MANAGED BY:
KAMIS
23 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PICTURE NEWS

Rabu, 25 Juli 2018 07:04
Ditarget Beroperasi Tahun Depan

Kaltim Bangun Pabrik Pakan Ternak Berbahan Jagung

PRODUKSI MELIMPAH: Pemerintah berencana mengolah jagung menjadi pakan ternak supaya harga ayam dan telur tidak naik ketika rupiah melemah.(dok/kp)

PROKAL.CO, SAMARINDA - Pemprov Kaltim berencana memanfaatkan jagung sebagai substitusi pakan ternak. Sebagai antisipasi naiknya harga pakan seiring melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Diketahui, saat ini bahan paku pakan masih impor sehingga pelemahan rupiah turut memengaruhi harga. Yang berimbas kepada kenaikan daging ayam dan telur.

Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim Ibrahim mengatakan, target pembangunan pabrik makanan ternak sudah ditetapkan setelah melihat produksi hasil pangan di Kaltim lebih tinggi dibandingkan kebutuhan konsumsi dan telah dipasarkan ke luar daerah.

Produksi jagung pada 2016 mencapai 22,13 ton, lalu meningkat 60,89 persen atau 34,45 ton pada 2017 menjadi 56,58 ton. “Saat ini, memang pakan ternak di Kaltim masih impor karena belum punya pabrik sendiri. Namun, karena kita punya jagung yang melimpah, kita bisa membangun pabrik dan akan beroperasi tahun depan,” katanya kepada Kaltim Post, Selasa (24/7).

Dia mengungkapkan, Berau merupakan lumbung jagung atau penghasil jagung terbesar di Bumi Etam dengan kontribusi mencapai 63 persen. Berau mendapat alokasi pengembangan lahan jagung sebesar 5.500 hektare pada 2017 dari total luas saat ini lahan tanaman jagung di Kaltim seluas 23 ribu hektare.

“Tahun ini, Berau mendapatkan lagi alokasi lahan 10 ribu hektare dari total seluruh lahan jagung di Kaltim mencapai 25 ribu hektare,” tuturnya.

Dia menjelaskan, jika sesuai target tahun depan pabrik tersebut akan rampung dan dapat beroperasi. Sehingga, Kaltim punya pabrik untuk mengolah jagung menjadi pakan ternak. Melimpahnya produksi jagung di Berau, menjadi peluang yang bisa diandalkan petani melalui pengembangan hasil pertanian berbasis industri.

“Ini juga sebagai upaya mendorong kesejahteraan petani. Melalui pemanfaatan hasil jagung, Bumi Etam juga sekaligus bisa mandiri industri pakan ternak yang selama ini masih impor,” tuturnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan, Koperasi (Disperindagkop) dan UMKM Kaltim Fuad Asaddin mengatakan, selama ini turunnya nilai rupiah terhadap dolar memberi tekanan terhadap melesatnya harga telur dan daging ayam. “Pelemahan rupiah menyebabkan pembelian terhadap 80 persen komponen pakan ternak yang masih impor menjadi mahal,” katanya.

Dia menjelaskan, selain harga pangan yang mahal, pelarangan penggunaan antibiotic growth (ABG) bagi peternak, menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan ayam menjadi lambat. Harga indukan dan day old chick (DOC) atau istilah untuk anak ayam yang berumur satu hari juga mengalami kenaikan.

“DOC per ekor meningkat dari Rp 6.155 menjadi Rp 6.655. Jadi, selain pakan, indukan dan harga DOC juga meningkat. Hal itu yang menjadi pemicu terjadinya kenaikan harga daging ayam,” ungkapnya.

Dia mengatakan, jika pakan ternak tidak impor lagi maka akan mengurangi biaya logistik pakan. Hal itu tentunya membuat dolar tidak terlalu memengaruhi harga pakan dalam negeri. (*/nan/*/ctr/ndu2/k15) 


BACA JUGA

Selasa, 21 Mei 2019 10:44

Genangan Terlama di Samarinda



Minggu, 19 Mei 2019 10:54

Ramadan, Perbanyaklah Ibadah



Jumat, 17 Mei 2019 10:43

Pasien Dirawat di Atas Air


Rabu, 15 Mei 2019 11:56

GANTI TIANG, LISTRIK PADAM BERGILIRAN

  Petugas PLN Samarinda mengganti tiang listrik di Jalan Pramuka,…


Senin, 13 Mei 2019 11:51

Kapan Mulusnya Ya Jalan Ini....


Senin, 13 Mei 2019 11:46

Putus, Bikinlah Jalan Alternatif


Minggu, 12 Mei 2019 11:14

ABAIKAN RAMBU LALU LINTAS

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*