MANAGED BY:
RABU
24 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

MASKULIN

Minggu, 09 September 2018 10:40
Modal Nekat dan Tekad Membuat Mi Sehat

LISA

BISNIS PERDANA: Sejak Juli 2013, Lisa bersama sang suami merintis Mie Desa dari bawah dan mandiri. Dia mengusung konsep sayur dan buah, bermula pada kebiasaan anak yang tak menyukai makan dua food items tersebut.

PROKAL.CO, SETELAH menikah dan pindah kota mengikut suami ke Balikpapan, Lisa yang berasal dari Surabaya tersebut dikaruniai seorang anak laki-laki. Sadar akan waktu dan masa tumbuh kembang sang anak tidak akan terulang, membuat Lisa memilih melepaskan kariernya dan fokus berkecimpung di dunia bisnis.

Priceless sekali kan. Keinginan untuk bekerja masih ada, tapi dengan kondisi tak ingin meninggalkan anak,” kata perempuan 32 tahun tersebut.

Bicara karier, Lisa mulai bekerja di sebuah perusahaan terbuka sebagai seorang akuntan untuk pertama kalinya, di tengah kesibukannya menggarap skripsi Strata 1. Lanjut lagi ke jenjang Strata 2, sembari kuliah dirinya pindah ke perusahaan ekspor impor dengan divisi yang sama. Setelah lulus, Lisa juga sempat menjadi konsultan manajemen perusahaan.

“Sebelum berbisnis, orangtua saya menganjurkan saya merasakan bekerja dengan orang lain. Karena kan pasti perlakuan masing-masing perusahaan itu berbeda, mau yang perusahaan kekeluargaan maupun terbuka,” ucapnya.

Akhirnya munculah Mie Desa pada 2013, sebuah usaha rumah makan yang menyajikan kualitas mi enak, berlokasi di Jalan Soekarno Hatta Balikpapan. Namun, perjalanan Mie Desa sebagai rumah makan tidak begitu mulus alias kocar-kacir. Meskipun begitu, ternyata Lisa mendapat orderan pembuatan mi. “Dulu rumah makan Mie Desa menghadirkan berbagai olahan dari mi. Karena dari awal, memang mi sebagai bintang utamanya. Bukan komponen yang lain. Oleh karena itu, dibuat sendiri secara manual untuk kebutuhan mi tersebut. Meski usaha rumah makan surut, tapi ada orderan bikin mi 1-2 kilogram dengan kualitas yang baik,” ucapnya saat diwawancarai pada Jumat (7/9).

Lisa bercerita bahwa dirinya setelah berhenti bekerja memutuskan untuk belajar membuat mi karena ingin membantu dan meneruskan usaha sang mama sebagai penjual mi. Bermodal nekat serta tekad, Lisa belajar membuat mi hingga ke beberapa daerah, Surabaya dan Medan.

“Mama pernah dikecewakan sama supplier karena kualitasnya naik turun. Saya pun ingin tahu seberapa susahnya bikin mi itu. Dan ternyata tidak mudah, ditambah lagi tidak semua orang dengan baiknya mau mengajarkan saya cara membuat mi yang bagus itu seperti apa,” terangnya.

Selama beberapa tahun sejak Mie Desa berdiri, Lisa bersama sang suami memenuhi pesanan pelanggan dengan tenaga dan keringat sendiri. Dimulai jam sebelas malam ketika anak nyenyak tidur dan suami selesai bekerja, hingga jam tiga subuh. “Di awal usaha, tiga jam untuk satu kilo adonan aja belum tentu berhasil jadi, dan masih menggunakan alat giling manual. Lalu, setelah satu tahun jalan dan tabungan terkumpul, baru deh bisa beli mesin impor dari Cina,” lanjutnya. Namun, mesin tersebut berakhir useless, dan tabungan pun ludes.

Keadaan tersebut diakui Lisa dihadapinya dengan perasaan down. Siapa pun jika berada di posisinya saat itu pasti akan merasakan hal yang sama. Meski begitu, ternyata masih ada saja pelanggan yang menginginkan produk mi ala Mie Desa. “Pelan-pelan nabung lagi. Lalu, cari custom mesin dari Jakarta. Hasilnya pun memuaskan meski hasil produksi dalam negeri,” cuap Lisa. (*/ewy/*/ni)

loading...

BACA JUGA

Senin, 22 Oktober 2012 10:16

Mitra Teras Mantap di Puncak

<div> <div> <strong>BALIKPAPAN</strong> &ndash; Kesebelasan Mitra Teras…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*