MANAGED BY:
MINGGU
20 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Senin, 10 September 2018 09:19
Kisah Melintang Masuk Layar Lebar, Akan Tayang di Jogjakarta

Jalan-Jalan ke Hulu Mahakam Lihat Danau yang Mengering (4-Habis)

JADI LOKASI SYUTING: Lapangan sepak bola mini yang dibangun di atas Danau Melintang saat belum dibongkar.(DAVID RICHARD FOR KALTIM POST)

PROKAL.CO, Di balik Danau Melintang yang mengering terdapat cerita menarik. Bahkan kisah warga yang bermukim di kawasan danau yang berada di Desa Melintang itu diangkat ke layar lebar.

MUHAMMAD RIFQI, Tenggarong

BANYAK anak yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Diawali dengan rutinitas bermain si kulit bundar. Namun, bukan tidak mungkin, kegemaran itu bisa mewujudkannya menjadi pemain profesional. Terlebih, sepak bola cukup populer di negeri ini. Juga bukan olahraga mahal. Hanya perlu lapangan serta bola, sepatu, dan bola, permainan pun bisa dimulai.

Namun, bagaimana jika hidup di pemukiman di atas air? Yang tak memiliki lapangan serta tempat menggiring si kulit bundar? Maka masalah pun muncul. Adalah sosok Melintang, seorang bocah yang berasal dari sebuah kampung di Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara (Kukar).

Keinginannya untuk menjadi pemain sepak bola begitu kuat. Dengan segala keterbatasan, baik karena konflik batin serta kurangnya dukungan dari orangtua, membuat Melintang kecil harus semakin keras melawan banyaknya momok tersebut.

Kuatnya keinginan Melintang ingin menjadi pemain sepak bola, membuat dirinya harus bermain di mana saja. Kaca rumah yang pecah akibat diterobos bola, serta keinginan orangtuanya agar Melintang fokus untuk belajar, menjadi drama yang begitu mengharukan. Begitulah penggalan cerita dari sosok Melintang dalam film Ranam.

Film berdurasi 25 menititu merupakan garapan sineas lokal asal Kaltim. Mereka adalah David Richard dan Shifa Sultanika. Sutradaranya adalah David yang berdarah Kutai dan Prancis. Meski dilahirkan di Surabaya, ibu David merupakan asli Kutai dan berdomisili di Tenggarong, Kukar. Sedangkan Shifa Sultanika merupakan warga Samarinda yang kini menempuh pendidikan pascasarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.

Sejak 2017, keduanya membuat film Ranam. Kata ranam diambil dari bahasa Kutai. Warga Kutai yang bermukim di hulu Mahakam mengartikannya air. Sedangkan nama pemeran utama dalam film ini adalah Melintang. Yang diambil dari nama salah satu danau serta desa di Kecamatan Muara Wis. Film tersebut begitu menggambarkan keterbatasan warga yang bermukim di kawasan danau. Namun, tetap memaksa Melintang untuk bisa menjadi pemain sepak bola profesional.

Inspirasi membuat film Ranam tersebut, bermula saat dirinya menonton pertandingan Final Piala Jenderal Sudirman 2016 yang mencatat Mitra Kukar sebagai juaranya. Selanjutnya, David juga mendapat informasi bahwa ada lapangan sepak bola mini yang unik di permukiman Desa Melintang.

Disebut unik karena lapangan bermain sepak bola tersebut berada di atas danau yang dibuat oleh warga untuk memenuhi hasrat anak-anak bermain sepak bola. Namun, belum lama ini lapangan tersebut sudah dibongkar.

“Jadi, karakter Melintang ini adalah pemain sepak bola profesional dari klub Mitra Kukar. Karena berasal dari kampung, saat dia memasuki stadion, dia merasakan euforia dukungan penonton yang bersorak begitu besar. Saat itulah, karakter Melintang tiba-tiba teringat masa kecil perjuangannya yang hidup di permukiman danau,” terang David.

Film ini pun diolah secara apik dengan memperhatikan detail kehidupan warga yang bermukim di hulu Kukar. Begitu juga memperhatikan kebiasaan-kebiasaan masyarakat di atas danau.

David pun lantas harus bolak-balik Tenggarong-Muara Wis untuk melakukan survei lokasi. Keterbatasan akses menuju lokasi tersebut membuatnya semakin memahami karakter masyarakat yang hidup di tengah-tengah danau. Yang mayoritas hanyalah sebagai nelayan serta peternak kerbau. “Alhamdulillah, film tersebut juga mulai tayang di bioskop secara komersial di Jogjakarta bulan depan. Kebetulan bioskopnya bekerja sama dengan kampus ISI,” tambah David.

Sebenarnya, ide film ini dibuat hanya untuk keperluan penyelesaian tugas akhir di kampusnya. Namun, penggarapan film ini dia buat secara serius agar bisa dinikmati para penikmat film.

Unsur kedaerahan pun sengaja dia tampilkan. Semula, para pemeran dalam film garapan David tersebut ingin diambil dari anak-anak di Desa Melintang. Namun, kebanyakan warga sekitar masih menggunakan bahasa Banjar. Sehingga, dia pun mencari pemeran dari Tenggarong, Kukar. Agar logat masih kental. “Naskahnya dari bahasa Indonesia. Kami terjemahkan lagi ke bahasa Kutai yang biasa digunakan di Kota Bangun. Supaya khas kedaerahannya semakin kuat,” imbuhnya.

Penggarapan film Ranam melibatkan banyak komunitas di Kaltim. Beberapa di antaranya dari Balikpapan, Samarinda, dan Sangatta. Dia pun mengapresiasi kesolidan para pendukung acara. Medan lokasi syuting menuju Desa Melintang yang tak mudah, membuat kru kerap tersesat. Belum lagi pengangkutan peralatan-peralatan syuting yang tak sedikit.

Saat melakukan survei lokasi, David beserta kru mendapat kabar bahwa pekerja anak di Desa Melintang dulunya cukup tinggi. Selain itu, cita-cita tertinggi para warga kepada anaknya hanyalah sebagai PNS.

Melalui cerita ini, dia ingin mengingatkan kepada orangtua bahwa banyak anak yang juga memiliki cita-cita lain yang perlu didukung. Meski dengan segala keterbatasan di daerahnya. Hal tersebut diilustrasikan dalam sosok Melintang yang bercita-cita ingin menjadi pemain sepak bola. Namun, kampungnya saat ini berada di atas danau yang tidak memungkinkan membangun lapangan sepak bola.

“Kami sempat berdiskusi dengan Pak Kades bahwa banyak pekerja anak dulunya di lokasi syuting tersebut. Sehingga kesempatan untuk menggapai cita-cita juga harus terbagi dengan aktivitas mencari uang,” terangnya.

Pemilihan judul Ranam, menurutnya, untuk menggambarkan sosok Melintang seperti air. Yang terkadang tenang, biasa saja ataupun deras atau bergejolak. Dia pun berharap, kelak film tersebut juga bisa ditayangkan di Kaltim. Sayangnya, saat ini menurut alumnus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) itu, sponsor terhadap film ini terbilang minim. Padahal, film ini mengangkat kearifan dan budaya lokal di Kaltim, khususnya di Kukar.

Dorongan masyarakat lokal untuk mencintai dunia perfilman pun diharapkan bisa muncul. Terlebih lagi juga untuk mengenalkan serta mempromosikan budaya lokal di daerah. Untuk penggarapan film ini saja, David mengeluarkan biaya pribadi dengan semaksimal menekan pengeluaran. “Semoga semakin banyak pihak yang mendorong dunia perfilman di Kaltim. Supaya seniman lokal juga bisa berkarya di daerahnya,” tutupnya. (rom/k16)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 20 Januari 2019 11:00

MUDAHAN LEBIH HOT..!! Tanpa Kisi-Kisi di Debat Kedua

JAKARTA – Debat capres-cawapres edisi kedua masih sebulan lagi. Namun,…

Sabtu, 19 Januari 2019 07:09

Biaya Tol Teluk Kian Membengkak

BALIKPAPAN  –   Semakin lama tertunda, anggaran pembangunan Jembatan Tol…

Sabtu, 19 Januari 2019 07:07

Abu Bakar Ba’asyir Bebas Tanpa Syarat

JAKARTA  -  Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir bisa mengakhiri…

Sabtu, 19 Januari 2019 07:04

Polres Belum Terima Komplain Konsumen

BALIKPAPAN –  Kasus obat kosmetik ilegal diungkap jajaran Polres Balikpapan,…

Jumat, 18 Januari 2019 09:40

SERASA ANAK TIRI..!! Bandara APT Pranoto “Dicueki” Pusat

SAMARINDA–Moda transportasi udara jadi idola untuk memangkas waktu perjalanan. Sayangnya,…

Jumat, 18 Januari 2019 08:11

Kosmetik Ilegal Dijual Mahal

BALIKPAPAN – Nurliah (26) hanya bisa menunduk. Perempuan berkulit putih…

Jumat, 18 Januari 2019 08:01

Mengubur Kebencian

OLEH: BAMBANG ISWANTO (Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda)…

Jumat, 18 Januari 2019 07:57

Koran Adalah Alat Perjuangan, Bertahan dengan Kualitas Sajian

Media daring menjamur. Tapi tak akan membunuh koran. Tak membuatnya…

Jumat, 18 Januari 2019 06:48

Mengoptimalkan Ekspor Batu Bara Kaltim ke India

Oleh: Wahyu Baskara Santoso dan Debby Amalia Soraya (Asisten Analis…

Jumat, 18 Januari 2019 00:06

Jokowi Serang Caleg Gerindra, Prabowo Malah Joget-Joget

Sebuah kejadian menarik dalam debat pilpres 2019 edisi pertama yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*