MANAGED BY:
KAMIS
18 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 07 Agustus 2018 07:56
Kartesianisme

PROKAL.CO, Oleh: Dr. Ir. Sunarto Sastrowardojo, M. Arch
(Dosen Pascasarjana Perencanaan Wilayah, Unmul)

KARTESIUS dalam konsep matematika, digunakan untuk menentukan titik dalam setiap bidang dengan menggunakan dua bilangan yang lazimnya disebut absis dan ordinat. Salah satu konsep dasar arsitektur adalah menyatukan titik, garis, bidang dan menjadi ruang. Pergeseran dimensional ini akan tetap ada sepanjang masyarakat masih mengakui profesi arsitek di bumi ini masih ada atau tidak digantikan oleh profesional  lain. Misal, pelukis. Atau bahkan koki yang bisa mengkhayal rumah tinggalnya dan diwujudkan dengan mencetak roti  menjadi rumah dan dihuni olehnya.

Sistem koordinat kartesius juga bisa digunakan mendeskripsikan dimensi-dimensi lain yang lebih tinggi yakni tiga dimensi dengan menggunakan tiga sumbu, x, y dan z. Koordinat Kartesius ini kemudian juga digunakan oleh pada arsitek dalam memvisualisasikan sudut pandang bangunan arsitektural dari berbagai sisi. Bentuk-bentuk geometri seperti kurva terbalik menjadi landasan berfikir membentuk bangunan masjid berkubah, dome.

Konsep konsep sumbu ortogonal inilah yang kemudian berkembang  dalam ilmu merancang sebuah titik pandang dan atau konsep dasar perancangan arsitektur.

Analoginya begini: seseorang harus tahu abjad dulu sebelum merangkainya jadi sebuah kata. Seseorang harus belajar dulu tata bahasa dan sintaksis dulu, sebelum membetuk kalimat. Arsitek  harus tahu dulu, titik garis, bidang dan ruang sebelum pada tahapan berikutnya.

Lalu saya membayangkan, Kalimantan Timur ini, yang sudah saya huni sejak tahun 1964 ini yang sudah dengan terpaksa saya cintai karena sejengkal tanah nun jauh di sana di dusun kecil di Kabupaten Pacitan sudah hanyut dibawa air sungai.

Lalu saya membayangkan Kalimantan Timur ini, yang dulu populer dengan julukan Zamrut Khatulistiwa kembali semringah membangun dan dibangun oleh Kartesianisme, sebuah faham yang memahami pentingnya menyatukan titik menjadi garis, menjadi bidang dan menjadi ruang.

Kalimantan Timur dibangun dengan bantuan dua garis koordinat kartesian. Titik titik itu terus digambarkan. Kemudian titik titik itu semakin dekat jaraknya antara yang satu dengan yang lain. Saking dekatnya gambaran titik yang satu dengan yang lain, akhirnya membentuk garis, bidang dan ruang. Titik tersebut tidak mampu lagi menyisakan ruang untuk membuat sebuah titik lagi di antara dua titik.

Itulah Kalimantan Timur, akan penuh titik tak ada ruang lagi menyisipkan titik, noktah perpecahan, perbedaan persepsi, perbedaan visi. Kalimantan Timur harus berdaulat dalam banyak hal, ekonomi, sosial, budaya politik. Bahkan bagian penting dari sebuah misi keamanan secara nasional.

Saya mengerti, membangun bukan rumus matematika seperti koordinat kartesius. Tapi saya juga tahu bahwa konsep membangun adalah kesejahteraan. Sekelompok warga dalam mencapai kebaikan bersama adalah politik. Saya yakin pemimpin Kalimantan Timur mendatang adalah kartesianisme yang mampu menyatukan titik, garis, bidang dan ruang bagi kenyamanan banyak kemauan. Abjad, kata, sintaksis sudah ada dalam konsep dasar berfikir. Merangkainya jadi karya sastra, arsitektural Kalimantan Timur, kebijakan yang memihak alam. Dari titik nol hingga konsep ruang penuh enerji. Selamat datang, sahabat. (***/rsh/k18)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2018 06:54

Persyaratan Bahasa Inggris bagi Pejabat Pemerintah: Yay or Nay?

Oleh: Veronika Hanna Naibaho[Widyaiswara di Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:51

Mitigasi Bencana melalui Pengenalan Bencana Geologi

Oleh: Muhammad Dahlan Balfas(Dosen Program Studi S-1 Teknik Geologi Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman)…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:49

Siapa Bilang Kalimantan Aman Gempa?

Oleh: Sunarto Satrowardojo(Dosen Sekolah Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Universitas…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:11

Mana Tanah Rakyat? Refleksi Hari Tani Nasional

HARI Tani Nasional (HTN) yang diperingati setiap 24 September merupakan hari lahirnya Undang-Undang…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:10

Masihkah Sepak Bola Menjadi Alat Pemersatu Bangsa?

SEPAK  BOLA Indonesia kembali memakan korban. Duel klasik antara Persib Bandung dan Persija Jakarta…

Kamis, 11 Oktober 2018 07:13

Teknologi Bisa Mengubah Kita

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan Warga Tenggarong) DALAM bulan September lalu, perusahaan…

Kamis, 11 Oktober 2018 07:11

"Enggak Perlu Pakai Helm"

Oleh: Hendrajati(Pendiri HSE Indonesia & Mahasiswa S-2 MP UAD Jogjakarta.) Enggak perlu pakai helm,…

Rabu, 10 Oktober 2018 07:03

Pentingnya Bangun Ketahanan Mental sejak Dini

Oleh: dr Mariati Herlina Sitinjak Sp KJ(Dokter spesialis kedokteran jiwa dari Rumah Sakit Samarinda…

Rabu, 10 Oktober 2018 07:00

Menaruh Harapan pada Isran–Hadi untuk Kaltim Berdaulat

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO, MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S3-Doktor…

Selasa, 09 Oktober 2018 09:43

Alfatekah atau Alfatihah?

PAK Jokowi, di depan khalayak sebuah acara, menyerukan doa dan empati bagi para korban bencana. Sebagian…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .