MANAGED BY:
JUMAT
26 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 25 Agustus 2018 07:20
Kepincut Durian Merah dan Ayam Urap Bakar-

Serunya Kaltim Post Tour de Ijen 2018 (3)

KULINER KHAS: Salah seorang peserta tur menanti racikan urap bakar khas Desa Kemiren, Banyuwangi yang disajikan secara tradisional. (ULIL/KALTIM POST)

PROKAL.CO, Setelah memacu adrenalin dengan rafting di Sungai Badeng, Banyuwangi, rombongan berkunjung ke Desa Wisata Osing. Kampung adat ini berjuang  mempertahankan tradisi di tengah arus modernisasi.

 BANYUWANGI memiliki 198 desa dan 28 kelurahan. Salah satu yang paling terkenal ialah Desa Kemiren yang terletak di Kecamatan Glagah. Di desa tersebut, terdapat Desa Wisata Osing. Seperti namanya, penduduk desa ini merupakan kelompok masyarakat yang memiliki adat istiadat dan budaya khas sebagai satu suku, yang dikenal sebagai suku Osing (Using).

 Ketua Adat Desa Kemiren Adi Purwadi menceritakan, Desa Kemiren lahir pada masa penjajahan Belanda. Sekitar 1830-an. Awalnya, desa ini hanyalah hamparan sawah serta hutan lebat yang banyak ditumbuhi pohon kemiri dan durian. Sehingga desa ini dinamakan Kemiren. Jenis durian paling terkenal di sini ialah durian merah. Tak ubah buah elai di Kalimantan. Adi mengatakan, durian merah di Kemiren memiliki rasa daging yang manis. Harganya pun terjangkau hanya Rp 20 ribu per kilogram.

 Sayang, saat rombongan singgah, belum memasuki masa panen. Padahal banyak peserta tur yang penasaran dan ingin membawanya sebagai oleh-oleh. Desa ini memiliki luas 117.052 meter persegi. Memanjang hingga 3 kilometer, yang di kedua sisinya dibatasi dua sungai, Gulung dan Sobo. Alirannya berasal dari Gunung Raung. Jika di Balikpapan satu kepala keluarga (KK) bisa membayar uang ratusan ribu rupiah untuk biaya air, di desa ini per KK hanya membayar sebesar Rp 5 ribu dalam sebulan.

 ”Mata air dari Gunung Raung membuat desa kami tidak pernah kekeringan. Selain persawahan dan perkebunan juga dialiri ke rumah-rumah warga. Airnya bisa diminum langsung dari keran,” tuturnya sembari mengambilkan air dari keran di dekat wastafel.  Airnya jernih dan tak berbau.

Berbeda dengan Suku Badui di Banten, suku Osing Kemiren bukanlah masyarakat yang menutup diri. Terbuka terhadap kemajuan zaman, gaya berpakaian masyarakatnya terutama kaum muda-mudi juga tak ubah masyarakat perkotaan. Meski begitu, mereka tetap kukuh menjalankan tradisi nenek moyang. Penuh seni budaya dan atraksi tradisional. Salah satunya Barong Osing.

 

Mayoritas rumah warga yang mempertahankan bentuk lamanya. Genting bata oranye. Dinding berbahan kayu dengan desain yang masih tradisional. Seperti rumah Adi yang kini menjadi rumah adat. Pekarangan depan cukup luas di mana ia memasang gong berukuran cukup besar dengan ukiran khas Banyuwangi. Yakni sepasang ular berwarna kuning dan merah dengan kepala wayang.    

Peserta tur juga sempat berkeliling.

 

Suasana desa terasa sejuk. Bangunan rumah berjajar. Saling berdekatan di kompleks permukiman yang padat penduduk. Banyak rumah warga dijadikan homestay wisatawan mancanegara. Biaya menginap murah meriah, hanya dengan Rp 125 ribu per malam, wisatawan yang menginap sudah mendapat sarapan.  

Rombongan Tour de Ijen gelaran Trans Borneo Adventure dan Borneo Enterprisindo (Event Organizer Kaltim Post) juga sempat mencicipi ayam urap bakar khas Desa Kemiren. Hidangan tradisional yang diolah langsung oleh warga sekitar. Untuk empat porsi dikenakan biaya Rp 80 ribu. Sudah termasuk nasi dan pendamping lauk-pauk seperti ampal jagung serta tempe goreng.

 

Lewat pemberdayaan, Adi mengatakan, tiap warga dapat mandiri tak lagi bergantung pemerintah. Sebagian warganya hidup sebagai petani dan pedagang, lainnya kini fokus pada pariwisata. Dilatih menjadi “change agent” dengan pembinaan berkala. Dikatakan, selama dua tahun terakhir, kunjungan wisatawan Nusantara maupun mancanegara ke Desa Kemiren meningkat. “Dua tahun terakhir, sekitar 800-1 juta orang datang kemari,” ucap pria yang mengenakan udeng dan pakaian berwarna hitam tersebut. 

Gencar melakukan berbagai upaya seperti mempertemukan pengusaha Bali dan Banyuwangi. Dirinya bersama pemerintah setempat juga menerapkan pendekatan strategi pemasaran, strategi promosi branding, advertising, dan selling (BAS). “Kami hanya ingin membuktikan, di tengah era modern Suku Osing akan terus bertahan dari masa ke masa,” tandasnya. (lil/riz/k15)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 04 April 2019 10:32
Berbincang dengan Setyo Pranoto, Pria Berjuluk Manusia Jadul

Keliling Jawa dan Kalimantan untuk Berburu Handphone Jadul

Teknologi semakin maju. Telepon genggam pun semakin canggih dengan desain…

Kamis, 04 April 2019 10:30
Bule Perancis Keliling Dunia Pakai Sepeda

Telah Singgahi 10 Negara, di Indonesia Doyan Makan Tempe dan Bakso

Victor Habchy punya nyali tinggi. Bule asal Prancis itu berkeliling…

Rabu, 03 April 2019 12:19
Ribuan Anak Yaman Angkat Senjata di Garda Depan

Dijanjikan Uang dan Pekerjaan, tapi Disuruh Perang

Anak-anak di Yaman tidak hanya harus tumbuh dengan melihat pemandangan…

Rabu, 27 Maret 2019 12:08
Warga Venezuela yang Hidup di ’’Neraka Gelap’’

Semua Jadi Gila saat Listrik Mati

Masyarakat Venezuela ingin melupakan kejadian tragis yang disebabkan lumpuhnya jaringan…

Sabtu, 23 Maret 2019 12:03
Geliat Wisata saat Gunung Bromo Erupsi Kecil

Justru Bisa Dapat Sajian Momen Keindahan Asap

Jumlah wisatawan ke Bromo menurun bahkan jika dibandingkan dengan saat…

Sabtu, 16 Maret 2019 14:06
Setelah sang Pelukis Abstrak Itu Berpamitan Dua Bulan Lalu

Sosok yang Supel dan Selalu Siap Bantu Teman

Dari Jogjakarta, Zulfirman Syah pindah ke Selandia Baru untuk mendampingi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*