MANAGED BY:
SELASA
20 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Senin, 27 Agustus 2018 11:11
Rekam Jejak Perjuangan Pahlawan Suku Paser; Panglima Sentik
Dapat Gelar setelah Penggal Kepala Bajak Laut
PUNYA NILAI SEJARAH: Inilah Stadion Panglima Sentik yang menjadi kebanggaan warga PPU.

PROKAL.CO, Cukup banyak literasi yang terhimpun untuk mengisahkan perjalanan hidup Panglima Sentik. Karena keterbatasan ruang tulis, kisahnya akan diturunkan sebanyak dua kali. Edisi pertama hari ini, bisa disimak tentang Sentik muda, sifat kepemimpinan dan keberaniannya sudah terlihat. Namanya kini juga diabadikan menjadi nama stadion sepak bola di Kilometer 9, Nipahnipah.

Paidah Riansyah, Penajam

 

SENTIK merupakan putra asli suku Paser Telake-Tikas, kelahiran kampong Mendik, tanah Telake, sekarang jadi Kampung Mendik, Kabupaten Paser. Lahir di Peteban (Paser), sekira 1859 dan wafat di Mendik (Paser) sekira 1908. Sejak kecil, Sentik memiliki kelebihan dari anak-anak sebayanya. Dia kuat selangui (berenang), monsit (berlari), dan kuat mengket (memanjat pohon). Sentik mempunyai beberapa saudara kandung (belum diketahui datanya).

Semasa remaja, dia belajar bela diri Kuntau Paser, sehingga jika bertanding adu ketangkasan jurus semua teman-temannya kalah dan roboh terkena pukulan jurus dari Sentik. Namun kekurangan Sentik, dia tidak bisa mengendalikan emosi dan mudah tersinggung. Dikisahkan bahwa suatu ketika, Sentik jarang ikut orang tuanya bekerja di ladang mereka di daerah Sungai Suatang (sekarang masuk Kecamatan Paser Belengkong), karena merasa lelah dan ingin beristirahat di rumah saja.

Namun keesokan harinya, Sentik telat bangun hingga dia tidak dibangunkan dari tidur saat sarapan pagi (sekodor pita). Sentik baru bangun menjelang tengah hari ketika ayah, ibu, dan saudaranya sedang makan siang. Karena perutnya merasa lapar, Sentik lalu mengambil pinggan (piring) dan ikut makan bersama. Saat Sentik sedang makan, seorang kakak lelakinya telah selesai makan, lalu memarahi dan mengomel Sentik yang sedang makan dengan kata-kata pemalas dan sebagainya.

Sesaat Sentik masih dapat menahan emosinya. Namun, saat kakaknya mengomeli dengan kata-kata kasar dan tidak pantas untuk diucapkan, emosi Sentik memuncak. Dia pun mengambil mandau pusaka ayahnya yang tergantung di ori botuk (tiang tengah) rumah. Tanpa basa-basi langsung saja mengayunkan perang mandau itu tepat mengenai leher sang kakak. Maka gemparlah ayah, ibu, dan tetangganya di sekitar rumahnya melihat kakaknya tewas bersimbah darah.

Melihat kejadian tersebut, Sentik lalu melarikan diri meninggalkan rumah. Dia pergi menuju rumah pamannya yang bernama Panglima Tamsatung yang di Kampung Pias-Telake (sekarang bernama Desa Pias, Kecamatan Longkali, Kabupaten Paser). Setelah sampai di rumah pamannya, Sentik menceritakan panjang lebar tentang kesalahannya yang terbujuk setan telah membunuh kakak kandungnya.

Mendengar penjelasan keponakannya itu, Panglima Tamsatung merasa serba-salah, jika ia membenarkan perbuatan Sentik tersebut ternyata salah karena telah membunuh saudara kandungnya. Jika ia mengusir Sentik, mungkin saja Sentik akan semakin menjadi perampok dan bertambah kejahatannya.

Panglima Tamsatung menasehati saja keponakannya itu dengan kata-kata bijak dan penuh dengan perbuatan yang baik. Panglima Tamsatung mengatakan, alangkah lebih baik Sentik membunuh orang kafir Belanda yang sudah mulai menjajah negeri Paser daripada membunuh sesama anak negeri.

Ketika dewasa, Sentik mulai sering berguru ilmu kesaktian kepada orang sakti di pedalaman hulu Sungai Telake.  Selain itu, dia sering bertapa di tempat-tempat yang dianggap keramat. Konon Sentik memiliki ilmu kekebalan tubuh dan simba riut (ilmu peringan tubuh).  Dia bisa melompat Sungai Telake dengan dibantu makhluk/simba pertapaannya.

Pada 1880-an di teluk Balikpapan terdapat bajak laut (Lanon istilah Paser) sehingga meresahkan masyarakat Paser Balik yang tinggal di sekitar teluk itu. Mendengar kabar itu, Panglima Tamsatung dan Sentik ingin menjadi Bala (merampok isi kapal para bajak laut itu). Pada waktu yang telah ditentukan, mereka berdua berangkat dari Kampung Pias berjalan kaki menuju Teluk Balik.

Setelah tiba, mereka sejenak mengasah parang mandau sebelum ngembala para lanon (bajak laut). Peristiwa menajamkan parang itulah konon daerah itu lambat laun dinamakan Penajam, artinya tempat menajamkan/mengasah parang.

Dahulu memang Teluk Balik (Teluk Balikpapan), Teluk Adang dan Teluk Aper adalah tempat paling sering diserang oleh gerombolan bajak laut. Mereka berdua bertanya kepada penduduk setempat apakah kapal para lanon masih ada, penduduk menjawab masih ada di tengah laut Teluk Balikpapan. Saat parang mandau Panglima Tamsatung dan Sentik telah tajam, mereka berdua langsung meminjam sampan penduduk setempat menuju kapal milik bajak laut yang berlabuh di muara Teluk Balik.

Mereka berdua berpura-pura menjadi nelayan yang sedang mencari ikan. Setelah tiba di pinggir kapal bajak laut, mereka berpura-pura menawarkan madu dan damar. Setelah naik ke atas kapal, tanpa basa basi langsung mengamuk. Setiap kapal bajak laut tentulah ada beberapa orang yang sakti, namun ketika bertemu dengan Panglima Tamsatung dan Sentik, pemimpin bajak laut itu pun tidak lama roboh bersimbah darah dan tewas, sehingga semua awak kapal berjumlah lebih 50 orang tewas.

Selain itu, Sentik memenggal kepala bajak laut itu sebagai tanda ia telah dapat membunuh pemimpin bajak laut. Semua isi kapal yang berharga hasil rampasan para bajak laut dari perkampungan Paser Balik di sekitar teluk itu mereka ambil dan dimuat di atas sampan. Sementara kapal para bajak laut itu mereka bakar. Dan sejak saat itu jarang para bajak laut datang menyerang perkampungan Paser Balik di sekitar Teluk Balik.

Setelah peristiwa “ngembala” para bajak laut itu, Panglima Tamsatung dan Sentik kembali ke Kampung Pias dengan membawa harta benda berharga, serta kepala pemimpin bajak laut.

Sejak dahulu, sudah menjadi tradisi sSuku Paser, apabila ingin menyandang gelar panglima, maka dia harus bisa membunuh seorang pemimpin yang sakti atau memenggal beberapa kepala manusia untuk dibawa ke kampung halaman sebagai bukti. Selanjutnya, dia bisa diangkat menjadi pemimpin di komunitasnya atau juga ia berani diuji coba di muka umum dengan cara ditikam, ditimpas, dibakar, direndam air panas, dan sebagainya.  

Setelah tiba di Kampung Pias, diadakanlah acara belian dengan mengundang penduduk sekitar bahwa Panglima Tamsatung ingin mensyukuri kemenangan mereka berdua yang telah mengalahkan para bajak laut, sekalian meresmikan Sentik untuk dapat menyandang gelar panglima. Sejak itulah dia resmi menyandang gelar Panglima Sentik.

 

                                                                                                ***

 

Sudah menjadi tradisi pada masyarakat Paser pedalaman saat itu, meskipun mereka pemeluk agama Islam, mereka masih teguh memegang tradisi lama leluhur. Yakni, animisme dan dinamisme, termasuk mengadakan upacara belian dan memenggal kepala musuhnya untuk ritual tolak bala. Terkecuali mereka yang telah benar-benar menjalankan syariat Islam, baru meninggalkan tradisi itu.

Meskipun Paser bukanlah Dayak, namun dari segi budaya ada beberapa yang sama. Kemudian Panglima Sentik menikahi seorang janda bernama Ripah yang tinggal di Kampung Mendik, maka Panglima Sentik pindah kampung mengikuti istrinya di Kampung Mendik sekitar 1890-an.

Pada 1900 terjadi gejolak politik di dalam pemerintahan Kesultanan Paser. Pemerintah kolonial Belanda berhasil melaksanakan politik “Devide et impera” atau politik pecah adu domba. Sehingga pemerintah kolonial Belanda melantik Anden Meja gelar Pangeran Mangku Jaya Kusuma menjadi Sultan Paser XIII dengan gelar Sultan Ibrahim Khaliluddin, berdasarkan akta konfimasi dan menyetujui dengan surat Governments Besluit Van Nederland pada 27 November 1900 Nomor 28.

Menurut aturan adat Paser dan kitab undang-undang Boyan Bungo Nyaro, Anden Meja bergelar Pangeran Mangku Jaya Kusuma yang saat itu sedang menjabat menjadi Perdana Menteri Kesultanan Paser, tidak berhak menjadi Sultan Paser, sebab yang boleh menjadi Sultan Paser haruslah berdarah asli Paser, baik dari ayah maupun ibunya.

Sedangkan Anden Meja yang kemudian memakai gelar Aji di depan namanya menjadi Aji Meja yang bergelar Pangeran Mangku Jaya Kusuma, garis keturunan bangsawan dan darah Paser-nya hanya dari ibunya, yakni Aji Mingki binti Sultan Sepuh II Alamsyah. Sedangkan ayahnya seorang berdarah Bugis Wajo bernama La Taddaga. Namun Anden Meja yang ambisius ingin menjadi Sultan Paser dan merebut kekuasaan kesultanan Paser itu tetap pada pendiriannya menjadi Sultan Paser dengan gelar Sultan Ibrahim Khaliluddin.

Sebab itulah hampir semua bangsawan Paser dan rakyat Paser pada umumnya sangat membenci Sultan Ibrahim Khaliluddin, beserta pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bahkan, Pangeran Panji Kusuma Negara beserta pengikutnya berniat membunuh Sultan Ibrahim Khaliluddin dan para pejabat kolonial Hindia Belanda yang ada di Loji (markas besar kolonial Belanda di tepi Sungai Kendilo, Tanah Grogot/Tana Paser).

Bekas Loji itu sekarang dijadikan Taman Budaya Putri Petung. Secara diam-diam, Pangeran Panji Kusuma Negara menghubungi para tokoh adat, kepala kampung, ulama, dan para penglima untuk mendoktrin tentang perlunya mengusir penjajah Belanda dari Bumi Paser, termasuk Panglima Sentik dan pamannya Panglima Tamsatung diajak untuk menyerang pos-pos Belanda yang ada di seluruh kampung negeri Paser serta menyerang patroli prajurit kolonial Hindia Belanda. (kri/k8/bersambung)

*) Penulis adalah ketua Sanggar Budaya Pusaka Paser PPU

 


BACA JUGA

Sabtu, 10 November 2018 06:56

Banyak Ingin Mengadopsi, Segudang Harapan untuk Abidah Nur Ghania

Nasib bayi yang terbuang selalu banyak yang menginginkan. Seperti itu…

Sabtu, 10 November 2018 06:43

Enam Generasi Terisolasi, Kini Berkah Bertubi

Menjelang peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November, warga…

Sabtu, 10 November 2018 06:11

Ingin Kenalkan Paser lewat Batik

Bermodal kegigihan, pembatik Paser Suliono berhasil menjadikan batik Paser sebagai…

Sabtu, 03 November 2018 06:57

Sangat Nyaman Dilintasi, Teringat Jembatan Balikpapan-Penajam

Jembatan yang menghubungkan Hong Kong, Zhuhai, dan Makau, sudah diresmikan…

Kamis, 01 November 2018 10:11

Stop Makan Nasi, Kopi Jadi Sumber Energi

Tren minum kopi hitam tanpa gula semakin menjamur di Indonesia.…

Sabtu, 27 Oktober 2018 08:34

Jatuh Cinta dengan Majikan, Pemuda Ini Nikahi Janda 67 Tahun

 Ini kisah nikah beda usia yang terpaut jauh. Muhamad Idris,…

Sabtu, 27 Oktober 2018 02:07

Awalnya 16 Kapal yang Melayani, Kini Tersisa Tiga

Tanpa digratiskan pun, Jembatan Suramadu sudah menggerus habis kejayaan penyeberangan…

Sabtu, 27 Oktober 2018 01:51

Media Efektif Tangkal Hoax di Sosmed

Kaltim Post menjadi salah satu media yang memiliki rubrik khusus…

Minggu, 21 Oktober 2018 10:53

Pramugari Nyerah, Punya Suami yang Brutal di Ranjang

Mungkin Donwori, 31, berpikir jika Karin, 29, ini Dakota Johnson dalam…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:46

Syaratnya, Jangan Berisik, Jangan Menatap, Jangan Mendongak

Bisa bertemu orangutan dari jarak dekat adalah “kemewahan” yang ditawarkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .