MANAGED BY:
SELASA
20 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Jumat, 17 Agustus 2018 07:58
Keluar Kotak untuk Merdeka dari Banjir

PROKAL.CO, CATATAN: FAROQ ZAMZAMI (*)

CUACA
di Kaltim sukar diduga. Siang yang terik, tiba-tiba mendung melanda. Langsung byur... Malamnya juga sama. Angin tenang. Tiba-tiba air tumpah dari langit. Begitulah. Seperti awal pekan ini di Balikpapan Utara. Beberapa kali, dini hari sempat gerimis. Pagi jelang siang mendung. Ternyata panas terik sampai sore. Anomali cuaca. Bahkan Selasa lalu, mendung sempat menggantung saat pagi. Mulai menetes air dari langit. Ternyata hanya nyantap. Tak sampai lima menit. Setelah itu, matahari gagah sepanjang hari. Kemarin juga sama.

Musim yang jelas saat ini baru durian. Lagi ramai dijajakan di pinggir-pinggir jalan. Durian montong. Yang dagingnya tebal. Aromanya menyengat hidung. Rasanya maknyus. Juga mulai ramai musim cempedak yang aromanya tak kalah menyalak. Di antara deretan durian dan cempedak itu, menyembul manggis. Mulai musim juga agaknya. Tapi, buah ini minim aroma. Hanya warna ungunya yang menarik mata.

Di Balikpapan baru dikatakan musim hujan kalau tiap hari secara berturut-turut air mengguyur. Baru dikatakan musim hujan, kalau publik mulai panik soal banjir. Baru dikatakan musim hujan, ketika pemkot dan DPRD mulai sibuk membahas soal penanganan genangan. Dan tanda-tanda itu mulai terasa. Sejak akhir bulan lalu sebenarnya. Saat eksekutif dan legislatif ramai bicara penanganan banjir. Tapi itu tadi, namanya anomali cuaca, hingga pertengahan Agustus, ternyata panas lebih dominan.

Dan soal penanganan banjir ini, sayang, ramainya di situ-situ saja. Drainase. Jalan Beller. Pelebaran Sungai Ampal. Tak ada lagu lain. Sejak saya menjadi wartawan kota, pada 2007, isu yang dibahas seputar banjir nyaris sama. Minim ada terobosan baru. Tidak out of the box. Tidak melebarkan pandangan. Enggan berpikir lebih keras lagi. Mencari ceruk solusi baru. Atau solusi lama yang awam tapi belum dicoba. Penanganan masalah banjir ini sebenarnya juga sekaligus bisa menjadi program membangun birokrasi berpikir. Berpikir keras untuk menangani banjir. Agar menemukan solusi yang lebih jitu dan minim rupiah.

Selasa (24/7), bisa kita tandai awal pembahasan banjir untuk kondisi terkini. Kala Pemkot Balikpapan mendatangkan ahli dari Belanda. Diajak ke Sungai Ampal. Kata Wakil Wali Kota Rahmad Mas'ud waktu itu, dia membawa para ahli tersebut hasil kunjungan, dan rekomendasi Pemprov DKI Jakarta. Seputar pengelolaan sungai dan limbah.

Tim yang terdiri dari dua orang itu memerhatikan bantaran dan arus di Sungai Ampal. Mulai jembatan dekat Hotel Zurich kemudian di Jalan Beller hingga ke kawasan hulu dekat Pasar Segar. Tim ini katanya punya teknologi semacam pompa yang sekaligus bisa menyuling air sungai menjadi bersih. Juga sampahnya bisa terpilah. Teknologi yang menjadi ketertarikan pemkot itu bagian dari program penanganan banjir. Wawali menginginkan hasil dari tinjauan lapangan itu bisa diketahui secepat mungkin. Baiklah, kita tunggu. Menarik mengetahui berapa nilai teknologi itu? Pas kah untuk menangani banjir di kota ini? Tapi hingga kini, kita belum mendengar lagi update-an dari rencana tersebut.

Seakan tak mau kalah, besoknya, Rabu (25/7), Komisi III DPRD Balikpapan meninjau sejumlah titik langganan tergenang di Balikpapan Barat. Salah satunya di Jalan Letjen Suprapto, depan Hotel Blue Sky. Drainase salah satu biang banjir. Karena sedimentasi. Solusinya seputar normalisasi, pelebaran, dan pembebasan lahan. Proyek. Artinya anggaran. Berapa banyak normalisasi yang harus dilakukan terhadap drainase di sepenjuru kota? Banyak. Khusus di Jalan Letjen Suprapto itu saja, dari data Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Balikpapan, dibutuhkan Rp 3-4 miliar. Tanpa mengecilkan niat baik kedua lembaga itu, saya hanya mengingatkan, fokus pada drainase dan Sungai Ampal mestinya sudah tuntas sejak dulu. Sekarang harusnya ada langkah baru yang masif. Menangani banjir memang harus multisegmentasi. Semua dilakukan. Dari hulu ke hilir. Pemangku kebijakan sudah khatam soal ini. Saya hanya coba mengingatkan lagi.

Tak kalah penting adalah mencegah potensi banjir di hulu. Di Balikpapan, salah satu biang utama banjir adalah pengupasan lahan. Untuk perumahan terutama. Yang tak dibarengi dengan program ramah lingkungan. Syarat developer harus menyiapkan bendungan pengendali (bendali) di perumahan yang mereka bangun, hanya tegas di atas kertas. Buktinya, semakin banyak pengupasan lahan, memicu titik banjir baru. Solusi ini tinggal menanti ketegasan. Menjalankan aturan. Dan benar-benar memberi sanksi jika ada yang melanggar regulasi. Salah satu solusi ini minim anggaran. Hanya butuh ketegasan dan kepeloporan.

Di hilir lantas menggencarkan penanganan. Normalisasi drainase itu hilir. Normalisasi Sungai Ampal juga hilir. Membuat bendali yang bukan syarat dari perumahan juga di hilir. Semua yang di hilir muaranya proyek. Tak ada program penanganan di hilir yang saat ini tak lepas dari proyek. Padahal, masih ada program di hilir yang tak melulu proyek. Di sinilah butuh kepeloporan. Ajakan. Melibatkan pemangku kebijakan dan warga.

Dulu pernah gencar dicanangkan program biopori. Ini salah satu program di hilir dengan mengintensifkan peran warga membuat lubang di sekitar rumah mereka. Tak perlu anggaran ber-M M. Perlu ajakan dan contoh. Coba misalnya fokus ke situ. Tentukan waktunya. Misalnya program ini dikonsep dalam satu tahun. Libatkan perusahaan. Maksimalkan lagi forum corporate social responsibility (CSR) untuk menggalakkan program ini. 

Bulan lalu, saya ikut diskusi santai Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Balikpapan dan pejabat di Pusat Pengendalian Ekoregion Kalimantan (P3E), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Di kantor mereka, seberang tepian Melawai. Hadir saat itu di antaranya, Kepala P3E Kemen KLHK Tri Bangun dan Kabid Inventarisasi Daya Dukung Daya Tampung Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup, P3E, Maryuna Pabutungan.

Yang dibahas banyak. Seputar lingkungan hidup. Utamanya ketersediaan air baku, berkaitan keberlangsungan pasokan untuk PDAM. Juga banjir. Soal banjir ini, banyak konsep yang sudah ditawarkan kepada pemerintah daerah. Dalam program-program berkaitan lingkungan hidup, nyaris pasti institusi ini dilibatkan. Dimintai saran. Mereka juga memberi masukan.

Salah satu program di hilir yang bisa dicanangkan untuk menangani banjir, tanpa bicara proyek adalah memanen air hujan. Ini sudah awam. Beberapa daerah, atau beberapa kawasan, telah mencanangkan. Balikpapan tinggal memaksimalkan studinya yang mungkin tak butuh waktu lama. Kalau oke, realisasinya cenderung lebih mudah.   

Konsep memanen air hujan ini kasarnya, mengumpulkan, menampung dan menyimpan air hujan. Upaya ini dilakukan sebagai solusi untuk mengendalikan banjir yang kerap terjadi saat hujan deras mengguyur kota. Memanen air hujan ini bermanfaat ganda. Air yang tertampung mengurangi volume hujan dari langit yang masuk ke bumi. Air yang tertampung bisa dimanfaatkan untuk keperluan keluarga. Menyiram tanaman, cuci mobil, dan lainnya. Tapi 'kan air yang tertampung dalam waktu lama bisa menjadi sarang jentik, nyamuk demam berdarah? Ada abate. Yang dibagikan gratis. Selesai.

Kata Pak Tri saat itu, permasalahan air adalah masalah yang abadi, baik dari kuantitas maupun kualitasnya. Jika kelebihan memicu banjir dan jika kemarau akan kekurangan. Balikpapan salah satu kota yang tidak lepas dari permasalahan  tersebut. Untuk itu, salah satu solusinya adalah dengan memanen air hujan. Saya tersadar dari diskusi itu. Paparannya sederhana. Masuk logika. Dan mudah terealisasi segera dalam menangani banjir. Tak perlu sampai beradu kepentingan membahas anggaran penanganan banjir di dewan. Menangani banjir, lantas melebarkan drainase, kata Pak Tri, tak sepenuhnya benar. Tapi memang harus dijalankan. Logika sederhana, air mengalir ke tempat terendah. Pelajaran IPA SD ini. Bukan ke tempat luas. Melebarkan drainase adalah tempat luas. Apakah semua drainase berada di tempat rendah? Normalisasi drainase penting. Tapi, harus melakukan hal lain.

Dia juga menyorot soal pelebaran Sungai Ampal. Jika proyek penanganan banjir itu berjalan, dia memprediksi tak bakal tahan sampai tiga tahun. Jika tak dibarengi penanganan di hulu. Menangani banjir, bicara penyebab. Pemetaan penyebab banjir di Kota Minyak ada beberapa. Di antaranya, pembukaan lahan menjadi kawasan permukiman. Berkurangnya daerah resapan air. Juga karena curah hujan yang tinggi. Karena itu, menangani banjir adalah bicara menuntaskan masalah di hulunya. Bicara infrastruktur dalam penanganan banjir itu nanti. Tapi, kenapa itu yang sering dibahas pemerintah daerah dan dewan? Mungkin, karena itu proyek. Ada anggarannya.

Hitungan sederhana dari memanen air, misalnya tiap rumah mengeluarkan semua penampungan yang mereka miliki saat hujan. Satu rumah mampu menampung atau membuat air tak langsung tumpah ke tanah, rata-rata 20 liter saja, tentu bisa meminimalisasi genangan. Air tak langsung masuk ke drainase. Tak langsung mengalir ke badan jalan. Air tertahan sementara di penampungan. Tak tumpah secara berjamaah.

Atau secara program, memanen air hujan ini bisa dicanangkan sebagai syarat pengembang. Selain syarat bendali untuk developer. Perumahan-perumahan baru misalnya diwajibkan menyediakan fasilitas satu tandon satu rumah. Buat regulasinya. Biaya pembebanan pembelian tandon bisa sharing. Konsumen dan developer. Satu tandon kapasitas 1.000 liter, kalau ada di mayoritas perumahan, tentu lebih masif lagi menahan tumpahan air ke bumi.

Juga misalnya membuat regulasi, semua bangunan, rumah toko, kantor, dan lainnya, yang berdiri di pinggir jalan, harus bertanggung jawab atas air yang tumpah ke bangunan dan lahan mereka. Wajibkan mereka memiliki tandon. Atau penampungan lain. Cara ini tentu bisa mengurangi jumlah air yang mengalir ke jalan. Penyediaan tandon bisa juga dari CSR perusahaan di sekitar lingkungan. Tandon bantuan ditulis sumbangan dari perusahaan A. Pasti sama-sama senang. Sudah ada contohnya. Tinggal dicoba.

Penyebab banjir memang tidak tunggal. Sebab itu, penangananannya juga harus lebih dari satu. Tak ada metode tunggal yang efektif dalam menangani banjir. Penanganan di hulu, normalisasi drainase, penanganan Sungai Ampal, dan memanen air hujan. Harus dijalankan.  

Seberapa besar kontribusi hujan terhadap banjir di Kota Minyak? Selain berdiskusi dengan petinggi P3E, kami juga menuju Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balikpapan, untuk mengetahui perhitungannya. Memang agak berkeringat. Agak menguras otak. Tapi, setidaknya kita bisa tahu, berapa banyak air yang tumpah, berapa banyak penampungan yang harus disiapkan, untuk menahan air masuk ke bumi. 

Ambil contoh hujan 1 milimeter di Balikpapan. Volumenya setara 100 ribu mobil tangki air. Begini perhitungannya. Pada dasarnya yang disebut curah hujan adalah volume air hujan dibagi luas alasnya. Jika dirumuskan  h = V/A. Yakni, h: tinggi air hujan (mm). V: volume air hujan (mm3). A: luas alas penampung (mm2). Lalu, apa arti curah hujan 1 mm? Jika curah hujan 1 mm tersebut jatuh ada area seluas 1 meter persegi, di mana air tersebut tidak mengalir, meresap ataupun menguap, maka volume air yang tertampung sebanyak 1 liter. Hitungannya berikut. 1 mmx1 m x1 m; 0,001 m x 1 m2 artinya 0,001 m3 atau 1 liter.

Jadi, jika hujan 1 mm tersebut jatuh pada luasan 2 m2 maka volume air hujan adalah 2 liter, dan seterusnya. Menurut data, luas Balikpapan adalah 503,3 km2 atau 503.300.000 m2. Jika terjadi hujan secara merata di kota ini, kemudian terukur bahwa curah hujan tersebut sebesar 1 mm, maka sama artinya hujan yang tumpah dari langit ke Balikpapan sebanyak 503.300.000 liter. Bagaimana membayangkan air 503.300.000 liter? Bisa diilustrasikan dengan mobil tangki. Jika satu mobil tangki air bisa menampung 5.000 liter, maka  503.300.000 liter/5.000 liter = 100.660 mobil tangki air. Jika satu mobil tangki air panjangnya 9 meter, maka 100.660 mobil tangki air x 9 meter adalah 905.940 m atau 905 km. Jika 100.660 mobil tangki air tersebut berjejer panjangnya 905 km, itu setara jarak lurus Balikpapan ke Nunukan. Dari hitung-hitungan ini, menjadi gambaran bagi pemkot jika ingin menjalankan program memanen air hujan itu.

Perlu diingat, Indonesia sudah berusia 73 tahun. Harusnya Kota Beriman tak lagi berkutat pada masalah banjir. Sudah harus ada target perjuangan untuk bisa merdeka dari masalah ini. Belum telat. Bisa dicanangkan secara serius mulai sekarang. Target misalnya dua tahun. Semua masalah berkaitan banjir sudah diketahui. Solusinya juga sudah seabrek. Tinggal fokus. Misal, tahun ini menuntaskan pengupasan lahan dulu. Kemudian normalisasi drainase. Lantas Sungai Ampal. Jalan beriringan pun tak masalah. Asal fokus. Dan bertarget. Kepala daerah yang memantau. Dalam tiga bulan misalnya, bagaimana hasilnya. Wali kota juga bisa sekaligus memantau jajarannya, kerja atau tidak dalam menuntaskan masalah ini. Evaluasi reguler. Terus begitu. Agar warga kota bisa merdeka dari banjir. (*/k15)

(Data curah hujan dari BMKG Balikpapan, diolah oleh Rahmat Setya Hidayat)

(*) Pemimpin Redaksi Kaltim Post

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 10 November 2018 06:17

Indah Itu Nyaman

MESKI sudah dua bulan lalu berlalu, sepekan mengunjungi Kota Kinabalu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .