MANAGED BY:
SENIN
25 MARET
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Selasa, 07 Agustus 2018 07:08
Melodi dari Luar Jawa

PROKAL.CO, class="Default">INDONESIA bukan cuma milik tanah Jawa. Kemunculan musisi-musisi dari luar Jawa menahbiskan ungkapan tersebut. Berhasil tampil sebagai Gang of Folk dalam perhelatan Folk Music Festival 2018, kehadiran mereka menegaskan bahwa bibit-bibit musisi dari berbagai penjuru Indonesia layak untuk disebar, ditanam, dan dirawat agar tumbuh untuk diapresiasi pendengar. Siapa saja mereka? (yog/c25/raf)

Holaspica – Bandar Lampung

Pembicaraan tentang laut hingga arus kehidupan dirangkum dengan epik oleh Virdyas Eka Diputri atau Holaspica. Lewat lagu-lagu seperti Naik ke Laut hingga The Dying Sky, dia menjadi medium untuk menikmati kerasnya kehidupan lewat musik. Literasi menjadi inti dalam karyanya, lalu digubah menjadi sebuah gagasan.

Alhasil, tercipta warna musik yang kini menjadi karakternya. ”Holaspica adalah bentuk suara hati saya tentang kehidupan, perjalanan, dan proses menjadi diri sendiri. Sejak hijrah ke Jogjakarta empat tahun lalu, aku banyak melakukan perjalanan laut. Aku pun punya banyak gagasan dalam berkarya,” ujarnya.

Sepertigamalam – Pontianak

Kegemaran Ferdy Ardian mengunjungi pantai melahirkan proyek musik Sepertigamalam. Kombinasi antara sejuknya alunan gitarlele dan gemercik suara bambu air menjadi senjata utama membius para pendengarnya. Instrumen gitarlele dipilih karena praktis. Sementara itu, bambu air sebagai pencipta suara air di atas panggung.

Uniknya, semua lagu dibawakan secara instrumental. Sederhana dan epik adalah karakter utamanya. ”Selain karena keterbatasan mengungkapkan perasaan melalui lirik, menurutku musik adalah bahasa yang lebih universal,” ungkap Ferdy. Lewat paduan musiknya, terciptalah suasana kontemplasi yang unik seperti dini hari dan pantai.

Diroad – Palembang

Mengangkat budaya lokal lewat karya menjadi pemicu Diroad untuk berkarya. Di bawah naungan Rimauman Music (label independen asal Palembang), Diroad muncul secara lantang menyuarakan keprihatinannya terhadap penggusuran Pasar Cinde. Lagunya yang berjudul Pilumu Cinde masuk album kompilasi Stand with Cinde. Dinyanyikan dalam bahasa Besemah dengan musik yang kental dengan irama melayu, kultur lokal sangat terasa.

”Kami berusaha menyuarakan hal-hal apa pun yang biasa dialami. Hal itu pun mengilhami pemilihan nama Diroad yang memiliki arti ’di jalan’. Kami mencoba membingkai hal-hal yang mereka temui di jalanan menjadi karya,” ungkap Riyan, salah seorang personel Diroad.

Arief S. Pramono – Parepare

Petikan gitar dan lantunan lirik seputar percintaan atau isu-isu sosial membawa kita pada sosok Arief S. Pramono. Generasi baru folk balada tersebut akan mengingatkan kita pada musisi-musisi lawas yang bersinar pada eranya. Cara bertuturnya yang sederhana membuat pendengarnya lebih mudah memahami tentang apa yang ingin disampaikan. Karyanya makin unik karena dia merangkum dokumentasi kehidupan pribadinya dalam karya.

”Di tanah kelahiranku, rasanya karya musik kurang diapresiasi. Lagu Wajah Bumi berhasil membawaku ke Jakarta dan tampil di Teater Salihara. Akhirnya aku memutuskan menetap untuk mencari perspektif baru. Setelah mendapatkan banyak apresiasi, kini aku kembali ke Parepare untuk mengembangkan kehidupan bermusik di sini,” ujarnya.

loading...

BACA JUGA

Rabu, 30 Januari 2019 07:18

Dogfight Kembali ke Pakem

Ace Combat 7 Genre: Flight 3D Shooting Mesin: PS4 dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*