MANAGED BY:
RABU
24 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Minggu, 05 Agustus 2018 07:00
Menelisik Karya Para Jawara Rima

PROKAL.CO, MOOD-MU lagi campur aduk? Butuh karya yang bisa mendeskripsikan perasaanmu? Let’s try buku antologi atau kumpulan puisi. Lewat penggalan kata yang singkat dan punya makna yang dalam, kamu akan dijamu dengan sajian puisi yang menarik. Itulah yang dirasakan tiga Zetizen dari komunitas puisi yang berbagi rekomendasi buku antologi puisi favoritnya. Yuk, simak! (ehm/c14/raf)

 

Mata Pisau – Sapardi Djoko Damono

Lukman Khakim, Teater SUA

’’Ada banyak banget buku yang aku suka, mulai O Amuk Kapak dari Sutardji Colzoum Bachri sampai Talken Koneng-nya Alfaizin Sanasren, tapi yang paling ngena buat aku Mata Pisau dari Sapardi Djoko Damono. Isi dari buku itu benar-benar berasa ketika dilafalkan. Meskipun hanya Mata Pisau, menurutku ini lebih tajam daripada Amuk Kapak. Setajam judulnya, buku tersebut punya diksi yang nggak main-main. Seolah-olah pembaca diajak masuk ke dimensi yang bikin hati berkecamuk. Cerita yang dibawakannya pun nggak jauh beda dengan apa yang kita rasakan. Saking cintanya sama buku tersebut, aku pernah menjadikan salah satu puisinya, Hujan dalam Komposisi (2), sebagai bahan musikalisasi puisi. Kalau orang-orang lebih tahu Hujan Bulan Juni, boleh dibilang inilah komposisi dari puisi tersebut kalau dijabarkan.’’

’’…terus mericik swaranya, menyusur selokan,
terus mericik sejak sore, mericik juga
di malam gelap ini,
bercakap tentang lautan.
Apakah? Mungkin ada juga hujan
yang jatuh di lautan.
Selamat tidur
.’’

-Sapardi Djoko Damono, Hujan dalam Komposisi (2)

 

Derai-Derai Cemara – Chairil Anwar

Bima Anditya, Distingsi Rasa

’’Kalau masalah buku, pasti banyak banget yang disuka karena Indonesia punya banyak maestro dalam bidang ini. Sebut saja Sapardi Djoko Damono, Aan Mansyur, hingga Chairil Anwar. Tapi, buat aku, Derai-Derai Cemara-nya Chairil Anwar all-time favorite sih. Sebab, rasanya beda gitu ketika kita baca puisi yang ditulis sekarang sama dulu. Ada rasa tersendiri. Aku pribadi memang suka puisi-puisi yang lahir semenjak masa penjajahan dan perjuangan. Banyak makna yang bisa diserap. Terlebih, jahitan kata dan paragrafnya itu bahkan bisa bikin kita gemetar kalau baca. Apalagi, kalau kita lafalkan atau mungkin dibaca secara suara lantang, bakalan dahsyat lagi efeknya.’’

’’Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta
sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak
terucapkan
Sebelum pada akhirnya kita
menyerah
.’’

-Chairil Anwar, Hidup Hanya Menunda Kekalahan

 

While She Waits for Things to Happen... – Morgan Harper Nichols

Vanessa Wurya, writersID

’’Aku sering baca puisi-puisi dari luar negeri dan akhir-akhir ini lagi suka baca karya-karyanya Morgan Harper sama Bridgett Devoue. Tapi, yang paling berkesan bagi aku sih karyanya si Morgan Harper ini. Karya dari Morgan Harper ini positif banget. Jadi, setiap tulisan-tulisan yang dibuat seakan-akan juga ngasih energi positif buat para pembacanya.

Yang buat aku salut, Morgan Harper ini memang membuat karyanya for free gitu. Jadi, siapa pun bisa baca dan nikmatin. Ciri khasnya lagi, tulisan puisinya itu kayak tulisan tangan. Entah beneran atau nggak, tapi buat aku yang baca jadi merasa dekat dan seakan-akan puisinya itu emang ditujukan buat yang baca.’’

’’While she waits for things
to fall into place, she
falls into the arms of
grace. Where she is reminded
day after day, even deep in
uncertainty, she just might
be okay
’’

loading...

BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*