MANAGED BY:
SABTU
16 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

CELOTEH

Kamis, 19 Juli 2018 12:25
Penulis Penanda Zaman

Ayu Emiliandini

IDEALIS: Ayu sepenuh hati terus berkarya sebagai bentuk dedikasi diri kepada kota kelahiran tercinta.

PROKAL.CO, HOBI membaca novel fiksi adalah awal perjalanan Ayu Emiliandini senang menulis cerpen. Saat itu dia masih SMP, cerpen pertamanya terbit di buletin sekolah. Perempuan asal Balikpapan tersebut terus menggali kemampuannya dalam menulis. Hingga saat ini, dia berhasil membuat karya berbentuk kumpulan cerpen dan novel berjudul Deadly Storm Lighting Thunder dan In Plaza. Selain itu, ada dua buku antalogi, karya gabungan penulis di Balikpapan lainnya, yaitu Saloma dan Orang-Orang Balikpapan, serta Jingga di Pesisir.

Ayu pun bercerita singkat tentang proses perjalanannya ketika memutuskan terjun ke dunia kepenulisan. “Cerpen pertama saya di sekolah sempat heboh, karena bercerita tentang siswa yang menyontek pas ujian. Segala trik menyontek saya tulis. Walaupun banyak teman yang kesal, tapi ada sisi yang bikin saya senang. Kalau emosinya sampai terbawa, berarti tulisan punya pengaruh terhadap emosi para pembaca,” ucap dia saat diwawancarai pada Selasa (17/7)

Dari situ, Ayu pun semakin semangat menulis fiksi lebih baik lagi. Saat SMA, Ayu sempat memutuskan berhenti menulis karena minatnya terhadap fotografi. Namun, pada awal 2012, saat kuliah Ayu kembali konsisten menulis fiksi untuk di-publish.

"Tidak sengaja juga nimbrung di lingkup para blogger. Akhirnya bikin cerpen dan ikutan kompetisi blog. Ternyata saya menang. Di beberapa kesempatan lainnya juga pernah menang. Jadi, ketagihan menulis lagi deh,” ungkap perempuan 26 tahun tersebut.

Seiring perjalanan waktu, Ayu pun menyadari, jika menulis sudah menjadi kebutuhan hidupnya. Setiap ada waktu luang, hal pertama yang dipilih adalah menulis. Jika sedang berada di zona writers block, maka hangout atau bertemu teman lama membantunya menghilangkan kejenuhan dalam menulis.

“Saya harus menulis karena memang pemikir. Kalau semuanya disimpan di dalam kepala, bisa frustrasi. Jadi, begitu ide sudah datang, langsung secepatnya saya pulang, buka laptop, dan lanjut menulis,” ujarnya.

Meskipun menulis adalah hobi, tapi ada kalanya Ayu menghadapi kesulitan. Dan rintangan terberat yang kerap dihadapi Ayu adalah deadline. “Contohnya saat menulis naskah novel, In Plaza. Sebenarnya tulisan sudah selesai sedari 2016. Tapi, akhir 2017 baru bisa apply ke publisher. Lalu, sebulan kemudian, dapat kabar dari penerbitnya, kalau naskah tersebut perlu ditulis ulang atau rombak total. Walaupun saya sudah terbiasa menulis cerpen, tapi untuk membuat novel ternyata masih banyak yang perlu saya pelajari,” jelas dia.

Saat itu, Ayu hanya punya waktu dua bulan untuk menulis ulang naskah. Belum lagi dia juga harus menyelesaikan cerpen untuk proyek buku, Jingga di Pesisir, yang punya jadwal launching bersamaan dengan In Plaza.

"Saat itu, pastinya stres ya. Tidak bisa tidur karena weekdays harus kerja mulai pukul tujuh pagi sampai setengah enam sore. Naik speedboat pulang-pergi kerja setiap hari. Plus, membawa tugas naskah ke kantor,” lanjutnya.

Tapi syukurnya, naskah In Plaza justru rampung dalam waktu satu setengah bulan dengan jalan cerita 100 persen beda dari sebelumnya, di mana konfliknya jauh lebih padat. “Proses tidak pernah mengkhianati hasil. Segala observasi dan wawancara saya lakukan untuk memperkaya naskah,” tutur Ayu yang saat ini tengah menyiapkan naskah novel ketiganya.

Tidak sedikit mata masyarakat menganggap profesi seorang penulis tidak sekeren pengusaha, pimpinan perusahaan, atau profesi lain yang mendatangkan uang banyak. “Tapi, penulis punya peranan besar di kehidupan, yaitu penanda zaman. Dari mana orang bisa meneliti sebuah peradaban masyarakat, kalau bukan dari jejak yang ditinggalkan. Salah satunya ya dari buku,” tegas dia.

Agar konsisten dalam menulis, Ayu perlu menentukan alasan di balik minatnya tersebut.  “Seberapa mendesaknya alasan itu, atau seberapa besar risikonya yang akan dialami kalau tidak menulis. Nanti, alasan itulah yang membentuk rasa butuh, sehingga makin lama, malah tak bisa lepas dari menulis. Dengan sendirinya menulis jadi rutinitas dan konsistensi akan mengikuti," tutup Ayu. (*/ewy/*/ni/k9)


BACA JUGA

Sabtu, 16 Februari 2019 12:40

Mau Kulit Putih Mulus Seperti Orang Korea?

Kulit putih bersih seperti orang Korea merupakan dambaan banyak perempuan.…

Minggu, 10 Februari 2019 13:04

Sukses Berbisnis sejak 1985

Membangun usaha memang tidak mudah. Namun yang paling sulit adalah…

Minggu, 10 Februari 2019 13:03

Karyawan Jujur Aset Berharga

SELAIN pada perayaan tertentu, kue selalu menjadi makanan favorit kala…

Minggu, 10 Februari 2019 10:14

Begini Cara Bijak Hadapi Anak dan Gadget

Teknologi memang telah menguasai dunia beberapa tahun belakangan ini. Tak…

Minggu, 10 Februari 2019 10:12

Kerap Melarang Anak Itu Tidak Baik...??

Kerap melarang anak ternyata tidak baik bagi tumbuh dan kembang…

Kamis, 07 Februari 2019 11:16

Ini Khasiat Minum Lemon Jahe

Secangkir teh herbal bisa menjadi detoks bagi tubuh untuk mengeluarkan…

Rabu, 06 Februari 2019 11:42

Ini Manfaat Konsumsi Bayam Merah untuk Kecantikan

Bayam merah telah dikenal sebagai sayuran yang bergizi dan memiliki…

Minggu, 03 Februari 2019 11:24

Tetap Bugar meski Beranak Lima

PERNAH sakit membuat orang melek soal kesehatan. Asal makan, ternyata…

Minggu, 03 Februari 2019 11:23

Ajarkan Anak Hidup Sehat

MENINGGALKAN kebiasaan lama cukup sulit. Dulu terbiasa mengonsumsi makanan manis…

Minggu, 27 Januari 2019 11:10

Bakar Lemak dengan Aktif Menari

BERBAGAI cara mendapatkan berat badan ideal ditempuh, mulai joging, fitness,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*