapat Apa?

INI HASILNYA: Ini aneka bahan yang didapatkan dari belanja dengan Rp 100 ribu di Pasar Pandansari, Balikpapan, kemarin pagi.

PROKAL.CO, Di sejumlah media ramai "diskusi" tentang Rp 100 ribu bisa belanja apa zaman now? Wartawan Kaltim Post pun mencari tahu dengan belanja ke Pasar Pandansari, Balikpapan, Jumat (14/9). Dapat apa saja satu lembar merah itu di kota yang disebut-sebut termahal di Kaltim ini?

 JARUM jam menunjuk angka sembilan. Seperti biasa, Pasar Pandansari tumpah saat pagi. Begitu juga kemarin. Lapak pedagang meluber sampai pinggir jalan. Pembeli lalu-lalang. Harus bergantian dengan motor atau angkutan kota (angkot) yang melintas. Di dalam pagar pasar tak kalah ramai. Baru memarkirkan motor, belum menentukan daftar belanja, seorang perempuan paruh baya langsung memanggil.

  “Ayam, murah Rp 28 ribu bisa kurang,” katanya menjajakan barang. Media ini yang melihat kurang tertarik. Ukuran ayam kecil. Pilihan jatuh ke dalam bangunan pasar.

 Idris, pedagang ayam, menawarkan ukuran yang lebih besar. Rp 35 ribu dia membuka harga. Bisa ditawar. Setelah negosiasi disepakati Rp 30 ribu. Kata dia, pada Muharam (awal tahun dalam kalender Islam) ini sepi pembeli. Berpengaruh pada harga. Sebelumnya untuk ukuran yang sama dia biasa jual Rp 40 ribu. Bisa jadi, kata dia, ini faktor pantangan yang dianut suku Bugis. Jangan menggelar hajatan pernikahan pada Muharam. “Bisa selalu bertengkar. Kalau mau di bulan Safar. Rezeki melimpah. Namun, itu tradisi Bugis,” kata Idris.

                Meninggalkan Idris, lauk untuk protein tubuh sudah di tangan. Giliran mencari bumbu dan sayuran. Saat keluar pasar ikan ada lapak bawang. Rp 17 ribu per kilogram untuk bawang merah. Rp 18 ribu untuk bawang putih. Ada paket hemat. Sudah dibungkus plastik es. Bawang merah dan putih jadi satu. Timbangannya 8 ons. Harganya Rp 8 ribu. Dipilihlah paket hemat itu.

                “Harganya turun terus. Sebelumnya Rp 22 ribu per kilogram (untuk bawang merah dan putih),” sebut si penjual.

 

                Masih bingung mau masak sayur apa. Sambil bertanya harga sayuran hijau, Hadi si penjual memberi saran. Dia suka tumis kangkung. Simpel namun sedap. Cocok dihidangkan dengan lauk apapun. Apalagi ditemani nasi hangat. “Mau dicampur apa juga enak. Bumbunya juga tak banyak. Yang penting pakai saus tiram,” sebutnya.

 

                Walhasil, dibeli satu ikat kangkung akar. Harganya Rp 3 ribu per ikat. Kalau beli dua Rp 5 ribu. Pelengkapnya ada taoge, Rp 2 ribu. Dapat setengah plastik kecil. Lalu kacang panjang. Seikat Rp 8 ribu. Karena terlalu banyak, dibeli separuh. Tiga sayuran ini rekomendasi Hadi. Ditemani tomat, cabai besar dan cabai rawit, maka siaplah tumis kangkung.

 

                “Tinggal tambah garam, penyedap rasa, bawang merah bawang putih. Sudah jadi,” ucapnya. Bergeser dari lapak Hadi. Belanja bumbu. Ada garam Rp 2 ribu sebungkus. Tak lupa saus tiram. Cukup yang instan dalam kemasan. Rp 2.500 per saset. Penyedap Rp 500 per saset. Sementara untuk bumbu ayam bisa menggunakan bumbu racik instan. Lalu digoreng di dalam minyak kelapa sawit. Sebotol 600 mililiter Rp 8 ribu.

 

                Sebelumnya, bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno, menyebut efek dolar menguat memengaruhi komoditas kedelai. Imbasnya ke industri tahu dan tempe. Bahkan disebut-sebut dolar naik ukuran tempe mengecil. Media ini mengeceknya di Pandansari. Tahu dan tempe per bungkus Rp 5 ribu. Sementara tahu merek Sumedang lebih mahal Rp 2 ribu.

 

                “Kalau (berubah) berat iya. Tapi secara timbangan paling kurangnya setengah ons. Ini katanya naik, tapi saya tunggu-tunggu tak naik,” kata Inah, pedagang tahu-tempe.

 

                Tak terasa proses belanja sudah berlangsung sejam. Sambil memikirkan belanjaan berikutnya, istirahat dimanfaatkan untuk menghitung pengeluaran. Tersisa Rp 29 ribu. Di tengah mencari referensi perbandingan harga di dunia maya, tiba-tiba teringat soal nasi hangat. Beras pun dicari. Tiga lapak didatangi. Sayang tak ada yang kelas premium. Akhirnya pilihan jatuh di kelas medium. Per kilogram Rp 12 ribu.  “Harganya stabil saja,” kata si penjual saat ditanya fluktuasi harga.              

 

                Matahari mendekati puncak. Cuaca yang menyengat pun memberi ide. Harus ada buah segar. Pelancar pencernaan. Semangka lantas dipilih. Konon buah asal Gurun Afrika ini banyak manfaatnya. Cocok untuk membantu menurunkan berat badan. Bahkan, bagi pria bisa jadi penambah vitalitas. Semacam viagra alami tanpa efek samping.  

 

                Setelah semangka, habislah Rp 100 ribu (lengkap lihat grafis). Bisa dimakan oleh berapa orang hasil belanjaan itu? Kaltim Post mengunjungi Sumarsih. Mantan pelaku usaha katering di Gunung Sari Ilir, Balikpapan Tengah. Perempuan yang tak pernah lepas dari dapur. Hampir 30 tahun berumah tangga. Harus memberi makan suami dan lima orang anak. Belum lagi selama 10 tahun dihabiskan usaha katering untuk banyak tetangganya.

 

                Mengenal banyak resep makanan, Sumarsih melihat jumlah dan varian belanja. Dia antusias membongkar bahan dari pasar. Penasaran apa saja yang diperoleh media ini dari belanja Rp 100 ribu. Pasalnya, pada malam harinya (dua malam lalu) dia sudah menonton televisi. Ada ulasan serupa.

“Ramai ya sekarang Rp 100 ribu belanja dapat apa,” kata dia.

Dari total belanja Rp 100 ribu di depannya, dia memberikan rincian. Berdasarkan pengalamannya, untuk 1 kilogram beras yang dimasak bisa memberi makan 10 orang dewasa dengan porsi normal. Nasi lengkap dengan tumis kangkung. Tempe bisa digoreng sendiri. Atau dicampur ke dalam sayur. Bergantung selera.

“Sisa tomat, cabai, dan bawang bisa dibuat sambal. Paling enak dibuat mentah. Menggugah selera. Ayamnya lebih cocok digoreng tanpa tepung,” sarannya.

 

                Harga pangan di Kota Minyak menurutnya memang masih bersahabat. Punya uang Rp 50 ribu sudah bisa membawa lauk minimal telur untuk makan keluarga. Sayurnya bisa macam-macam bergantung keinginan. Memang ada waktunya ada harga melambung. Tetapi itu tak membuatnya sampai marah.

“Memangnya kalau marah harganya bisa turun,” ucapnya.

 Dia sadar. Balikpapan belum mandiri soal pangan. Sebagian besar didatangkan dari Sulawesi dan Jawa. Jadi kalau sedang musim gelombang, pengiriman terhalang. Harga ikut goyang. Pengetahuan ini dia peroleh dari cerita pedagang langganan. “Mau bagaimana lagi sudah kalau seperti itu,” tuturnya.

 Suara menggema mendadak keluar dari pengeras suara masjid. Tanda waktu salat Jumat telah tiba. Seperti biasa, Sumarsih harus melanjutkan tugasnya. Memasak untuk suami dan dua anak yang masih seatap. Agar bisa makan siang setelah menunaikan ibadah. Sayur asam, ayam, sambal goreng tahu-tempe jadi menu andalan. “Biar kuat jalani hidup...hehe,” canda Sumarsih. (*/rdh/far/k8)

    

loading...

BACA JUGA

Kamis, 16 Mei 2019 14:55
Berbincang dengan dr Joseph, Bule Brazil Penjaga Pohon Kurma di Islamic Center

Bule Rawat 165 Pohon Kurma tanpa Digaji, Yakin Kurmanya Berbuah Tiga Tahun Lagi

Masjid Hubbul Wathan Islamic Center ditanami 165 pohon kurma. Uniknya,…

Senin, 06 Mei 2019 13:16
Ketika Dua Bule Aktivis Lingkungan Prihatin dengan Sampah di Indonesia

Ajak Mencintai Bumi, Ingatkan Dampak Negatif Plastik

Mereka bukan asal Indonesia. Yang satu, Adriana María Olarte dari…

Senin, 06 Mei 2019 13:13
Padusan, “Ritual” Sambut Ramadan yang Jadi Tradisi

Umat Islam Padati Tempat-Tempat Pemandian Alami

SLEMAN – Sudah menjadi tradisi tahunan tiap H-1 Ramadan masyarakat…

Minggu, 05 Mei 2019 09:16
Refleksi Hari Pendidikan di Kukar

Dela Tak Lagi Mengayuh dengan Sepatu Bolong

Bukan ponsel canggih apalagi motor beken untuk berkeliling kampung. Hanya…

Rabu, 24 April 2019 10:27
Caleg Pasutri yang Diprediksi Lolos, Suastika Hindari Simakrama Bareng Istri

Bukan Haus Jabatan, Tapi Karena Penugasan Partai

Calon legislatif (caleg) DPRD pasangan suami-istri (pasutri) yang kemungkinan besar…

Kamis, 04 April 2019 10:32
Berbincang dengan Setyo Pranoto, Pria Berjuluk Manusia Jadul

Keliling Jawa dan Kalimantan untuk Berburu Handphone Jadul

Teknologi semakin maju. Telepon genggam pun semakin canggih dengan desain…

Kamis, 04 April 2019 10:30
Bule Perancis Keliling Dunia Pakai Sepeda

Telah Singgahi 10 Negara, di Indonesia Doyan Makan Tempe dan Bakso

Victor Habchy punya nyali tinggi. Bule asal Prancis itu berkeliling…

Rabu, 03 April 2019 12:19
Ribuan Anak Yaman Angkat Senjata di Garda Depan

Dijanjikan Uang dan Pekerjaan, tapi Disuruh Perang

Anak-anak di Yaman tidak hanya harus tumbuh dengan melihat pemandangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*