MANAGED BY:
MINGGU
20 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 08 Agustus 2018 12:00
Menolak karena Status Halal dan Efek Samping
-

PROKAL.CO, SUARA penolakan vaksin Measles Rubella di Kota Minyak tak terelakkan. Ada dua alasan mendasari orangtua enggan mengikuti imunisasi MR. Pertama, soal status kehalalan. Kedua ketakutan akibat dampak vaksin.

Alasan tersebut membuat orangtua harus mengisi surat formulir skrining imunisasi MR. Lalu mengatakan tidak ingin menerima imunisasi serta membubuhkan tanda tangan. Dalam selembar kertas itu juga tertulis tentang keterangan riwayat kesehatan anak.

Seperti yang dilakukan Jumiati. Warga RT 17, Kelurahan Gunung Sari Ulu, ini tidak mengizinkan dua cucunya mendapatkan imunisasi MR. Kedua cucunya ini siswa SD 014 Balikpapan Tengah. Jumiati tanpa ragu mengisi formulir yang menyatakan tidak bersedia menerima imunisasi MR. "Iya, saya akan tanggung jawab dengan mengisi formulir ini," katanya.

Kepada Kaltim Post, Jumiati menuturkan penolakan tersebut karena takut efek samping imunisasi MR. Dia bercerita, ada tetangganya yang mengalami kelumpuhan akibat imunisasi. Namun, dia menegaskan, kasus tersebut bukan berasal dari imunisasi MR. "Kalau ada kenapa-kenapa, siapa yang mau tanggung jawab nanti? Ada yang sakit sehabis imunisasi, saya jadi takut," ucapnya.

Belum lagi, berita korban imunisasi MR yang tersebar di Jawa semakin menguatkan niatnya untuk tidak mengizinkan cucu ikut imunisasi MR. Dia mengaku, sebelumnya tidak pernah mendapat sosialisasi soal imunisasi MR. Penjelasan ini baru kali pertama dia dengar saat tim Puskesmas Gunung Sari Ulu melakukan kampanye imunisasi MR di sekolah, Sabtu (4/8).

Meski telah mengikuti sosialisasi, tetap saja tidak mengurungkan niatnya untuk menolak imunisasi. "Tidak berubah, saya tetap saja takut. Terutama karena takut kasus orang salah suntik. Jadi bukan hanya soal halal atau tidaknya vaksin ini," imbuhnya.

Jumiati menuturkan, saat ini dia seorang diri merawat kedua cucunya. Lantaran ayah kedua cucunya itu sibuk mencari nafkah. Sedangkan ibunya telah meninggal dunia. "Sekarang kami berharap tidak ada masalah di kemudian hari," harapnya.

Beda dengan Jumiati, warga lain juga beralasan menunda imunisasi MR karena menunggu kepastian MUI. Hal ini disampaikan oleh Tambunan yang bermukim di Kelurahan Karang Rejo. Dia mengatakan, bukan maksud menolak vaksin. Sebagai warga negara yang baik, dia tetap akan menuruti aturan pemerintah dalam pemberian vaksin untuk anak.

Hanya yang kini menjadi alasannya menunda semata-mata karena menunggu fatwa halal dari MUI. "Jadi bukan menolak, saya tetap menerima vaksin. Namun baru akan saya lakukan setelah ada kepastian soal halal atau tidaknya vaksin ini," bebernya.

Dia berharap, pemerintah bisa tegas dan tak lagi membuat masyarakat bingung. "Saya bersyukur kalau pelaksanaan imunisasi ditunda dulu sambil menunggu keputusan MUI," ungkapnya. Tambunan mengungkapkan, perihal status halal atau tidaknya vaksin bukan perkara gampang. Apalagi sebagai umat muslim, elemen halal hukumnya wajib.

Dia mengibaratkan, seseorang yang ingin menikah saja perlu mendapatkan legalitas  secara agama dan negara. "Begitu pula dengan makanan, harus cari yang halal. Apalagi ini soal vaksin, sesuatu yang masuk ke tubuh. Jadi penting sekali status halal atau tidaknya," tegasnya.

Sebagai warga dan muslim yang taat, Tambunan kini hanya bisa menunggu hasil keputusan MUI. Apabila MUI menyatakan vaksin tersebut halal, dia tidak akan ragu mengizinkan sang anak melakukan imunisasi MR. "Jadi kami bisa patuh pada aturan pemerintah sekaligus sesuai agama juga. Kalau memang ternyata halal, saya bisa ikut vaksin susulan," tuturnya.

Dia mengatakan, secara garis besar sudah mengetahui latar belakang dan tujuan imunisasi MR. Termasuk soal potensi yang timbul setelah proses imunisasi. Misalnya demam ringan. Dia tak masalah dan setuju dengan program pemerintah ini. Namun sekali lagi, dia hanya mempertanyakan soal status halal vaksin.

"Kenapa belum ada status halal karena saya juga mencoba taat pada agama. Saya juga tidak ingin menolak, bagaimana pun cara ini yang terbaik untuk anak," pungkasnya. (timkp)


BACA JUGA

Minggu, 20 Januari 2019 11:00

MUDAHAN LEBIH HOT..!! Tanpa Kisi-Kisi di Debat Kedua

JAKARTA – Debat capres-cawapres edisi kedua masih sebulan lagi. Namun,…

Sabtu, 19 Januari 2019 07:09

Biaya Tol Teluk Kian Membengkak

BALIKPAPAN  –   Semakin lama tertunda, anggaran pembangunan Jembatan Tol…

Sabtu, 19 Januari 2019 07:07

Abu Bakar Ba’asyir Bebas Tanpa Syarat

JAKARTA  -  Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir bisa mengakhiri…

Sabtu, 19 Januari 2019 07:04

Polres Belum Terima Komplain Konsumen

BALIKPAPAN –  Kasus obat kosmetik ilegal diungkap jajaran Polres Balikpapan,…

Jumat, 18 Januari 2019 09:40

SERASA ANAK TIRI..!! Bandara APT Pranoto “Dicueki” Pusat

SAMARINDA–Moda transportasi udara jadi idola untuk memangkas waktu perjalanan. Sayangnya,…

Jumat, 18 Januari 2019 08:11

Kosmetik Ilegal Dijual Mahal

BALIKPAPAN – Nurliah (26) hanya bisa menunduk. Perempuan berkulit putih…

Jumat, 18 Januari 2019 08:01

Mengubur Kebencian

OLEH: BAMBANG ISWANTO (Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda)…

Jumat, 18 Januari 2019 07:57

Koran Adalah Alat Perjuangan, Bertahan dengan Kualitas Sajian

Media daring menjamur. Tapi tak akan membunuh koran. Tak membuatnya…

Jumat, 18 Januari 2019 06:48

Mengoptimalkan Ekspor Batu Bara Kaltim ke India

Oleh: Wahyu Baskara Santoso dan Debby Amalia Soraya (Asisten Analis…

Jumat, 18 Januari 2019 00:06

Jokowi Serang Caleg Gerindra, Prabowo Malah Joget-Joget

Sebuah kejadian menarik dalam debat pilpres 2019 edisi pertama yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*