MANAGED BY:
SENIN
22 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Selasa, 14 Agustus 2018 09:03
Anggrek, si Eksotis yang Terus Terkikis
KELESTARIAN TERANCAM: Surya Sili menunjukkan anggrek Vanda, yang mayoritas tumbuh di luar Kaltim. (RENDY FAUZAN/KP)

PROKAL.CO, Anggrek menjadi salah satu tumbuhan favorit pencinta tanaman hias. Namun, tingginya minat itu berisiko mengancam kelestarian tanaman bernama latin Orchidaceae itu.

SEDIKITNYA 70 spesies anggrek di Indonesia terancam punah. Demikian menurut data yang diterima Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Kaltim. “Di Kaltim, ada anggrek hitam yang kelestariannya menjadi sorotan,” ucap Wakil Ketua PAI Kaltim Refrimen. Beberapa hal mengancam kelestarian anggrek. Salah satunya angka permintaan yang tinggi. Anggrek berada di puncak popularitas di kalangan pencinta tanaman hias. “Saking tingginya permintaan, pedagang sering kehabisan pada momen tertentu, hingga harus mendatangkan dari luar daerah,” ucapnya.

Jawa Barat dan Jawa Timur jadi daerah pendistribusi anggrek terbanyak ke Kaltim. Anggrek berjenis Dendrobium, Cattleya, dan Vanda jadi spesies yang awam didatangkan.

Tingginya permintaan tak diimbangi upaya budi daya. Padahal, anggrek memiliki rentang waktu pengembangbiakan yang tergolong panjang. “Dengan pengembangan konvensional, budi daya anggrek baru optimal dalam hitungan tahun,” jelas Surya Sili, ketua PAI Kaltim, saat ditemui di pelatihan penyilangan dan kultur jaringan anggrek, di Fakultas Pertanian, Universitas Mulawarman, Senin (13/8).

Mencegah kepunahan, beberapa langkah ditempuh. Diawali dengan menekan komersialisasi anggrek yang tumbuh alami. “Jadi, yang dijual adalah tanaman hasil budi daya, bukan dari alam. Di Kaltim, langkah itu sudah ditegakkan sejak lama,” terang dia. Selain itu, budi daya juga dioptimalkan menggunakan metode kultur jaringan. Yakni metode penanaman dengan menggunakan media khusus yang steril dari kuman. Kultur jaringan disebut terbukti membuat durasi budi daya lebih efektif. “Masa tumbuh menjadi lebih cepat dengan jumlah bibit yang lebih banyak,” imbuh Surya.

Refrimen menambahkan, pemanfaatan metode kultur jaringan lebih optimal bila digarap di laboratorium. Itu karena pertimbangan kesterilan ruang. Saat ini, terdapat beberapa laboratorium di Kaltim yang menggunakan metode tersebut. “Seperti di agrowisata milik Dinas Pertanian Kaltim; Unmul (Universitas Mulawarman); di Tarakan yang kini bagian dari Kaltara. Di Kersik Luway, Kutai Barat, ada juga laboratorium mini untuk menjalankan metode ini,” terang dia. Meski terdengar rumit, metode kultur jaringan tetap bisa diaplikasikan dengan cara yang lebih sederhana. “Sehingga ibu rumah tangga pun bisa menerapkan metode itu,” imbuh Surya.

Bila metode ini bisa berjalan massal, diharapkan ke depan Kaltim tidak perlu lagi mendatangkan anggrek dari luar hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar. “Jadi, pengusaha juga bisa mengoptimalkan bisnis mereka. Kalau perlu kita yang menjadi penyedianya,” tegas perempuan yang juga akademisi itu. Surya menjelaskan, dari beberapa jenis tanaman hias, nilai ekonomis anggrek tergolong stabil. Bahkan, menurut hasil survei terakhir mereka, perlahan terjadi peningkatan harga bunga. “Biasanya dulu hanya Rp 35 ribu, kini bisa mencapai Rp 70–100 ribu per pot.” Keelokan corak dan warna bunga menjadi salah satu penentu nilai anggrek. “Semakin eksotik corak dan warnanya, semakin tinggi harganya,” pungkas dia.

Sementara itu, Yusuf, pedagang tanaman hias di Jalan Letjen Soeprapto, Samarinda Ulu, menjelaskan, bahwa kini anggrek bersaing dengan beberapa jenis tanaman lain, seperti bugenvil dan mawar. “Dua itu (mawar dan bugenvil) juga sedang banyak dicari pelanggan,” terang pedagang 45 tahun itu. Dia pun menjadi salah satu pedagang yang mendatangkan anggrek dari luar pulau. “Biasanya mengambil dari Jawa Timur. Terkadang dari Jakarta,” ucap pria yang sudah menggeluti bidang itu selama dua dekade. Pilihan “mengimpor” anggrek dari daerah lain juga karena alasan senada, pengembangbiakan yang terlampau lamban.(ndy/riz/k15)

 


BACA JUGA

Kamis, 04 April 2019 10:32
Berbincang dengan Setyo Pranoto, Pria Berjuluk Manusia Jadul

Keliling Jawa dan Kalimantan untuk Berburu Handphone Jadul

Teknologi semakin maju. Telepon genggam pun semakin canggih dengan desain…

Kamis, 04 April 2019 10:30
Bule Perancis Keliling Dunia Pakai Sepeda

Telah Singgahi 10 Negara, di Indonesia Doyan Makan Tempe dan Bakso

Victor Habchy punya nyali tinggi. Bule asal Prancis itu berkeliling…

Rabu, 03 April 2019 12:19
Ribuan Anak Yaman Angkat Senjata di Garda Depan

Dijanjikan Uang dan Pekerjaan, tapi Disuruh Perang

Anak-anak di Yaman tidak hanya harus tumbuh dengan melihat pemandangan…

Rabu, 27 Maret 2019 12:08
Warga Venezuela yang Hidup di ’’Neraka Gelap’’

Semua Jadi Gila saat Listrik Mati

Masyarakat Venezuela ingin melupakan kejadian tragis yang disebabkan lumpuhnya jaringan…

Sabtu, 23 Maret 2019 12:03
Geliat Wisata saat Gunung Bromo Erupsi Kecil

Justru Bisa Dapat Sajian Momen Keindahan Asap

Jumlah wisatawan ke Bromo menurun bahkan jika dibandingkan dengan saat…

Sabtu, 16 Maret 2019 14:06
Setelah sang Pelukis Abstrak Itu Berpamitan Dua Bulan Lalu

Sosok yang Supel dan Selalu Siap Bantu Teman

Dari Jogjakarta, Zulfirman Syah pindah ke Selandia Baru untuk mendampingi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*