MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Selasa, 11 September 2018 08:30
Lulus Kecepatan, Ikut Wisuda Pakai Nama Orang Lain

Shinta Amalina Hazrati Havidz, Peraih Muri sebagai Doktor Termuda

HARI BAHAGIA: Shinta Amalina Hazrati Havidz (kedua kiri) bersama kedua orangtua dan kakaknya, Hazimi Bimaruci Hazrati Havids (kanan), di Wuhan of University Technology setelah wisuda. (DOKUMEN PRIBADI)

PROKAL.CO, Pada usia 25 tahun 11 bulan, Shinta Amalina Hazrati Havidz berhasil lulus ujian PhD (Philosophy Doctor) di bidang financial management dari Wuhan University of Technology, Tiongkok. Capaian itu tercatat manis di Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) sebagai perempuan Indonesia termuda peraih gelar doktor di perguruan tinggi Tiongkok. Ada tangis dan tawa mengiringi perjalanannya.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Bekasi

“ITU pekan yang bikin gembira sekaligus bikin sedih,” kata Shinta Amalina Hazrati Havidz di sela-sela menyantap mi hot plate. Pada suatu siang pertengahan bulan lalu itu, Jawa Pos bertemu dengannya di sebuah restoran di Cikarang, Bekasi. Jam makan siang baru saja berlalu. Restoran agak sepi. Sementara di luar sana terik matahari membakar Bekasi.

Pekan yang dimaksud Shinta adalah pekan ketika dia hendak diwisuda. Setelah menyelesaikan kuliah Master Business of Administration Jurusan Corporate Finance di Wuhan University of Technology (WUT), Tiongkok. “Anggaplah Rabu itu wisuda, Senin malam Mama-Papa sudah sampai (di Wuhan). Senang dong,” kata Shinta.    

Tapi, kabar menyedihkan itu datang pada Selasa pagi. Petugas kampus menelepon Shinta dan memberitahukan kalau dia tidak bisa ikut wisuda. Namanya tidak masuk list. Shinta yang menyelesaikan studinya 1,5 tahun itu dianggap tidak memenuhi syarat untuk bisa wisuda. Perlu minimal dua tahun.

Sedih, jengkel, ngambek, dan menangis tentu saja. Tapi, ke kampus yang membuatnya sedih, jengkel, ngambek, dan menangis itu pula dia akhirnya kembali setahun kemudian. Untuk menyelesaikan program doktoral. Dan, akhirnya mencatat prestasi membanggakan: Perempuan Indonesia termuda peraih gelar doktor di perguruan tinggi di Tiongkok.

Itulah rekor atas nama Shinta yang tercatat di MURI pada 17 Mei 2018. Pada tanggal itulah Shinta menjalani sidang untuk meraih gelar PhD. Dia berhasil menyelesaikan studi program doktor pada usia 25 tahun 11 bulan.

Raihan berujung rekor itu didapat lewat jalan panjang yang tak mudah. Shinta mengakui, studinya sebenarnya biasa-biasa saja. Bahkan, saat lulus sarjana strata satu dia pun tak mendapatkan predikat cum laude. Saat bersekolah di SMP 7 Kota Jambi dia mencoba mendaftar kelas akselerasi, juga tidak masuk.

Yang membuat studinya hingga meraih gelar doktor lebih cepat, kata dia, karena dia memulai lebih awal. Saat usia 5 tahun dia sudah masuk SD Islam AL Falah Jambi. “Saya ini sebenarnya follower kakak. Kuliah di Wuhan juga ikut kakak, bahkan jurusannya pun sama,” kata Shinta.

Seporsi mi di atas hot plate hampir lindang disantap putri kedua dari empat bersaudara pasangan Prof M Havidz Aima dan Hernawati Wibawati Retno Wiratih itu. Teh manis lalu diteguk.

Bimbim, begitu Shinta memanggil sang kakak, Hazimi Bimaruci Hazrati Havids, yang kuliah terlebih dahulu di WUT. Pada semester genap, Shinta menyusul. Mata kuliah di semester pertama dia ambil di semester ketiga. Sedangkan semester keempat fokus menyelesaikan tesis tentang perbedaan bank konvensional dan bank syariah.

Proses adaptasi selama di Tiongkok tak berlangsung mudah. Di Wuhan, perempuan kelahiran Jambi itu sering kaget dengan cara warga setempat berbicara. Yang selalu dengan nada tinggi. “Seperti ngajak berantem. Saat berkesempatan ke Beijing barulah terbuka pikiran saya ternyata orangnya ramah-ramah,” jelas alumnus President University, Bekasi.

Sampai kemudian kuliah master akhirnya bisa dia selesaikan. Dan, terjadilah insiden wisuda yang menyesakkan itu. Sisa-sisa kekecewaan itu bahkan seperti masih berjejak saat dia menceritakannya pada Jawa Pos.

Seolah tidak terima dengan kenyataan pahit ketika itu, dia pun mencoba untuk menemui seorang pejabat kampus bergelar profesor. Hasil klarifikasi itu sebenarnya sudah dia prediksi sejak awal. Gagal. “Tiongkok itu taat sekali dengan peraturan. Kalau A ya A,” ujarnya.

Sepanjang Selasa malam itu, dia betul-betul terpukul. Wisuda adalah momen pemungkas akhir studi. Kesakralannya, bagi Shinta, ibarat upacara penyerahan medali bagi atlet. Jerih payah melewati studi yang sulit karena jauh dari orangtua, mengalami culture shock di negeri orang, hingga penyelesaian tesis yang berat.

Perjuangan semacam itu sungguh lengkap nan manis bila diakhiri dengan wisuda. Yah, meski itu hanya sekadar seremoni memindahkan tali topi toga. Apalagi, saat lulus sarjana dari President University, dia juga tidak ikut wisuda. Dia menyelesaikan sidang skripsi pada 6 Februari 2013. Kuliah di Jurusan Banking and Finance President University diselesaikan dara kelahiran Jambi, 4 Juni 1992, itu 3,5 tahun.

Pada 23 Februari dia pergi ke Tiongkok untuk kuliah di WUT. Sedangkan wisuda di President University pada Juli tahun yang sama. Padahal, namanya ketika itu dipanggil untuk menerima penghargaan non-akademik saat wisuda.

Prestasinya di bidang kempo dianggap mengharumkan nama kampus. Saat tinggal di Kota Jambi dari SD hingga SMA, dia memang menekuni bela diri dari Jepang itu. Hingga akhirnya ponselnya berdering. Ibunya menelepon. Dia diperbolehkan ikut wisuda. Shinta pun bingung.

Ternyata ada mahasiswa magister yang tidak datang saat wisuda. Shinta bisa ikut wisuda dengan menggunakan jatah mahasiswa itu. Istilahnya dia menjadi pemeran pengganti, stuntwoman. Namanya tetap tidak tercantum dalam list. “Mungkin menurut mereka ini anak pengin wisuda doang ya udah masukan saja. Saya pakai kursi orang, nama orang, dan toga orang,” ujar dia.

Teh manis kembali dia teguk. Sudah satu jam lebih berbincang. Hanya beberapa tamu restoran yang masih bertahan. Di bawah siraman pendingin ruangan, Shinta masih memperlihatkan guratan emosi. Tiap menceritakan insiden wisuda itu. “Saat itu dibilang saya senang, tapi hanya setengah,” katanya.

Saat foto bersama pun dia memaksakan diri menyunggingkan senyum. “Gede banget. Karena itu saya termotivasi segera S-3 dan bisa benar-benar wisuda,” ujar Shinta, lantas tersenyum.

Lulus magister meski dengan tanpa wisuda resmi, Shinta akhirnya kembali ke Indonesia. Dia sempat menjadi dosen di President University mengajar mata kuliah financial management dan Islamic banking pada 2014. Atau saat usianya 22 tahun. Hasrat untuk kembali menimba ilmu masih menggelora. Tapi, bukan ke WUT.

Dia lebih ingin ke Durham University di Inggris. Dengan mengambil studi Islamic Finance untuk mengejar gelar doktor. Tapi, nasib ternyata membawanya kembali ke WUT. Dia mendapatkan jalan yang lebih mudah karena sudah mengenal kultur akademik dan beberapa profesor. Rekomendasi pun mudah didapat untuk beasiswa sampai selesai. Beda saat kuliah S-2 yang dengan biaya sendiri.

Masuk pada September 2015, dia bisa menyelesaikan studinya kurang dari tiga tahun. Disertasinya mengangkat topik bank Islam dan konvensional dengan mengambil studi di Asia dan Timur Tengah. Setelah merevisi materi disertasi beberapa kali, akhirnya dia sidang untuk meraih gelar PhD pada 17 Mei 2018.

Kali ini dia benar-benar wisuda. “Saya masih ingat betul saat wisuda doktor itu pakai toga merah. Istilahnya kita berdarah-darah untuk memakai toga merah,” katanya lantas tertawa lepas. Tak terasa hampir dua jam perbincangan itu berlangsung. Makanan dan minuman telah lama habis.

Raut Shinta pun sudah berbinar sejak menceritakan tentang keberhasilannya menjadi doktor. Dan, diwisuda. Kali ini secara resmi, tak pakai nama orang lain. Masih ditambah bonus pula: meraih penghargaan Muri yang diserahkan langsung sang pendiri, budayawan Jaya Suprana, 9 Agustus lalu. “Serasa diwisuda lagi,” katanya. (*/ttg/jpnn/rom/k8)


BACA JUGA

Kamis, 15 November 2018 11:40

BPK Akui Sulit Awasi Desa

BALIKPAPAN - Alokasi dana desa yang saat ini pagunya bisa sampai 2-3 miliar per desa, menjadi tantangan…

Selasa, 13 November 2018 10:24

DUH PAYAH..!! Persentase Kelulusan CPNS Masih Rendah

TANA PASER–Seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Assessment Center Kantor Badan…

Selasa, 13 November 2018 07:35

Tugboat Batu Bara Tenggelam di Perairan Bunyu, Dua ABK Belum Ditemukan

TARAKAN – Kecelakaan di perairan Kalimantan Utara (Kaltara) kembali terjadi. Kali ini, sebuah…

Selasa, 13 November 2018 06:41

YESS..!! Merpati Siap Kembali Mengudara Tahun Depan

JAKARTA – Setelah mengalami penghentian operasi pada 2014 silam, maskapai pelat merah, Merpati,…

Senin, 12 November 2018 11:00

KENA PAJAK..?? Menteri Keuangan Bakal Wajibkan Mahasiswa Miliki NPWP

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani berencana mewajibkan seluruh mahasiswa di Indonesia memiliki…

Senin, 12 November 2018 10:37

Angel dan Jose Makin Intim, Dikabarkan Sudah Menikah

Hubungan Angel Karamoy dengan sutradara Jose Poernomo makin intim. Buktinya, Jose Poernomo semakin sering…

Senin, 12 November 2018 10:28

Marquez Rayakan Gelar Dunia ke 7 di Kampung Halaman

UNTUK merayakan gelar juara dunia ketujuhnya, atau kelima di kelas MotoGP, Marc Marquez, pada Sabtu…

Senin, 12 November 2018 10:20

LUCU JUGA..!! Perusahaan Air Masih Terkendala Air

TANA PASER–Sepekan terakhir, masyarakat Paser, khususnya Kecamatan Tanah Grogot, mengeluhkan pelayanan…

Senin, 12 November 2018 08:49

Klasifikasikan Kualitas Pasangan, Kemampuan Biologis Juga Ditanya

Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah berhasil menyelenggarakan pernikahan mubarakah, Minggu (11/11).…

Minggu, 11 November 2018 11:11

Pulang, KRI Bima Suci Banyak Sabet Penghargaan

 Setelah mengelilingi lima negara selama 100 hari untuk mengikuti event internasional, Kapal Republik…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .