MANAGED BY:
SENIN
10 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 27 Juli 2018 08:27
Durhaka kepada Anak

PROKAL.CO,  

CATATAN: BAMBANG ISWANTO (*)

HARI Anak Internasional ditetapkan tiap 1 Juni. Tapi tak semua negara merayakannya pada hari itu. Indonesia, misalnya. Ada Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli. Meski berbeda-beda, tujuan diperingati hari anak punya napas yang sama; meningkatkan kepedulian masyarakat dan menghormati hak-hak anak.

 Penghormatan terhadap hak-hak anak menjadi semakin relevan ketika marak kasus pelanggaran terhadap mereka. Yakni, tren kekerasan anak yang terus meningkat. Baik berupa kekerasan fisik maupun psikis dan verbal. Hampir setiap hari terjadi penganiayaan terhadap anak-anak, bullying, cemoohan, dan kata-kata kasar yang diterima oleh anak. Anak seharusnya mendapat perlakuan ramah dari siapa pun. Tidak boleh ada kekerasan menimpa mereka. Selain itu, mereka harus mendapatkan hak-hak lainnya seperti pendidikan dan kehidupan yang layak.

 Harus disadari bahwa anak adalah investasi masa depan sebuah negara. Dari generasi merekalah masa depan sebuah bangsa dan negara bergantung. Perlakuan yang baik terhadap anak-anak akan menghasilkan generasi penerus yang baik, dan sebaliknya, salah dalam memperlakukan serta mengabaikan hak-hak mereka, akan menuai hasil generasi yang buruk.

BELAJAR DARI PUISI

 Berbicara mengenai perlakuan terhadap anak, saya selalu terhubung dengan puisi indah yang ditulis oleh seorang pendidik bernama Dorothy Law Nolte. Dia orang Amerika. Judul puisinya Children Learn What They Live yang terjemahnya “Anak-Anak Belajar dari Kehidupannya”. Puisi ini pertama kali dipublikasikan di koran pada 1954 dan terus masyhur karena isinya yang sangat menyentuh. Saking masyhurnya, puisi ini sudah dua kali direvisi kemudian dibuat menjadi sebuah buku yang terdiri dari 19 bab, sesuai jumlah baris dalam puisi. Sembilan belas baris puisi ini berbicara tentang hubungan sebab akibat memperlakukan anak. Mengajar dan mendidik anak dan membiasakan hal yang baik terhadap mereka menyebabkan mereka menjadi baik. Terbalik dari itu, perlakuan yang tidak baik, memberi contoh buruk akan menyebabkan mereka menjadi pribadi yang buruk. Semua bergantung yang mereka saksikan dan lihat dari orang-orang di sekitar mereka.              

 Dalam sekali makna puisi yang ditulisnya sesuai dengan bagaimana lingkungan membentuk karakter anak. Lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat semua memiliki andil dalam menjadikan baik dan buruknya sifat dan pribadi anak-anak. Berikut beberapa bait puisi dari Dorothy yang bisa kita renungkan bersama:

 Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Puisi ini sebenarnya tidak menggunakan bahasa yang susah dimengerti dan perlu tafsiran kata yang menjelimet seperti puisi sastra tinggi. Nilai tinggi puisi ini terletak pada kedalaman makna dan menyentuh pada persoalan tentang keseharian kita dalam memperlakukan anak-anak. Penulisnya jujur dengan realita, memaparkan apa yang diindra oleh anak dari lingkungannya menjadi buah hasil yang dipetiknya.

Ada sebagian orang memperlakukan dan mengakrabkan anak-anak dengan celaan, permusuhan, cemoohan, penghinaan maka jangan salahkan akan menjadikan anak yang pendendam, penuh kebencian, rendah diri, dan sifat negatif lainnya. Ada pula sebagian kita yang mengakrabkan mereka dengan toleransi, motivasi, persahabatan, dan perbuatan serta sikap positif lain yang menjadi kebiasaan mereka, maka akan membentuk pribadi yang memiliki sifat-sifat dan sikap positif. Seperti toleran, percaya diri, bersahabat, humanis, dan lainnya.

ORANGTUA DURHAKA

Hal lain yang saya ingat tentang perlakuan terhadap anak adalah riwayat tentang Khalifah Umar bin Khattab. Saat mendapat aduan dari warganya. Cerita tentang sahabat rasul ini dimuat dalam Kitab Tanbihul Ghafilin karya Abu Laits As-Samarqandi, sebagai peringatan bagi orangtua yang mengabaikan hak anak. Anak dalam riwayat ini sebenarnya bukan gambaran tentang definisi anak yang berusia masih belia. Anak yang dimaksud dalam cerita ini adalah lebih kepada hubungan darah antara anak dan orangtua. Anak dalam kisah hikmah ini adalah anak yang sudah dewasa yang diadukan oleh orangtuanya, kepada Umar. Namun, cerita ini bermula dari sejarah panjang yang dirunut dari masa kanak-kanak anak tersebut.

Si anak diadukan oleh orangtuanya ke Umar karena telah durhaka kepadanya. Dalam versi orangtuanya, anak tersebut dianggap sebagai anak yang membangkang, tidak menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai anak terhadap orangtuanya yang merupakan hak dari orangtua. Atas aduan ini, Umar tidak langsung memvonis anak, tetapi memberikan hak jawab kepada anak yang diadukan untuk dihukum. Jawabannya justru mengejutkan Umar. Si anak menggugat balik orangtuanya. Dia minta keadilan tentang hak-hak yang tidak diberikan orangtuanya. Anak itu mempertanyakan kepada Umar, ”Bukankah anak memiliki hak dari orangtuanya?”. Umar mengiakan pertanyaan anak tersebut dengan menjelaskan bahwa hak anak dari orangtua di antaranya memilihkan nama yang baik dan mengajarkan Alquran.

Si anak bahkan bersumpah bahwa orangtuanya memberi nama yang sangat jelek yaitu Ju’al yang artinya kumbang yang sering hinggap di kotoran hewan. Bisa juga diterjemahkan sebagai orang jelek yang bermuka hitam atau orang yang temperamen. Hak lain yang tidak dia dapatkan adalah tidak mendapatkan pengajaran Alquran. Umar tidak jadi menghukum anak tersebut bahkan memutuskan bahwa yang bersalah adalah orangtua si anak.

Belajar dari kasus Umar dan pengaduan orangtua dalam cerita di atas, pelaku kedurhakaan sebenarnya tidak melulu melekat pada anak. Memang benar, agama memberi petunjuk bahwa anak yang durhaka kepada orangtua bagian dari dosa yang sangat besar, yang akan mendatangkan murka Allah. Tapi tidak lantas menjadikan orangtua lalai dengan selalu menuntut kewajiban anak untuk taat kepada mereka. Namun, mengabaikan hak-hak mereka yang juga diwajibkan agama untuk dipenuhi oleh orangtua.

Maka tidak salah, Umar sangat marah dan memberi label kepada orangtua yang lalai memberikan hak-hak anak sebagai orang yang durhaka kepada anak.

NILAI AGAMA

Salah satu poin penting dari hikmah yang bisa dipetik dari cerita Umar di atas ialah anak berhak untuk mendapatkan pengajaran Alquran yang merupakan sumber ajaran agama. Nilai-nilai luhur agama akan mereka terima melalui jalur pendidikan agama yang baik. Inilah salah satu tugas dan kewajiban terpenting orangtua yaitu memberikan bekal ilmu agama sebagai fondasi ilmu-ilmu lain yang diterima anak.

Ilmu lain bukan tidak penting, tetapi jika harus memilih, ilmu agama menjadi prioritas dari ilmu lain. Ketika ilmu agama sudah menjadi dasar dari ilmu-ilmu lain, maka menjadi keniscayaan ilmu-ilmu tersebut akan bermanfaat. Orang dan ilmunya semua bermanfaat. Ilmu kimia yang dikuasai oleh orang tidak memiliki ilmu agama yang baik bisa dijadikan membuat racun. Beda dengan orang yang memiliki ilmu agama, ilmu kimia dipergunakan untuk kemaslahatan menciptakan obat.

Nuklir di tangan orang yang memiliki ilmu agama baik akan lahir energi buatan yang bermanfaat, sebaliknya di tangan yang menyalahi agama, nuklir dijadikan senjata yang dapat memusnahkan peradaban. Mari tanamkan ilmu agama kepada anak-anak kita sebelum ilmu lainnya, niscaya kita akan memanen hasil yang membahagiakan dari tanaman tersebut. Jadikan Hari Anak Nasional ini momentum untuk lebih memperhatikan hak-hak anak, menjadikan kita sadar atau semakin sadar bahwa anak adalah titipan Tuhan yang harus dipelihara, dirawat, diberikan hak-hak mereka. (far/k8)

(*) Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda


BACA JUGA

Senin, 10 Desember 2018 09:14

WOW..!! Gubernur Bertemu Dubes Rusia, Proyek Kereta Api Dilanjutkan

DENPASAR- Sempat vakum selama dua tahun, proyek kereta api di…

Senin, 10 Desember 2018 07:34

Air Mata Naga

JAKARTA – Ruang ganti Mitra Kukar mendadak hening. Semua penggawanya…

Minggu, 09 Desember 2018 23:25

Naga Akhirnya Turun Kasta, Ini Kata Pelatih RD

Perjuangan itu akhinya kandas. Ya Mitra Kukar secara resmi dipastikan…

Minggu, 09 Desember 2018 23:19

Kenapa Prabowo-Sandi Pindahkan Markas ke Jawa Tengah?

Keputusan Tim Prabowo-Sandiaga memindahkan markas perjuangannya ke Jawa Tengah, banyak…

Minggu, 09 Desember 2018 08:17

“Kakak Saya Lari, lalu Ditembak Mati”

BALIKPAPAN - Petrus Tandi sibuk dengan telepon genggamnya. Beberapa kali…

Sabtu, 08 Desember 2018 19:38

Jenazah Samuel Korban KKB Papua Tiba, Warga Menyambut dengan Duka

TENGGARONG  - Jenazah korban Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di lokasi…

Sabtu, 08 Desember 2018 10:42

Intensitas Hujan di Kaltara Masih Normal

TANJUNG SELOR–Intensitas hujan di Kabupaten Bulungan terus meningkat. Namun, menurut…

Sabtu, 08 Desember 2018 07:11

Mengantre hingga Akhir Tahun

BALIKPAPAN  –  Untuk menjawab keresahan masyarakat Balikpapan yang gerah dengan…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:10

MANTAP WAL..!! Citilink Mulai Mengudara di APT Pranoto

SAMARINDA  -   Pilihan maskapai masyarakat Samarinda yang akan pergi…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:06

Program Direct Call, Minta Utamakan Kapal Lokal

SAMARINDA  -  Program direct call atau ekspor-impor langsung dari Kaltim…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .