MANAGED BY:
KAMIS
20 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 17 Agustus 2018 08:30
Menanti Wira Bumi Mulawarman
Moeis Hassan Layak Bergelar Pahlawan Nasional

PROKAL.CO, Bersama enam provinsi lainnya, Kalimantan Timur belum punya pahlawan nasional. Padahal Bumi Mulawarman punya banyak nama yang disebut-sebut laik mendapat gelar wira.

DENGAN suara lantang Moeis Hassan muda berorasi di depan para bangsawan Kesultanan Kutai di Lapangan Kinibalu. Sejumlah kalimat meluncur bebas dari mulutnya. Dia berusaha meyakinkan para kalangan aristokrat untuk turut bergabung bersama NKRI dan menghapus sistem pemerintahan swapraja (kesultanan). Rupanya ajakan Moeis Hassan bisa menggerakan hati para bangsawan, dan sejurus kemudian niatan untuk bergabung terlaksana. Kaltim bergabung dengan Republik Indonesia pada 10 April 1950.

Fakta sejarah itu diungkap Muhammad Sarip, koordinator Tim Perumus Usulan Calon Pahlawan Nasional Abdul Moeis Hassan dalam buku bertajuk Moeis Hassan dalam Sejarah Perjuangan dan Revolusi di Kalimantan Timur.

“Dia ini pemimpin yang jauh dari kata haus kekuasaan. Biasanya, dalam pembentukan organisasi atau tim gerakan, pencetus berambisi untuk menjadi pimpinannya. Moeis Hassan tidak seperti itu,” ujar Sarip.

Selama ini kata Sarip, fokus usulan pahlawan terjebak pada kalangan aristokrat. Seperti SultanAdji Muhammad Idris danPanglima Senopati Ario Awang Long.

Padahal dalam ketentuan Permensos No 15/2012 tentang Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional serta UU No 20/2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, hal tersebut tidak termasuk dalam syarat khusus mengajukan nama seseorang menjadi pahlawan.

“Sebenarnya memang baru terpikir untuk mengajukan nama Moeis Hassan. Padahal dokumen-dokumen serta petunjuk sejarah sudah banyak dimiliki. Apalagi Kaltim juga belum memiliki nama pahlawan,” ujarnya.

Moeis Hasan merupakan putra kelima Mohammad Hassan. Ia lahir pada 2 Juni 1924.  Samarinda saat itu adalah kota Vierkante-paal yang menjadi pusat pemerintahan Oost Borneo (Borneo Timur) di era Hindia Belanda.  Ayahnya merupakan tokoh organisasi pergerakan Syarikat Islam cabang Samarinda.

Ayahnya yang sering bersinggungan dengan sejumlah tokoh gerakan nasional seperti HOS Cokroaminoto, membuat  motivasi Moeis Hassan semakin besar untuk memiliki rasa kebangsaan.

“Dia sangat terinspirasi dengan HOS Cokroaminoto. Sedangkan guru politiknya adalah AM Sangaji yang tercatat pernah bermukim di Tenggarong,” terang Sarip.

Saat ini, nama AM Sangaji juga sedang diusulkan untuk menjadi nama pahlawan nasional. AM Sangaji tercatat sebagai peserta Kongres Pemuda II  di Jakarta pada 27-28 Oktober 1928.

Sedangkan Aminah Sjoekoer yang dikenal sebagai tokoh pendidikan Samarinda, adalah bibi dari Moeis Hassan. Ia pun pernah bersekolah di Meisje School yang didirikan Aminah Sjoekoer bersama Mohammad Jacob yang merupakan adik Mohammad Hassan.

Kedatangan tokoh Partai Indonesia Raya (Parinda) pada tahun 1937 di Kaltim, sempat membuat Moeis Hassan terhipnotis untuk melihat langsung kedatangannya. Di usianya yang masih 13 tahun, Moeis begitu terinspirasi dengan para tokoh bangsa. Dia kala itu menuju Pelabuhan Samarinda dan menyaksikan kedatangan MH Thamrin. Akibatnya, kepala sekolahnya bernama R Abdul Mohni menghukum Moeis Hassan dengan menyuruhnya berdiri di depan kelas.

“Walaupun akhirnya kepala sekolah tersebut menyesal setelah mendengar alasan keterlambatan Moeis,” tambah Sarip.

Moeis tercatat sebagai orang yang menjaga pola hidup sehat. Selain tidak merokok, dia juga rutin berolahraga.  Karena itulah usianya relatif panjang hingga 81 tahun. Dia pun akhirnya hidup di tiga zaman pemerintahan. Yaitu Kolonial Belanda, Jepang, dan Republik Indonesia.

Diterangkan Sarip, pada Mei 1940, Moeis mendirikan organisasi Roepindo dengan maksud menghimpun dan membangkitkan semangat kaum muda.

Ia mendirikannya bersama para pemuda seperti Badroen Tasin, Chairul Arief dan Syahranie Yusuf. Organisasi ini juga sempat masuk dalam pengawasan polisi intelijen Belanda yakni PID (Politieke Inlichtingen Dienst)

Saat kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, usia Moeis baru 21 tahun. Namun, semangat Moeis berusaha mendorong Kaltim kala itu untuk lepas dari pemerintah tradisional di bawah Kesultanan Kutai.

Ia bersama sejumlah tokoh masyarakat lainnya, seperti Joewono, Siswojo, Oemar Dachlan dan Anwar Barack lalu membentuk Panitia Persiapan Penyambutan Kemerdekaan Republik Indonesia (P3KRI).

Dr Soewadji Prawihardjo, kepala Rumah Sakit Umum (menjadi Rumah Sakit Islam) ditunjuk sebagai ketua.

“Namun akhirnya aktivitas tersebut terendus Belanda. Dokter Soewadji dibuang ke Morotai (Maluku),” imbuh Sarip.

Tak berakhir di situ, Moeis muda bergabung dalam partai lokal yaitu Ikatan Nasional Indonesia (INI) pada tahun 1946. Moeis pun mendirikan INI Samarinda. Melalui organisasi tersebut, ia lalu mendorong pembentukan koalisi yang menyatakan sikap mendukung Republik Indonesia. Lalu terbentuklah Front Nasional pada Maret 1947 yang merupakan gabungan dari 22 organisasi buruh, pemuda dan lainnya. INI dan Front Nasional memusatkan aktivitasnya di Gedung Nasional yang kini berada di Jalan Panglima Batur Samarinda.

Moeis Hassan pernah mendapat tawaran dari Pemerintah Federasi Kaltim untuk menjadi  anggota delegasi dalam Bandung Federale Conferentie (BFC). Diketahui, merupakan pertemuan satuan kenegaraan federal yang digagas oleh Van Mook, yang kelak akan menjadi negara-negara boneka.

 “Itulah, mengapa Moeis Hassan rasanya layak disebut sebagai pendiri Kaltim. Meski sebagai pencetus, namun ia tidak ambisius dan merelakan jabatan gubernur Kaltim pertama kepada APT Pranoto,” kata Sarip lagi.

Ia juga tercatat pernah menjadi wakil rakyat di ibukota negara pada tahun 1960. Pada 30 Juni 1962, Presiden Soekarno juga menetapkan Moeis sebagai Gubernur Kaltim menggantikan APT Pranoto.

 “Secara umum, kami optimistis pengusulan nama pahlawan nasional ini akan diterima. Nama Moeis Hassan Selama ini seolah hilang. Padahal dia merupakan sosok pendiri Kaltim,” ujar Sarip lagi

Seturut itu, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kaltim, Mohammad Asli Amin mengatakan, sudah saatnya Bumi Mulawarman punya wira yang representatif. Abdoel Moeis Hassan boleh menjadi kandidat yang kuat sebab kiprahnya di Kaltim punya dampak luas. “Bahkan dia termasuk kaliber nasional,” terangnya.
Dulu Kaltim, kata dia, sempat mengajukan beberapa nama seperti Panglima Senopati Awang Long (Kutai Kartanegara), Sultan Aji Muhammad Idris (Kutai Kartanegara), Sultan Alimuddin (Raja Alam/Berau). Namun sepengetahuan dia, belum ada yang mendapat persetujuan dari presiden. “Penyebabnya boleh jadi tak memenuhi syarat sesuai UU No. 20/2009 dan Permensos RI No. 15/2012. Atau boleh jadi, tak ada literatur pendukung yang kuat,” tuturnya.

Menurut dia, alasan utama figur daerah tak mendapat lampu hijau gelar pahlawan ialah boleh jadi pernah bekerja sama dengan Belanda. Berbeda jika tertangkap atau dipenjara. “Berkoperasi atau kompromi dengan penjajah tentu dilarang. Negara tentu mencari sosok yang berani membela negara dan melawan penjajah kala itu,” ujarnya.

Lalu apakah sosok Moeis Hassan ini laik mendapat predikat wira nasional?

Seingat Amin, kala itu Moeis Hassan sempat menolak masuk menjadi bagian dari Federasi Kaltim pada 1947. Ya, kala itu Federasi Kaltim direncanakan menjadi “boneka” pemerintahan Belanda dengan Van Mook sebagai penggawanya saat itu. Namun dengan berani Moeis Hassan menolak, padahal tawaran yang diberikan cukup menggiurkan yakni diberikan jabatan dan materi melimpah. “Alasannya penolakan tentu tak ingin dicap sebagai pengkhianat bangsa,” tegasnya.

Nah, pengalaman pribadi Amin waktu itu sempat menjadi PNS di bawah pimpinan Moeis Hassan sebagai gubernur Kaltim pada 1964 silam.

Ya, lulus pada 1963 dari Institut Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (IKIP) Malang, Asli langsung kembali ke Kota Tepian. Magnet gelar bachelor (setara D4) alias sarjana muda saat begitu luar biasa, sehingga dirinya langsung diangkat menjadi pegawai di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (DPK).

“Saya hanya setahun saja dipimpin beliau, sesudahnya saya meminta izin kuliah kembali mengejar strata pertama di IKIP Malang. Tiga tahun kemudian, Pak Moeis sudah tak lagi menjabat sebagai gubernur Kaltim,” sebutnya.

Meskipun hanya 360 hari, Asli begitu yakin jika Moeis Hassan adalah sosok yang karismatik dan tahu benar mengatur pegawai yang dipimpinnya.

“Dari situ bisa diketahui jika dia pandai dalam berorganisasi,” terangnya.

Pensiunan PNS Pemprov Kaltim ini berharap, Moeis Hassan boleh menjadi representatif Kaltim sebagai pahlawan nasional. Sebab itu, jika ada masyarakat yang menyimpan atau memiliki literatur yang berkaitan dengan Moeis Hassan boleh dipinjamkan ke MSI Kaltim atau Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Bahari (Lasaloka-KSB) sebagai tambahan referensi. “Sama-sama doakan saja,” pintanya.

Sementara itu,  Pengamat Sejarah Kaltim yang juga Kabid Kesejarahan, Dinas Kebudayaan Samarinda, Slamet Diyono menuturkan tak adanya wira nasional dari Kaltim memang dilematis. Sederhananya seperti ini, Kaltim punya gedung nasional dan taman makam pahlawan. “Itu sungguh problematis. Bayangkan saja,” sebutnya.

Lalu apa yang menyebabkan hal itu terjadi?

Diyono punya pandangan, minimnya budaya literasi menjadi penyebab tak adanya catatan mengenai figur yang hendak dijadikan sosok pahlawan daerah kaliber nasional. “Jika terus demikian, ya, jauh panggang dari api,” katanya.

Dia menyatakan, budaya menulis belakangan memang sedikit berkurang dengan adanya infiltrasi budaya internet.

Semuanya serba instan termasuk membuat karya ilmiah. Diyono pun menegur siswa/mahasiswa yang kerap melakukan ini, hanya menggandakan lantas menyalin tanpa melakukan riset bahkan menulis serta mencari referensi tambahan.

“Parahnya lagi ada yang hanya mengunduh dan menyerahkannya sebagai tugas. Bukan seperti itu,” tegasnya.

Namun terlepas dari itu, lanjutnya, sudah saatnya masyarakat Kaltim membiasakan budaya menulis. “Siapa yang tahu tulisan tersebut bisa menjadi saksi sejarah. Menulislah maka engkau akan abadi,” ucapnya.

Dia pun meyakini Moeis Hassan bisa mendapat gelar pahlawan nasional jika semua stake holder turut mendukung. Dan tak segan-segan memberikan sumber-sumber pendukung yang diperlukan. “Miris saja, padahal sejarah Indonesia dimulai dari Kaltim tepatnya di Kerajaan Kutai dengan prasasti Yupa-nya,” tambahnya.

Dari informasi yang dihimpun Diyono, sosok Moeis Hassan pada masa mudanya pernah melakukan aksi berskala nasional. Kala itu, dia sempat berorasi di Lapangan Kinibalu dan pidatonya tersebut menggugah kalangan bangsawan Kutai untuk bergabung ke NKRI sebab saat itu Kutai masih berstatus daerah istimewa. “Jika melihat tindakan tersebut boleh dikatakan sama dengan aksi yang dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Yang membedakan hanya status, saat itu dia belum menjadi apa-apa, hanya tokoh lokal,” terangnya.

Secara pribadi, Diyono menilai tindakannya sungguh berani sebab dia berhasil meyakinkan Kerajaan Kutai yang punya kekuasan luas menjadi bagian dari Indonesia. “Itu sebab saya yakin beliau bisa mendapat gelar pahlawan nasional,” jelasnya. (tim kp)

TIM LIPUTAN

  • MUHAMMAD RIFQI HIDAYATULLAH
  • RADEN RORO MIRA BUDIASIH
  • YUDA ALMERIO PRATAMA LEBANG

PENYUNTING

  • ISMET RIFANI
  • DUITO SUSANTO

BACA JUGA

Senin, 17 September 2018 09:18

Buku (Bukan Lagi) Jendela Ilmu

Dahulu buku jendela dunia. Namun, perlahan-lahan sang primadona mulai hilang pamor. Era digital disebut-sebut…

Senin, 17 September 2018 09:14

Ideal Baca 6 Jam Sehari

DUA pekan lalu menjadi hari penting bagi pecinta buku. Sebab 8 September ditetapkan sebagai hari literasi…

Senin, 17 September 2018 09:06

Koleksi Perpustakaan Daerah Belum Lengkap

BERBAGAI cara dilakukan untuk berkontribusi menambah literasi dari masyarakat lokal. Sejarawan lokal…

Senin, 17 September 2018 09:04

Menanti Inovasi Tenaga Pendidik

MEMBANGUN budaya literasi memang tak mudah. Tapi harus dilakukan serius, setahap demi setahap hingga…

Senin, 17 September 2018 09:01

Cerita Unta Bawa Kitab untuk Motivasi Membaca

TIDAK ada usaha yang mengkhianati hasil. Itulah yang menggambarkan sosok Rudini. Pria kelahiran Lampung,…

Senin, 17 September 2018 08:59

Menyentuh Angkasa dengan Buku

Oleh: Raden Roro Mira(Wartawan Kaltim Post (Juara 3 Duta Baca Kaltim 2018–2020) BENDA apa yang…

Jumat, 14 September 2018 08:48

Bergantung Anggaran yang Tak Tentu

PARIWISATA Samarinda kalah banyak dan kalah tenar ketimbang pertumbuhan perhotelan atau hiburan lainnya.…

Jumat, 14 September 2018 08:46

Pandangan Geologi dalam Potensi Wisata Alam Samarinda

OLEH: FAJAR ALAM(Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Timur) BUMI, sebagaimana…

Senin, 10 September 2018 09:02

Menggoyang Pemerintah dari Kantin Rektorat

Catatan: Faroq Zamzami (*) DI kampus, kantin tak sebatas menjadi destinasi isi perut. Bercanda. Bercengkerama…

Senin, 03 September 2018 09:04

Ditanya Penataan Sungai Karang Mumus, Ini Jawaban Sekkot Samarinda

BERBAGAI tudingan ketidaksiapan Pemkot Samarinda terhadap penanggulangan banjir mendapat tanggapan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .