MANAGED BY:
SELASA
13 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Senin, 10 September 2018 09:19
Kisah Melintang Masuk Layar Lebar, Akan Tayang di Jogjakarta

Jalan-Jalan ke Hulu Mahakam Lihat Danau yang Mengering (4-Habis)

JADI LOKASI SYUTING: Lapangan sepak bola mini yang dibangun di atas Danau Melintang saat belum dibongkar.(DAVID RICHARD FOR KALTIM POST)

PROKAL.CO, Di balik Danau Melintang yang mengering terdapat cerita menarik. Bahkan kisah warga yang bermukim di kawasan danau yang berada di Desa Melintang itu diangkat ke layar lebar.

MUHAMMAD RIFQI, Tenggarong

BANYAK anak yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Diawali dengan rutinitas bermain si kulit bundar. Namun, bukan tidak mungkin, kegemaran itu bisa mewujudkannya menjadi pemain profesional. Terlebih, sepak bola cukup populer di negeri ini. Juga bukan olahraga mahal. Hanya perlu lapangan serta bola, sepatu, dan bola, permainan pun bisa dimulai.

Namun, bagaimana jika hidup di pemukiman di atas air? Yang tak memiliki lapangan serta tempat menggiring si kulit bundar? Maka masalah pun muncul. Adalah sosok Melintang, seorang bocah yang berasal dari sebuah kampung di Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara (Kukar).

Keinginannya untuk menjadi pemain sepak bola begitu kuat. Dengan segala keterbatasan, baik karena konflik batin serta kurangnya dukungan dari orangtua, membuat Melintang kecil harus semakin keras melawan banyaknya momok tersebut.

Kuatnya keinginan Melintang ingin menjadi pemain sepak bola, membuat dirinya harus bermain di mana saja. Kaca rumah yang pecah akibat diterobos bola, serta keinginan orangtuanya agar Melintang fokus untuk belajar, menjadi drama yang begitu mengharukan. Begitulah penggalan cerita dari sosok Melintang dalam film Ranam.

Film berdurasi 25 menititu merupakan garapan sineas lokal asal Kaltim. Mereka adalah David Richard dan Shifa Sultanika. Sutradaranya adalah David yang berdarah Kutai dan Prancis. Meski dilahirkan di Surabaya, ibu David merupakan asli Kutai dan berdomisili di Tenggarong, Kukar. Sedangkan Shifa Sultanika merupakan warga Samarinda yang kini menempuh pendidikan pascasarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.

Sejak 2017, keduanya membuat film Ranam. Kata ranam diambil dari bahasa Kutai. Warga Kutai yang bermukim di hulu Mahakam mengartikannya air. Sedangkan nama pemeran utama dalam film ini adalah Melintang. Yang diambil dari nama salah satu danau serta desa di Kecamatan Muara Wis. Film tersebut begitu menggambarkan keterbatasan warga yang bermukim di kawasan danau. Namun, tetap memaksa Melintang untuk bisa menjadi pemain sepak bola profesional.

Inspirasi membuat film Ranam tersebut, bermula saat dirinya menonton pertandingan Final Piala Jenderal Sudirman 2016 yang mencatat Mitra Kukar sebagai juaranya. Selanjutnya, David juga mendapat informasi bahwa ada lapangan sepak bola mini yang unik di permukiman Desa Melintang.

Disebut unik karena lapangan bermain sepak bola tersebut berada di atas danau yang dibuat oleh warga untuk memenuhi hasrat anak-anak bermain sepak bola. Namun, belum lama ini lapangan tersebut sudah dibongkar.

“Jadi, karakter Melintang ini adalah pemain sepak bola profesional dari klub Mitra Kukar. Karena berasal dari kampung, saat dia memasuki stadion, dia merasakan euforia dukungan penonton yang bersorak begitu besar. Saat itulah, karakter Melintang tiba-tiba teringat masa kecil perjuangannya yang hidup di permukiman danau,” terang David.

Film ini pun diolah secara apik dengan memperhatikan detail kehidupan warga yang bermukim di hulu Kukar. Begitu juga memperhatikan kebiasaan-kebiasaan masyarakat di atas danau.

David pun lantas harus bolak-balik Tenggarong-Muara Wis untuk melakukan survei lokasi. Keterbatasan akses menuju lokasi tersebut membuatnya semakin memahami karakter masyarakat yang hidup di tengah-tengah danau. Yang mayoritas hanyalah sebagai nelayan serta peternak kerbau. “Alhamdulillah, film tersebut juga mulai tayang di bioskop secara komersial di Jogjakarta bulan depan. Kebetulan bioskopnya bekerja sama dengan kampus ISI,” tambah David.

Sebenarnya, ide film ini dibuat hanya untuk keperluan penyelesaian tugas akhir di kampusnya. Namun, penggarapan film ini dia buat secara serius agar bisa dinikmati para penikmat film.

Unsur kedaerahan pun sengaja dia tampilkan. Semula, para pemeran dalam film garapan David tersebut ingin diambil dari anak-anak di Desa Melintang. Namun, kebanyakan warga sekitar masih menggunakan bahasa Banjar. Sehingga, dia pun mencari pemeran dari Tenggarong, Kukar. Agar logat masih kental. “Naskahnya dari bahasa Indonesia. Kami terjemahkan lagi ke bahasa Kutai yang biasa digunakan di Kota Bangun. Supaya khas kedaerahannya semakin kuat,” imbuhnya.

Penggarapan film Ranam melibatkan banyak komunitas di Kaltim. Beberapa di antaranya dari Balikpapan, Samarinda, dan Sangatta. Dia pun mengapresiasi kesolidan para pendukung acara. Medan lokasi syuting menuju Desa Melintang yang tak mudah, membuat kru kerap tersesat. Belum lagi pengangkutan peralatan-peralatan syuting yang tak sedikit.

Saat melakukan survei lokasi, David beserta kru mendapat kabar bahwa pekerja anak di Desa Melintang dulunya cukup tinggi. Selain itu, cita-cita tertinggi para warga kepada anaknya hanyalah sebagai PNS.

Melalui cerita ini, dia ingin mengingatkan kepada orangtua bahwa banyak anak yang juga memiliki cita-cita lain yang perlu didukung. Meski dengan segala keterbatasan di daerahnya. Hal tersebut diilustrasikan dalam sosok Melintang yang bercita-cita ingin menjadi pemain sepak bola. Namun, kampungnya saat ini berada di atas danau yang tidak memungkinkan membangun lapangan sepak bola.

“Kami sempat berdiskusi dengan Pak Kades bahwa banyak pekerja anak dulunya di lokasi syuting tersebut. Sehingga kesempatan untuk menggapai cita-cita juga harus terbagi dengan aktivitas mencari uang,” terangnya.

Pemilihan judul Ranam, menurutnya, untuk menggambarkan sosok Melintang seperti air. Yang terkadang tenang, biasa saja ataupun deras atau bergejolak. Dia pun berharap, kelak film tersebut juga bisa ditayangkan di Kaltim. Sayangnya, saat ini menurut alumnus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) itu, sponsor terhadap film ini terbilang minim. Padahal, film ini mengangkat kearifan dan budaya lokal di Kaltim, khususnya di Kukar.

Dorongan masyarakat lokal untuk mencintai dunia perfilman pun diharapkan bisa muncul. Terlebih lagi juga untuk mengenalkan serta mempromosikan budaya lokal di daerah. Untuk penggarapan film ini saja, David mengeluarkan biaya pribadi dengan semaksimal menekan pengeluaran. “Semoga semakin banyak pihak yang mendorong dunia perfilman di Kaltim. Supaya seniman lokal juga bisa berkarya di daerahnya,” tutupnya. (rom/k16)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 13 November 2018 10:24

DUH PAYAH..!! Persentase Kelulusan CPNS Masih Rendah

TANA PASER–Seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Assessment…

Selasa, 13 November 2018 07:35

Tugboat Batu Bara Tenggelam di Perairan Bunyu, Dua ABK Belum Ditemukan

TARAKAN – Kecelakaan di perairan Kalimantan Utara (Kaltara) kembali terjadi.…

Selasa, 13 November 2018 06:41

YESS..!! Merpati Siap Kembali Mengudara Tahun Depan

JAKARTA – Setelah mengalami penghentian operasi pada 2014 silam, maskapai…

Senin, 12 November 2018 11:00

KENA PAJAK..?? Menteri Keuangan Bakal Wajibkan Mahasiswa Miliki NPWP

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani berencana mewajibkan seluruh mahasiswa…

Senin, 12 November 2018 10:37

Angel dan Jose Makin Intim, Dikabarkan Sudah Menikah

Hubungan Angel Karamoy dengan sutradara Jose Poernomo makin intim. Buktinya,…

Senin, 12 November 2018 10:28

Marquez Rayakan Gelar Dunia ke 7 di Kampung Halaman

UNTUK merayakan gelar juara dunia ketujuhnya, atau kelima di kelas…

Senin, 12 November 2018 10:20

LUCU JUGA..!! Perusahaan Air Masih Terkendala Air

TANA PASER–Sepekan terakhir, masyarakat Paser, khususnya Kecamatan Tanah Grogot, mengeluhkan…

Senin, 12 November 2018 08:49

Klasifikasikan Kualitas Pasangan, Kemampuan Biologis Juga Ditanya

Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah berhasil menyelenggarakan pernikahan mubarakah, Minggu (11/11).…

Minggu, 11 November 2018 11:11

Pulang, KRI Bima Suci Banyak Sabet Penghargaan

 Setelah mengelilingi lima negara selama 100 hari untuk mengikuti event…

Minggu, 11 November 2018 11:10

Kasihan Banget..!! Banyak Guru Honor yang Pensiun dengan Gaji Rp 150 Ribu Per Bulan

Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Didi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .