MANAGED BY:
SABTU
15 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Senin, 10 September 2018 07:54
Muharram 1440 H dan Semangat Perubahan

PROKAL.CO, OLEH: SANI BIN HUSAIN
(Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Al Azhar Samarinda)

TAHUN Baru Islam tiba, kita akan terkenang kembali saat-saat ketika Rasulullah dan para sahabat berkorban sepenuh jiwa. Selalu ada perasaan tertentu bagi orang-orang yang beriman. Tahun yang dikukuhkan berdasarkan momentum kepindahan yang sangat mengharu biru dari Makkah ke Madinah.

Maka Tahun Baru Islam ini seharusnya memberikan arti perubahan pada setiap diri kita. Seperti hijrah yang mengubah dan memindahkan. Hidup kita harus berpindah, dari kubangan dosa menuju lautan taubat. Berpindah dari arogansi kerakusan menuju kejujuran penunaian hak-hak orang lain. Berpindah dari gemar korupsi menjadi gemar mensubsidi. Berpindah dari pegawai yang malas menjadi pegawai yang mawas. Berpindah dari guru sebagai profesi mengajar menjadi guru yang memiliki militansi dalam mengajar. Berpindah dari pelajar yang bermasalah menjadi pelajar yang bermaslahah.

Rasulullah memberi gelar orang yang beruntung bagi setiap individu yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Beliau juga menyatakan bahwa orang yang merugi adalah setiap pribadi yang tidak mengalami peningkatan, dengan kata lain yang hari ini kualitas kebaikannya sama dengan hari-hari kemarin. Beliau juga mengingatkan bahwa orang yang celaka adalah setiap manusia yang semakin hari semakin buruk dalam perilakunya.

Sungguh tidak ada pilihan bagi kita untuk menghindar dari gelar orang-orang yang celaka selain hidup kita harus berubah saat ini juga. Dari yang buruk menuju yang baik. Dari yang usang menuju yang segar. Kesalahan harus ditinggalkan. Kesemerawutan harus segera ditertibkan.

Tahun Baru Islam harus memberi arti pada dinamika hidup kita. Seperti hijrah yang penuh warna, tantangan, suasana dan harapan. Makkah yang saat itu sukar dari petunjuk, mengantarkan orang-orang berimannya menuju Madinah yang lembut. Kekerasan di sekitar kita harus diakhiri. Kekerasan di rumah tangga, saat seorang suami memukuli istri yang menyiapkan untuknya makanan, melayaninya, serta mengasuh anak darah dagingnya. Kekerasan di jalanan saat Preman kelas teri menggantungkan nyalinya di ujung belati. Kekerasan di pentas politik saat pemburu-pemburu kekuasaan rajin bersilat lidah dan beradu sogokan. Kekerasan di belantara usaha ketika pedagang menjadi mudah memainkan takaran timbangan untuk menipu pembelinya. Bahkan kekerasan pada hati nurani yang menyebabkan kita enggan melaksanakan salat ketika adzan berkumandang. Semua harus dihentikan, karena tidak ada satu pun kejadian tiap detik yang berlalu selain Allah akan melakukan perhitungan dan memberikan balasan atas perbuatan tersebut.

Menurut sebagian kelompok yang pesimis, mungkin ini adalah mimpi. Mengharapkan kekerasan berhenti karena momentum Tahun Baru Islam ini. Mungkin para pelaku kekerasan itu bahkan seumur hidupnya tidak pernah mendengar kata Muharram. Tapi setidaknya jika kita termasuk pelaku kekerasan tersebut, kita bisa belajar tentang sejarah, bagaimana sebuah kekerasan mengakhiri kesudahannya. Kita bisa belajar bahwa jalan kekerasan tidak pernah menyelesaikan dan tidak pernah membahagiakan.

Tahun baru Islam harus memberi arti pada pertumbuhan kita. Seperti Madinah yang sigap berkembang. Dalam percepatan yang mengagumkan. Pertumbuhan dalam hidup adalah kebutuhan. Sebab dengan pertumbuhan itu kita bertahan. Dan, di saat yang bersamaan kita menghadapi tantangan yang baru dan kesulitan yang terus menerus datang.

Hidup harus dibangun di atas pertumbuhan yang lebih sehat. Mengharapkan kesadaran dari pergantian tahun mungkin terlalu berlebihan. Tetapi bagi orang-orang yang beriman, setidaknya lebih mengerti bagaimana sebuah pilihan diambil dengan sepenuh kesadaran. Seperti pilihan hijrah yang diambil Rasulullah dan para sahabat di masa itu. Di saat ini tidak selalu berhijrah secara geografis. Tapi yang harus segera dan terus menerus kita lakukan adalah hijrah menjadi lebih baik dalam kualitas iman dan kuantitas ibadah.

Muharram semestinya membuat kita berubah. Kita melihat lalu kita mengetahui. Kita menyaksikan lalu kita memahami. Tapi hanya ketika kita berubah tumbuh menuju lebih baik, maka baru dapat menjadikan diri dan kehidupan kita menjadi lebih berarti. (*/one/k18)


BACA JUGA

Jumat, 14 Desember 2018 07:27

Pelaku Penghina Fisik Harus Siap-Siap Dipidana

Oleh: Elsa Malinda (Warga Balikpapan) AKHIR-akhir ini istilah body shaming…

Jumat, 14 Desember 2018 07:25

Penggunaan "Kafir" dalam Masyarakat Multikultural

Oleh: H Fuad Fansuri, Lc M Th I (Dosen Ilmu…

Kamis, 13 Desember 2018 07:28

Pembangunan Berkelanjutan Kaltim?

Oleh: Bambang Saputra (Sekretaris MES Balikpapan) PEMBANGUNAN berkelanjutan (sustainable development),…

Kamis, 13 Desember 2018 07:25

Menanam Toleransi Memetik Damai

Oleh: Arief Rohman Arofah MA Hum (Penyuluh Agama Islam Kementerian…

Kamis, 13 Desember 2018 07:21

Keterbatasan Data Bisa Hambat Pencapaian SDGs

Nama: Rezaneri Noer Fitrianasari (Aparatur Sipil Negara di Badan Pusat…

Rabu, 12 Desember 2018 07:47

Menanti Hadirnya Taman Wisata Rohani

Oleh: Muslan PEMERINTAH tampaknya harus melakukan inovasi dalam memberikan pilihan…

Rabu, 12 Desember 2018 07:44

Lestarikan Budaya Gotong Royong Bersama BPJS Kesehatan

Oleh: Windi Winata Paramudita (Mahasiswa Magister Kebijakan Publik Universitas Mulawarman)…

Rabu, 12 Desember 2018 06:53

Financial Technology Berbasis Syariah

Oleh: Arief Rohman Arofah MA Hum (Dosen Fakultas Ekonomi dan…

Selasa, 11 Desember 2018 06:51

Persatuan di Tahun Politik

Oleh: Mukhammad Ilyasin (Rektor IAIN Samarinda) TAHUN politik di Indonesia…

Selasa, 11 Desember 2018 06:50

Hubungan Tiongkok-AS: Menuju Perang Dunia Ke-3?

Oleh: Rendy Wirawan (Master of International Relations, University of Melbourne)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .