MANAGED BY:
KAMIS
23 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Senin, 10 September 2018 07:54
Muharram 1440 H dan Semangat Perubahan

PROKAL.CO, OLEH: SANI BIN HUSAIN
(Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Al Azhar Samarinda)

TAHUN Baru Islam tiba, kita akan terkenang kembali saat-saat ketika Rasulullah dan para sahabat berkorban sepenuh jiwa. Selalu ada perasaan tertentu bagi orang-orang yang beriman. Tahun yang dikukuhkan berdasarkan momentum kepindahan yang sangat mengharu biru dari Makkah ke Madinah.

Maka Tahun Baru Islam ini seharusnya memberikan arti perubahan pada setiap diri kita. Seperti hijrah yang mengubah dan memindahkan. Hidup kita harus berpindah, dari kubangan dosa menuju lautan taubat. Berpindah dari arogansi kerakusan menuju kejujuran penunaian hak-hak orang lain. Berpindah dari gemar korupsi menjadi gemar mensubsidi. Berpindah dari pegawai yang malas menjadi pegawai yang mawas. Berpindah dari guru sebagai profesi mengajar menjadi guru yang memiliki militansi dalam mengajar. Berpindah dari pelajar yang bermasalah menjadi pelajar yang bermaslahah.

Rasulullah memberi gelar orang yang beruntung bagi setiap individu yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Beliau juga menyatakan bahwa orang yang merugi adalah setiap pribadi yang tidak mengalami peningkatan, dengan kata lain yang hari ini kualitas kebaikannya sama dengan hari-hari kemarin. Beliau juga mengingatkan bahwa orang yang celaka adalah setiap manusia yang semakin hari semakin buruk dalam perilakunya.

Sungguh tidak ada pilihan bagi kita untuk menghindar dari gelar orang-orang yang celaka selain hidup kita harus berubah saat ini juga. Dari yang buruk menuju yang baik. Dari yang usang menuju yang segar. Kesalahan harus ditinggalkan. Kesemerawutan harus segera ditertibkan.

Tahun Baru Islam harus memberi arti pada dinamika hidup kita. Seperti hijrah yang penuh warna, tantangan, suasana dan harapan. Makkah yang saat itu sukar dari petunjuk, mengantarkan orang-orang berimannya menuju Madinah yang lembut. Kekerasan di sekitar kita harus diakhiri. Kekerasan di rumah tangga, saat seorang suami memukuli istri yang menyiapkan untuknya makanan, melayaninya, serta mengasuh anak darah dagingnya. Kekerasan di jalanan saat Preman kelas teri menggantungkan nyalinya di ujung belati. Kekerasan di pentas politik saat pemburu-pemburu kekuasaan rajin bersilat lidah dan beradu sogokan. Kekerasan di belantara usaha ketika pedagang menjadi mudah memainkan takaran timbangan untuk menipu pembelinya. Bahkan kekerasan pada hati nurani yang menyebabkan kita enggan melaksanakan salat ketika adzan berkumandang. Semua harus dihentikan, karena tidak ada satu pun kejadian tiap detik yang berlalu selain Allah akan melakukan perhitungan dan memberikan balasan atas perbuatan tersebut.

Menurut sebagian kelompok yang pesimis, mungkin ini adalah mimpi. Mengharapkan kekerasan berhenti karena momentum Tahun Baru Islam ini. Mungkin para pelaku kekerasan itu bahkan seumur hidupnya tidak pernah mendengar kata Muharram. Tapi setidaknya jika kita termasuk pelaku kekerasan tersebut, kita bisa belajar tentang sejarah, bagaimana sebuah kekerasan mengakhiri kesudahannya. Kita bisa belajar bahwa jalan kekerasan tidak pernah menyelesaikan dan tidak pernah membahagiakan.

Tahun baru Islam harus memberi arti pada pertumbuhan kita. Seperti Madinah yang sigap berkembang. Dalam percepatan yang mengagumkan. Pertumbuhan dalam hidup adalah kebutuhan. Sebab dengan pertumbuhan itu kita bertahan. Dan, di saat yang bersamaan kita menghadapi tantangan yang baru dan kesulitan yang terus menerus datang.

Hidup harus dibangun di atas pertumbuhan yang lebih sehat. Mengharapkan kesadaran dari pergantian tahun mungkin terlalu berlebihan. Tetapi bagi orang-orang yang beriman, setidaknya lebih mengerti bagaimana sebuah pilihan diambil dengan sepenuh kesadaran. Seperti pilihan hijrah yang diambil Rasulullah dan para sahabat di masa itu. Di saat ini tidak selalu berhijrah secara geografis. Tapi yang harus segera dan terus menerus kita lakukan adalah hijrah menjadi lebih baik dalam kualitas iman dan kuantitas ibadah.

Muharram semestinya membuat kita berubah. Kita melihat lalu kita mengetahui. Kita menyaksikan lalu kita memahami. Tapi hanya ketika kita berubah tumbuh menuju lebih baik, maka baru dapat menjadikan diri dan kehidupan kita menjadi lebih berarti. (*/one/k18)


BACA JUGA

Kamis, 16 Mei 2019 15:49

Dahsyatnya Pengaruh Perkataan

Oleh: Afriani Nur Fitri Masyarakat Kutai Timur   HAI sobat…

Kamis, 16 Mei 2019 15:48

Pelecehan Seksual di Kampus: Jalan Damai Apakah Cukup?

Oleh: Andi Wahyu Irawan  Dosen Bimbingan Konseling Universitas Mulawarman SEJUMLAH…

Rabu, 08 Mei 2019 20:08

Mengenal (sedikit) Tentang Plagiarism

Menulis itu gampang gampang susah atau susah susah gampang. Sebagai…

Sabtu, 27 April 2019 10:05

Tepis HOAX Dan Kecurangan, Publikasikan Form C1!

Oleh Herdiansyah Hamzah Pengamat Politik Beberapa hari terakhir ini publik…

Senin, 22 April 2019 10:36

Perlambatan Ekonomi Indonesia dan Peningkatan Kompetensi ASN

 Oleh : Dewi Sartika, SE, MM Peneliti Pusat Pelatihan dan…

Rabu, 17 April 2019 10:25

Cegah Laka, Banyak Pihak Terlibat

KECELAKAAN tidak melulu disebabkan kondisi kendaraan. Ada pula faktor kesalahan…

Kamis, 11 April 2019 10:48

Justice For Audrey. Ini Penyebab Pelaku Lakukan Bully

Jagat belantara maya saat ini sedang memberikan perhatian penuh pada…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*