MANAGED BY:
SABTU
22 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Rabu, 08 Agustus 2018 08:41
Hak Anak untuk Sehat

PROKAL.CO, Oleh: Muhammad Ridhuan
(Wartawan Kaltim Post)

TANGGALNYA saya lupa. Saat memilih pakaian muslim di Pasar Pagi, Samarinda. Pemilik toko gemas melihat Muhammad Al Fatih Mathar. Anak saya yang saat itu berusia lima bulan.

Berbeda dengan saya, Mathar punya pipi tembam dan kulit putih. Berkali-kali rayuan dan gurauan untuk anak kecil itu dilontarkan. Namun, wajah Mathar tak beriak. Hanya menatap balik pemilik jenggot putih yang membingkai wajah khas Arab di depannya.

“Hebat anak ini. Bisa jadi presiden,” kata pria berbadan tinggi besar itu. Lalu dia menyodorkan kurma. Meminta saya mengunyah kurma itu. Lalu disuapkan kepada Mathar.

Teknik ini disebut tahnik. Menurut hadis, Rasul Muhammad SAW melakukannya kepada sejumlah bayi yang baru lahir dan memberikannya nama. Saat itu umat belum diketahui mengapa Rasul melakukannya. Jawaban sementara datang dari penelitian Muhammad Ali Al Baar. Dokter dari Arab Saudi. Tahnik digunakan untuk memberi asupan glukosa tambahan. Karena bayi yang baru lahir, terlebih yang prematur, kandungan zat gula dalam darahnya rendah. Dalam kasus tertentu bisa membahayakan nyawa si bayi.

Namun dalam perkembangannya banyak pihak yang mengklaim cara ini merupakan “imunisasi” saat itu. Sayang tak ada bukti ilmiah yang mendukung pernyataan tersebut.

Meski begitu masih ada sejumlah oknum memanfaatkannya. Melalui media sosial dan laman blog, mereka menyandingkan tahnik dengan kampanye negatif soal vaksin. Membuat masyarakat awam, termasuk umat muslim, percaya. Sehingga ada saja orangtua yang menolak anaknya divaksin. Mereka pun dicap sebagai kelompok anti-vaksin.

Terlepas dari kandungan haram, halal, atau belum halal, vaksin saat ini menjadi satu-satunya cara ampuh. Mengandung bahan antigenik. Agar tubuh imun dari serangan bakteri atau virus.

Apalagi dengan perkembangan virus dan bakteri disebut-sebut menjadi lebih beringas. Memengaruhi tak hanya fisik. Namun entitas manusia secara keseluruhan.

Ketika ada wabah di satu negara, negara lain akan sibuk mencegah negaranya ikut tertular. Tak ingin pandemi flu spanyol pada 1918 terulang. Ketika itu, hanya dalam dua tahun, puluhan juta orang meninggal terserang penyakit Virus Influenza Tipe A subtipe H1N1 ini. Semua ini terlepas dari sumber virus yang disebut akibat pengembangan vaksin.

Pemikiran masyarakat simpel. Begitu muncul kabar wabah penyakit, mereka segera ingin memperoleh cara agar tidak tertular. Bagi umat muslim, cara itu haruslah halal. Kalaupun tidak ada kepastian halal, maka perlu pertimbangan. Baik ilmiah dan keagamaan. Tugas pemerintah ada di ranah ini. Meski dalam banyak kasus kampanye vaksin, hal tersebut kerap dikesampingkan.

Vaksin difteri adalah contoh terakhir sebelum ribut-ribut vaksin MR. Pemerintah melalui Menteri Kesehatan Nila F Moeloek bersuara soal itu pada Desember 2017.  Di luar persoalan agama, vaksin membawa lebih banyak kemaslahatan ketimbang mudarat. Dia juga menyampaikan bahwa imunisasi merupakan upaya memenuhi hak anak untuk sehat.

Hak anak saya untuk sehat. Tak ingin dia sakit di tengah prosesnya untuk belajar merangkak. Atau menggapai apapun benda di sekelilingnya. Lantas dimasukkannya ke dalam mulut.

Hak anak saya untuk sehat. Di tengah kabar pahit rentetan pengurangan perawatan penyakit yang digratiskan pemerintah. Demi kabar untuk menyelamatkan kapal yang akan tenggelam.

Semua kembali kepada individu. Orangtua punya tanggung jawab selama anak ada di asuhan mereka. Pemerintah pun tak bisa menutup mata. Ada 207 juta penduduk muslim Indonesia (sensus penduduk, 2010) yang berjibaku untuk urusan halal-haram. Setidaknya dengan sertifikat MUI pada label vaksin bisa memberikan ketenangan. Kalaupun kejadian sebelum 2010 terulang, ketika calon jamaah haji harus disuntik meningitis yang mengandung unsur babi, maka hal tersebut karena bersifat darurat. Bukan sesuatu yang mengandung muslihat. (***)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 20 September 2018 10:12

Literasi Keuangan (Jangan) Disepelekan

Literasi keuangan belum menunjukkan angka ideal. Realita yang rawan disalahgunakan oknum jahat, yang…

Kamis, 20 September 2018 09:53

Literasi Minim, Wanprestasi Menghantui

SEMENTARA tingkat penggunaan produk keuangan publik Kaltim mencapai 74,9 persen, level pemahaman terhadap…

Senin, 17 September 2018 09:18

Buku (Bukan Lagi) Jendela Ilmu

Dahulu buku jendela dunia. Namun, perlahan-lahan sang primadona mulai hilang pamor. Era digital disebut-sebut…

Senin, 17 September 2018 09:14

Ideal Baca 6 Jam Sehari

DUA pekan lalu menjadi hari penting bagi pecinta buku. Sebab 8 September ditetapkan sebagai hari literasi…

Senin, 17 September 2018 09:06

Koleksi Perpustakaan Daerah Belum Lengkap

BERBAGAI cara dilakukan untuk berkontribusi menambah literasi dari masyarakat lokal. Sejarawan lokal…

Senin, 17 September 2018 09:04

Menanti Inovasi Tenaga Pendidik

MEMBANGUN budaya literasi memang tak mudah. Tapi harus dilakukan serius, setahap demi setahap hingga…

Senin, 17 September 2018 09:01

Cerita Unta Bawa Kitab untuk Motivasi Membaca

TIDAK ada usaha yang mengkhianati hasil. Itulah yang menggambarkan sosok Rudini. Pria kelahiran Lampung,…

Senin, 17 September 2018 08:59

Menyentuh Angkasa dengan Buku

Oleh: Raden Roro Mira(Wartawan Kaltim Post (Juara 3 Duta Baca Kaltim 2018–2020) BENDA apa yang…

Jumat, 14 September 2018 08:48

Bergantung Anggaran yang Tak Tentu

PARIWISATA Samarinda kalah banyak dan kalah tenar ketimbang pertumbuhan perhotelan atau hiburan lainnya.…

Jumat, 14 September 2018 08:46

Pandangan Geologi dalam Potensi Wisata Alam Samarinda

OLEH: FAJAR ALAM(Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Timur) BUMI, sebagaimana…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .