MANAGED BY:
SABTU
22 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Jumat, 10 Agustus 2018 09:01
Ciputra di Tengah Siapa Pun Cawapresnya

PROKAL.CO, OLEH: DAHLAN ISKAN

SIAPA pun calon wakil presiden (cawapresnya) saya pilih Ciputra. Ketulusan Ciputra memuja Hendra tidak ada tandingannya. Hanya Ciputra yang ingat setiap tanggal lahir pelukis itu. Dan memperingatinya. Dan istimewa.

Saya ikut hadir di peringatan 100 tahun kelahiran Hendra. Minggu lalu. Yang diadakan Ciputra. Dengan megahnya. Di Ciputra World Casablanca. Di pusat Artpreneur-nya. Istri kedua almarhum Hendra tampak hadir. Bu Nuraini. Masih kelihatan sehat. Segar. Masih dengan tangkas bisa naik panggung: saat Ciputra memintanya tampil.

Kini usianya 72 tahun. “Umur saya memang selisih 28 tahun dengan Hendra,” katanya pada Disway. Dialah yang mendampingi Hendra sampai akhir hayatnya. Di rumahnya yang kedua. Di Bali.

Belum ada orang mencintai pelukis Indonesia melebihi Ciputra. Meski hanya untuk pelukis Hendra. Ciputra sendiri tampak sehat. Untuk orang usia 83 tahun. Lebih sehat dari tiga tahun lalu.

Tentu sedikit banyak karena efek Mahathir. Yang terpilih jadi perdana menteri Malaysia. Pada usianya yang 93 tahun. “Kasus Mahathir” memang telah jadi viral utama di kalangan manula.

Contohnya kakak sulung saya sendiri. Yang usianya sudah 73 tahun. Yang sudah terbaring pasrah di tempat tidur. Mantan Ketua Aisyiyah Muhammadiyah Kaltim itu seperti sudah memilih meninggal.

Saat saya ke Samarinda bulan lalu saya bisiki dia: umur 73 tahun itu, sekarang ini, masih muda. Pak Mahathir baru terpilih jadi perdana menteri umur 93 tahun. Ayo... Yu Tun harus sehat. Semangat. Ayo ke rumah sakit. Jangan menyerah.

Saya panggil dia yu (mbakyu) Tun (Khosiyatun). Kakak yang menjadi ibu saya. Ketika masih di Magetan. Karena ibu meninggal saat saya masih SD. Akhirnya dia mau ke rumah sakit. Saya tunggui. Opname tiga hari. Ada kemajuan. Boleh pulang.

Kemarin saya dikirimi video. Oleh putrinya: Yu Tun bisa berjalan sendiri. Ke ruang tamu. Di rumahnya di Samarinda. Saya menitikkan air mata. Pak Ciputra juga tidak boleh kalah oleh Mahathir. Uangnya terlalu banyak untuk bisa menopang kesehatannya. Dokter terbaik. Obat terbaik. Pelayanan terbaik di dunia. Bisa dia beli.

Untuk Hendra itu saja ratusan miliar rupiah dia belanjakan. Untuk membeli koleksi lukisannya. Untuk mengubah lukisan-lukisan itu menjadi patung. Untuk membangun museum yang begitu megah. Belum lagi untuk membangun gedung operanya.

Memang ada yang bertanya: mengapa Hendra. Mengapa bukan Affandi. Mengapa bukan Basuki Abdullah. Mengapa bukan Sudjojono. Dan seterusnya. Beruntung banget Hendra. Memiliki Ciputra. Beruntung sekali Ciputra memiliki Hendra. Itulah takdir. Takdir Hendra. Sebagai orang Sunda. Yang memamerkan lukisannya di Bandung.

Lukisannya itu dilihat Ciputra. Ciputra muda. Saat Ciputra masih di Bandung. Baru tamat ITB. Baru belajar cari uang. Sejak itu dia jatuh cinta pada lukisan Hendra. Tanpa bisa dijelaskan penyebabnya.

Ketika Hendra ditangkap, Ciputra sedih. Itu tahun 1965. Setelah Gestapu/PKI. Dia tidak percaya Hendra komunis. Sembilan tahun Hendra dipenjara. Tanpa peradilan. Ciputra tetap mencari lukisan Hendra. Dengan, kata Ciputra, semampu keuangannya. Saat itu. “Saya dikawini setelah Hendra keluar penjara,” ujar Bu Nuraini.

Lalu keduanya pindah ke Bali. Memiliki satu anak laki-laki. Istri pertama tetap di Bandung. Dengan tiga anak. Di Bali, Hendra membeli rumah cicilan. Lewat BNI 46. Dengan jaminan koleksi lukisannya.

Suatu saat Ciputra gundah. Jakarta terasa menyesakkan batinnya. Ia ingin keluar kota. Tapi tidak tahu ingin ke mana. Ia putuskan ke Bali. Naik pesawat. Di dalam pesawat itulah ia ingat: Hendra kan di Bali.

Ia langsung cari alamat Hendra. Ketemu. Ia kaget. Hendra tergeletak. Tidak berdaya. Tidak ingat siapa-siapa. Ciputra lebih kaget. Setelah mengamati rumah itu kosong. Tidak ada satu pun lukisan. Tidak seperti rumah pelukis. “Ke mana lukisan-lukisan Hendra?” tanya Ciputra pada Nuraini. “Disita BNI,” jawab sang istri.

Ada 32 lukisan yang disita. Ciputra langsung kembali ke Jakarta. Hari itu juga. Ia tebus lukisan itu. Ia lunasi kekurangan pembayaran rumah Hendra. Semua itu diceritakan Ciputra di panggung. Dengan tutur cerita yang mengharukan. Di acara 100 tahun Hendra. Yang juga menampilkan tari kreasi baru. Tari transformasi. Dulu dari lukisan ke patung. Kini dari lukisan ke tari. Tidak salah bukan? Siapa pun cawapresnya saya pilih Ciputra? Untuk tema tulisan Disway hari ini? (dis/rom/k16)


BACA JUGA

Rabu, 19 September 2018 09:02

Ke Houston Salat di Masjid Istiqlal, Makan di Mama Yu

OLEH: DAHLAN ISKAN NAMANYA Masjid Istiqlal. Lokasinya di Kota Houston, Texas, Amerika. Saya salat Magrib…

Selasa, 18 September 2018 08:41

Hukuman Baru yang Dicepatkan

OLEH: DAHLAN ISKAN TRUMP meneruskan hukuman untuk Tiongkok. Bahkan meningkatkannya. Dan mempercepatnya…

Senin, 17 September 2018 09:09

Bank Century Lagi Hidup dan Mati

OLEH: DAHLAN ISKAN KASUS Bank Century hidup lagi. Mati lagi. Di luar negeri. Lebih tepatnya akan hidup-mati…

Minggu, 16 September 2018 10:05

Cari Resep yang Begitu Mahalnya

OLEH: DAHLAN ISKAN KE Amerika Serikat kali ini saya tidak khawatir lagi. Saya bawa obat. Jumlahnya cukup.…

Minggu, 09 September 2018 09:15

Forest City nan Kapan-Kapan

OLEH: DAHLAN ISKAN ADA reklamasi. Ada kontroversi. Reklamasinya sangat besar. Persoalan yang muncul…

Sabtu, 08 September 2018 07:09

Selalu Malas Bermain Catur

SAYA selalu malas. Kalau diajak John Mohn main catur. Di rumahnya. Di Hays, Kansas. Penyebabnya: saya…

Sabtu, 08 September 2018 07:09

Selalu Malas Bermain Catur

SAYA selalu malas. Kalau diajak John Mohn main catur. Di rumahnya. Di Hays, Kansas. Penyebabnya: saya…

Kamis, 06 September 2018 08:45

Jalan 150 untuk Tahun Ke-115

Oleh: Dahlan Iskan SAYA lupa. Ini kan ulang tahun ke-115 Harley-Davidson. Makanya kok banyak touring.…

Sabtu, 01 September 2018 02:10

Kalung dan Sepatu di Depan Pintu

INI lagi musim panas di Tiongkok. Tapi saya kedinginan. Di atas ketinggian 4.200 meter ini. Di pegunungan…

Kamis, 30 Agustus 2018 09:31

Dari Seminar Seks Berbuntut Suaka

OLEH: DAHLAN ISKAN PARA peserta seminar itu kini diadili. Di kota “Sex of the City”: Pattaya.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .