MANAGED BY:
JUMAT
26 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 17 Agustus 2018 08:00
Bebas dari Rasa Benci

PROKAL.CO, OLEH: BAMBANG ISWANTO (*)

HARI ini, 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati hari ulang tahun kemerdekaan. Tanggal tersebut dipilih karena momentum diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia kepada dunia oleh Soekarno dan Hatta. Seluruh komponen anak bangsa Indonesia harus bersyukur atas nikmat kemerdekaan dari tangan penjajah yang telah berlangsung lebih dari tiga setengah abad.

Minimal, ada tiga media cara bersyukur atas karunia kemerdekaan yang telah diraih selama 73 tahun ini. Pertama, bersyukur dengan hati. Caranya adalah dengan meyakini sepenuh hati bahwa kemerdekaan yang diraih murni atas kemurahan Tuhan Yang Mahakuasa. Jika tidak ada kehendak dari Allah, maka tidak ada takdir kemerdekaan akan teraih. Bangsa kita terbebas dari belenggu penindasan dan kezaliman semata-mata berkat rahmat dan kasih sayang dari-Nya.

Kedua, bersyukur dengan lisan. Bagi seorang muslim dan mukmin, cara termudah untuk bersyukur adalah membasahi lisannya dengan kalimat hamdalah, paling singkat alhamdulillah. Mau lebih panjang lagi, dengan alhamdu lillahi Rabbil ‘Aalamiin. Jika merasa kurang, bisa menyempurnakannya  dengan membaca Alquran surah Al-Fatihah. Pelafalan kalimat puji dan syukur sebagai bentuk ekspresi anggota tubuh yang termudah. Siapa pun bisa melakukannya kapan pun dan di mana pun. Namun, makna bersyukur dengan lisan tidak hanya menggerakkan lidah dan mengeluarkan bunyi hamdalah, tapi yang terpenting adalah pelafalannya berasal dari dorongan dan ungkapan hati yang dengan sadar mensyukuri nikmat kemerdekaan. Ketiga, cara bersyukur dengan perbuatan.

Dalam ajaran Islam, keimanan seseorang tidak akan teruji bila tidak diikuti amal perbuatan. Alquran dan hadis selalu mengikutsertakan suatu perbuatan sebagai konsekuensi dan pembuktian iman. Kata-kata "barang siapa yang beriman" pasti dibarengi dengan perbuatan amal saleh setelahnya. Seperti teks-teks Alquran dalam surah Al-Ashr yang menggandengkan kata-kata orang-orang yang beriman dengan orang-orang yang melakukan amal saleh.

Contoh lain adalah Alquran surah Al-Bayyinah yang menyebutkan redaksi kalimat orang-orang yang beriman diteruskan dengan orang-orang yang beramal saleh. Demikian pula dengan teks-teks hadis sahih, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah menghormati tamunya”. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik-baik atau diam saja”. "Barang siapa yang percaya terhadap Allah dan hari akhir, hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya” dan seterusnya. Kata iman selalu diikuti bagaimana cara membuktikannya dengan perbuatan konkret yang disebut amal saleh.

Terkait kemerdekaan, cara orang-orang beriman mensyukuri kemerdekaan tidak cukup hanya dengan hati dan lisan. Tetapi, juga perlu pembuktian dengan perbuatan amal saleh, bukan sebaliknya mengisinya dengan kemaksiatan dan perbuatan sia-sia. Di beberapa tempat di negeri ini, mengisi kemerdekaan dengan cara hura-hura bahkan diiringi dengan kemaksiatan. Agama tidak melarang untuk mengekspresikan rasa syukur dengan menunjukkan rasa gembira yang diwujudkan dalam bentuk perlombaan-perlombaan dan kegiatan lainnya. Agama mengamini semua perbuatan asal masih dalam koridor yang tidak bertentangan dengar nilai-nilai keagamaan dan perbuatan tersebut harus mendatangkan manfaat bagi semua orang. Sebaliknya, jika suatu perbuatan melampaui dan melanggar larangan dan perintah Tuhan, agama pasti melarangnya.

Pada peringatan hari kemerdekaan, tidak sedikit diselenggarakan perlombaan-perlombaan yang mengumbar aurat dan hura-hura tanpa memiliki maksud yang jelas dan cenderung berpotensi mengundang kemudaratan. Ini contoh-contoh besar dari hal-hal yang bertentangan dengan nilai agama. Jika hal-hal tersebut tetap dilaksanakan, sama artinya dengan menunjukkan tidak benar-benar ada iman dalam diri seorang muslim.

DIJAJAH PERASAAN  BENCI

Saat ini, Indonesia memang telah merdeka dari penjajahan dalam bentuk imperialisme. Tidak ada penjajahan dari negara lain dalam bentuk invasi militer atau pendudukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, kita masih terjajah dalam format lain. Sebagian besar warga Indonesia masih belum bisa terbebas dari "penjajahan" budaya asing dan "penjajahan ekonomi".

Terbukti dari masih banyaknya warga Indonesia yang bangga berkiblat dengan budaya Barat dan minder dengan budaya asli Indonesia yang memiliki nilai kearifan yang tinggi. Sebagai contoh, masih banyak anak bangsa yang bangga dengan pakaian ala Barat yang kadang bertentangan norma agama dan norma masyarakat Indonesia yang mempertontonkan aurat. Banyak juga orang Indonesia yang bangga mengonsumsi makanan asal negara Barat dan minder dengan makanan asli Indonesia yang justru lebih lezat dan sehat. Di negara asalnya, makanan tersebut dikategorikan junk food dan dikonsumsi oleh kalangan bawah, tapi anehnya, di Indonesia junk food tersebut menjadi makanan favorit dan dianggap sebagai makanan elite.

Belum lagi berbicara mengenai belum lepasnya Indonesia dari ketergantungan  utang dari negara-negara maju sebagai bentuk belum merdekanya Indonesia secara ekonomi dan finansial.

Salah satu persoalan serius yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini adalah saling benci  yang terus berkembang. Jika budaya ini tidak diberantas, akan berpotensi menjadi biang disintegrasi bangsa, dikarenakan tindakan ini sering bersekutu dengan media-media sosial di dunia maya menggerogoti persatuan dan kesatuan bangsa. Orang yang tidak sepaham dan tidak sama dalam pandangan sikap terhadap agama dan politik, dianggap sebagai musuh yang harus dibenci dan dimusuhi. Begitu gampang seseorang menyebut orang lain sebagai kafir dan sesat. Tipologi lain dari tebaran kebencian adalah membunuh karakter orang lain yang dibenci dengan fitnah. Orang yang dibenci dipersepsikan buruk dengan maksud orang lain menjadi tidak suka dan bahkan membenci. Dalam Islam, jangankan menyebarkan fitnah, menyebarkan sesuatu fakta yang tidak disukai oleh orang yang dijadikan objek pembicaraan pun tidak dibenarkan. Inilah yang disebut dengan gibah. Ukuran dosanya disamakan dengan memakan bangkai saudara sendiri.

Masyarakat sudah mulai terjangkit budaya gibah sampai pada tataran menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Aib-aib saudara dibeber kepada orang lain untuk kepentingan politik dan ambisi pribadi dan golongan. Dalam situasi seperti ini, sesungguhnya masyarakat belum benar-benar merdeka dari rasa membenci yang menjajah hatinya. Hatinya selalu tersandera untuk membenci dan menjatuhkan orang lain. Inilah salah satu penyakit hati yang harus dihilangkan dan dimerdekakan dari diri. Bukan tidak mungkin penyakit ini jika dibiarkan dapat menggerogoti bangsa Indonesia dan menjadikan kita kembali pecah dalam pertikaian antar-anak bangsa. Naudzu billahi min dzalik.

DIRGAHAYU INDONESIA

Perang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah sudah 73 tahun berlalu. Generasi setelahnya, hanya perlu mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif untuk kemajuan bangsa dan negara tanpa perlu mengangkat senjata lagi untuk bertempur di medan perang. Kita harus terus berjuang dan berperang dengan musuh yang berbeda, yaitu kebodohan dan kemiskinan yang perlu dientaskan. Agar Indonesia dapat menjadi negara adil, makmur, dan sentosa dengan tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai agama dan kebangsaan yang luhur. Dirgahayu Republik Indonesia ke-73, semoga semakin jaya! (far/k15)

(*) Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda

loading...

BACA JUGA

Kamis, 25 April 2019 14:07

YA TUHAN..!! Penyelenggara Pemilu Meninggal Tembus 177 Orang

 JAKARTA – ”Update sampai hari ini, 24 April pukul 15.00…”…

Kamis, 25 April 2019 14:01
Kubu Jokowi Rilis Real Count

Kalah di Riau, Menang di Bali-Jogja-Babel

 JAKARTA – Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf merilis data penghitungan…

Kamis, 25 April 2019 12:29
Jalan-Jalan ke Proyek Tol Balsam yang Akhir 2019 Diresmikan

Akses Masih Putus-Putus, 105 Titik Bersengketa

Lahan masih menjadi momok proyek Jalan Tol Balikpapan-Samarinda. Entah sampai…

Kamis, 25 April 2019 12:24

Sejumlah Target Parpol Meleset, Bawaslu Pastikan Daftar Caleg Lolos ke Senayan Hoax

BALIKPAPAN-Dinamika perolehan suara sementara Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 untuk DPR…

Kamis, 25 April 2019 12:22

Diresmikan Jokowi, Maloy Minim Listrik

SANGKULIRANG-Proyek Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK)…

Kamis, 25 April 2019 09:37

KPU Sebut Ada 105 Kesalahan Entry Data Form C1

Komisi Pemilihan Umum (KPU) memastikan proses perbaikan terkait rekapitulasi suara…

Kamis, 25 April 2019 09:30
Wagub Monitoring Jembatan Mahakam IV dan Jalan Tol Balsam

Tahun Ini Masalah Lahan Tuntas, Hadi : Cepat Rampung, Kita Fokus yang Lain

BALIKPAPAN – Setelah dua hari melakukan monitoring ke Kutai Timur…

Rabu, 24 April 2019 13:00

Siapa yang Akan Mewakili Kaltim ke Senayan?

BALIKPAPAN – Hasil perhitungan sementara Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 untuk…

Rabu, 24 April 2019 11:09

Jalan Panjang Pabrik Semen, Dari SK Penetapan KBAK hingga Tunggu Revisi RTRW

Meski saat ini rencana pembangunan pabrik semen tengah menjadi pro…

Rabu, 24 April 2019 11:03

Ini Loh Alasan Warga Sekerat Dukung Pabrik Semen

SANGATTA-Rencana pembangunan pabrik semen di Karst Sangkulirang-Mangkalihat mendapat dukungan dari…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*