MANAGED BY:
JUMAT
17 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 28 Juli 2018 06:54
Sepuluh Tahun Memimpin dengan Segudang Prestasi

Peraih Penghargaan Internasional Itu Berpulang dengan Penuh Harapan

SELAMAT JALAN: Jenazah Abdul Waris Husain dilepaskan di Balai Kota Samarinda. Selanjutnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Samarinda kemarin.

PROKAL.CO, Kota Tepian berduka. Abdul Waris Husain berpulang. Wali kota Samarinda ke-6 itu meninggalkan kenangan dan deretan prestasi. Satu di antaranya, Aga Khan Award for Architecture yang melambungkan kawasan Citra Niaga ke pelupuk mata dunia.

Kamis (26/7) malam, Abdul Waris Husain dirawat di ruang khusus RSUD AW Sjahranie. Hemoglobinnya rendah. Keluarga dan kerabat tak putus mendoakannya. Juga pasrah. Menyerahkan sepenuhnya kepada Yang Kuasa. Tepat pukul 23.19 Wita, pria yang memimpin Kota Tepian pada periode 1985-1995 itu berpulang.

“Saat beliau dirawat di rumah sakit, dan kebetulan saat itu masih bisa diskusi santai,” ucap Sekkot Samarinda Sugeng Chairuddin dengan mata berkaca-kaca.

Bagi Sugeng, pendahulunya yang lahir di Muara Badak, Kukar, 10 Juni 1944, itu adalah panutan. Citra Niaga, salah satu kawasan pusat perdagangan rakyat, yang kini semakin jarang pengunjungnya, masih mendapat perhatian dari Waris. Sugeng ingat, Waris berpesan agar kawasan itu dihidupkan kembali. Selama ini dianggap mati suri.

“Itu amanah, dan insyaallah dijalankan,” singkat Sugeng. Kemarin, Sugeng mewakili Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang datang ke prosesi pemakaman Waris. Sugeng menilai, Waris adalah salah satu putra terbaik yang dimiliki Kaltim.

Jenazah Waris disemayamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Samarinda, selepas salat Jumat kemarin. Pukul 10.50 Wita, iring-iringan almarhum tiba di Balai Kota Samarinda. Pelepasan dipimpin Sugeng.

Nardhawati, istri yang menemani Waris hingga tutup usia, tak bisa menyembunyikan duka. Di pelataran balai kota, dia dan keluarga serta anak-anaknya hanya bisa terduduk. Sesekali, tangannya mengusap air mata yang menetes lewat celah-celah kacamata cokelat yang dipakai. Perempuan kelahiran Mamuju, 24 April 1952, itu juga tak canggung menyalami warga yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Alumnus Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, itu bakal jadi nama jalan. “Nanti segera dirapatkan untuk membahas nama jalan almarhum,” ujar Sugeng.

Ditemui selepas pemakaman pukul 14.30 Wita, Nardhawati sembari berjalan menuju parkir TMP Samarinda, bicara dengan nada pelan. Waris, sudah cukup lama sakit. “HB (hemoglobin) almarhum itu rendah,” sebutnya.

Sejak September 2017, Waris sudah sakit-sakitan. Bahkan, empat bulan almarhum berobat di Makassar hingga Malaysia. Nardhawati lah yang selalu mendampingi. “Almarhum itu orangnya sangat perhatian dan penyayang. Itu yang saya ingat betul,” ujarnya.

Yang paling berkesan, dan masih melekat dalam ingatan, ketika menemani sang suami menerima penghargaan Aga Khan Award for Architecture (AGAA). “Ya, ingat sekali itu tahun 1989, saat mendampingi almarhum. Itu juga yang buat beliau bangga memimpin Samarinda,” imbuhnya.

Memori lain, Nardhawati dan Waris semasa hidup cukup sering berdiskusi. Mulai membahas nostalgia, hingga Samarinda masa kini. “Sering sekali, membahas perkembangan kota kita tercinta ini (Samarinda),” tambahnya. Namun, perempuan 66 tahun itu tak bisa menutupi kesedihan ketika mengingat memori berdiskusi yang membahas soal keluarga.

Bicara pemerintahan Kota Tepian saat ini, khususnya kawasan Citra Niaga, Nardhawati berharap pesan yang disampaikan untuk bisa kembali meramaikan kawasan tersebut. “Itu ikon, dan diakui dunia. Ayo, sama-sama menghidupkan,” tutupnya.

Semasa hidup, Waris pernah mendapatkan penghargaan lain selain AGAA. Mulai Medali perjuangan nasional angkatan 45, Bintang legiun veteran RI, serta yang lainnya.

Kesuksesan Abdul Waris Husain, selama menjabat wali kota Samarinda dua periode, memang diakui banyak pihak. Kompleks pertokoan Citra Niaga yang berdiri di atas tanah seluas 27.922 meter persegi sukses memikat dunia berkat sentuhan tangan dinginnya. Kawasan itu menjadi pusat belanja untuk barang dagangan yang berbeda-beda selama beberapa tahun. Mulai pakaian, kerajinan dan cendera mata, makanan dan minuman, perangkat elektronik, sampai usaha kecantikan.

Pusat bisnis itu tidak dipenuhi petak, kios, dan ruko saja. Selain tempat-tempat usaha, kawasan juga dibangun dengan penuh idealisme dan semangat kearifan lokal. Di kawasan ini dibangun sebuah menara burung enggang, simbol budaya etnis Dayak.

Kemudian dibangun juga Joglo dengan gaya arsitektur Jawa. Dibuat untuk panggung pertunjukan dan tarian-tarian tradisional. Juga bisa dipakai sebagai tempat pertemuan pengelola Citra Niaga dan para pedagang serta pemilik usaha.

Pengamat Perkotaan Universitas Mulawarman (Unmul) Warsilan mengatakan, Citra Niaga adalah salah satu warisan berharga almarhum Waris Husain yang patut dibanggakan. Citra Niaga dulu sukses menyatukan kepentingan banyak pihak. Mulai pedagang kaki lima, sektor swasta, dan pemerintah, dalam sebuah kemitraan publik-swasta-masyarakat, terutama demi berbagi tanggung jawab sosial.

“Tugas pemimpin saat ini untuk mengembalikan kejayaan Citra Niaga,” ucap Warsilan.

Dikatakan dia, tantangan pemerintah untuk kembali serius mengelola Citra Niaga ke depan semakin berat. Perubahan sosial terjadi begitu pesat. Preferensi masyarakat untuk belanja dan mencari hiburan sudah berubah karena efek globalisasi. Apabila tidak punya ciri berbeda, sulit bagi Citra Niaga sukses seperti Samarinda dipimpin Waris Husain.

Citra Niaga, tambah dia, harus punya ciri khas. Kearifan lokal di kawasan itu mesti benar-benar ditonjolkan sebagai nilai tambah. Pun ada sentuhan modern, harus ada ciri khas yang dipertahankan. Punya perbedaan dari kawasan belanja lain di Kota Tepian yang sudah dipenuhi mal dan pasar modern.

“Pendekatan almarhum selama memimpin memang beda. Beliau cakap dalam melakukan pendekatan sosial ke masyarakat,” tuturnya.

Cara memimpin almarhum Waris Husain, lanjut dia, juga yang membuat dirinya sukses membersihkan Tepian Sungai Mahakam dari kekumuhan rumah warga. Relokasi berjalan dengan lancar karena pemkot telah menyiapkan kompensasi berupa sebidang tanah dan rumah siap huni bagi warga yang terkena relokasi ke kawasan yang sekarang dikenal dengan perumahan Karpotek Sungai Kunjang.

“Ya, memang permasalahan dulu dan sekarang berbeda. Dulu tidak sekompleks masalah sekarang. Tapi, kita tetap harus akui keberanian hatinya dalam memikirkan rakyat. Berani menerobos pola-pola baru yang cepat tanpa bertele-tele,” pungkasnya. (*/dra/him/dwi/k11)


BACA JUGA

Selasa, 14 Agustus 2018 09:03

Anggrek, si Eksotis yang Terus Terkikis

Anggrek menjadi salah satu tumbuhan favorit pencinta tanaman hias. Namun, tingginya minat itu berisiko…

Sabtu, 11 Agustus 2018 02:02

Persaingan Ketat, Timnas Bakal Jadi Kuda Hitam

Kejuaraan Daerah (Kejurda) 2015 di Stadion Utama Palaran, Samarinda menjadi momen debutnya di bola tangan.…

Sabtu, 11 Agustus 2018 00:04

Berkontribusi untuk Ibu-Ibu Puskesmas hingga Astronaut

Bagi para awam, mungkin sulit membayangkan miliaran bakteri bisa terkandung dalam botol minuman bervolume…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .