MANAGED BY:
RABU
24 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Kamis, 30 Agustus 2018 11:25
Perjuangan Berakhir di Sawah Lunto

Rekam Jejak Perjuangan Pahlawan Suku Paser; Anden Oko (6-Habis)

PROKAL.CO, Pada 7 April 1906 terjadi penyerahan kekuasaan Kesultanan Paser oleh Sultan Ibrahim Khaliluddin (Sultan Paser terakhir) kepada pemerintah kolonial Belanda. Ini membuat kalangan bangsawan Paser marah besar kepada Sultan Ibrahim Khaliluddin.

Paidah Riansyah, PENAJAM

WAKTU penyerahan kekuasaan Kesultanan Paser, pihak Belanda diwakili Kepala Millitair Ghezagebber Tanah Grogot/Tana Paser bernama Kaptain Infantrie J Van Droost. Setelah itu timbul perlawanan dari rakyat Paser dipimpin Pangeran Panji Kusuma Negara dan panglima perangnya bernama Panglima Sentik.

Perjuangan mereka didukung kalangan bangsawan Paser, kaum adat, dan alim ulama. Salah satu bangsawan Paser yang sangat mendukung Pangeran Panji Kusuma Negara untuk berperang melawan Belanda adalah Anden Oko, beserta saudaranya, Anden Gedang dan putra sulungnya Aji Raden Kusuma.

Setiap pertempuran melawan serdadu Belanda, ketiganya selalu turut berjuang. Pangeran Panji Kusuma Negara menunjuk Anden Oko sebagai pemimpin pasukan rakyat Paser dari wilayah utara (Balikpapan, Tunan, Sesulu, Labangka, dan Telake) yang tergabung dalam pasukan Sabil Kordoba.

Perang Tanah Grogot-Tana Paser, 29 November 1916 merupakan perang yang paling seru di bawah pimpinan Anden Oko, Anden Gedang, dan Anden Dek. Sebab mereka beserta pasukan rakyat Paser yang berjumlah lebih kurang 350 orang menyerang langsung ke jantung pertahanan Belanda di Tanah Grogot/Tana Paser.

Pada 29 November 1916 atau 04 Safar 1335 Hijriah sekitar pukul  03.00 Wita, Anden Oko bersama Anden Gedang, dan Anden Dek, beserta pasukannya menyerang loji (markas besar) pemerintah Belanda di Tanah Grogot. Bahkan, Kepala Millitair Ghezagebber Kaptain Infantrie J Van Droost yang juga bertempat tinggal di dalam kompleks itu kalang kabut karena mendapat serangan mendadak pada dini hari tersebut.

Pertempuran hebat pun terjadi, suara letusan meriam dan senapan api berdentuman silih berganti memecahkan keheningan malam. Suara tembakan terus bergema sedangkan pasukan Sabil Kordoba pimpinan Anden Oko, Anden, dan Anden Gedang, terus menggempur benteng pertahanan yang terbuat dari pagar kayu mengelilingi loji dan perumahan pejabat Belanda, namun tidak berhasil menembus pertahanan Belanda.

Hingga mendekati subuh, pasukan Sabil Kordoba mundur ke arah Bukit Gentung (gentung dalam bahasa Paser berarti tergantung) dan di bukit itulah mereka bertahan. Kini, Bukit Gentung tersebut sebagai tempat rumah dinas/pendopo Bupati Paser.

Setelah beberapa hari bertahan di Bukit Gentung, Anden Oko beserta pasukannya mengundurkan diri ke arah utara menuju hutan Lolo dan terus melakukan perang gerilya saat penyerangan ke markas besar Belanda. Di Tanah Grogot itu, Anden Oko kehilangan sekitar 60 pasukannya tewas sebagai syuhada pejuang rakyat Paser. Sedangkan di pihak Belanda tewas lebih dari 100 orang.

Anden Oko juga memimpin perang Apiapi (Waru-Penajam Paser Utara) pertengahan 1917. Saat Belanda mendaratkan pasukannya di muara sungai Apiapi, pasukan Anden Oko, Anden Gedang, Anden Dek, dan Aji Raden Kusuma terlebih dulu menyergap dan menembaki serdadu kolonial Hindia yang berkekuatan sekitar satu kompi (+300 pasukan). Diperkirakan lebih 50 orang tewas di pihak Belanda kala itu.

Adapun di pihak pasukan Anden Oko yang tewas sekitar 10 pasukan dan pasukan Anden Oko segera mundur menuju daerah Telake. Kemudian Anden Oko beserta pasukannya terus berjalan menuju daerah hutan Utok Payang dan bersembunyi di sana. Namun, di akhir 1918 Anden Oko, Anden Gedang, Anden Dek, dan Aji Raden Kusuma tertangkap di daerah Utok Payang dan dibawa ke Tana Grogot/Tana Paser lalu diadili di Banjarmasin.

Mereka dipenjara selama 10 tahun dan diasingkan ke daerah Pangkal Pinang dan ke Sawah Lunto (Sumatra Barat). Dia dibawa menggunakan kapal perang Belanda beserta puluhan pasukannya yang ikut diasingkan tanpa diadili. Konon, Anden Oko melakukan kerja paksa di perusahaan tambang batu bara yang berada di daerah Sungai Durian, Sawah Lunto.

Setelah masa hukumannya habis, Anden Oko enggan pulang karena merasa malu kepada rakyat Paser karena gagal memerdekakan rakyat Paser dari penjajah Belanda. Anden Oko hanya menyuruh putra sulungnya, Aji Raden Kusuma untuk memimpin dan mengurus keluarga besar mereka di daerah Sesulu (sekarang Desa Sesulu, Kecamatan Waru, PPU). Sekitar 1931, Anden Oko wafat di Sawah Lunto. Jasa dan perjuangan dalam membela rakyat Paser dari penjajahan Belanda selalu dikenang hingga kini.  (kri/k16)

*) Penulis adalah ketua Laskar Pertahanan Adat Paser PPU

loading...

BACA JUGA

Kamis, 04 April 2019 10:30
Bule Perancis Keliling Dunia Pakai Sepeda

Telah Singgahi 10 Negara, di Indonesia Doyan Makan Tempe dan Bakso

Victor Habchy punya nyali tinggi. Bule asal Prancis itu berkeliling…

Rabu, 03 April 2019 12:19
Ribuan Anak Yaman Angkat Senjata di Garda Depan

Dijanjikan Uang dan Pekerjaan, tapi Disuruh Perang

Anak-anak di Yaman tidak hanya harus tumbuh dengan melihat pemandangan…

Rabu, 27 Maret 2019 12:08
Warga Venezuela yang Hidup di ’’Neraka Gelap’’

Semua Jadi Gila saat Listrik Mati

Masyarakat Venezuela ingin melupakan kejadian tragis yang disebabkan lumpuhnya jaringan…

Sabtu, 23 Maret 2019 12:03
Geliat Wisata saat Gunung Bromo Erupsi Kecil

Justru Bisa Dapat Sajian Momen Keindahan Asap

Jumlah wisatawan ke Bromo menurun bahkan jika dibandingkan dengan saat…

Sabtu, 16 Maret 2019 14:06
Setelah sang Pelukis Abstrak Itu Berpamitan Dua Bulan Lalu

Sosok yang Supel dan Selalu Siap Bantu Teman

Dari Jogjakarta, Zulfirman Syah pindah ke Selandia Baru untuk mendampingi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*