MANAGED BY:
MINGGU
21 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Sabtu, 11 Agustus 2018 11:00
Prabowo-Sandi Punya Peluang di Kaltim
BAKAL SENGIT: Jokowi (kiri depan) dan Mar’uf Amin (kedua kiri depan) lebih dulu mendaftar diri sebagai capres dan cawapres ke KPU kemarin. Foto bawah, pada siang hari giliran Prabowo Subianto (kedua kiri) dan Sandiaga Uno (ketiga kiri).

PROKAL.CO, SAMARINDA  –  Konstelasi politik bergerak cepat setelah pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), kemarin (10/8). Persaingan Joko Widodo (Jokowi) dengan Prabowo Subianto mengulang “pertandingan” empat tahun lalu. Di Kaltim, dua pasangan calon (paslon) bakal bersaing sengit memperoleh suara terbanyak.

Di atas kertas, Jokowi-Ma’ruf Amin diunggulkan. Meski begitu untuk level Kaltim, duet Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno diprediksi mampu memberi perlawanan serius terhadap petahana.

Pasalnya, koalisi nasional PKS, Gerindra, dan PAN sebelumnya sukses pasangan Isran Noor dan Hadi Mulyadi di Pemilihan Gubernur Kaltim 2018. Ditambah Partai Demokrat, lalu dukungan dari Partai Berkarya, koalisi partai politik (parpol) Prabowo-Sandi diyakini mampu menandingi Jokowi-Ma’ruf yang diusung PDIP, PKB, PPP, PKPI, Golkar, NasDem, dan Hanura. Ditambah dukungan dari Perindo dan PSI.

Jika membandingkan jumlah kepala daerah dan anggota DPRD Kaltim dari kader parpol, parpol pengusung Jokowi-Ma’ruf unggul. Ada total 37 anggota parlemen di Karang Paci–sebutan kantor DPRD Kaltim di Samarinda–atau 67,2 persen merupakan kader partai pengusung Jokowi-Ma’ruf. Sementara kepala daerah ada lima daerah. Di Bontang, Balikpapan, Kutai Barat, Kutai Timur, dan Paser.

Sementara itu, anggota DPRD Kaltim dari koalisi parpol pengusung Prabowo-Sandi hanya 18 orang atau 32,7 persen. Sedangkan kepala daerah, Prabowo mendapat dukungan dari Samarinda, Berau, Penajam Paser Utara, Mahakam Ulu, dan Kaltim. (lihat grafis)

Pengamat politik Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda Sonny Sudiar menilai, di Kaltim pertarungan Pilpres 2019 bakal sengit. Selisih suara antara dua kandidat diprediksi berakhir beda tipis.

Namun, kans Prabowo-Sandi untuk menang jauh lebih besar. Didukung koalisi solid sejak Pilkada Serentak 2018, dan di belakangnya ada dukungan dari Habib Rizieq Shihab dengan ratusan organisasi Islam yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama.

Sementara di kubu Jokowi, meski merangkul Ma’ruf Amin yang merepresentasikan Nahdlatul Ulama (NU), tapi bukan berarti kukuh. Karena garis komandonya tidak semudah parpol, seperti PKS, PAN, dan Gerindra. Sedangkan Prabowo dinilai memiliki finansial cukup besar karena menggandeng Sandiaga Uno, yang merupakan pengusaha dan wakil gubernur DKI Jakarta. “Kekuatan finansial salah satu indikator utama dalam Pilpres 2019,” tutur Sonny.

Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Unmul itu mengatakan, kendati Ma’ruf merupakan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), namun bukan berarti serta-merta mendapat mayoritas dukungan dari umat Islam.

Di Indonesia, ada dua organisasi masyarakat (ormas) Islam besar, yakni NU dan Muhammadiyah. Kendati NU bisa dirangkul, tapi ada Muhammadiyah yang kemungkinan besar merapat ke Prabowo. Diikuti lebih 500 ormas Islam lain di bawah komando Habib Rizieq Shihab.

Prabowo-Sandi dalam hitungannya unggul dalam dukungan ormas Islam, solidaritas parpol, dan gelombang gerakan sosial, baik 212 maupun gerakan 2019 Ganti Presiden. “Di Kaltim gerakan 2019 Ganti Presiden itu terasa. Dan sudah digaungkan di mana-mana,” katanya.

Selain itu, meski mendapat dukungan dari mayoritas parpol, koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin tidaklah kukuh. Itu jika melihat rekam jejak Golkar dalam panggung politik selama ini. Ada potensi berpindah dukungan di tengah tingginya intervensi Megawati terhadap Jokowi. “Yang pasti Pilpres 2019 akan berlangsung seru, partisipasi masyarakat akan bertambah, ya setidaknya bisa mencapai 65 persen,” pungkasnya.

Senada, pengamat politik Unmul lainnya, Luthfi Wahyudi menilai, Pilpres 2019 di Kaltim akan berlangsung sengit. Kandidat sama-sama kuat secara elektoral. Jokowi-Ma’ruf didukung partai besar di Kaltim. Begitu pula Prabowo-Sandi disokong koalisi pemenang Pilgub Kaltim 2018. Kemudian ditambah dukungan dari Partai Demokrat dan Partai Berkarya. “Gubernur dan wakil gubernur Kaltim terpilih dari koalisi Prabowo-Sandi. Itu punya nilai lebih jika mereka menjadi juru kampanye,” kata Luthfi.

Sosok Sandiaga Uno, menurut Luthfi, juga punya nilai lebih jika dibandingkan dengan cawapres Jokowi, Ma’ruf Amin yang sudah sepuh. Sandiaga bisa meraup dukungan dari anak-anak muda dan pengusaha. Jumlah pemilih pemula itu cukup besar di Benua Etam.

Meski sosok Ma’ruf Amin tidak bisa diremehkan. Dia merupakan representasi NU. Punya basis pemilih loyal. Di Kaltim, kader NU cukup diperhitungkan. “Meski kurang dikenal, ada waktu lebih dari enam bulan bagi Sandi untuk kampanye. Itu waktu yang cukup untuk sosialisasi. Ditambah dengan kader parpol yang berkoalisi itu kan salah satunya ada PKS. Mereka punya gerakan cukup masif untuk memengaruhi masyarakat,” papar dia.

Secara umum, sebut dia, kekuatan dari masing-masing kandidat masih berimbang. Jokowi sebagai petahana punya pengaruh kuat. Dikenal luas oleh masyarakat. Di Kaltim, Prabowo-Sandi harus kerja keras mengalahkan Jokowi. Meski, ada beberapa catatan Jokowi di Kaltim. Seperti pelemahan ekonomi.

“Jika isu itu dieksplorasi sebagai bahan kampanye dan jadi materi utama Prabowo-Sandi tentu Jokowi akan kesulitan. Sekalipun sama-sama tahu pelemahan ekonomi di Kaltim itu terjadi karena banyak faktor, seperti harga batu bara dan migas yang anjlok,” ujarnya.

Sekretaris DPD Gerindra Kaltim Aji Seno mengatakan, duet Prabowo-Sandi merupakan yang terbaik. Sosok Prabowo merepresentasikan capres yang kuat dan tegas. Sementara Sandiaga Uno sebagai pengusaha sukses. Kemudian keduanya didukung oleh ulama.

“Koalisi kami juga solid, PKS, Gerindra, dan PAN. Kemudian ditambah Demokrat dan Berkarya yang bergabung. Kami sudah buktikan mampu menang di Pilgub Kaltim, selanjutnya pilpres,” yakin Aji Seno.

Dikatakan dia, pihaknya segera mematangkan strategi pemenangan di Kaltim. Pekan depan akan diadakan rapat pleno di internal DPD Gerindra Kaltim membahas Pilpres 2019. Setelah itu akan dilakukan rapat gabungan bersama partai koalisi. “Kami akan sapu bersih kemenangan di 10 kabupaten/kota se-Kaltim untuk memenangi Pilpres 2019,” ucapnya.

Sementara itu, Bendahara DPD PDI Perjuangan Kaltim Muhammad Samsun mengatakan, paket Jokowi-Ma’ruf Amin adalah yang terbaik. Perpaduan nasionalis-religius. Menjawab harapan masyarakat saat ini. “Duet cocok. Kami yakin menang,” singkatnya.

Jika berkaca dari hasil Pilpres 2014, di Kaltim-Kaltara, Jokowi yang kala itu berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK) menang atas Prabowo-Hatta Rajasa. Jokowi-JK memperoleh 1.190.156 suara atau 63,37 persen. Sementara Prabowo-Hatta memperoleh 687.734 suara atau 36,62 persen. Hasil ini tentu saja jadi catatan bagi parpol pengusung, terutama koalisi Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. Tidak mudah mengalahkan Jokowi-Ma’ruf di Bumi Etam.

AHY DAMPINGI PRABOWO

Ketua Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) harus menahan kecewa. Sebab, tak dipilih sebagai calon wakil presiden (cawapres) untuk Prabowo Subianto. Namun, partainya tetap mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga Uno.

Dukungan Partai Demokrat kepada Prabowo diberikan setelah melalui lobi-lobi politik yang sangat pelik. Bahkan, hubungan kedua partai itu mencapai titik nadir pada Rabu (8/8) malam ketika Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief melancarkan serangan ke kubu Prabowo dan menyebut mantan Danjen Kopassus itu sebagai jenderal kardus. Dia juga menuding Sandiaga memberikan uang mahar masing-masing Rp 500 miliar kepada PKS dan PAN.

Kamis (9/8) pagi, Prabowo datang ke rumah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Jalan Mega Kuningan Timur VII. Namun, keduanya gagal mencapai kesepakatan. Kamis malam, Prabowo kembali datang ke rumah presiden keenam RI itu. Lagi-lagi keduanya tidak menemukan titik temu.

Partai Demokrat menolak Sandi sebagai cawapres, dan tetap menyodorkan AHY. Partai Gerindra, PKS, dan PAN akhirnya tetap mendeklarasikan Prabowo-Sandi sebagai capres-cawapres. Partai Demokrat tidak datang dalam deklarasi yang dilakukan di rumah Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta.

Partai Demokrat baru mengambil keputusan mendukung Prabowo-Sandi kemarin (10/8) sekitar pukul 11.00 WIB. Penyampaian dukungan pun bukan dilakukan SBY, tapi disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat EE Mangindaan, kemudian dilanjutkan AHY. “Setelah berkomunikasi dan melewati hari-hari serta malam panjang, Majelis Tinggi Partai Demokrat memutuskan untuk mengusung Prabowo-Sandi sebagai capres-cawapres,” terang AHY saat konferensi pers di rumahnya Jalan Mega Kuningan kemarin.

Sebagai kader inti Partai Demokrat, dia memberikan dukungan penuh kepada pasangan tersebut demi kesuksesan Pilpres 2019. Dalam kesempatan itu, AHY juga meminta maaf kepada para pihak, baik kader Partai Demokrat maupun masyarakat yang menginginkan dirinya menjadi cawapres. Menurut dia, karena berbagai faktor, dirinya belum mempunyai peluang menjadi cawapres. Tentu, kata dia, ada rasa sedih dan marah yang dialami para pendukungnya.

“Lalu banyak yang tanya AHY mau ngapain?” ucap dia. Putra sulung SBY itu mengatakan, dia dan istrinya akan menunaikan ibadah haji lima hari ke depan. Dia sudah jauh-jauh hari merencanakan untuk beribadah ke Tanah Suci tersebut.

Waktu pendaftaran pilpres kemarin merupakan momen yang sangat spesial bagi dirinya, karena dia genap berusia 40 tahun. “Kata banyak orang, usia 40 itu usia yang baik,” terangnya. Dia akan berupaya mengaktualisasikan diri dan berjuang untuk bangsa dan negara.

Sebagai ketua Kogasma Partai Demokrat, dia akan bekerja keras membangkitkan suara Partai Demokrat dalam pemilihan legislatif (pileg) mendatang. Dia yakin, target yang diinginkan partainya akan tercapai. Dia juga akan terus menyapa masyarakat dan mendengarkan suara rakyat. “Saya hanya warga negara biasa yang ingin berkontribusi. Kami hanya bisa bekerja keras, Allah-lah yang menakdirkan,” tutur mantan calon gubernur DKI Jakarta itu.

Pada saat pendaftaran kemarin, SBY juga tidak hadir. Yang terlihat hanya Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Pandjaitan Ibas, Wakil Ketua Majelis Tinggi Demokrat EE Mangindaan, dan Wakil Ketua Umum Syarifuddin Hasan. Syarif menuturkan memang tidak ada keharusan bagi SBY datang ke KPU. Lantaran bisa diwakilkan kepada pengurus lainnya. Saat pendaftaran kemarin, SBY sedang berada di rumahnya di Mega Kuningan, Jakarta Selatan. “Ini kan organisasi kalau ketua umum enggak ada kan bisa wakil ketua umum,” ujar dia.

Syarif menjelaskan, keputusan untuk mendukung pasangan Prabowo-Sandi itu memang baru diputuskan pagi kemarin. Lantaran harus melewati majelis tinggi partai. “Kami itu ada prosedur administrasi internal yang harus dilewati. Ya itu harus melalui majelis tinggi. Jadi kalau DPP sudah setuju dibawa ke majelis tinggi. Di majelis tinggi dibahas,” ujar dia.

Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari menilai, keputusan SBY dan Demokrat yang mendukung Prabowo-Sandi merupakan jalan terakhir. Sebab, dengan sisa waktu yang ada, tidak cukup waktu bagi SBY memutuskan dukungan kepada pasangan Jokowi-Ma’ruf. “Tidak ada jalan lain, karena pendaftaran Jokowi pagi hari, mereka baru rapat pagi hari,” kata Qodari kepada Jawa Pos.

Qodari menilai, dukungan SBY itu disampaikan dalam kondisi yang tidak ideal, karena dua malam sebelumnya hubungan dengan Prabowo sempat renggang, terutama penolakan terhadap sosok Sandi. Namun, karena masalah waktu, SBY tidak punya pilihan kembali ke Prabowo, meski tidak sesuai dengan rencana politik jangka panjang Demokrat.

“Saya yakin (dukungan SBY) tidak maksimal. Karena, lebih baik yang menang Jokowi-Ma'ruf pada 2019, supaya kontestasi pada 2024 seimbang. Kalau Prabowo yang menang, bisa jadi Sandi yang maju pada 2024, akan lebih membahayakan bagi AHY,” tambah Qodari. (*/him/rom/k8)

 


BACA JUGA

Sabtu, 20 Oktober 2018 00:05

Ekspor CPO Bantu Selamatkan Rupiah

SAMARINDA  -   Kinerja ekspor Kaltim pada Agustus mengalami penurunan 14,03 persen dibandingkan…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:00

Dorong Pendapatan Petani, Gubernur Mau Petani Jual Karet Langsung ke Perusahaan

SAMARINDA - Petani karet diimbau tidak menjual hasil perkebunannya kepada tengkulak alias langsung ke…

Jumat, 19 Oktober 2018 10:51

Minta Perda Baca Tulis Alquran Disahkan

TANA PASER – Sebanyak 768 santri Taman Pendidikan Alquran (TPA) dan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan…

Jumat, 19 Oktober 2018 09:35

Kaltim Peringkat Nasional Kepemilikan Akta Kelahiran

SAMARINDA – Provinsi kaltim menempati urutan ke dua dalam peringkat nasional untuk kepemilikan…

Jumat, 19 Oktober 2018 08:39

Beruntung Dibimbing Langsung Pencetusnya di Rusia

Gelar ahli hukum banyak dimiliki masyarakat Indonesia saat ini. Namun, untuk urusan ahli hukum luar…

Jumat, 19 Oktober 2018 08:25
Tiga WNA yang Ditahan di Rudenim Balikpapan

“Kalau Bisa Deportasi Saja Saya”

BALIKPAPAN – Tak mudah bagi warga negara asing (WNA) untuk bekerja di Indonesia. Harus paham hukum.…

Jumat, 19 Oktober 2018 06:52

Ekonomi Lesu, Donatur Zakat Kaltim Meningkat

BALIKPAPAN - Perekonomian Indonesia tercatat pada tiga tahun terakhir ini menunjukkan grafik yang melesu.…

Kamis, 18 Oktober 2018 13:15

DUAARR..!! Ledakan di Kampus Tewaskan 18 Orang

MOSKOW – Sebuah ledakan memorak-porandakan kampus Politeknik Kerch di timur Crimea kemarin (17/10).…

Rabu, 17 Oktober 2018 10:46

Cerita Perjalanan Sunarman, Napi Palu yang Menyerahkan Diri ke Rutan Solo

Bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) beberapa…

Rabu, 17 Oktober 2018 10:40

Waduh, Utang Luar Negeri Indonesia Naik, Tembus Rp 5.410 Triliun..!!

JAKARTA- Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh sebesar USD 360,7 miliar atau Rp 5.410 triliun (kurs…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .