MANAGED BY:
KAMIS
20 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 03 Agustus 2018 13:00
Tantangan Usaha Unggas Era Bebas AGP

PROKAL.CO, Oleh: Julinda R Manullang
(Peneliti Unggas di Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Unmul)

PELARANGAN penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) atau antibiotik pakan imbuhan pada pakan ternak unggas oleh Kementerian Pertanian sejak 1 Januari 2018 merupakan kebijakan yang sejalan dengan kebijakan WHO untuk mengurangi penggunaan berlebih antibiotik pada peternakan. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan juncto Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 melarang penggunaan pakan yang dicampur hormon tertentu dan atau antibiotik imbuhan pakan. Eropa sudah melarang penggunaan antibiotik ini sejak 1 Januari 2006.

Usaha peternakan unggas antibiotik digunakan sebagai imbuhan pakan unggas untuk memacu pertumbuhan dan meningkatkan efisiensi pakan. Penggunaan antibiotik pada dosis di bawah normal diharapkan dapat mengurangi populasi mikroorganisme pengganggu (patogen) dalam saluran pencernaan ayam. Dan diharapkan ternak menjadi lebih sehat dan dapat memanfaatkan nutrisi pakan dengan baik.

Penggunaan antibiotik pada pakan ternak dikhawatirkan menimbulkan resistensi pada manusia yang mengonsumsi produk pangan dari unggas (daging dan telur). Hal ini akan sangat merugikan karena manusia yang terinfeksi bakteri yang resistensi tersebut tidak dapat lagi diobati dengan pemberian antibiotik.

Akan tetapi, pelarangan ini tidak diikuti oleh alternatif pengganti AGP sebagai imbuhan pakan yang bisa menjadi solusi untuk peternak unggas. Kondisi di lapangan saat ini, produksi unggas menurun, rentan terserang penyakit, dan konversi pakan juga meningkat. Sehingga berdampak pada penurunan pendapatan peternak unggas.

Tantangan besar bagi praktisi pangan terkait penyediaan pangan yang alami, aman, dan berkualitas. Salah satu alternatif solusinya adalah dengan mengurangi penggunaan bahan kimia dalam formulasi pakan ternak seperti AGP. Dan menggantikannya dengan bahan alami dan aman untuk ternak serta aman juga untuk konsumen pangan.

Produk alternatif saat ini bisa digunakan sebagai pengganti AGP terdiri dari enzim, probiotik, prebiotik, esensial oil, simbiotik, dan bioaktif tanaman herbal. Tantangan usaha perunggasan saat ini yang begitu kompleks terkait pelarangan penggunaan AGP pada pakan ternak unggas tentu mengilhami peneliti dari Laboratorium Nutrisi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman untuk memberikan solusi.  

Produk inovasi dari Universitas Mulawarman merupakan aditif pakan unggas yaitu Herbal Mixx daun tahongai. Produk inovasi ini dapat menggantikan peran AGP. Sudah melalui proses penelitian sejak 2014. Juga sudah terdaftar di paten DJKI Herbal Mixx.

Produk ini merupakan aditif pakan unggas yang berasal dari tanaman herbal terdiri dari daun tahongai sebagai komponen utama dan multivitamin serta mineral. Tahongai (Klienhovia hospita) merupakan tanaman lokal yang ketersediaannya sangat melimpah di Kaltim dan mengandung komponen bioaktif flavonoid, alkaloid, terpenoid, steroid, kumarin, dan saponin.

Produk ini selain sebagai antibakteri alami juga dapat menurunkan kandungan kolesterol dan lemak dari ayam broiler. Komponen bioaktif dalam daun tahongai juga dapat meningkatkan nafsu makan pada ternak serta mengandung antioksidan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh ayam broiler.

Produk aditif pakan unggas Herbal Mixx dapat meningkatkan bobot badan, memperbaiki konversi pakan, serta menekan mortalitas. Sebagai antibakteri alami dapat menekan pertumbuhan Salmonella sp dan E Coli dalam usus ayam sehingga ayam menjadi lebih sehat dan mencerna pakan lebih baik.

Penggunaan bahan alternatif pengganti AGP akan lebih efektif jika diikuti manajemen pemeliharaan unggas yang baik. Serta penerapan biosecurity yang tepat. Walaupun demikian, perbaikan mutu pakan dan perbaikan manajemen di peternakan sangat dibutuhkan untuk mendapatkan performa ayam yang baik.

Program biosecurity yang wajib dilakukan oleh peternak unggas untuk dapat meningkatkan performa adalah melakukan pengontrolan peternakan secara rutin. Artinya, setiap orang atau kendaraan yang diizinkan masuk peternakan harus didesinfeksi dulu melalui semprot desinfektan terhadap roda kendaraan.

Orang yang akan masuk peternakan juga sebaiknya didesinfeksi dulu. Bila di dalam peternakan terdapat ayam dengan berbagai variasi umur sebaiknya masuk pada peternakan unggas muda dulu.

Pencatatan (recording) pada peternakan juga sangat diperlukan untuk dapat memonitor secara berlanjut status kesehatan ternak unggas. Pembersihan kandang yang rutin juga merupakan program biosecurity yang sangat penting dilakukan peternak yang diawali persiapan serta pembersihan kandang rutin saat pemeliharaan. Misalnya tempat pakan, tempat minum, juga kotoran ternak yang dapat menimbulkan amoniak tinggi dalam kandang.

Menjaga kualitas pakan dan air minum yang diberikan pada ternak unggas juga wajib dilakukan. Artinya, pakan yang diberikan juga harus sesuai dengan jumlah dan kandungan nutrisi. Termasuk juga perlunya diperhatikan lama dan tempat penyimpanan pakan. 

Sebaiknya pemberian air minum yang diberikan bersumber dari air yang bersih dan aman serta perlunya melakukan pengontrolan dan pemeriksaan sumber air minum secara kimiawi setahun sekali. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah vaksinasi juga sangat diperlukan, lakukan vaksinasi sesuai keperluan untuk ternak unggas. Manajemen pemeliharaan yang baik yang diikuti dengan kualitas pakan serta kualitas bibit yang baik pada unggas akan menghasilkan performa yang baik pula. (***)


BACA JUGA

Senin, 17 September 2018 09:18

Buku (Bukan Lagi) Jendela Ilmu

Dahulu buku jendela dunia. Namun, perlahan-lahan sang primadona mulai hilang pamor. Era digital disebut-sebut…

Senin, 17 September 2018 09:14

Ideal Baca 6 Jam Sehari

DUA pekan lalu menjadi hari penting bagi pecinta buku. Sebab 8 September ditetapkan sebagai hari literasi…

Senin, 17 September 2018 09:06

Koleksi Perpustakaan Daerah Belum Lengkap

BERBAGAI cara dilakukan untuk berkontribusi menambah literasi dari masyarakat lokal. Sejarawan lokal…

Senin, 17 September 2018 09:04

Menanti Inovasi Tenaga Pendidik

MEMBANGUN budaya literasi memang tak mudah. Tapi harus dilakukan serius, setahap demi setahap hingga…

Senin, 17 September 2018 09:01

Cerita Unta Bawa Kitab untuk Motivasi Membaca

TIDAK ada usaha yang mengkhianati hasil. Itulah yang menggambarkan sosok Rudini. Pria kelahiran Lampung,…

Senin, 17 September 2018 08:59

Menyentuh Angkasa dengan Buku

Oleh: Raden Roro Mira(Wartawan Kaltim Post (Juara 3 Duta Baca Kaltim 2018–2020) BENDA apa yang…

Jumat, 14 September 2018 08:48

Bergantung Anggaran yang Tak Tentu

PARIWISATA Samarinda kalah banyak dan kalah tenar ketimbang pertumbuhan perhotelan atau hiburan lainnya.…

Jumat, 14 September 2018 08:46

Pandangan Geologi dalam Potensi Wisata Alam Samarinda

OLEH: FAJAR ALAM(Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Timur) BUMI, sebagaimana…

Senin, 10 September 2018 09:02

Menggoyang Pemerintah dari Kantin Rektorat

Catatan: Faroq Zamzami (*) DI kampus, kantin tak sebatas menjadi destinasi isi perut. Bercanda. Bercengkerama…

Senin, 03 September 2018 09:04

Ditanya Penataan Sungai Karang Mumus, Ini Jawaban Sekkot Samarinda

BERBAGAI tudingan ketidaksiapan Pemkot Samarinda terhadap penanggulangan banjir mendapat tanggapan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .