MANAGED BY:
SELASA
20 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 01 September 2018 02:05
Orangtua Ngajar Bimbel, Berangkat ke AS setelah Dapat Sponsor

Rebecca Alexandria, Peraih Medali Emas Balet Tingkat Dunia

KELUARGA SEDERHANA: Rebecca Alexandria memperagakan gerakan arabesque di tempat latihannya di Jakarta, Selasa (29/8).

PROKAL.CO, Rebecca Alexandria Hadibroto menjadi pebalet Indonesia pertama yang meraih first place kompetisi balet prestisius dunia, Youth America Grand Prix 2018. Berasal dari keluarga sederhana, Rebecca harus mendapatkan sponsor untuk bisa ikut kompetisi di luar negeri.

 

NORA SAMPURNA, Jakarta

 

SEORANG anak perempuan yang berusia 2,5 tahun menonton Barbie in the 12 Dancing Princesses. Melihat para putri menari balet dengan gerakan indah dan kostum cantik, anak perempuan yang bernama Rebecca itu membayangkan suatu saat dirinya bisa menjadi balerina seperti mereka. Memakai rok tutu dan pointe shoes. Menari-nari dengan indahnya.

“Saya bilang ke Mami mau les balet dong,” tutur Rebecca yang kini berusia 12 tahun saat dijumpai di Marlupi Dance Academy (MDA), Green Ville Maisonette, Jakarta Barat, Selasa sore (28/8).

Siapa sangka impian Rebecca kecil itu melesat tinggi ke angkasa. Membawanya ke panggung Youth America Grand Prix (YAGP) 2018 di New York, Amerika Serikat (AS). Awalnya, Rebecca diikutkan beberapa kegiatan. Selain balet di MDA, dia ikut les piano, vokal, dan tari Bali. Namun, balet selalu menjadi passion terbesar putri tunggal pasangan Irman Yanuar Hadibroto dan Joe Shia itu.

Bukan rahasia bahwa balet terbilang sebagai aktivitas yang mahal dan identik dengan kegiatan anak orang berduit. Perlengkapan yang diperlukan tidaklah murah. Pointe shoes, misalnya. Harganya Rp 700 ribu–Rp 1 juta. Harga kostumnya juga mencapai Rp 2 juta atau lebih. Belum lagi biaya latihan, makanan sehat, dan lainnya.

Sedangkan Rebecca berasal dari keluarga sederhana. Maminya membuka usaha bimbingan belajar (bimbel) di rumah untuk anak-anak TK hingga SMP. Sementara itu, papinya yang seorang fotografer freelance ikut membantu mengajar. “Kalau buat orang lain, kan mungkin uang gampang dicari. Aku tahu Mami-Papi harus kerja keras,” ucapnya.

Rebecca menyadari hal itu. Dia bertekad memiliki daya juang lebih jika dibandingkan dengan anak-anak lain. Sebagai contoh, pointe shoes rata-rata bertahan maksimal tiga bulan. Bisa juga sebulan sudah harus ganti. Kadang bahkan dua pasang sepatu hanya bisa digunakan dalam sebulan, bergantung frekuensi latihan. “Pernah merasakan, kok anak yang lain bisa sering ganti. Kalau saya, harus jaga banget. Rawat yang benar biar awet,” tuturnya.

Pemilik tinggi badan 157 sentimeter itu telah beberapa kali memenangi kompetisi balet nasional. Hingga kemudian diikutkan kompetisi di level internasional. Pertama di Hong Kong, lalu Malaysia. Pada Oktober 2017, ada audisi (semifinal) YAGP di Shenzhen, Tiongkok. Rebecca berhasil meraih Hope Award dan mendapat undangan untuk tampil dalam final YAGP 2018 di David H Koch Theatre, New York, AS, April lalu.

YAGP merupakan ajang kompetisi balet bergengsi di dunia. Ada sekitar 10 ribu pebalet yang terlibat. Rebecca berangkat ke New York bersama seorang murid MDA lainnya, Indira, dengan ditemani Claresta Alim, director of performing art MDA. Untuk bisa berangkat, Rebecca mendapatkan bantuan sponsor.

Berlatih intensif enam jam sehari dia lakukan tanpa jeda dalam sebulan terakhir menjelang keberangkatan. Atmosfer YAGP terasa berbeda jika dibandingkan dengan kompetisi lain yang dia ikuti. Panggungnya besar. Kapasitas penonton sampai lima lantai. Sehari sebelum tampil, Rebecca menonton final untuk kelas usia di atasnya. “Aduh, bagaimana nih, besok aku final di panggung sebesar ini. Deg-degan,” pikirnya ketika itu.

Saat final, Rebecca berhasil menampilkan yang terbaik. Berkostum pink, dia membawakan tarian Fairy Doll dengan penjiwaan kuat. “Keunggulan Rebecca terletak di rasa. Dia diberi Tuhan kaki yang lentur dan mampu mengekspresikan setiap tarian yang dia sajikan dengan rasa,” tutur Claresta.

Kerja kerasnya serta doa yang tak pernah putus membuahkan hasil istimewa. Namanya disebut sebagai first place kategori women pre-competitive age division, menyisihkan peserta dari puluhan negara. Termasuk, Rusia dan Italia yang dikenal sebagai gudang pebalet.

Penampilan Rebecca mencuri perhatian banyak orang. Termasuk, fotografer kenamaan Jordan Matter yang lantas menghubungi Claresta untuk memotret Rebecca. Pemotretan berlangsung di jalanan Kota New York. Banyak orang yang lewat tertarik untuk melihat Rebecca dan ikut memotretnya. “Rasanya agak malu, tapi senang juga, campur aduk,” ungkap Rebecca. Hasil pemotretan itu sudah diunggah ke akun YouTube Matter dan bakal dimasukkan ke bukunya yang berjudul Unstoppable.

Seperti judul buku Matter, langkah Rebecca di dunia balet masih tak akan terhenti. Pengagum balerina Rusia Svetlana Zakharova itu berfokus mencapai cita-citanya menjadi balerina profesional. Berlatih setiap hari, mengulang gerakan yang sama, terkadang memang bisa menimbulkan rasa bosan. “Tapi, saya langsung ingat kata-kata Miss Tata (Claresta), ‘Kalau ingin jadi balerina profesional, harus work hard dari sekarang,’” papar dia.

Saat ini Rebecca punya satu impian. Yakni, ingin mengikuti Prix de Lausanne, kompetisi balet dunia di Swiss untuk pebalet nonprofesional yang berusia 15–18 tahun. Dia masih punya waktu tiga tahun untuk persiapan. Dia akan mengikuti audisi semifinal YAGP 2019 yang berlangsung di Jakarta pada Oktober.

Demi mewujudkan impian sebagai balerina, Rebecca menjadi siswa homeschooling sejak kelas VI SD. Pada Selasa itu, selepas latihan, Rebecca dijemput papinya. Mereka naik motor menuju rumah. Tidak terlalu jauh. Hanya perlu sekitar 15 menit.

Sesampainya di rumah, Rebecca bergabung dengan murid-murid les yang sedang belajar. Mami dan Papi Rebecca membuka bimbel di rumah. Mami Rebecca berkecimpung di dunia pendidikan.

Rebecca merupakan putri yang kehadirannya dinanti-nanti. Joe Shia hamil pada tahun kelima pernikahan. Begitu hamil, dia memberikan banyak stimulasi musik kepada sang janin di perut.

Ketika usia Rebecca belum 2 tahun, sang Mami mengikutkannya sekolah. “Nah, sekolahnya dekat dengan studio Marlupi,” ujar perempuan 53 tahun yang pernah menjadi dosen di Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) Jakarta itu.

Ketika dihadapkan pada pilihan sang anak tetap bersekolah atau intens berlatih balet demi kesempatan ikut kompetisi internasional, kedua orangtua Rebecca sepakat untuk memilih homeschooling dan mengajari sendiri putrinya.

Joe Shia dan Irman ingin memberikan ruang seluas-luasnya untuk passion sang putri. Meski, untuk itu, bisa dibilang keduanya harus habis-habisan. Dari segi ekonomi, mereka bukan keluarga dengan harta berlebih. Awal 2013, ketika banjir besar melanda ibu kota, rumah mereka yang terletak di Jakarta Barat terendam. Akibatnya, keluarga itu harus mengungsi. “Habis, habis semuanya,” kata Joe Shia.

Keluarga tersebut harus jatuh bangun. Untuk menghemat pengeluaran, mereka tinggal di rumah ibunda Joe Shia. Mereka butuh waktu lima tahun untuk kembali membangun rumah. Biayanya berasal dari urunan para saudara. “Ini kami masih belum bisa nyicil. Memang mama dan kakak-kakak bilang bayarnya nanti saja, kalau sudah punya uang. Meski begitu, kami nggak enak,” ungkap perempuan yang pernah menjadi konsultan sekolah itu.

Dalam situasi harus berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya mengikuti kompetisi balet di luar negeri terasa sangat berat. “Jujur, daftar lomba Rp 1,5 juta saja buat kami berat, apalagi biaya ke luar negeri,” ujarnya. Joe Shia dan suami sangat bersyukur karena ada sponsor yang membantu.

Rebecca tumbuh menjadi anak yang sangat menghargai perjuangan orangtuanya. Perasaannya juga sensitif. “Dia bilang, Mami, maaf ya, jadi beli sepatu,” kata Joe Shia, menirukan ucapan putri kesayangannya.

Positifnya, Rebecca tidak rendah diri. Dia menjadikan kondisi tersebut sebagai amunisi lebih untuk meraih prestasi. Setiap mengikuti kompetisi, Rebecca terus mengirim kabar dan meminta doa. Tak terkira rasa bahagia Joe Shia dan Irman begitu mengetahui sang putri meraih prestasi di ajang prestisius dunia. “Saya hanya bisa nangis. Apa yang sudah kami lakukan sampai Tuhan begitu baik kepada kami,” kata Joe Shia. (*/c11/ayi/rom/k16)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 10 November 2018 06:56

Banyak Ingin Mengadopsi, Segudang Harapan untuk Abidah Nur Ghania

Nasib bayi yang terbuang selalu banyak yang menginginkan. Seperti itu…

Sabtu, 10 November 2018 06:43

Enam Generasi Terisolasi, Kini Berkah Bertubi

Menjelang peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November, warga…

Sabtu, 10 November 2018 06:11

Ingin Kenalkan Paser lewat Batik

Bermodal kegigihan, pembatik Paser Suliono berhasil menjadikan batik Paser sebagai…

Sabtu, 03 November 2018 06:57

Sangat Nyaman Dilintasi, Teringat Jembatan Balikpapan-Penajam

Jembatan yang menghubungkan Hong Kong, Zhuhai, dan Makau, sudah diresmikan…

Kamis, 01 November 2018 10:11

Stop Makan Nasi, Kopi Jadi Sumber Energi

Tren minum kopi hitam tanpa gula semakin menjamur di Indonesia.…

Sabtu, 27 Oktober 2018 08:34

Jatuh Cinta dengan Majikan, Pemuda Ini Nikahi Janda 67 Tahun

 Ini kisah nikah beda usia yang terpaut jauh. Muhamad Idris,…

Sabtu, 27 Oktober 2018 02:07

Awalnya 16 Kapal yang Melayani, Kini Tersisa Tiga

Tanpa digratiskan pun, Jembatan Suramadu sudah menggerus habis kejayaan penyeberangan…

Sabtu, 27 Oktober 2018 01:51

Media Efektif Tangkal Hoax di Sosmed

Kaltim Post menjadi salah satu media yang memiliki rubrik khusus…

Minggu, 21 Oktober 2018 10:53

Pramugari Nyerah, Punya Suami yang Brutal di Ranjang

Mungkin Donwori, 31, berpikir jika Karin, 29, ini Dakota Johnson dalam…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:46

Syaratnya, Jangan Berisik, Jangan Menatap, Jangan Mendongak

Bisa bertemu orangutan dari jarak dekat adalah “kemewahan” yang ditawarkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .