MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Minggu, 09 September 2018 09:21
Perlu Pengelolaan Sampah agar Warga Tak Buang Sembarangan

Jalan-Jalan ke Hulu Mahakam Lihat Danau yang Mengering (3)

FENOMENA TAHUNAN: Danau Melintang di Desa Melintang, Kecamatan Muara Wis, Kukar yang mengering. Sudah sebulan belakangan ini terjadi lantaran tak ada hujan.(DOK/KP)

PROKAL.CO, Menangani banjir mestinya jangan setengah-setengah. Tak hanya revitalisasi sungai di hilir, restorasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam pun patut diseriusi. Sebab, banjir di hilir kerap terjadi karena kiriman dari hulunya.

MUHAMMAD RIFQI, Tenggarong

PERJALANAN Kaltim Post menelusuri danau-danau di hulu Mahakam, Kutai Kartanegara (Kukar) diharap bisa mendorong adanya restorasi danau yang kian kritis. Langkah-langkah restorasi danau sebenarnya sudah banyak dikaji. Tinggal sejauh mana komitmen pemerintah merealisasikan semangat tersebut.

Setelah masuk kategori 15 danau kritis sejak 2011 lalu, Danau Cascade Mahakam di Kukar akhirnya juga masuk program prioritas nasional. Sejumlah persoalan seperti berkurangnya daerah tangkapan air, erosi, sedimentasi, pencemaran air, hilangnya vegetasi perairan danau hingga tak terkontrolnya limbah rumah tangga menjadi tantangan.

Ketika sejumlah sisi Desa Melintang, Kecamatan Muara Wis, Kukar disusuri, nyaris sulit ditemukan tempat sampah rumah tangga. Warga memilih membuang sampah ke danau. Tak ada pilihan lain, karena sistem pengelolaan sampah maupun limbah di kampung ini memang tak ada.

Jika dikalkulasikan, dari data yang diperoleh dari Kantor Camat Muara Wis, untuk Desa Melintang terdapat sekitar 500 kepala keluarga. Jika ditambah dengan desa sekitar yang berada di sekitar Danau Melintang, maka jumlahnya mencapai 2.000 kepala keluarga. Jika rata-rata tiap rumah memproduksi 5 kilogram sampah, maka dalam seharinya ada 11 ton sampah larut ke Danau Melintang. Selama sebulan akan ada 330 ton sampah rumah tangga.

Dalam sebuah artikel bertajuk “Penyelamatan Danau Kaskade Mahakam untuk Mendukung Ketahanan Air di DAS Mahakam” oleh sejumlah akademisi, diperoleh gambaran persoalan serta tahapan penyelamatan Danau Cascade tersebut. Peran penting pemerintah diawali komitmen yang kuat menjadi salah satu kuncinya.

Ketua Forum DAS Kaltim Mislan menerangkan, dari naskah akademik yang dia buat bersama rekan-rekannya tersebut, diuraikan bahwa selain sebagai kawasan retensi banjir Sungai Mahakam, Danau Cascade Mahakam memiliki keanekaragaman hayati. Di antaranya terdapat  86 jenis ikan tawar, 125 jenis burung, 24 jenis mamalia, 16 jenis reptilia dan amfibi serta 300 jenis pohon.

Dari segi ekonomi, menyumbang pendapatan sekitar Rp 75 miliar per tahun dari budi daya perikanan. Itu belum terhitung pendapatan lainnya seperti pertanian, perkebunan, dan hasil non-kayu kehutanan. Kawasan Danau Cascade Mahakam dihuni oleh sekitar 81.553 jiwa yang tersebar dalam enam kecamatan di Kukar.

Jika mengalami kekeringan, daratan Danau Melintang dibuat sebagai lahan pertanian oleh nelayan atau warga sekitar. Sebab, nelayan tak bisa mencari ikan dalam kondisi danau yang mengering.

Dari data yang diperoleh Kaltim Post di Kantor Camat Muara Wis, luas sawah yang digarap di daratan danau mencapai 100 hektare. Ada dua kelompok tani yang menggarap sawah di Danau Melintang. Yakni dari Desa Melintang dan Desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis.

Camat Muara Wis Arianto menyebut, jumlah produksi sawah yang dipanen itu bisa mencapai 90 persen. Belum lagi populasi kerbau kalang asal Muara Wis yang sudah dinikmati di berbagai daerah di Indonesia. Sehingga, ketergantungan masyarakat dengan danau pun begitu erat. Meski harus dilakukan pencerdasan di sana-sini.

“Jadi, selama ini banjir itu tak hanya disebabkan oleh aktivitas di hilir saja. Aktivitas di hulu juga sangat penting untuk dibenahi. Jadi, kalau Pemprov Kaltim menyebut banjir di Samarinda adalah hanya ranahnya Pemkot Samarinda, itu juga tidak benar. Karena hulu sungai ada di Kukar dan Kubar,” terang Mislan.

Potensi kerugian yang begitu besar juga menjadi ancaman baik secara ekonomi, lingkungan maupun sosial. Hal itu akan terjadi bila Danau Cascade Mahakam tak segera ditangani secara serius.

Kondisi itu dipicu oleh meningkatnya jumlah penduduk, penangkapan ikan tidak ramah lingkungan, banjir, kekeringan, pendangkalan, dan sebagainya. Terlebih, danau saat ini berperan sebagai multifungsi serta pemanfaatan yang tak terkendali akan memicu kondisi danau semakin kritis.

“Perlu ada kampanye publik secara terus-menerus untuk mewujudkan kepedulian terhadap Danau Cascade Mahakam. Sehingga, isu-isu pengelolaan danau akan mendapat perhatian serta dukungan banyak pihak,” imbuhnya.

Terutama instansi yang berkaitan langsung dengan danau. Seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Pemprov Kaltim, Pemkab Kukar, dan Pemkab Kubar. Dalam artikel yang telah diseminarkannya, Mislan juga mengurai tujuh strategi untuk mempertahankan, melestarikan, dan memulihkan fungsi danau berdasarkan prinsip keseimbangan ekosistem.

Yaitu pengelolaan ekosistem danau, pemanfaatan sumber daya air danau, pengembangan sistem monitoring, evaluasi dan informasi danau, penyiapan langkah-langkah adaptasi dan mitigasi perubahan iklim terhadap danau, pengembangan kapasitas danau, kelembagaan dan koordinasi, peningkatan peran masyarakat, serta pendanaan berkelanjutan. “Makanya, komitmen pemerintah harus tetap ada dan jangan pernah kendur. Karena upaya ini berkelanjutan. Walaupun secara bertahap,” imbuhnya.

Jangan dikira ekosistem danau tidak berkaitan langsung dengan DAS. Menurut Mislan, pengelolaan ekosistem danau patut terintegrasi dengan pengelolaan DAS. Sejumlah persoalan di DAS dapat terjadi. Seperti masalah pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan dengan cara yang merusak, pencemaran yang diakibatkan adanya buangan minyak, pupuk, pestisida atau pencemaran bahan buangan padat, sedimentasi yang berlebihan, sebagai akibat erosi daerah aliran sungai (DAS) atau sekitar kawasan danau.

Kondisi ini dapat dipercepat dengan adanya kegiatan manusia berupa penebangan hutan di DAS atau pengolahan lahan secara tidak benar, memasukkan spesies tumbuhan atau hewan baru (eksotik) yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem, dan memusnahkan spesies asli (endemik), konversi lahan menjadi lahan pertanian, permukiman, terjadinya banjir musiman dan lainnya. (rom/k15)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 15 November 2018 11:40

BPK Akui Sulit Awasi Desa

BALIKPAPAN - Alokasi dana desa yang saat ini pagunya bisa sampai 2-3 miliar per desa, menjadi tantangan…

Selasa, 13 November 2018 10:24

DUH PAYAH..!! Persentase Kelulusan CPNS Masih Rendah

TANA PASER–Seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Assessment Center Kantor Badan…

Selasa, 13 November 2018 07:35

Tugboat Batu Bara Tenggelam di Perairan Bunyu, Dua ABK Belum Ditemukan

TARAKAN – Kecelakaan di perairan Kalimantan Utara (Kaltara) kembali terjadi. Kali ini, sebuah…

Selasa, 13 November 2018 06:41

YESS..!! Merpati Siap Kembali Mengudara Tahun Depan

JAKARTA – Setelah mengalami penghentian operasi pada 2014 silam, maskapai pelat merah, Merpati,…

Senin, 12 November 2018 11:00

KENA PAJAK..?? Menteri Keuangan Bakal Wajibkan Mahasiswa Miliki NPWP

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani berencana mewajibkan seluruh mahasiswa di Indonesia memiliki…

Senin, 12 November 2018 10:37

Angel dan Jose Makin Intim, Dikabarkan Sudah Menikah

Hubungan Angel Karamoy dengan sutradara Jose Poernomo makin intim. Buktinya, Jose Poernomo semakin sering…

Senin, 12 November 2018 10:28

Marquez Rayakan Gelar Dunia ke 7 di Kampung Halaman

UNTUK merayakan gelar juara dunia ketujuhnya, atau kelima di kelas MotoGP, Marc Marquez, pada Sabtu…

Senin, 12 November 2018 10:20

LUCU JUGA..!! Perusahaan Air Masih Terkendala Air

TANA PASER–Sepekan terakhir, masyarakat Paser, khususnya Kecamatan Tanah Grogot, mengeluhkan pelayanan…

Senin, 12 November 2018 08:49

Klasifikasikan Kualitas Pasangan, Kemampuan Biologis Juga Ditanya

Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah berhasil menyelenggarakan pernikahan mubarakah, Minggu (11/11).…

Minggu, 11 November 2018 11:11

Pulang, KRI Bima Suci Banyak Sabet Penghargaan

 Setelah mengelilingi lima negara selama 100 hari untuk mengikuti event internasional, Kapal Republik…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .