MANAGED BY:
MINGGU
24 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Senin, 10 September 2018 07:54
Muharram 1440 H dan Semangat Perubahan

PROKAL.CO, OLEH: SANI BIN HUSAIN
(Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Al Azhar Samarinda)

TAHUN Baru Islam tiba, kita akan terkenang kembali saat-saat ketika Rasulullah dan para sahabat berkorban sepenuh jiwa. Selalu ada perasaan tertentu bagi orang-orang yang beriman. Tahun yang dikukuhkan berdasarkan momentum kepindahan yang sangat mengharu biru dari Makkah ke Madinah.

Maka Tahun Baru Islam ini seharusnya memberikan arti perubahan pada setiap diri kita. Seperti hijrah yang mengubah dan memindahkan. Hidup kita harus berpindah, dari kubangan dosa menuju lautan taubat. Berpindah dari arogansi kerakusan menuju kejujuran penunaian hak-hak orang lain. Berpindah dari gemar korupsi menjadi gemar mensubsidi. Berpindah dari pegawai yang malas menjadi pegawai yang mawas. Berpindah dari guru sebagai profesi mengajar menjadi guru yang memiliki militansi dalam mengajar. Berpindah dari pelajar yang bermasalah menjadi pelajar yang bermaslahah.

Rasulullah memberi gelar orang yang beruntung bagi setiap individu yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Beliau juga menyatakan bahwa orang yang merugi adalah setiap pribadi yang tidak mengalami peningkatan, dengan kata lain yang hari ini kualitas kebaikannya sama dengan hari-hari kemarin. Beliau juga mengingatkan bahwa orang yang celaka adalah setiap manusia yang semakin hari semakin buruk dalam perilakunya.

Sungguh tidak ada pilihan bagi kita untuk menghindar dari gelar orang-orang yang celaka selain hidup kita harus berubah saat ini juga. Dari yang buruk menuju yang baik. Dari yang usang menuju yang segar. Kesalahan harus ditinggalkan. Kesemerawutan harus segera ditertibkan.

Tahun Baru Islam harus memberi arti pada dinamika hidup kita. Seperti hijrah yang penuh warna, tantangan, suasana dan harapan. Makkah yang saat itu sukar dari petunjuk, mengantarkan orang-orang berimannya menuju Madinah yang lembut. Kekerasan di sekitar kita harus diakhiri. Kekerasan di rumah tangga, saat seorang suami memukuli istri yang menyiapkan untuknya makanan, melayaninya, serta mengasuh anak darah dagingnya. Kekerasan di jalanan saat Preman kelas teri menggantungkan nyalinya di ujung belati. Kekerasan di pentas politik saat pemburu-pemburu kekuasaan rajin bersilat lidah dan beradu sogokan. Kekerasan di belantara usaha ketika pedagang menjadi mudah memainkan takaran timbangan untuk menipu pembelinya. Bahkan kekerasan pada hati nurani yang menyebabkan kita enggan melaksanakan salat ketika adzan berkumandang. Semua harus dihentikan, karena tidak ada satu pun kejadian tiap detik yang berlalu selain Allah akan melakukan perhitungan dan memberikan balasan atas perbuatan tersebut.

Menurut sebagian kelompok yang pesimis, mungkin ini adalah mimpi. Mengharapkan kekerasan berhenti karena momentum Tahun Baru Islam ini. Mungkin para pelaku kekerasan itu bahkan seumur hidupnya tidak pernah mendengar kata Muharram. Tapi setidaknya jika kita termasuk pelaku kekerasan tersebut, kita bisa belajar tentang sejarah, bagaimana sebuah kekerasan mengakhiri kesudahannya. Kita bisa belajar bahwa jalan kekerasan tidak pernah menyelesaikan dan tidak pernah membahagiakan.

Tahun baru Islam harus memberi arti pada pertumbuhan kita. Seperti Madinah yang sigap berkembang. Dalam percepatan yang mengagumkan. Pertumbuhan dalam hidup adalah kebutuhan. Sebab dengan pertumbuhan itu kita bertahan. Dan, di saat yang bersamaan kita menghadapi tantangan yang baru dan kesulitan yang terus menerus datang.

Hidup harus dibangun di atas pertumbuhan yang lebih sehat. Mengharapkan kesadaran dari pergantian tahun mungkin terlalu berlebihan. Tetapi bagi orang-orang yang beriman, setidaknya lebih mengerti bagaimana sebuah pilihan diambil dengan sepenuh kesadaran. Seperti pilihan hijrah yang diambil Rasulullah dan para sahabat di masa itu. Di saat ini tidak selalu berhijrah secara geografis. Tapi yang harus segera dan terus menerus kita lakukan adalah hijrah menjadi lebih baik dalam kualitas iman dan kuantitas ibadah.

Muharram semestinya membuat kita berubah. Kita melihat lalu kita mengetahui. Kita menyaksikan lalu kita memahami. Tapi hanya ketika kita berubah tumbuh menuju lebih baik, maka baru dapat menjadikan diri dan kehidupan kita menjadi lebih berarti. (*/one/k18)


BACA JUGA

Sabtu, 09 Februari 2019 12:49

Moderasi Beragama untuk Kebersamaan Umat

Oleh: Mukhamad Ilyasin (Rektor IAIN Samarinda)  Judul ini diangkat dari…

Sabtu, 09 Februari 2019 10:47

Stanley dan Mogulisme Media yang Anjay Sekali

Oleh: Ramon Damora Wartawan Indonesia KETUA Dewan Pers, Yosep Adi…

Selasa, 05 Februari 2019 10:18

Posisi Ketua Adat dalam Acara Pemerintah

PERINGATAN ulang tahun ke-59 Kabupaten Paser berjalan dengan sukses, meski…

Rabu, 30 Januari 2019 07:24

Guru Ideal dan Revolusioner

Oleh: Heni Susilowati MPd (Guru SMA 1 Long Kali, Paser)…

Selasa, 29 Januari 2019 07:10

Bandara APT Pranoto: Harapan dan Tantangan Pariwisata Samarinda

OLEH: ADI PURBONDARU (Analis KPw BI Kaltim) SAMARINDA yang memiliki…

Senin, 28 Januari 2019 07:00

Urgensi Elektronifikasi Transaksi Keuangan Pemerintah Daerah

OLEH: CHRISTIAN (Analis Ekonomi KPw-BI Kaltim) BANK Indonesia sebagai otoritas…

Sabtu, 26 Januari 2019 07:06

Perempuan Utusan Jiwa: Jelajah Intelektual Schimmel

SEBUAH buku dongeng terbitan 1872 menjadi titik tolak perjalanan panjang…

Sabtu, 26 Januari 2019 07:04

Kandidat Politisi Beradu Kualitas atau Isi Tas

LAYAKNYA  sebuah pesta, sudut-sudut kota semakin mendekati hari H kian…

Kamis, 24 Januari 2019 08:02

Mau Tahu Tender Pemerintah 2019?

Oleh: Naryono SKom MM (Plt Kepala UPT LPSE Dinas Komunikasi…

Kamis, 24 Januari 2019 08:00

Junjung Tinggi Demokrasi Tanpa Menebar Kebencian

Oleh: Sugeng Susilo SH (Staf Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*