MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Senin, 10 September 2018 09:06
Rasa Diskusi Semakin Suram
-

PROKAL.CO, DISKUSI bukan hal asing bagi mahasiswa. Melalui diskusi para agent of change itu dapat mengeksploitasi segala potensi serta mengonstruksi pengetahuan secara mandiri. Lazimnya budaya tukar pikiran tak hanya terjadi di ruang kelas. Tapi juga di sekitar lingkungan kampus. Salah satunya kantin. Dari situ pun banyak ide-ide besar lahir dari sebuah forum diskusi sederhana. Bahkan, dari kedai makan biasa itu bisa menelurkan politikus, pengusaha, pejabat, bahkan kepala daerah.

“Memang seharusnya demikian. Kantin bukan hanya tempat makan, fungsinya lebih dari itu. Dan inilah yang membedakan kantin kampus dari yang lainnya,” ucap Uni Wahyuni Sagena, pengamat sosiologi-politik Universitas Mulawarman (Unmul), Kamis pekan lalu.

Menurut dia, kantin di dalam kampus sudah sepantasnya menjadi tempat kumpul para intelektual alias kalangan terdidik, yakni mahasiswa. Nah, lazimnya dari situ mereka bebas merancang ide-ide yang cerdas serta solusi terhadap masalah di lingkungan sekitar.

“Sebab, tak ada aturan yang membatasi para mahasiswa untuk menuangkan segala pikirannya. Kondisinya pun lebih santai dengan segelas kopi serta harga merakyat,” tuturnya.

Pada 1996, kala Uni masih menempuh pendidikan di Universitas Hasanuddin, budaya diskusi masih begitu kental lantaran ketika itu gugatan terhadap pemerintahan orde baru dengan Soeharto sebagai kepala negara terus bermunculan. “Hingga akhirnya Reformasi 1998 terjadi. Dan setelahnya budaya tukar pikiran masih berlangsung,” katanya. 

Sebenarnya, lanjut Uni, selain mempertajam pemikiran, diskusi di kantin boleh menjadi studi langsung bagi para mahasiswa mengenai kehidupan riil masyarakat. Dan itu menjadi bahan kontemplasi para mahasiswa. “Mereka inilah yang menjadi jembatan bagi kalangan akar rumput (proletariat),” sebutnya.

Masuk di Unmul pada 2001, kebiasaan berdiskusi di kalangan aktivis kampus begitu terasa. Maklum sisa-sisa tragedi 98 masih membekas meskipun sudah tiga tahun berlalu. Namun, bulan berbilang tahun rasam barter buah pemikiran perlahan berubah suram. Tak lagi tampak mahasiswa yang berdiskusi di bawah pohon, sudut ruangan, di bawah tangga dan kantin kampus. “Selama 13 tahun mengabdi, saya menyaksikan sendiri perubahan tersebut. Coba saja perhatikan, sebagian besar mahasiswa sekarang lebih fokus dengan gawainya. Jika tidak media sosial, game menjadi favorit. Makanya disebut generasi menunduk,” tegasnya.

Uni memandang, jika terus dibiarkan, kultur akademik akan tergerus. Tak semua komunikasi di dunia maya bisa disampaikan di kehidupan nyata. Itu sebab interaksi langsung diperlukan lantaran masing-masing individu yang melakukan diskusi bisa melihat secara langsung body language, mimik, serta nada bicara saat transaksi buah pikiran dilakukan.

“Dari situlah masing-masing dari mereka bisa mereduksi korupsi informasi. Itulah seninya berdiskusi,” tegasnya lagi.

Dia menambahkan, esensi dari interaksi lewat diskusi ialah mempertajam pemikiran serta komunikasi lebih terstruktur dan hasil dari kegiatan tersebut memberikan manfaat. Namun, kenyataannya hal tersebut tak terjadi. “Yang ada itu generasi menunduk. Berkumpul bersama namun sibuk sendiri dengan gawai masing-masing tanpa interaksi,” katanya kemudian melanjutkan, “Apa tak merasa buang-buang waktu. Masak bangsa ini hendak diserahkan kepada pemuda demikian?”

Padahal, Kurniadi dalam bukunya Peranan Pemuda dalam Pembangunan Politik di Indonesia (1987, hal 12) menyebut, pemuda merupakan aset nasional yang memiliki potensi untuk membangun bangsa melalui pendidikan. Tak hanya itu, sejarah mencatat bahwa saat negeri ini mendapat kebijakan politik etis dari Belanda pada 17 September 1901. Salah satunya, edukasi dan berkat itu kesadaran nasional perlahan tumbuh. Dewantara dalam bukunya Karja Ki Hadjar Dewantara bagian Pertama (1962, hal 54) mencatat pengajaran barat dan intelektualisme melahirkan golongan terpelajar yang dapat membangkitkan semangat pemuda-pemuda Indonesia untuk melakukan suatu gerakan. “Tentunya gerakan tersebut dimulai dari keresahan terhadap kondisi Indonesia saat itu. Golongan intelektual harusnya demikian, peka terhadap lingkungan sekitar kemudian diskusi dan lahirkan solusi,” tutur Uni.

Sementara itu, pengamat politik Unmul Jauhar Barlian menyatakan hal senada. Esensinya, kantin di kampus itu digunakan tak hanya untuk bersantap tapi juga diskusi. Siapa pun bisa datang untuk bertukar pikiran, entah itu mahasiswa, dosen, politikus, pengusaha, kontraktor, atau kepala daerah bukan masalah. “Menjadi soal saat itu membangun propaganda yang negatif,” kata Jauhar.

Menurut Jauhar, jika sampai sekarang masih ada kedai makan yang digandrungi para alumni tentu menjadi kesempatan bagi Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM-KM) Unmul atau BEM fakultas untuk menangkap momen tersebut. Kemudian adakan diskusi dengan para alumni.

“Harusnya adik-adik aktivis kampus bisa melihat peluang itu dan membuatnya menjadi formal. Dan ingat, tak perlu mewah,” ujarnya.

Ketakutan selama ini, lanjut dia, bila hendak mengundang alumni yang sudah sukses itu perlu dana besar. Tak perlu demikian, adakanlah diskusi sederhana di kantin. “Enggak sampai ratusan ribu itu dananya. Tapi materinya harus berbobot,” terangnya. “Justru itu lebih baik, sebab mereka bisa melihat langsung senior mereka," lanjut dia.

Dia menambahkan, jika itu terjadi maka proses pendidikan yang sebenarnya berlangsung. Sebab, belajar dari buku itu hanya sekian persen. Ya, tak dimungkiri senior yang tergabung dalam IKA Unmul ataupun tidak, pada zamannya punya pemikiran yang luar biasa. Terlebih yang pernah terlibat dalam gerakan. “Adik-adik aktivis kampus harus bisa melihat peluang tersebut lantas menjadikannya perbandingan,” sarannya.

Kata Jauhar, bila tiga kantin lawas di Unmul (Bu Krib, Abuk, dan Ibuk) sering didatangi alumni untuk berdiskusi sudah pasti tempatnya nyaman bagi mereka lantaran bisa nostalgia. Selain itu, biasanya mantan aktivis itu selalu butuh ruang dan memerlukan panggung untuk mengekspresikan diri. “Mungkin itu yang menjadi magnet kantin kampus. Memori selama di kuliah dulu itu tak bisa dibeli,” sebut Jauhar.

Jauhar menambahkan, model pembelajaran di ruang terbuka memang menarik dan itu bakal diterapkan di Unmul dalam waktu dekat. “Ya, modelnya seperti diskusi. Buat saya itu langkah yang baik,” akunya.

Meski demikian, sebut Jauhar, atmosfer akademik di kampus memang sedikit bergeser sebab kawan-kawan mahasiswa sebagian besar sibuk dengan gawainya. Boleh dikatakan mereka tak lagi tertarik dengan diskusi mengenai masalah yang hangat-hangatnya di negeri ini. “Hasilnya egosentris muncul. Dan itulah yang diperlukan oleh adik-adik mahasiswa untuk dijadikan bahan renungan. Jangan lagi berpikir putih abu-abu, tapi mulailah mandiri,” ujarnya.

Pengamat komunikasi Unmul, Nurliyah, sepakat jika seiring perkembangan zaman minat mahasiswa terhadap membaca buku, diskusi, aksi, advokasi untuk penguatan ideologi serta membentuk intelektualitas berkurang.

“Padahal, mereka itu agent of social change (agen perubahan sosial). Jangan sampai lupa dengan itu,” tegasnya.

Dia menyebut, diskusi tatap muka itu berganti dengan tukar pikiran lewat WhatsApp. Padahal, manfaat komunikasi langsung lewat diskusi itu begitu penting sebab bisa melatih seseorang agar membiasakan diri saling menghormati dan menghargai pendapat, bisa mengembangkan daya pikir, pengetahuan, dan pengalaman, melatih untuk berpikir kritis, menumbuhkan kreativitas serta melatih kemampuan berbicara di depan umum. “Zaman sekarang memang serba praktis. Sekali tekan semua informasi bisa diperoleh. Namun, apa salahnya bertemu lantas melakukan diskusi,” katanya.

Menurut dia, kebiasaan melakukan diskusi, membahas isu-isu terbaru, kekinian, merupakan hal yang baik dan perlu dipertahankan. Apalagi sampai bisa melahirkan ide-ide brilian, solusi yang tepat, misalnya dalam mengatasi berbagai persoalan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (timkp)


BACA JUGA

Senin, 22 Oktober 2018 06:47

Ribuan Anak Putus Sekolah, Pendidikan Kaltim Jadi Atensi

SAMARINDA – Pemprov Kaltim tampaknya harus bekerja keras dalam meningkatkan kualitas sumber daya…

Minggu, 21 Oktober 2018 11:19

Penyelundupan Narkotika Didominasi Melalui Malaysia

JAKARTA— Kasus narkotika seakan tiada hentinya. Dari awal Oktober hingga pertengahan Oktober kasus…

Minggu, 21 Oktober 2018 07:16

Garansi Polder Tak Ada Buaya

SANGATTA – Kian dekat dengan pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Kaltim 2018 di Kutai…

Sabtu, 20 Oktober 2018 00:05

Ekspor CPO Bantu Selamatkan Rupiah

SAMARINDA  -   Kinerja ekspor Kaltim pada Agustus mengalami penurunan 14,03 persen dibandingkan…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:00

Dorong Pendapatan Petani, Gubernur Mau Petani Jual Karet Langsung ke Perusahaan

SAMARINDA - Petani karet diimbau tidak menjual hasil perkebunannya kepada tengkulak alias langsung ke…

Jumat, 19 Oktober 2018 10:51

Minta Perda Baca Tulis Alquran Disahkan

TANA PASER – Sebanyak 768 santri Taman Pendidikan Alquran (TPA) dan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan…

Jumat, 19 Oktober 2018 09:35

Kaltim Peringkat Nasional Kepemilikan Akta Kelahiran

SAMARINDA – Provinsi kaltim menempati urutan ke dua dalam peringkat nasional untuk kepemilikan…

Jumat, 19 Oktober 2018 08:39

Beruntung Dibimbing Langsung Pencetusnya di Rusia

Gelar ahli hukum banyak dimiliki masyarakat Indonesia saat ini. Namun, untuk urusan ahli hukum luar…

Jumat, 19 Oktober 2018 08:25
Tiga WNA yang Ditahan di Rudenim Balikpapan

“Kalau Bisa Deportasi Saja Saya”

BALIKPAPAN – Tak mudah bagi warga negara asing (WNA) untuk bekerja di Indonesia. Harus paham hukum.…

Jumat, 19 Oktober 2018 06:52

Ekonomi Lesu, Donatur Zakat Kaltim Meningkat

BALIKPAPAN - Perekonomian Indonesia tercatat pada tiga tahun terakhir ini menunjukkan grafik yang melesu.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .