MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 10 September 2018 09:02
Menggoyang Pemerintah dari Kantin Rektorat

PROKAL.CO, Catatan: Faroq Zamzami (*)

DI kampus, kantin tak sebatas menjadi destinasi isi perut. Bercanda. Bercengkerama dengan teman, pedekate dengan cewek, atau pacaran. Lebih dari itu. Makna kantin bagi mahasiswa begitu besar. Begitu strategis. Begitu penting. Kantin adalah titik awal sebuah gerakan. Jadi destinasi utama untuk membahas negara. Menggoyang pemerintah. Titik berkumpul untuk hampir semua aksi mahasiswa di Samarinda. Ya, berattt... memang. Tapi itulah dulu makna kantin yang saya pahami. Saat mengenyam pendidikan di Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda. Awal-awal 2000. Kantin bagi saya adalah rumah ketiga. Rumah kedua sekretariat organisasi. Yang "bertetangga" dengan kantin.

Saat itu, percayalah, diskusi mahasiswa ketika di kantin, temanya bikin picik kepala. Membahas negara tak seperti diskusi di warung kopi. Jika dianalogikan sekarang, mahasiswa yang diskusi di kantin itu, seperti narasumber Indonesia Lawyer Club (ILC) di TVOne. Membahas negara di kantin-kantin di Unmul itu harus pakai pisau analisis. Berdiri di pemikiran mana para peserta diskusi. Harus merujuk literatur. Harus ada "footnote-nya". Makanya, gerakan mahasiswa, diskusi, kantin, koleksi buku, dan kopi punya hubungan yang begitu mesra.

Selain sekretariat organisasi, kantin kampus adalah pusat pergerakan. Ada beberapa kantin di Unmul yang jadi tempat nongkrong kalangan aktivis. Kalau saya dulu suka nongkrong di kantin Rektorat. Letak kantinnya, kalau kita berdiri di gerbang masuk dan menghadap Gedung Rektorat, ada di sebelah kanan. Ya, sekarang kalau Anda cari akan menemukan masjid. Di situlah dulu kantin legendaris itu. Sebut saja semua aktivitas di Unmul, pasti pernah bersentuhan dengan kantin itu. Semua aliran gerakan pernah menyatu di situ. Mau kanan, kiri, tengah. 

Di kantin itu biasa mahasiswa pas-pasan, termasuk saya, hehehe... kalau datang pagi, pesannya kopi hitam. Atau kopi saset. Yang terkenal dulu Coffemix. Yang bungkusnya cokelat. Seruputnya sedikit-sedikit. Sambil bercengkerama dengan teman. Membahas apa saja. Dan mata kuliah masuk kategori paling sedikit disinggung. Bahas pemerintahan. Bahas nilai tukar rupiah, padahal bukan anak ekonomi. Bahas agama. Sampai asmara. Tak sedikit yang jadian di kantin. Tak sedikit pula yang putusan di kantin. 

Kopi segelas kecil pun tak langsung habis. Bisa tahan sampai siang bahkan sore. Kalau ada kelas, masuk dulu untuk kuliah. Kopi ditutup dengan tatakan. Titip ibu kantin. Bilang sebentar kembali. Satu mata kuliah paling lama dua jam. Selesai kuliah, tak langsung pulang. Kembali ke kantin. Lanjut ngopi. Sambil diskusi lagi. Apa saja. Hampir setiap hari begitu. Kalau tidak begitu, berarti ada demonstrasi atau hari libur. Jadi sebenarnya, mahasiswa dulu saya lihat lebih banyak "mata kuliah" di kantin.

Di kantin rektorat itu mahasiswa dari berbagai latar belakang kerap berdiskusi. Salah satu yang saya ingat, beberapa kali diskusi dengan sejumlah aktivitas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Waktu belum dilarang pemerintah. Saya suka dengan aktivis HTI itu. Militan-militan. Buktinya, justru mereka yang mencari kami di kantin itu. Khusus untuk berdiskusi. Tampilan mereka sederhana. Khas aktivis kanan. Pakai sandal gunung. Celana bahan cingkrang. Atau dilipat hingga di atas mata kaki. Baju hem. Dibalut jaket. Berdiskusi dengan kami. Yang rata-rata mengenakan kaus oblong hitam. Celana jins yang beberapa robek di lutut. Plus gondrong.

Dugaan saya, waktu itu, agaknya mereka suka diskusi dengan kami. Membahas khilafah. Juga komunisme.

Waktu itu kami membahas dua pemikiran ini sangat lepas. Tak perlu khawatir mau dicap macam-macam. Tak perlu takut dituduh makar. Karena memang pemikiran itu juga yang dipelajari di kampus. Saya alumnus Hubungan Internasional (HI). Semua pemikiran dipelajari di kelas-kelas HI. Walau secara umum. Mulai yang komunis sampai kapitalis dalam mata kuliah pemikiran politik barat. Kami juga mempelajari pemikiran politik Tiongkok. Lengkap dengan Mao Zedong-nya. Tapi tak membuat kami jadi pembela China.  Juga mempelajari sistem pemerintahan dan politik Amerika, tapi tak membuat kami jadi kapitalis. Atau juga mata kuliah pemikiran politik Islam. Itu yang saya senang dari kehidupan di kampus. Menjunjung tinggi intelektualitas dan suhu ilmiah. Tapi itu dulu, tak tahu sekarang.

Diskusi berdasar pada tokoh-tokoh "terlarang" itu biasa di kampus. Tak dilarang-larang. Karena berada dalam lingkungan ilmiah. Tak perlu khawatir dicap komunis kalau menyebut nama Karl Marx. Dan diskusinya serius. Sambil ngopi. Tak ada yang sambil main handphone. Maklum smartphone belum massif. Handphone yang dipegang mahasiswa, paling canggih di lingkungan saya kala itu adalah Nokia 6600. Yang bisa simpan banyak lagu, setelah tiap lagu dikompres. Apalagi pulsa masih mahal. Tak ada cerita SMS-an sampai lama-lama. Kecuali ada hubungannya dengan asmara. Masih massif budaya missed call. Atau call me (CM).

Tak hanya pemikiran. Dulu, simbol-simbol terlarang bisa bebas menunjukkan diri di kampus. Dulu juga ada sweeping lambang PKI. Tapi tak sampai besar.  Tak sampai ramai keluar kampus. Tak sampai ramai di media sosial. Baju bergambar Lenin bebas berkeliaran. Juga simbol-simbol komunisme.  Baju Che Guevara, jangan ditanya. Salah satu pentolan revolusi Kuba yang orang Argentina. Orang yang mengenakan baju Che Guevara ini nyaris tak bakal dilabeli sosialis atau komunis. Karena sudah dianggap style. Zaman itu, yang pake baju Che Guevara mudah ditemukan di tempat-tempat nongkrong hedon, macam diskotik.

Kantin juga jadi titik kumpul memulai aksi. Atau berbagi cerita setelah demonstrasi. Dan saling olok. Biasa kalau aksi berakhir bentrok. Aksi solidaritas mahasiswa yang berujung ricuh di depan Gedung DPRD Samarinda medio 2006, misalnya. Bentrok dengan aparat saat itu jelang sore. Mahasiswa dipukul mundur. Yang lucu tentu cerita aksi menyelamatkan diri. Yang diceritakan saat berkumpul di kantin. Ada yang bercerita selamat dari kejaran polisi karena pura-pura menjadi montir di sebuah bengkel. Ada yang justru masuk jebakan batman. Salah arah. Malah menuju kumpulan aparat. "Tediam dah, pasrah aja," cerita mahasiswa yang salah menghindar itu. Para mahasiswa biasa menceritakan sisi lucunya. Walau kepala benjol-benjol. Atau muka merah-merah. Dengan napas terengah-engah. 

Yang lucu juga cerita setelah aksi kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2006. Saya ingat betul ini karena terjadi saat bulan puasa. Dan tahun-tahun terakhir saya di kampus. Mahasiswa yang dikejar polisi berlarian masuk Kampus STAIN Abul Hasan. Mahasiswa awalnya ingin demonstrasi di depan Hotel Bumi Senyiur, tempat presiden dan rombongan menginap. Mahasiswa sudah di ring 2. Yang dijaga polisi. Negosiasi mentok. Akhirnya ricuh. Mahasiswa berlarian masuk kampus. Ada yang pura-pura salat di musala kampus. Tetap saja ditarik polisi. "Mana ada orang salat bekeringatan," kata polisi saat itu, ditirukan kawan yang menceritakan kawannya yang tertangkap. Ada lagi yang bercerita dengan gaya. "Kalau saja tadi itu kejadiannya di Unmul, selamat kita. Ini rumah kita," kata salah satu mahasiswa.

Menjaga muruah, cieee muruah, kantin menjadi pusat diskusi itu penting. Sebagai laboratorium untuk mengasah pemikiran mahasiswa. Biarlah semua aliran yang terlarang, ekstrem, atau moderat dibahas mahasiswa di kelas dan di kantin. Agar semakin banyak tahu. Agar kepekaan mereka teruji. Tentu agar tambah ilmu. Toh, tak sedikit mahasiswa berubah 180 derajat setelah lulus dari kampus. Misalnya dulu di sebelah kiri, setelah lulus pindah kanan. Atau sebaliknya. Hal yang biasa. Saya pun dulu suka dengan aliran pemikiran kalangan kiri. Toh setelah lulus, saya menghijau dan menjadi zamaah YouTube-iyah.. He, he, he... Diskusi di kampus, khususnya di kantin, harus terus dijaga. Bahkan ditumbuhkan. Agar mahasiswa tak semakin banyak yang hanya bermain MOBA.

(*) Pemimpin Redaksi Kaltim Post

loading...

BACA JUGA

Senin, 17 September 2018 09:18

Buku (Bukan Lagi) Jendela Ilmu

Dahulu buku jendela dunia. Namun, perlahan-lahan sang primadona mulai hilang pamor. Era digital disebut-sebut…

Senin, 17 September 2018 09:14

Ideal Baca 6 Jam Sehari

DUA pekan lalu menjadi hari penting bagi pecinta buku. Sebab 8 September ditetapkan sebagai hari literasi…

Senin, 17 September 2018 09:06

Koleksi Perpustakaan Daerah Belum Lengkap

BERBAGAI cara dilakukan untuk berkontribusi menambah literasi dari masyarakat lokal. Sejarawan lokal…

Senin, 17 September 2018 09:04

Menanti Inovasi Tenaga Pendidik

MEMBANGUN budaya literasi memang tak mudah. Tapi harus dilakukan serius, setahap demi setahap hingga…

Senin, 17 September 2018 09:01

Cerita Unta Bawa Kitab untuk Motivasi Membaca

TIDAK ada usaha yang mengkhianati hasil. Itulah yang menggambarkan sosok Rudini. Pria kelahiran Lampung,…

Senin, 17 September 2018 08:59

Menyentuh Angkasa dengan Buku

Oleh: Raden Roro Mira(Wartawan Kaltim Post (Juara 3 Duta Baca Kaltim 2018–2020) BENDA apa yang…

Jumat, 14 September 2018 08:48

Bergantung Anggaran yang Tak Tentu

PARIWISATA Samarinda kalah banyak dan kalah tenar ketimbang pertumbuhan perhotelan atau hiburan lainnya.…

Jumat, 14 September 2018 08:46

Pandangan Geologi dalam Potensi Wisata Alam Samarinda

OLEH: FAJAR ALAM(Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Timur) BUMI, sebagaimana…

Senin, 03 September 2018 09:04

Ditanya Penataan Sungai Karang Mumus, Ini Jawaban Sekkot Samarinda

BERBAGAI tudingan ketidaksiapan Pemkot Samarinda terhadap penanggulangan banjir mendapat tanggapan.…

Senin, 03 September 2018 09:02

Perlu Ketegasan yang Konsisten

 KONDISI Karang Mumus bukan hanya tanggung jawab Pemkot Samarinda melalui Dinas Lingkungan Hidup…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .