MANAGED BY:
MINGGU
16 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 24 Agustus 2018 08:48
"Belajar" dari Setan

PROKAL.CO, Oleh: Bambang Iswanto (*)

IDULADHA sejatinya memperingati sejarah penting. Sebuah peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dalam rangka mempertahankan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Manusia, khususnya umat muslim,  disuruh mencari hikmah dan pelajaran dari peristiwa monumental  yang menjadi tonggak ibadah haji dan kurban.

Mencermati sejarah haji dan kurban, tidak bisa melepaskan beberapa tokoh penting sebagai pelaku sejarah ibadah tersebut. Keluarga Nabi Ibrahim Alaihis Salam (AS) yang terdiri dari beliau sendiri; Nabi Ismail, putranya; dan istri Nabi Ibrahim; Siti Hajar. Serta ada tokoh kunci lain. Yakni, setan berwujud manusia.

Peristiwa pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim sangat istimewa, hingga mendapatkan tempat dan diabadikan dalam Alquran. Mengisahkan tentang lulusnya keluarga terhebat sepanjang sejarah manusia dalam menghadapi ujian yang diberikan Allah. Ujian yang tidak tanggung-tanggung. Yakni, mengorbankan anak semata wayang yang sangat disayang dan diperoleh dari penantian yang sangat panjang. Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail.

Tidak ada penolakan dan keraguan dalam menjalankan perintah yang menyentuh rasa kemanusiaan. Bagaimana tidak, dalam situasi yang sangat bahagia karena memiliki anak yang berparas gagah dan berkarakter mulia, juga saleh. Digambarkan dalam Alquran ghulam halim (anak yang sangat sabar). Tiba-tiba ada perintah untuk menyembelihnya. Sejarah membuktikan, bahwa Nabi Ismail memang benar-benar sosok anak yang sangat sabar.

Ketika Nabi Ibrahim mengomunikasikan tentang mimpi yang menjadi media perintah Allah untuk menyembelihnya, Ismail dengan mantap mengatakan, “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang Allah perintahkan. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tidak ada kebimbangan untuk berusaha berkelit dari perintah yang diyakini dari Allah. Meskipun datang melalui mimpi. Mimpi rasul adalah mimpi yang benar datangnya dari Allah yang berbeda dari mimpi manusia biasa.

Luar biasa, satu keluarga utuh semuanya tunduk dan patuh tanpa syarat atas perintah yang mahaberat. Penerima perintah langsung adalah Nabi Ibrahim. Istri dan anaknya sebagai penerima langsung dampak perintah Allah juga menerima dengan ikhlas. Semua tergambar dari komunikasi yang mereka lakukan sebelum menjalankan perintah penyembelihan.

Ketaatan yang dijalankan oleh keluarga hebat tersebut bukanlah tanpa halangan. Ada pihak yang tidak ingin perintah tersebut dijalankan dengan baik, yakni setan. Setan tidak rela Ibrahim dan keluarganya menjalani prosesi yang diperintahkan Allah. Inilah watak setan sesungguhnya, yang menginginkan manusia menentang segala bentuk ketaatan kepada Tuhan.

PELAJARAN DARI SETAN

Tercatat, minimal tiga kali upaya yang dilakukan setan untuk menghalangi niat ikhlas keluarga Ibrahim. Ketiga upaya ini berakhir dengan kegagalan. Pada kesempatan pertama, setan yang berwujud manusia, berusaha meyakinkan Nabi Ibrahim bahwa penyembelihan yang akan dilaksanakan bukanlah perintah dari Tuhan, melainkan hanya mimpi biasa sebagai bunga tidur. Ibrahim mengusir setan ini dengan melemparnya menggunakan batu. Dalam prosesi ibadah haji pelemparan inilah yang dicontoh sebagai syariat dan dikenal dengan Jumratul Ula.

Terusirnya setan dalam kesempatan pertama tidak menyebabkannya patah arang dan berhenti memprovokasi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Kira-kira 400 meter berjalan kaki setelah diusir, setan kembali melancarkan rayuannya untuk menghentikan dengan memainkan perasaan Nabi Ibrahim. Ibrahim dibujuk untuk menghentikan niatnya karena sangat disayangkan mengorbankan anak semata wayang yang sedang tumbuh dengan paras gagah dan berkelakuan terpuji.

Usaha memainkan relasi emosional Nabi Ibrahim dan Ismail pun berakhir gagal. Lagi-lagi Ibrahim melempar setan dengan batu untuk mengusirnya. Dalam ritual ibadah haji, pelemparan kedua kali disebut dengan Jumratul Wustha. Meskipun terusir dua kali, setan pantang menyerah dan melakukan percobaan ketiga. Tetap saja Nabi Ibrahim dan putranya tidak terpengaruh provokasi dan bujuk rayu setan.

Sampai akhirnya, Nabi Ibrahim benar-benar melaksanakan niatnya untuk menyembelih Ismail sesuai perintah. Saat alat penyembelih sudah siap memotong leher, Allah memerintahkan Malaikat Jibril mengganti Ismail dengan seekor domba besar dan sehat sebagai sembelihan. Kemudian memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membagikan daging tersebut dan menjadikannya sebagai Iduladha. Inilah yang kemudian dilaksanakan sebagai pelaksanaan ibadah kurban dalam syariat Islam. Nabi Ibrahim dan keluarganya lulus dalam ujian mahaberat.

Ada beberapa hal yang bisa diambil pelajaran dari provokasi yang dilakukan oleh setan dan relevan dijadikan pelajaran manusia. Pertama, dalam setiap melaksanakan perintah Allah, akan senantiasa terdapat godaan dari sang penggoda sejati; setan. Hal inilah yang mestinya disadari setiap orang bahwa segala niat baik tidak bisa sepenuhnya berjalan mulus. Ada hambatan, rintangan, dan godaan untuk mewujudkannya. Siapa yang siap menghadapi dan melawan semuanya, maka dia akan berhasil melaksanakan niatnya. Nabi Ibrahim memberikan contoh, bahwa semuanya akan terlewati jika dilandasi niat ikhlas dan ketakwaan kepada Allah. Godaan sebesar dan semasif apapun sebagaimana yang dilancarkan setan kepada Nabi Ibrahim akan terlewati dengan kedua landasan tersebut.

Kedua, dalam kehidupan ini akan selalu ada upaya provokasi dan adu domba dari pihak-pihak yang tidak menginginkan adanya harmonisasi dalam interaksi antara manusia yang satu dengan yang lain. Masih banyak orang yang jadi pengikut setan dalam kehidupan berbangsa dan negara dalam konteks tidak menginginkan adanya perdamaian. Setan menggoda Ibrahim dan Ismail agar keduanya saling tidak mendukung terlaksananya perintah Allah. Upaya setan ini senasab dengan sifat dan tindakan orang yang mengadu domba antarkomponen anak bangsa untuk saling membenci dan bermusuhan.

Bukannya membangun toleransi dan saling menghargai, justru bangunan yang sudah ada, berupaya untuk dihancurkan dalam rangka menggapai kepentingan ego pribadi dan kelompok.

Sifat adu domba ini harus "dilempar" dengan "batu-batu" persatuan yang dibungkus semangat toleransi yang lebih tinggi dengan menyembelih sifat-sifat ananiyah (keakuan). Indonesia memiliki "batu pelontar" tersebut yang bisa mematikan provokasi adu domba, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

SETAN DAN SUNATULLAH

Tidak semua yang melekat pada setan, selalu dikaitkan dengan hal-hal negatif. Berkaca dari cerita Nabi Ibrahim dan keluarganya, ada dua karakter penting yang justru sering dilupakan oleh manusia, yaitu konsisten dan pantang menyerah dalam mewujudkan misinya. Setan setia dan berkomitmen menjalankan misi menggoda manusia untuk terjerumus dalam perbuatan yang menentang perintah dan melaksanakan larangan Allah. Tidak sedikit manusia yang berhasil ditaklukkannya. Banyak manusia yang tergoda merusak alam hanya untuk kepentingan segelintir orang dan kepentingan sesaat. Tidak sedikit orang yang tergelincir tega memakan uang rakyat dan perbuatan-perbuatan maksiat lain. Semua berkat konsistensi dan upaya pantang menyerah dari setan.

Apa yang telah dilakukan setan sebenarnya adalah sunatullah, hukum alam yang diciptakan Allah. Siapa pun, baik beragama ataupun tidak beragama, ketika menjalankan sunatullah, ia akan mendapatkan hasil sesuai amalannya. Konsisten dan pantang menyerah akan mendatangkan keberhasilan. Sebaliknya, tidak konsisten dan tidak memiliki semangat juang akan mendapati kegagalan.

Untuk dapat sukses dalam hidup, jangan berguru kepada setan. Kesuksesan setan didapat karena berhasil mempelajari sunatullah.

Keluarga Ibrahim merupakan contoh keluarga tersukses di dunia yang berhasil menciptakan generasi-generasi mulia. Beliau disebut bapaknya para nabi (abul anbiya) karena lahir dari keturunan beliau nabi-nabi mulia. Rasul Muhammad termasuk lahir dari keturunan beliau. Kesuksesan ini pun tidak lepas dari sunatullah yang dijalankan Nabi Ibrahim dalam mendidik anak secara tekun, senantiasa berdoa jauh hari sebelum mendapatkan keturunan agar diberikan anak yang saleh.

Semoga kita semua mampu menjadi Ibrahim dan Siti Hajar bagi putra-putri kita. Aamiin. (far/k15)

 (*) Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda


BACA JUGA

Sabtu, 15 Desember 2018 18:05

Bisakah Tol Balikpapan-Samarinda Dipakai Fungsional Saat Natal?

SAMARINDA- Tol Balikpapan-Samarinda saat ini tengah dalam proses pengerjaan. Tol…

Sabtu, 15 Desember 2018 17:20

DPK Kaltim dan Kaltara di Bank Terkumpul Rp 98,82 Triliun

SAMARINDA - Hasil penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di…

Sabtu, 15 Desember 2018 10:41

ALHAMDULILLAH..!! Proyek Jalan Menuju Jembatan Pulau Balang Boleh Dilanjutkan

SETELAH mencapai kesepakatan dengan pemilik lahan, Panitia Pengadaan Lahan Pulau…

Sabtu, 15 Desember 2018 06:09

Kinerja Industri Non-migas Membaik

SAMARINDA  -   Kinerja industri pengolahan non-migas mulai menunjukkan perbaikan.…

Jumat, 14 Desember 2018 22:17

Pendirian Pabrik Semen di Kutai Timur Berlanjut

SAMARINDA - Tidak lama lagi, pabrik semen yang pertama di…

Jumat, 14 Desember 2018 22:14

Gubernur Tanya Isu Sawit ke Dubes Belgia, Begini Jawabannya...

SAMARINDA - Gubernur Kaltim Isran Noor melakukan pertemuan dengan Dubes…

Jumat, 14 Desember 2018 09:57

Bos Bank Indonesia Bilang, Harga Tiket Pesawat 2,1 Juta Masih Wajar

SAMARINDA - Gubernur Kaltim Isran Noor rapat bersama dengan Tim…

Jumat, 14 Desember 2018 08:25

Pahala yang Sia-Sia

CATATAN: BAMBANG ISWANTO (Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda) URUSAN…

Jumat, 14 Desember 2018 07:41

Banyak Pemdes Ngutang di Toko Bangunan, Sisa ADD Dipertanyakan

PENAJAM – Puluhan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) mendatangi kantor…

Jumat, 14 Desember 2018 07:37

NGANGGUR DAH..!! Kontrak Ribuan Honorer Bakal Dihapus

PENAJAM – Keberadaan tenaga harian lepas (THL) atau tenaga honorer…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .