MANAGED BY:
SELASA
20 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Selasa, 11 September 2018 08:43
Terus ke Timur Mengejar Matahari

PROKAL.CO, OLEH: DAHLAN ISKAN

AYOLAH kita mulai. Kata saya. Pada empat orang yang ada di masjid itu. Saya bisa khotbah. Kata saya lagi. Kalau tidak ada yang khotbah. Jam sudah menunjukkan pukul 14.39. Sudah hampir Asar. Jumatan belum dimulai.

Tidak ada respons dari empat orang itu. Semuanya berwajah Arab. Mungkin tidak paham. Dengan bahasa Arabnya orang Jawa seperti saya. Lalu saya ulangi lagi. Dengan lidah yang lebih saya Arab-Arabkan. Kali ini ada yang menjawab. Yang bersandar ke dinding samping itu. Dia lantas merogoh saku celana. Ambil handphone. Bicara-bicara.

Yang diajak bicara ternyata nongol di pintu ruang salat. Sambil menutup handphone-nya. Memasukkannya lagi ke saku celana. Dari pintu itu, dia langsung melangkah ke arah kursi depan. Duduk di situ. Sambil mengusap rambutnya. Dengan satu tangannya. Lalu mengusapkan tangannya itu ke celana jeans-nya.

Satu-satunya jamaah tua di situ langsung berdiri: azan. Ialah satu-satunya yang tidak bersandar ke dinding. Orang pertama yang tiba di Masjid Hays, Kansas, Jumat lalu. Saya kenal wajahnya. Dia imam. Tiga bulan lalu. Saat saya ke Hays ini. Dia yang juga khotbah saat itu. Dengan celana jeans-nya. Dengan topi pet yang dia balik di kepalanya.

Selesai azan, pemuda yang duduk di kursi itu merogoh saku celana. Ambil handphone. Membukanya. Lalu berdiri. Membaca khotbah dari layar handphone. Semua dalam bahasa Arab. Saat khotbah dibaca beberapa lagi tiba. Total menjadi sembilan orang. Yang Jumatan hari itu.

Khotbahnya pendek. Hanya 10 menit. Yang mendengarkan juga santai: duduk bersandar ke dinding. Ketika doa pada akhir khotbah tidak ada yang mengangkat tangan. Inilah khotbah yang sangat pendek. Meski masih kalah pendek dengan di masjid Kebon Jeruk Jakarta. Di pusatnya jamaah tabligh itu. Di Jalan Hayam Wuruk itu. Saya suka Jumatan di situ. Khotbahnya hanya lima menit. Dengan bahasa Arab semua. “Kok masih di Hays? Putrinya belum lulus?,” tanya saya ke orangtua yang azan itu. “Masih 1,5 tahun lagi,” katanya.

Memang kian sedikit mahasiswa dari Timur Tengah di Hays. Kota yang penduduknya hanya 40 ribu orang ini. Yang telaknya sangat di pedalaman ini. Yang sejauh mata memandang hanya ada ladang pertanian dan peternakan ini. Dan sumur-sumur angguk minyak ini.

Yang bertambah adalah mahasiswa dari Tiongkok. Sudah 100 orang saat ini. Fort Hays State University (FHSU) memang menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi di Henan. Di pedalaman Tiongkok. Saya pernah mengantar Chris Mohn ke universitas di Henan itu.

Chris Mohn adalah istri John Mohn. Teman saya itu. Dia dosen di FHSU itu. Chris memperoleh masternya di Wichita State University. Yang juga kampusnya Sandiaga Uno itu. Tidak jauh dari Hays. Untuk ukuran jarak di pedalaman Amerika: 250 kilometer.

Saat menulis artikel ini saya lagi duduk-duduk makan siang. Di dalam kampusnya Sandiaga itu. Di kursi kayu di bawah pohon rindang. Makan buritto. Bikinan saya sendiri. Yang saya bawa dari Hays.

Dari tempat makan ini saya bisa melihat bangunan kecil: kedai Pizza Hut. Saya baru saja dari kedai itu. Itulah kedai Pizza Hut pertama di dunia. Dari kedai itu, Pizza Hut memulainya. Dengan tujuan pertama dulu: menyediakan pilihan makanan murah untuk mahasiswa. Kini kedai itu jadi Museum Pizza Hut. Museum yang amat kecil. Untuk melihat seluruh isinya cukup mengintip dari kaca jendelanya.

Dari kursi makan siang ini saya juga bisa membayangkan bagaimana Sandiaga kuliah di sini. Dan lulus dengan summa cum laude. Untuk mata kuliah akuntansi. Selesai acara di Wichita saya ke Columbia. Di negara bagian Missouri. Yang memiliki sebuah universitas yang sangat indah itu.

Semula saya tidak ingin bertemu mahasiswa Indonesia di Columbia State University ini. Saya ‘kan baru bertemu mereka. Tiga bulan lalu. Sahur bersama. Dan berbuka bersama. Tapi ada pesan melalui WhatsApp. Saat saya baru selesai makan malam. Bersama tiga orang di pinggiran kota itu.

“Sekarang ini kami lagi ngobrol dengan Pak Bambang Harimurti,” kata Yanu Prasetyo dalam pesan WhatsApp. “Mengingatkan kami saat Pak Dahlan ke sini dulu,” tambahnya. “Lho saya juga di Columbia. Ha-ha-ha-ha,” jawab saya. “Di mana? Saya jemput ya?,” balasnya. “Tidak usah. Beri saja saya alamat. Saya ada mobil sendiri,” kata saya.

Alamatnya ternyata sama: tempat sahur bersama dulu. Dalam 10 menit saya tiba. Kini ada 26 mahasiswa Indonesia di Columbia State University. Semua ambil master dan doktor. Tidak ada lagi yang S-1.

Ada yang ambil doktor nano teknologi. Seperti Naadaa Zakiyyan itu. Yang kini berkumis rapi itu. Yang rambutnya dicat kuning kemerahan itu. Yang tidak jadi pulang ke Bondowoso karena langsung S-3 itu.

Ada yang ambil doktor kimia: M Andriansyah. Anak Lombok itu. Yang awalnya di SMA Mataram lalu dapat beasiswa untuk SMA di Kanada. Yang rambutnya juga dicat kemerahan itu. Ada yang ambil doktor imaging. Doktor matematika.

Ada yang ambil master ilmu komputer. Dewi Kharismawati. Yang terus berjilbab itu. Dan ada satu yang ambil master jurnalistik: Indah Setiawati. Yang dulu wartawati The Jakarta Post.

Bambang Harimurti, kolega saya di majalah Tempo dulu yang akan memberi seminar di situ. Di jurusan jurnalistik itu. Hari ini. Dari Columbia saya masih akan terus ke timur. Mengejar matahari terbit. (dis/rom/k16)


BACA JUGA

Minggu, 18 November 2018 07:39

KTT Pinjam Sana-sini

OLEH: DAHLAN ISKAN BARU sekali ini terjadi. Sebagian peserta KTT…

Sabtu, 17 November 2018 01:41

Pulang Kampung

Saya pulang kampung Kamis lalu. Mampir. Ke Dukuh Kebondalem. Desa…

Kamis, 15 November 2018 08:19

Nana Begitu Dibela Anak Autisnya

OLEH: DAHLAN ISKAN BANYAK yang punya anak autis. Tapi tidak…

Rabu, 14 November 2018 08:49

Pembentuk Game of Life yang Berakhir

OLEH: DAHLAN ISKAN BAGAIMANA hasil pemilu internal Singapura? Begitulah pertanyaan…

Selasa, 13 November 2018 08:27

Mahathir Kembali Urus Jembatan Bengkok

OLEH: DAHLAN ISKAN MAHATHIR ke Singapura. Kemarin. Membawa dendam lama.…

Senin, 12 November 2018 08:44

Referendum Sensitif yang Mengkhawatirkan

OLEH: DAHLAN ISKAN KOK tensinya memanas begini; Taiwan memutuskan sesuatu…

Minggu, 11 November 2018 08:26

Singapura Mencari Generasi Keempat

OLEH: DAHLAN ISKAN HARI ini ada pemilu di Singapura. Pemilu…

Sabtu, 10 November 2018 06:59

Profesor Egaliter yang Tanpa Kasir

INILAH  profesor yang ideal: badannya langsing, tidak pernah masuk rumah…

Kamis, 08 November 2018 08:50

Rusto’s Tempeh Man Jadda

OLEH: DAHLAN ISKAN TIDAK ada sukses yang datang tiba-tiba. Begitu…

Rabu, 07 November 2018 08:39

Membangun Mimpi dari Atas Atap

Seri 3 OLEH: DAHLAN ISKAN UJIAN Rustono akhirnya mencapai batas.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .