MANAGED BY:
SELASA
13 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Kamis, 09 Agustus 2018 07:19
Jalan Spiritual Menuju Semangat Proklamasi

PROKAL.CO, OLEH: RP YOHANES ANTONIUS LELAONA, SVD
(Rohaniwan Warga Tenggarong)

MENGAWALI tulisan ini, izinkan saya mengutip kalimat yang pernah disampaikan oleh Bapak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Ir Soekarno. Bung Karno pernah mengatakan demikian, “Dalam perjuangan kemerdekaan, di seluruh negeri kita yang kelihatan hanyalah kesukaran, kekurangan, kemelaratan…… Dengan kehendak yang membulat menjadi satu, ketetapan-hati yang menggumpal menjadi satu, tekad yang membaja menjadi satu, seluruh bangsa kita bangkit, bergerak, berjuang untuk membenarkan, mewujudkan proklamasi 17 Agustus itu.”

Bangsa kita sudah mengalami kemerdekaan selama 73 tahun. Setiap kali kita merayakan Hari Raya Kemerdekaan Bangsa Indonesia, apa pesan yang selalu diingat ketika kita merayakan Hari Kemerdekaan?  Setiap kali kemerdekaan Indonesia diperingati pesan yang harus diingat sebagai api proklamasi adalah semangat juang, semangat persatuan, dan semangat membangun negeri (Yudhi Latif, Makrifat Pagi, 149/2018).

Dengan ketiga semangat tersebut kita pun boleh optimistis, di balik segala krisis kesulitan yang mengimpit kita saat ini, ada harapan kebangkitan di kemudian hari.

Sikap optimistis ini perlu tertanam dalam diri masing-masing kita. Sikap itu bisa lahir dari setiap pengalaman pribadi kita bersama dengan orang lain; dengan aneka macam pengalaman hidup. Selama awal bulan Agustus ini, kita bangsa Indonesia dikejutkan dengan peristiwa gempa bumi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Pulau Dewata, Bali. Selain itu, situasi politik bangsa ini pun diwarnai oleh gambaran koalisi partai-partai yang akan ikut dalam pemilu tahun depan.

Bangsa Indonesia disibukkan dengan pengalaman tersebut. Namun justru dari pengalaman itu semangat juang, persatuan, dan membangun negeri makin tampak. Kita lihat pengalaman bagaimana kita bahu-membahu membantu korban bencana alam di Lombok, korban kapal tenggelam di Danau Toba, dan peristiwa lainnya. Pengalaman demikian semakin menguatkan kita akan ingatan bahwa tata negara kita yang bernama Indonesia ini didirikan dengan ciri kodrati majemuk, beragam, dan bineka, baik dalam agama, suku maupun ras. Artinya tanpa kemajemukan, keragaman, dan kebinekaan, tidak ada Indonesia.

Sebagai negara yang majemuk; kita pertama-tama harus mengusahakan perkembangan kesejahteraan umum dalam kehidupan bersama. Dari manakah usaha kita untuk mengembangkan kesejahteraan umum tersebut dalam kehidupan bersama harus dimulai? Dari kesadaran akan pentingnya keutamaan budi. Meminjam istilah yang pernah dipakai oleh Bapak Isran Noor ketika memberi kuliah umum untuk mahasiswa/i STKP Bina Insan di gedung Keuskupan Agung Samarinda beberapa minggu yang lalu yakni, “Manusia Berbudi Luhur.”

Sebagai bangsa kita harus bisa melahirkan dan  menciptakan generasi-generasi manusia yang berbudi luhur. Berbudi luhur yang dimaksud adalah manusia yang memiliki budi pekerti. Budi pekerti adalah tumpuan utama bangsa Indonesia untuk menuju perkembangan dalam hidup bersama. Dari budi pekerti ini kita bisa melihat perkembangan hidup bersama sehari-hari.

Seorang yang memiliki budi pekerti tahu menghargai, menghormati dan mengutamakan kepentingan bersama. Dia akan berjuang, berusaha dengan segala tenaga dan kemampuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia. Karena bangsa kita hakekatnya adalah suatu kesatuan dalam keragaman (baca: bhinneka tunggal ika).
Jalan Spiritualitas

Dalam keragaman bangsa ini, segi religiositas (kesalehan) bisa menjadi jalan utama yang ditempuh dengan menguatkan spiritual dan etika agama sebagai perwujudan manusia berbudi luhur. Mengapa demikian? Jalan spiritual menjadi pilihan bagi kita karena jalan spiritual adalah penentu dalam menghidupkan semangat proklamasi. Aspek spiritual harus ditempatkan dalam ketiga kerangka semangat tadi, yakni semangat juang, semangat persatuan, dan semangat membangun negeri. Dan ketiga semangat itu harus diajarkan terlebih dahulu dan ditanamkan dalam diri generasi penerus bangsa. Cara satu-satunya yakni melalui bidang pendidikan (Saifur Rohman, Opini Kompas; 14/09/2016).

Pertama, kemampuan spiritual mesti menjadi bagian tak terpisahkan dalam praktik material pembelajaran di Indonesia. Bangsa kita boleh saja meletakkan nilai spiritual pada bagian awal dalam Undang-Undang Dasar 1945. Namun dalam praktiknya sehari-hari jauh panggang dari api. Nilai spiritual tidak mendapat perhatian dari para pendidik. Para pendidik sibuk dengan segi intelektualitas peserta didik saja.

Kedua, generasi penerus bangsa perlu diberi pemahaman bahwa spiritualitas merupakan proyek nalar itu sendiri. Filsuf Immanuel Kant adalah orang pertama yang memperkenalkan nalar apriori. Nalar apriori memperkenalkan kita untuk lebih dalam mengetahui nilai spiritualitas dengan kemampuan akal budi manusia. Melalui prinsip transendensi dan imanensi, di situlah baru terungkap ada makna kesempurnaan, kebaikan dan kemuliaan (ibid). Karena itu, spiritualitas yang masuk akal bukan lagi menjadi pilihan.

Ketiga, dalam praktik pembelajaran spiritualitas harus menjadi asal-muasal sekaligus tujuan akhir pendidikan yang menyeluruh. Dengan demikian, seorang pelajar/mahasiswa bisa memahami arti penting jalan spiritual dalam kehidupan bersama. Jalan spiritual menjadi kebutuhan hakiki manusia. Ini bukan kultus, juga bukan ritus, melainkan proyek nalar untuk mencapai terciptanya manusia berbudi luhur dengan semangat juang, semangat persatuan, dan semangat membangun negeri.

Untuk itu, mari kita kembangkan kembali jalan spiritual yang ada dalam diri kita masing-masing dalam memperingati Hari Kemerdekaan yang ke-73 Republik Indonesia ini. Kata Bung Karno; “Hidup sesuatu bangsa tergantung dari vrijheids-bewustzijn, kesadaran kemerdekaan-kebangkitan bangsa itu, tidak dari teknik, tidak dari industri, tidak dari pabrik atau kapal terbang atau jalan aspal” (Yudi Latif, dalam Kebangkitan Keutamaan Budi; Kompas 2017). Kesadaran kemerdekaan itu lahir dari para founding father yang memiliki keutamaan jalan spiritual. Dengan mengembangkan jalan spiritual maka, kita akan terarah pada semangat untuk hidup bersatu padu, berjuang dan bergotong-royong membangun negeri tercinta Indonesia.

Dengan jalan yang sama pula kita bisa mengejar ketertinggalan negeri kita dari kemajuan negeri-negeri lain yang memperoleh inspirasi dari kemerdekaan Indonesia. Inilah saatnya kita segenap Bangsa Indonesia mengembangkan semangat proklamasi dari sebuah pernyataan semata menuju tindakan nyata. Dengan tetap mengingat pada seruan yang kerap kali didengungkan oleh Bung Hatta “Hanya ada satu tanah air yang bernama Tanah Airku. Ia makmur karena usaha, dan usaha itu adalah usahaku.” Seruan ini disimpulkan dengan satu pertanyaan refleksi untuk kita ingat bersama; “Jangan tanyakan apa yang dapat diberikan negara bagi dirimu; tanyalah apa yang dapat diberikan oleh dirimu kepada negara?”  Merdeka! (*/rsh/k18)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 13 November 2018 06:58

Merosotnya Nilai-Nilai Kepahlawanan

Oleh: Suharyono Soemarwoto MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Kandidat Doktor…

Selasa, 13 November 2018 06:56

Dunia Penerbangan Kita

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona SVD(Rohaniwan di Paroki St Pius…

Senin, 12 November 2018 07:01

Berkembang atau Tumbang di Tengah Jalan?

Oleh: Rahiman Al Banjari(Pemuda Muhammadiyah Balikpapan) “KITA akan menjadi saksi…

Senin, 12 November 2018 06:59

Tingkatkan Hasil Belajar Matriks melalui Problem Based Learning

Oleh: Drs Mulyono(Guru SMA 5 Balikpapan) SALAH satu masalah yang…

Sabtu, 10 November 2018 06:19

Menyongsong Era Digital Pemilu di Indonesia

PEMILU  pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu…

Sabtu, 10 November 2018 06:06

Fatwa UMKM dan Industri Kreatif Syariah

MAJELIS  Ulama Indonesia (MUI) Balikpapan berinovasi membuat fatwa UMKM dan…

Jumat, 09 November 2018 06:49

Menjadi Negeri Bebas Impor

OLEH: MELTALIA TUMANDUK (Aktivis Komunitas Muslimah Peduli Umat) INDONESIA, Negeri…

Kamis, 08 November 2018 06:58

Pentingnya Negosiasi dalam Hubungan Industrial

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO (Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Kandidat Doktor…

Kamis, 08 November 2018 06:56

Menanti Peran Lembaga Pendidikan

OLEH: HANDY ARIBOWO S.T MM (Dosen dan Peneliti STIE IBMT…

Kamis, 08 November 2018 06:54

Politik Luar Negeri Indonesia: Pendekatan Soft Diplomacy Pada 2018

OLEH: RENDY WIRAWAN (Master of International Relations, University of Melbourne)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .