MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 12 September 2018 08:50
Perdalam Teknik di Hong Kong, Annisa Langganan Istri Pejabat

Kisah Dua Penjahit Legendaris Kota Minyak

BISNIS KELUARGA: Candra Kasuma sudah merintis bisnis jahit-menjahit sejak 53 tahun silam. Foto bawah, suasana penjahit Annisa yang tak kalah beken di Balikpapan. (paksi sandang prabowo/kp)

PROKAL.CO, Dua pengusaha ini sudah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia menjahit di Balikpapan. Pelanggan mereka dari kalangan biasa, hingga para pesohor.

KARIER Candra Kasuma merintis bisnis jahit-menjahit terbilang panjang. Bukan 10 atau 20 tahun. Tercatat dia sudah merintis bisnis ini sejak 53 tahun silam. Ribuan busana tentu sudah dihasilkan dari usaha menjahitnya yang diberi nama Wahana Tailor. Terutama jas yang jadi produk unggulan.  

Tengah pekan lalu, Kaltim Post menyambangi tempat kerjanya di Jalan A Yani, Balikpapan. Terlihat pria paruh baya itu tengah bersenda gurau dengan beberapa karyawannya. Rasanya santai, meski tangan dan matanya masih sibuk mengatur pola.

Ketika itu, Candra – sang pemilik – duduk tepat di depan meja kerjanya. Di sekitarnya, terlihat potretnya bersama orang-orang penting. Di antaranya Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi sampai Dahlan Iskan. Foto-foto ini terbingkai di depan jajaran kain yang siap diolah jadi pakaian terbaik.

Hal yang tak kalah menarik perhatian, tentu koleksi pakaian yang sudah rampung dia kerjakan. Hampir keseluruhan merupakan pakaian pria. Dari pakaian lapangan, pakaian dinas harian, sampai jas yang mendominasi seantero ruang pamer itu.

Harganya pun bervariasi. Bergantung jenis kain. Ibarat pepatah "ada uang ada barang", pelanggan bisa menentukan pakaian sesuaibujet. Misalnya jas. Harga paling murah Rp 1,9 juta. Dengan harga tersebut, Anda akan mendapatkan jas berbahan lokal, yakni polyester.

Paling mahal adalah jas dengan bagan semi-wol. Bahannya memang tidak sembarangan. Harus impor dari Eropa. Pilihan yang tersedia di pasaran Indonesia, yakni wol dari Inggris, Italia, dan Jerman. Harga jas ini bisa sekitar Rp 3-4 juta. Itu harga bersih yang dipatoknya, termasuk jasa dan bahan.

“Kalau bahan wol 100 persen sudah tidak tersedia di Indonesia. Harus belanja ke Singapura, jadi susah untuk dapat bahan. Untuk semi-wol saja harus kita beli dari importir di Jakarta,” tuturnya.

Berdasarkan pengalamannya, Candra pernah membuat satu setel jas dengan kain wol keseluruhan.

Dengan kisaran biaya mencapai Rp 7 juta, bukan uang yang sedikit saat dia mengerjakan itu 10 tahun lalu. Saat itu 1 meter kain wol saja bisa menghabiskan dana hingga Rp 2 juta. Bayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat jas full wol di zaman now ini.

Dia mengungkapkan, sekarang sudah tak ada lagi yang memesan jas bahan wol 100 persen. Alasannya, apalagi kalau bukan karena kesulitan mendapat bahan tersebut. Candra harus membeli bahan di Singapura, belum lagi butuh waktu yang cukup lama dalam proses pengiriman.

“Belum lagi ekonomi sekarang sulit, tidak seramai dulu. Tapi pesanan masih ada, walau jumlahnya tidak tentu juga,” ujarnya. Dalam membuat jas, Candra memberikan kebebasan bagi pelanggan untuk menentukan bahan dan modelnya. Anda hanya perlu datang ke toko dan menyampaikan keinginan. Mau dibuatkan jas seperti apa.

Setelah itu, pelanggan melakukan proses pengukuran badan dan berapa banyak kain yang akan digunakan. Kemudian, pelanggan bisa memberikan uang muka alias down payment sebagai tanda jadi pemesanan. Sisanya, tim Wahana Tailor yang akan langsung mengerjakan jas selera Anda. Prosesnya kurang lebih memakan waktu satu hingga dua minggu.

“Waktu juga bergantung dari jumlah pesanan yang ada saat itu. Paling cepat bisa satu minggu. Tapi, normalnya sekitar dua minggu,” imbuhnya. Selama menjalani profesinya, tak begitu ada komplain ekstrem yang dia terima. Menurutnya, komplain masih dalam tahap wajar, paling sebatas kebesaran atau kekecilan saja. Semua itu bisa diperbaiki.

“Kalau jas modelnya begitu saja, paling ada permintaan seperti tambah lis. Tinggal menyesuaikan ukuran agar pengguna nyaman,” bebernya. Candra mengungkapkan, kini jas semi-wol menjadi bintang alias favorit pelanggan. Tidak hanya kaum dewasa dan pejabat, kini jas juga menjadi incaran anak muda.

Biasanya mereka mencari tipe jas dengan model press body. Baik digunakan dalam wisuda, pernikahan, pesta, dan acara formal lainnya. “Mereka sudah tahu contoh modelnya, tinggal bawa ke kami untuk jahit. Ada yang bawa bahan sendiri juga, jadi bebas tinggal mengikuti kemauan pelanggan,” sebutnya.

Bergulat di bidang tailor jelas bukan barang baru. Candra sudah jadi langganan banyak pejabat dan pengusaha sejak tahun 1980-an. Mulai dari wali kota sampai anggota dewan jadi penggemar hasil karyanya. Belum lagi pesanan dari perusahaan besar di sekitar wilayah Benua Etam.

Sesungguhnya, perkenalan pada dunia jahit bukan tanpa alasan. Anak kedua dari empat bersaudara ini mengikuti jejak kedua orangtuanya yang juga seorang penjahit.  Sejak kecil intim dengan bisnis ini. Namun, dia baru benar-benar memperdalam ilmu serta teknik menjahit sekitar 1965.

Tidak hanya belajar mandiri. Dia juga menunjukkan keseriusannya sebagai seorang tailor. Candra memutuskan terbang ke Hong Kong, Tiongkok pada 1984. Tepatnya untuk belajar teknik menjahit. Ketika itu, Wahana Tailor sudah memiliki banyak pesanan. Maka dari itu, dia nekat untuk pergi Hong Kong. Dengan niat mengembangkan teknik jahit skala besar.

“Karena di Hong Kong banyak tailor, di sana terpengaruh teknik dan model jahit dari Inggris,” tuturnya. Candra menghabiskan waktu sekitar 1,5 bulan untuk belajar. Momen ini dia manfaatkan sekaligus liburan pernikahan alias honeymoon bersama istrinya, Jenny.

Selama membuka usaha, Candra sudah tiga kali berpindah lokasi. Pertama, dia membuka usaha di Kebun Sayur. Lalu setelah ada insiden kebakaran, Candra memilih pindah ke daerah Gunung Sari. Terakhir dia menempati lokasi tokonya saat ini yang berada di kawasan Karang Bugis, sejak 2012. Kini, Wahana Tailor sudah menjadi usaha turun-temurun.

Dari bekal orangtuanya, Candra mewariskan bakat dan usaha ini kepada sang putra, Surya Agung. Hal ini sekaligus menandakan bahwa Wahana Tailor telah masuk generasi ketiga. Keduanya berkolaborasi menjalankan usaha serta dibantu oleh tim. Meski sudah memasuki usia 70 tahun, dia tetap turun langsung ke pembuatan produknya.

Hingga kini, semua kualitas masih terpantau oleh pria yang hobi jogingtersebut. Dia berpesan, bahwa ramah tamah terhadap pelanggan adalah kunci sukses seorang pengusaha. “Harus rajin kerja, melayani tamu pelanggan harus sabar. Tidak boleh kasar terhadap pelanggan. Kalau sanggup dengan pesanan ya kerjakan. Sebaliknya kalau tidak bisa juga harus katakan jujur,” tuturnya.

LANGGANAN ISTRI PEJABAT

Berbeda dengan Candra dari Wahana Tailor yang pandai dalam membuat jas. Ada pula penjahit Annisa yang tak kalah beken di Balikpapan. Namanya sudah tak asing lagi, terutama di telinga kaum ibu-ibu yang kerap membuat kebaya, blazer, hingga baju pesta.

Dialah Isnaniah, perempuan di balik karya Penjahit Annisa yang berlokasi di Jalan Mekar Sari, Gunung Sari Ilir. Pengalamannya dalam dunia jahit sudah 31 tahun. Dia menjalankan usahanya di Balikpapan. Sejak 1 Januari 1987. Sebelum Kota Beriman, dia sudah memulai aktivitas sebagai penjahit di daerah asalnya, Sangkulirang, Kutai Timur.

Kala itu, niat mencari peruntungan dan mengubah nasib. Dia merantau ke Balikpapan. Usaha yang dijalani dengan sungguh-sungguh tersebut membuahkan hasil. Meski melewati berbagai proses jatuh bangun, nama Penjahit Annisa kian dikenal masyarakat.

Nani – sapaannya – memiliki pelanggan beragam. Tak terbatas di Balikpapan. Salah satunya yang masih konsisten menjadi pelanggan adalah Arita Rizal Effendi, anggota DPR RI Kasriyah, hingga istri gubernur Kaltim terpilih, Norbaiti Isran Noor. Dia mengungkapkan, Arita biasanya meminta dijahitkan baju kedinasan, baju batik motif daerah, baju pesta, hingga kebaya.

Istri wali kota Balikpapan dua periode ini justru tidak pernah komplain soal model atau bahan. Sebab, baik model maupun bahan sudah tersedia. Misalnya baju kedinasan dan batik. Namun, ketika menghadapi permintaan pejabat, Nani dan tim harus siap berkutat dengan waktu deadline.

Pejabat perlu menggunakannya di suatu acara yang akan mereka hadiri. “Paling masalah ada di waktu karena pejabat biasa minta cepat,” ucapnya. Padahal membuat busana dengan motif batik itu tidak mudah. Seorang penjahit harus pandai agar seluruh motif tertata dengan pas.

Perlu ketelitian lebih. Sementara waktu yang diberikan untuk masa pengerjaan sering kali mepet. “Masalahnya mempertemukan motif batik dari bagian atas sampai bawah ini sulit. Biasanya kita perlu tempel dengan bordir lagi agar sama dan cantik,” bebernya.

Walau biasa jadi langganan orang penting, Nani mengatakan, harga pakaian hasil karyanya ini sangat bervariasi. Bergantung dari tingkat kesulitan model sampai jenis kain. Contohnya untuk kebaya standar, biaya jasa jahitnya mulai Rp 950 ribu. Harga ini sudah termasuk bahan dalam dan furing. Tapi tidak termasuk bahan luar, rok, dan payet.

“Sedangkan untuk dress berpayet, kisaran Rp 5-10 juta bergantung dari banyaknya payet,” kata perempuan berusia 60 tahun tersebut. Menurutnya, harga ini masih standar dibandingkan harga pakaian hasil desainer Jakarta. Nani bercerita, dia pernah berencana membeli sebuah kebaya pernikahan di Ibu Kota.

Rencananya, pakaian tersebut digunakan untuk acara pernikahan putrinya. Saat berkunjung ke salah satu butik di sana, Nani tercengang dengan harga kebaya yang sangat fantastis. Anda membutuhkan dana Rp 30-60 juta. “Akhirnya kami putuskan bikin sendiri, ternyata tidak sampai Rp 10 juta,” imbuhnya.

Ibu dari tiga anak ini mengatakan, jumlah pesanan memang agak menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Dia menyadari faktor utamanya karena kondisi ekonomi yang kurang baik. Namun, dia bersyukur sejauh ini tidak pernah kehabisan kerjaan dari pelanggan.

“Berbeda dengan dulu memang kurang orang, tapi pesanan banyak dan sampai harus menolak pesanan,” sebutnya. Banyaknya jumlah pesanan ini bukan hanya bualan. Anda yang ingin membuat pakaian di tempat ini sebaiknya harus memesan jauh hari. Selain banyaknya pesanan, proses pengerjaan kebaya juga butuh waktu cukup lama.

Setidaknya paling cepat satu bulan proses pengerjaan, itu pun hanya kategori kebaya biasa. Belum lagi kebaya dengan aksesori penuh payet, prosesnya bisa sekitar dua bulan. “Karena khusus payet saja kami estimasi waktu selama sebulan,” tuturnya.

Nani menjelaskan, dalam satu pakaian ada banyak orang yang bertugas. Mulai dari pembuatan pola, tukang potong, tukang bordir, tukang jahit, tukang sum dan setrika. Tidak sampai di situ, masih ada tukang payet sampai yang bertugas pasang kancing. Jadi dalam membuat satu busana saja bisa sampai tujuh tahapan yang perlu dilalui.

Bagi yang ingin memesan baju di tempat ini, dia menyarankan untuk datang terlebih dahulu. Pelanggan dan desainer menentukan model serta hitung kebutuhan bahan kain. Setelah menetapkan hal-hal itu, baru kedua pihak bisa berbicara soal harga. Menurutnya, persetujuan yang jelas di awal pemesanan begitu penting. Sehingga mencegah komplain setelah karya rampung.

“Kadang baju sudah bagus menurut penjahit, tapi suka dicari-cari kesalahan dan kekurangannya. Kalau lagi fitting kebaya, ada yang ingin senyaman pakai daster, kan tidak mungkin. Karena pakaian kebaya harus ngepas di badan, beda dengan daster yang bisa longgar,” bebernya.

Kini, Nani dalam kesehariannya dibantu oleh sang putri, Rahmawati. Kemudian dibantu oleh beberapa orang karyawan yang memiliki tanggung jawab masing-masing. Istri dari Muhammad Ali (almarhum) ini bertanggung jawab pada pola atau desain. “Tapi, semua tahapan masih dalam pantauan. Makanya seluruh pekerjaan harus dilakukan di tempat, tidak boleh ada yang dibawa pulang kecuali payet,” ungkapnya.

Menurutnya, kunci bertahan dan sukses di bidang ini adalah sabar hadapi permintaan pelanggan yang berbagai macam. “Yang penting bagaimana membuat orang pakai bajunya enak di badan. Jadi, mau langganan dan datang lagi,” jelasnya. (gel/far/k15)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 15 November 2018 11:40

BPK Akui Sulit Awasi Desa

BALIKPAPAN - Alokasi dana desa yang saat ini pagunya bisa sampai 2-3 miliar per desa, menjadi tantangan…

Selasa, 13 November 2018 10:24

DUH PAYAH..!! Persentase Kelulusan CPNS Masih Rendah

TANA PASER–Seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Assessment Center Kantor Badan…

Selasa, 13 November 2018 07:35

Tugboat Batu Bara Tenggelam di Perairan Bunyu, Dua ABK Belum Ditemukan

TARAKAN – Kecelakaan di perairan Kalimantan Utara (Kaltara) kembali terjadi. Kali ini, sebuah…

Selasa, 13 November 2018 06:41

YESS..!! Merpati Siap Kembali Mengudara Tahun Depan

JAKARTA – Setelah mengalami penghentian operasi pada 2014 silam, maskapai pelat merah, Merpati,…

Senin, 12 November 2018 11:00

KENA PAJAK..?? Menteri Keuangan Bakal Wajibkan Mahasiswa Miliki NPWP

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani berencana mewajibkan seluruh mahasiswa di Indonesia memiliki…

Senin, 12 November 2018 10:37

Angel dan Jose Makin Intim, Dikabarkan Sudah Menikah

Hubungan Angel Karamoy dengan sutradara Jose Poernomo makin intim. Buktinya, Jose Poernomo semakin sering…

Senin, 12 November 2018 10:28

Marquez Rayakan Gelar Dunia ke 7 di Kampung Halaman

UNTUK merayakan gelar juara dunia ketujuhnya, atau kelima di kelas MotoGP, Marc Marquez, pada Sabtu…

Senin, 12 November 2018 10:20

LUCU JUGA..!! Perusahaan Air Masih Terkendala Air

TANA PASER–Sepekan terakhir, masyarakat Paser, khususnya Kecamatan Tanah Grogot, mengeluhkan pelayanan…

Senin, 12 November 2018 08:49

Klasifikasikan Kualitas Pasangan, Kemampuan Biologis Juga Ditanya

Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah berhasil menyelenggarakan pernikahan mubarakah, Minggu (11/11).…

Minggu, 11 November 2018 11:11

Pulang, KRI Bima Suci Banyak Sabet Penghargaan

 Setelah mengelilingi lima negara selama 100 hari untuk mengikuti event internasional, Kapal Republik…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .