MANAGED BY:
JUMAT
26 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Rabu, 12 September 2018 08:04
Pengembangan Keaksaraan dan Keterampilan

PROKAL.CO, Oleh: Tri Widayati
(Pamong Belajar BP PAUD & Dikmas Kaltim)

GLOBALISASI telah mengubah cara pandang dan pola pikir masyarakat yang menuntut adanya percepatan dan efisiensi. Kemajuan teknologi informasi mendorong perubahan jaman yang semakin pesat. Tantangan global pun semakin besar dan banyak. Tuntutan keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja, berevolusi dengan cepat seiring dengan perkembangan teknologi. Masyarakat mempunyai tantangan baru untuk dapat mengimbangi perkembangan teknologi tersebut. Thomas Friedman menggambarkan akselerasi perkembangan teknologi dalam bukunya Thank You For Being Late.

Teknologi berubah dengan cepat, sedangkan adaptasi manusia terhadap teknologi membutuhkan waktu yang lama. Ketika laju perubahan teknologi menjadi sangat cepat,  satu-satunya cara untuk mempertahankan kemampuan kerja adalah belajar sepanjang hidup. Belajar sepanjang hidup merupakan hakikat kunci dari perubahan sosial.  Belajar akan meningkatkan keberaksaraan (literasi) masyarakat.  Literasi adalah kompetensi, kemampuan, atau kefasihan yang telah digunakan dalam kerangka kerja. Untuk beberapa "melek" berkonotasi keaksaraan fungsional dan menunjukkan keterampilan dasar atau fundamental.

Paradigma pendidikan keaksaraan secara global mengalami ekstensifikasi makna.  Pendidikan keaksaraan bukan hanya sekedar berkutat pada masalah kesenjangan kecakapan membaca, menulis dan berhitung. Akan tetapi juga menyangkut kecakapan-kecakapan tertentu atau penguasaan keterampilan praktis yang kontekstual dan selaras dengan perubahan peradaban manusia yang melahirkan konsekuensi logis tentang adanya tuntutan-tuntutan baru setiap individu. Menurut Toffler, dalam era informasi ini, seseorang dituntut untuk literasi dalam enam aspek. Yaitu  melek fungsional (functional literacy), melek ilmiah (scientific literacy), melek teknologi (technological literacy), melek informasi (information literacy), melek budaya (cultural literacy), dan kesadaran global (global awareness).  Implikasinya, keberaksaraan tidak hanya sebatas konsep konvensional dan fungsional namun harus mampu menjawab tantangan dan orientasi global. Keberaksaraan diarahkan untuk mengembangkan kemampuan menggunakan aksara dan angka dalam bentuk bahasa tulis, lisan, dan penguasaan TIK pada tingkat yang diperlukan untuk berfungsi di tempat kerja, berusaha mandiri dan dalam kehidupan bermasyarakat.  

Sinergitas keaksaraan dan keterampilan merupakan tuntutan dalam yang harus dijawab dalam pendidikan keaksaraan. Pengetahuan warga belajar haruslah fungsional. Perlu penyadaran pada warga belajar terhadap keadaan hidup dan pekerjaannya. Warga belajar diarahkan untuk membuat analisis tentang faktor-faktor yang berperan dalam permasalahan yang dihadapi.  Dan memikirkan cara-cara untuk mencari solusi terhadap permasalahan tersebut. Program keaksaraan berkaitan dengan kegiatan-kegiatan praktis kehidupan, pekerjaan dan situasi keluarganya. Materi program keaksaraan disesuaikan dengan kebutuhan warga belajar.  Perlu keanekaragaman materi untuk memenuhi minat belajar.  Pembelajaran berorientasi pada tindakan, artinya warga belajar diarahkan untuk melakukan tindakan.

Karakteristik kehidupan pada abad ini adalah komunikasi tidak lagi face to face, tetapi komunikasi digital dimana informasi bersifat sangat dinamis dan tersedia dimana saja.  Sehingga tidak dapat dipungkiri lagi bahwa penguasaan terhadap perkembangan teknologi pada warga keaksaraan mutlak diperlukan.  Perlu pengembangan kurikulum keaksaraan yang mengarahkan pada keterampilan yang dibutuhkan pada saat ini.  Colin Rose and Malcolm J. Nicholl (1997) dalam bukunya AcceleratedLearning for The 21st Century menyatakan bahwa dalam memasuki abad ke-21 diperlukan cara-cara belajar baru untuk menggali pengetahuan secara cepat. Untuk mewujudkan warga belajar sebagai pembelajar yang efektif di abad sekarang diperlukan kegigihan untuk memotivasi dan memusatkan pikiran pada hal-hal memiliki nilai manfaat bagi kehidupannya. Kemudian mengaitkan pengetahuan dan informasi baru dengan pengalaman yang dimiliki. Selanjutnya membandingkan, menyelaraskan dan menginternalisasikan secara bijak untuk menetapkan keputusan yang lebih bermakna.

Keterampilan yang dimiliki warga belajar menjadi bekal untuk melihat realitas yang ada supaya ada harmonisasi dirinya dan lingkungan. Harmonisasi yang dimaksud adalah kesanggupan dirinya untuk memenuhi apa yang diperlukan oleh lingkungannya, sehingga keberadaan warga belajar tidak tercerabut dalam kehidupan kemasyarakatan baik secara ekonomi dan sosial. Eksistensi warga belajar secara ekonomi dan sosial semakin meneguhkan posisi warga belajar bahwa mereka telah mengambil keputusan yang bermakna.  Hal ini sekaligus menunjukkan warga belajar mengalami peningkatan kualitas literasinya. (*/one/k18)

loading...

BACA JUGA

Senin, 22 April 2019 10:36

Perlambatan Ekonomi Indonesia dan Peningkatan Kompetensi ASN

 Oleh : Dewi Sartika, SE, MM Peneliti Pusat Pelatihan dan…

Rabu, 17 April 2019 10:25

Cegah Laka, Banyak Pihak Terlibat

KECELAKAAN tidak melulu disebabkan kondisi kendaraan. Ada pula faktor kesalahan…

Kamis, 11 April 2019 10:48

Justice For Audrey. Ini Penyebab Pelaku Lakukan Bully

Jagat belantara maya saat ini sedang memberikan perhatian penuh pada…

Sabtu, 30 Maret 2019 10:10

Deskripsi Nilai Tauhid di Masyarakat Sosial

TANA PASER - Kebudayaan yang berkembang pada masyarakat merupakan akumulasi…

Jumat, 15 Maret 2019 11:51

Persiapkan Komisioner KPU 2024 – 2029 Sejak Sekarang

Catatan Abd. Kadir Sambolangi: Anggota panitia seleksi (Pansel) calon Komisi…

Rabu, 13 Maret 2019 10:40

Mereka Anggap Monster Itu Bernama Prabowo

Oleh : Hersubeno Arief Mereka ingin memutarbalik arus besar perubahan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*