MANAGED BY:
SABTU
15 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 24 Agustus 2018 11:00
Ekspedisi Gua Prasejarah Karst Sangkulirang-Mangkalihat
Nestapa Garca menuju Warisan Dunia
KEMEGAHAN ALAM: Berperahu di atas Sungai Marang. Sepanjang perjalanan mata disuguhi deretan gunung bertebing curam. Bentuknya yang mirip gergaji jadi alasan diberi nama Gunung Gergaji. Salah satu bagian dari karst Sangkulirang, Kutim.(m ridhuan/kp)

PROKAL.CO, Karst Sangkulirang-Mangkalihat seluas 1,8 juta hektare menyimpan sejarah seni paling tua di dunia. Rock art atau gambar cadas (garca). Usianya puluhan ribu tahun. Sayangnya jejak prasejarah itu kini terancam lenyap.

SEMRINGAH terlukis di wajah Sugianur. Memperlihatkan gusi yang tak lagi ditinggali gigi seri. Dia dan tujuh orang rekannya menyambut Kaltim Post dengan hangat. Mengurangi rasa lelah sang tamu. Yang terombang-ambing dalam mobil selama delapan jam. Berjarak sekira 270 kilometer dari Samarinda, ibu kota Kaltim. Menuju Hambur Batu, Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur (Kutim).  

Ketua rombongan Edy Gunawan yang pertama bersalaman. Disusul empat anggota tim. Terdiri dari satu pria, Nanda, dan tiga perempuan, Jeli, Soraya dan Fitri. Mereka utusan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kaltim.  Sejak 5 hingga 12 Agustus mereka dijadwalkan masuk hutan. Ke Gunung Gergaji. Kawasan karst Sangkulirang. Berperahu melalui Sungai Bengalon menuju Sungai Marang.

“Air sungai lagi surut,” kata Ian -- sapaan akrab Sugianur -- disambut rasa kecewa tamunya.Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 Wita. Dari delapan orang yang akan mengantar semuanya punya pengalaman motoris perahu. Namun tak satu pun yang menunjukkan keinginan mengantar ke tujuan. Terlalu berisiko. Apalagi jika gelap sudah menyelimuti. Akhirnya diputuskan untuk menunda keberangkatan.

Tim pun memutuskan menginap. Penginapan dan rumah makan berjarak 100 meter jadi tujuan. Dewi, sang tuan rumah menyambut. Senyum Dewi merekah melihat rombongan yang ada. Bisa melihat kembali wajah yang dikenali. Yang jadi pelanggan saban ada ekspedisi. Kopi dan es campur pun terhidang di selasar. “Duh susah sekali sih. Mau eksis enggak bisa upload foto di medsos (media sosial),” seloroh Dewi usai berswafoto dengan anggota tim.

Hambur Batu memang tak memiliki jaringan internet. Sinyal telekomunikasi juga susah. Satu atau dua bar sinyal bisa ditemukan. Mojok di dekat dapur milik Dewi. Rebutan. Jika ada satu sedang menelepon, ada jaminan ponsel lain tak kebagian. Hal yang sama juga ada di rumah Iain. Ponsel jadul lebih punya kekuatan menangkap sinyal dibandingkan smartphone.

Usai merenggangkan tubuh, ada arahan. Rapat kecil dilaksanakan. Di depan warung, Edy memulai pembicaraan. Memperkenalkan diri terhadap anggota baru yang dibawa kepada delapan orang di depannya. Dari delapan, enam orang adalah juru pelihara (jupel). Termasuk Ian. Dia digaji BPCB Kaltim. Punya tugas memelihara di gua bergarca.

“Jadi tujuan kami meneruskan hasil kajian konservasi yang telah dilakukan tim sebelumnya. Untuk melihat dan melakukan upaya untuk mengurangi kerusakan gambar dalam gua,” beber Edy.

Diskusi ringan namun penting terjadi di antara Edy dan para jupel. Mereka mengeluh. Tak bisa maksimal bekerja. Gaji dari BPCB dianggap tak sesuai. Rp 1 juta per bulan. Sementara untuk menuju gua tempat mereka bekerja perlu ongkos. Sekali perjalanan sudah menghabiskan satu bulan gaji. Keluhan diterima Edy tanpa bisa memberi jawaban. Jabatannya tak punya kewenangan untuk mengambil kebijakan.

Selebihnya pembicaraan seputar kondisi gua. Mengenang kembali setiap perjalanan mereka. Gua Batu Raya paling banyak disebut. Menurut cerita mereka, perjalanan ke lokasi tersebut adalah yang terberat. Delapan jam berjalan kaki. Menghadapi hutan dan bukit. Harus memanggul peralatan. Sepuluh langkah, sekali beristirahat. Mendaki selangkah, terperosok dua langkah.

“Di sini (Sangkulirang) rencananya ada tiga gua yang akan dilakukan upaya konservasi. Gua Tewet, Liang Karim dan Gua Tamrin,” sebut Edy. Tawa dan canda memenuhi usai diskusi. Hingga langit ditinggalkan matahari. Dan suara mesin genset beradu dengan teriakan jangkrik.

Senin (6/8) sekitar pukul 07.30 Wita, dengan lambung terisi, tim meninggalkan penginapan. Berjalan kaki ke rumah Ian, yang bersinggungan langsung dengan hulu Sungai Bengalon. Empat perahu bermesin 13 PK sudah menanti. Masing-masing diisi dengan barang dan peralatan yang sudah disiapkan sehari sebelumnya. Namun wajah para motoris sedikit khawatir. Sungai masih surut.

 “Berangkat,” kata Edy memberi semangat.

 Deru mesin memenuhi telinga. Selama di atas sungai, mata disuguhi berbagai warna kehidupan masyarakat Hambur Batu. Pertama adalah aktivitas logging.

Tampak warga dengan cekatan menyusun gelondongan kayu di tepi sungai. Melimpah jumlahnya. Di darat, sejumlah pekerja menyulapnya menjadi balok dan lembaran papan. Diduga kayu-kayu ini hasil perambahan ilegal.

Tiga jam perjalanan yang dihabiskan. Memandangi hutan dengan segala kekhawatirannya. Maklum, sungai yang dilintasi adalah habitat buaya. Edy dan Ian menyaksikannya sendiri. Predator enam meter memamerkan taringnya di daratan pasir. Tak ingin terganggu, dengan senyap buaya tersebut langsung menghilang ke kedalaman sungai.

“Itu buaya terbesar yang pernah saya lihat selama ini,” kata Ian yang sudah sering bertemu reptil yang kerap diberitakan memangsa manusia itu.

GUA TEWET

Dari Hambur Batu menuju basecamp milik BPCB di tepi kanan Sungai Marang. Di kaki Gunung Gergaji.Sebuah pondok ulin dua tingkat berdiri. Delapan kamar tidur. Terpisah 15 meter, ada fasilitas toilet untuk pengunjung. Disediakan kursi dan meja tiga meter di depan pondok. Tempat bersantai memandangi sungai.

Namun santai bukan pilihan utama. Setelah makan siang, tim langsung bekerja. Sejumlah peralatan dan barang untuk konservasi harus segera dinaikkan ke dalam gua. Masing-masing jupel membawa keset antilelah yang terbuat dari karet. Bobotnya tujuh kilogram per lembar. Paling banyak seorang jupel sanggup membawa empat lembar. Untuk dipasang sebagai bentuk perlindungan terhadap garca.

“Tujuan pertama adalah Gua Tewet,” kata Edy.

Perjalanan ke Gua Tewet disebut paling mudah. Gua yang paling dekat dengan pondok. Kurang dari satu jam berjalan. Naik dan memanjat tebing setinggi 15 meter. Gua ini pertama kali diidentifikasi oleh tiga penjelajah dan arkeolog. Dua asal Prancis, yakni Luc Henri Fage dan Jean Michel Chazine. Juga seorang peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat, Pindi Setiawan pada 1999. Atas petunjuk seorang speleolog (orang yang mempelajari ilmu tentang gua) lokal, Tewet.

Di Gua Tewet, seni cadas mencapai kesempurnaan, seperti dibuktikan lukisan luar biasa ini. Semacam pohon kehidupan yang menghubungkan, dengan garis lengkung penuh corak bunga, tangan dihiasi tanda. Ini adalah puncak karya tulis tangan yang dikombinasi, didampingkan, dihubungkan. Tak pelak lagi estetis, mengusung emosi, dan menggegerkan.

Garca di Kalimantan menegaskan keunikannya di sini. Bukti material dan rentan dari berbagai kepercayaan dalam suatu budaya manusia, yang diletakkan dalam lingkungan tidak lazim, sangat mungkin akan tetap misterius. Namun, ia ada di sana, indah sekali, mengilhami, mengharukan...(Luc Henri Fage; Borneo, Menyingkap Gua Prasejarah).

“Gua Tewet merupakan gua yang memiliki lukisan cap tangan negatif terbanyak. Dan menjadi yang paling terkenal di antara gua lainnya. Selain di sini ada Tewet II. Lokasinya ke atas (tingkat) lagi,” kata Edy.

Dalam perhitungan awal oleh Luc Henri Fage, Jean Michel Chazine dan Pindi Setiawan, Gua Tewet memiliki 224 cap tangan negatif, 102 dipenuhi corak simbolis, yang terdiri dari unsur grafis kecil-kecil sering sangat sederhana, silang, duri, garis, titik, yang variasi kombinasinya sangat kaya. Menghasilkan 50 corak berbeda.

“Soal pencatatan jumlah cap tangan ini tentu tak bisa disandingkan antara penelitian sebelumnya dengan yang dilakukan BPCB. Kami punya data sendiri terkait jumlah ini disesuaikan dengan penelitian kami,” beber Edy.

Mencapai mulut gua, Satriadi, jupel Gua Pindi memasang tali. Pria kecil namun punya badan atletis. Disebut tim BPCB sebagai jupel yang memegang sertifikat internasional untuk bidang panjat tebing. Dengan cekatan, Bang Sat -- sapaan akrab Satriadi -- membantu tim menaikkan keset antilelah.

“Misi hari ini hanya untuk menaikkan keset,” ucap Edy.

Hari kedua (7/8). Usai mengisi perut, misi untuk melakukan konservasi dimulai pagi-pagi. Tim dipecah. Separuh jupel membawa keset ke Liang Karim. Separuh lagi ke Gua Tewet bersama BPCB melakukan pemasangan keset dan pengambilan data di gua. Dilakukan pula pemasangan pelang imbauan dan penanaman pohon di sekitar gua.

 “Salah satu faktor yang menyebabkan berkurangnya gambar adalah kelembapan gua. Panas yang berlebih bisa merusak dinding gua. Sebaliknya juga begitu. Karena itu, perlu ada peneduh,” ujar Edy.

Selain faktor suhu, banyak sarang serangga di dalam gua. Menempel dan mengancam garca. Ada pula ancaman dari rembesan air dari karst. Penggaraman dan pengapuran pun jadi persoalan sendiri. Belum lagi faktor dari manusia. Semua itu mampu memengaruhi pudarnya garca.

“Keset sendiri untuk menahan debu agar tak terbang dan menempel di dinding gua bergambar. Karena gua ini (Tewet) paling sering dikunjungi,” sambung Edy.

LIANG KARIM

Melelahkan. Semua sepakat dengan kata itu ketika harus mendaki bukit ke Liang Karim. Ada dua rute. Pertama melalui Gua Tewet. Memutar dan terjal. Lewat jalur ini bisa mampir ke Gua Pindi. Ditemukan Pindi pada 1999. Gua yang punya garca namun telah rusak. Yang juga terancam akibat penurunan badan gua. Diduga karena salah satu pilar penyangga gua patah. Dari gua ini puncak Gunung Tandoyan terlihat megah.

Rute lain melalui jalur kiri. Ini adalah rute utama. Telah ada papan petunjuk yang dipasang. Namun rute ini bisa membuat pendaki amatir putus asa. Dengan kemiringan 80 derajat, kekuatan napas, kaki dan keteguhan hati diuji. Tiga kali istirahat 10 menit, Liang Karim bisa ditembus dengan waktu satu jam lebih.

“Jalur ini berbahaya kalau hujan. Licin. Selain itu, harus waspada karena banyak batu yang dipijak bisa lepas dan berjatuhan,” kata Ian, jupel Marang II, yang menemani Kaltim Post melalui rute utama.

Liang Karim terkenal karena ada garca sarang lebah. Jenis lebah madu raksasa (Apis dorsata). Ukurannya sekira 1,5 meter. Ribuan titik digambar. Tempat lebah menyimpan madu. Untuk mencapainya harus memanjat kayu setinggi tiga orang dewasa. Memasuki liang sepanjang enam meter dengan dua muara. Tempat ini seolah sebagai tempat perlindungan dari hewan buas.

Di liang ini, tim juga memasang keset dan melakukan pendataan di hari ketiga (8/8). Setelah proses di Goa Tewet selesai. Selain sarang lebah, cap tangan negatif juga ditemukan. Sayang, banyak yang sudah rusak. Lokasinya terlalu terjangkau tangan manusia. Bahkan di satu ceruk kecil, sering dijadikan tempat berfoto.

“Tubuh kita mengeluarkan panas yang bisa meningkatkan suhu gua. Makanya dilarang mendekat ke gambar dalam kondisi tubuh berkeringat setelah berjalan. Apalagi menyentuhnya,” kata Ian yang mempelajari informasi tersebut dari BPCB.

Pemandangan di Liang Karim juga menakjubkan. Suguhan lembah diapit bukit seperti pilar. Tampak lekukan Sungai Marang. Permadani hijau terhampar luas. Dominan di seberang sungai. Lokasi yang menurut informasi sudah dipatok untuk digali. Untuk diambil emas hitamnya.

GUA TAMRIN

Hari Keempat (9/8) lokasi konservasi berganti. Pagi-pagi tim berkemas meninggalkan basecamp. Berperahu tiga jam lebih ke hulu. Tak mulus dengan kondisi sungai surut. Sering kandas terkena batang pohon di sungai. Baik yang terlihat atau yang bersembunyi di bawah permukaan. Meliuk menghindari bebatuan tajam. Namun menyerah begitu berada di persimpangan Sungai Marang dan Sungai Jele.

“Enggak bisa masuk. Terlalu surut,” kata Ian yang mengenal baik seluk beluk sungai-sungai di kawasan ini.

Rencana menuju Gua Tamrin dan Gua Tengkorak pun berubah. Tim terpaksa harus menurunkan barang. Menginap di tepi simpang sungai, kemah didirikan. Tanah dibersihkan. Alas dari terpal dibentang. Untuk tiga hari ke depan, bekas lokasi pemotongan kayu ini akan jadi rumah sementara.

“Kalau air tinggi, perahu bisa lewat. Mengantar barang lebih mudah. Kalau saat ini ya terpaksa berjalan kaki,” lanjut Ian.

Usai membangun kemah, Edy memimpin tim kecil dengan dua perahu. Berusaha menembus Sungai Jele mengantarkan keset. Sebelum gelap, mereka pun tiba. Dengan wajah kecewa, menyebut perahu tak bisa terlalu jauh. Keset pun ditinggal di suatu tempat. Untuk diangkut kembali melalui jalur darat.

Keesokan pagi, aktivitas menyusuri hutan kembali dilakukan. Destinasi pertama Gua Tamrin. Seperti biasa seorang jupel, Amril Sidiq yang tinggal di kemah. Pria tertua di antara jupel. Pemelihara gua di Marang itu sedang sakit. Didiagnosis dokter stadium dua kanker paru-paru. Tak kebagian tugas menahan beban, Amril aktif menjadi tukang bersih-bersih. Juga menjaga base tim. Ditemani sang koki, jupel Tewet II Johansyah.

“Tamrin bisa dikatakan punya gambar-gambar masterpiece. Gambarnya lebih hidup. Ada yang menari. Seperti dilukis oleh orang berjiwa seni,” ujar Edy.

Menuju ke Tamrin dengan berjalan kaki adalah keputusan yang berat. Tim harus menembus rapatnya hutan. Tiga jam pertama dihabiskan untuk menelusuri kembali jejak-jejak jalur yang telah tertutup semak. Dua kali menyeberangi Sungai Jele. Kemudian menanjak untuk mencapai kaki gua. Mulut gua sendiri berada 30 meter di atas kepala.

“Tak bisa. Ada penyengat,” ujar Bang Sat yang pertama menyusuri jalur pendakian.

Dari bawah, serangga yang biasa di sebut tawon ndas itu terlihat menjaga sarangnya. Tawon ini, terkenal agresif jika ada yang mengusik. Stepanus Gung, jupel gua di Batu Raya yang paling pengalaman juga enggan untuk naik. Kata dia berbahaya. Lebih mematikan jika sedang memanjat tebing.

“Sekali disengat tubuh kita bisa panas dingin. Satu ekor bisa tiga sampai empat kali menyengat,” ujar Anus --sapaan akrab Stepanus.

Sebuah ide terbersit untuk menyingkirkan. Menggunakan bahan kimia. Namun tak jadi dilakukan. Gua Tamrin masih menyisakan populasi burung walet. Tim dari BPCB enggan ada efek samping penggunaan bahan kimia terhadap binatang lainnya. Hingga hari ketiga, keberadaan tawon di jalur memanjat membuat tim urung melakukan konservasi. Yang bisa dilakukan hanya melakukan penanaman pohon di sejumlah lokasi.

“Sisanya kajian dilakukan di Goa Tengkorak. Di sana juga ada gambar. Namun tak banyak,” ujar Edy.

BLOYOT DAN CHAIPAR

Hari ke sembilan (13/8), dengan perasaan kecewa tak bisa ke Gua Tamrin, tim melanjutkan konservasi ke Kabupaten Berau. Menuju Kampung Merabu. Selain terkenal dengan wisatanya, Merabu dikenal sebagai kampung masyarakat yang paling dekat dengan gua dengan garca.

Eksistensi Merabu di Bumi Batiwakkal -- sebutan Berau -- pun mendunia berkat temuan lukisan ini. Hingga melalui SK Bupati Berau Nomor 719/2016 di 31 Oktober 2016 lalu, Merabu ditetapkan sebagai Kampung Peninggalan Prasejarah.

Yang paling terkenal di antara gua bergambar adalah Gua Harto atau yang lebih dikenal dengan nama Gua Bloyot. Berjalan kaki selama dua jam dengan ritme santai. Menyusuri dataran rendah hutan tropis yang sejuk. Tersedia jalur yang tak akan menyesatkan pengunjung sepanjang 4 kilometer. Lima hari (13-18 Agustus) dihabiskan tim dari BPCB Kaltim untuk melakukan upaya konservasi di gua ini dan Gua Chaipar.

“Ini karena Bloyot salah satu gua yang masuk dalam kajian konservasi di tahun sebelumnya. Juga menjadi konsentrasi kami karena banyaknya kunjungan selain di Tewet,” ujar Edi Gunawan.

Tanda-tanda kerusakan telah tersaji sebelum memasuki mulut gua. Di sepanjang dinding karst di bawah Bloyot banyak coretan. Aksi vandalisme oknum pengunjung menggunakan arang. Sulit dibersihkan karena telah lama ditorehkan. Namun prioritas utama tim lebih kepada kondisi garca.

Untuk memasuki gua ada dua akses. Pintu pertama harus menyusuri gua di sisi kiri. Menanjak sekira lima menit. Memasuki kegelapan lalu melewati anak tangga buatan. Meringkuk untuk mencapai tangga selanjutnya. Jurang menjadi pemicu adrenalin. Baik di dalam maupun di luar gua.

Sementara pintu masuk lainnya ada di sisi kanan. Lebih dekat namun harus memanjat melalui akar pohon. Dengan sudut kemiringan mencapai 90 derajat. Begitu masuk, pengagum sejarah seolah tersedot ke dalam bayangan kehidupan masa lalu.

“Gua ini paling dikenal karena memiliki lukisan dengan keanekaragaman hewan. Ada kura-kura, seperti buaya, mamalia bertanduk, dan binatang lainnya selain cap tangan negatif. Ada pula yang menggambarkan tarian,” beber Edy.

Pada awal penemuannya di 2006 silam, peneliti asal Prancis Luc Henri Fage menyebut gua ini tak seperti gua lain yang pernah ditemukan. Panjang 50 meter dengan lebar 10 meter, Bloyot lebih dari sekadar gua pelengkap. Luc dalam buku Borneo Menyingkap Gua Prasejarah membayangkan telah berlangsung berbagai peristiwa yang melibatkan kekuatan mistis.

Laki-laki, perempuan dan anak-anak datang ke gua ini beribu tahun lampau. Luc menduga gua ini dahulu sebagai ruang supranatural untuk berkomununikasi dengan ruh. Diskusi Luc dengan rekannya Jean Michel Chazine menyimpulkan, ada ritual syamanisme di Bloyot. Ini dibuktikan dengan adanya garca dengan bentuk antromorph. Selain itu ada gambar yang bukan manusia atau binatang pada umumnya. Diduga gambar tersebut adalah binatang mitologis.

“Sayangnya dalam pengamatan awal kami, diduga telah terjadi penurunan jumlah. Dan dipastikan terdapat kerusakan sejumlah gambar,” kata Edy yang sejak 2013-2015 melakukan pendataan di Bloyot.

Kerusakan ini diduga didominasi dari faktor kunjungan. Tak adanya larangan dan imbauan membuat pelancong dengan bebas menyentuh gambar yang bisa dicapai. Selain itu, faktor dari aktivitas hilir mudik pengunjung dalam gua membuat garca memudar. Belum lagi peningkatan suhu ketika kunjungan sedang ramai-ramainya.

“Lingkungan sekitar gua masih baik dengan terjaganya hutan. Karena itu, dugaan karena faktor kunjungan ini yang mempengaruhi gambar,” ujar Edy.

Tak banyak diketahui, namun Bloyot memiliki dua tingkatan. Melalui jalur masuk sebelah kiri, Bloyot Atas-biasa disebut harus menanjak lebih dari 20 meter. Memerlukan keberanian ekstra untuk memanjat tebing dengan kemiringan 90 derajat. Meski begitu tangan jahil tetap ditemukan di dalam gua. Tulisan dengan cat merah menempel besar di pilar gua. Bersama tulisan kecil dari arang lainnya.

“Gua ini dikenal karena memiliki gambar tangan anak kecil. Bayangkan bagaimana seorang anak memanjat hingga ke gua ini,” sebutnya. Puas berfoto dengan latar hutan dan pegunungan, tim lantas turun.

Sama seperti di Tewet, tim memasang keset antilelah di Bloyot. Mengurangi dampak debu. Kemudian memasang barikade. Menghalangi pengunjung untuk menyentuh langsung garca. Papan himbauan juga dipasang di tiga lokasi di Bloyot. Hal yang sama dilakukan di Chaipar.

Berbeda dengan Bloyot, untuk menuju Chaipar lebih memakan waktu dan tenaga. Berjalan lagi menembus hutan, kondisi jalur tak terpelihara. Untuk melaluinya, seorang juru pelihara di Merabu harus kembali merintisnya. Agar mampu membagi tugas dalam waktu terbatas, tim menginap di Kepitan. Lokasi yang berada di antara Bloyot dan Chaipar. Lokasi ini, juga ditemukan banyak coretan dari arang.

Menuju Chaipar lebih menantang. Memanjat karst yang tajam dengan jurang lebih dari 15 meter jadi santapan. Namun pemandangan di gua ini lebih menakjubkan. Bentangan karst membuat tubuh melupakan rasa lelah. Di gua ini garca yang paling mencolok adalah dua gambar mirip buah nangka dengan ukuran dua kali lipat kepala orang dewasa.

“Berbeda dengan di Bloyot, di Gua Chaipar kondisi gambarnya lebih terjaga. Karena memang kunjungannya lebih sedikit,” sebut Edy. (timkp)

PELIPUT:

- M RIDHUAN

PENYUNTING:

- ISMET RIFANI
- FAROQ ZAMZAMI

EDITOR BAHASA

- ALMASRIFAH
- DWI PUSPITARINI
- PUTRI MUHARROMIAH


BACA JUGA

Senin, 10 Desember 2018 08:41

Ada Mafia Tanah di IMTN

Sindikat mafia tanah menyasar Balikpapan bagian utara. Mufakat jahat melibatkan…

Senin, 10 Desember 2018 08:34

Bisa Dibatalkan di Pengadilan

TAKTIK berbekal IMTN, Sudarman lolos mengantongi sertifikat dari BPN Balikpapan.…

Senin, 10 Desember 2018 08:19

“Pemainnya Itu-Itu Saja”

SEGEL yang merupakan dokumen dasar dalam penerbitan IMTN menjadi muara…

Senin, 10 Desember 2018 08:15

Tanah Kosong Paling Banyak Diincar

BALIKPAPAN menjadi kota dengan kasus sengketa tanah tertinggi di Kaltim. Kemajuan Kota…

Jumat, 07 Desember 2018 08:25

Sektor Swasta Lebih Akomodatif

KELUHAN penyandang difabel di Kaltim ternyata sudah lama menjadi sorotan…

Senin, 26 November 2018 08:26

Ngos-ngosan Oemar Bakri Mengejar Sejahtera

Dua puluh lima November, kemarin, diperingati sebagai Hari Guru. Jadi…

Senin, 26 November 2018 08:20

Gaji Ratusan Ribu bagi Penentu Wajah Pendidikan

NASIB guru honorer di Kaltim memerlukan perhatian pemerintah. Terutama, masalah…

Senin, 26 November 2018 08:19

Wajah Pendidikan Indonesia

INDONESIA harus kerja keras demi meningkatkan taraf pendidikan. Hingga saat…

Jumat, 16 November 2018 08:25

Ada Data di Balik Duka

Dari ribuan jenis pekerjaan di muka bumi, apa yang dilakukan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .