MANAGED BY:
JUMAT
19 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Rabu, 18 Juli 2018 08:12
Sejarah Makan Siang

PROKAL.CO, CATATAN: FAROQ ZAMZAMI (*)

 

DI Jepang, makan siang di sekolah saja ada sejarahnya. Panjang pula. Berbalur filosofi lagi. Tak ketinggalan sentuhan seni. Ada bait puisi. Yang kalimatnya tertata rapi. Seserius itu dalam memanifestasikan memasukkan makanan ke dalam perut. Awam kita, kalau mau makan, ya makan saja. Bahkan ada lagu, makan enggak makan, asal ngumpul.

Bagaimana seni membalur dalam historiografi makan siang? Itu tergambar dalam puisi Strong in the Rain–nya Kenji Miyazawa. "Segenggam beras merah, beberapa miso, dan beberapa sayuran untuk mencukupi hari ini." Kenji Miyazawa penyair Jepang yang kesohor. Bukti sederhananya ini; masukkan namanya dalam kolom pencarian di Google, langsung keluar siapa dia. Lengkap dengan fotonya yang masih hitam putih. Tertulis, dia seniman yang lahir pada 27 Agustus 1896 dan meninggal 21 September 1933. Penyair Jepang dan penulis sastra anak-anak ini juga dikenal sebagai guru ilmu pertanian, seorang vegetarian, pemain cello, penganut Buddha yang taat, dan aktivis sosial utopis. "Seribet" itu untuk makan siang. Sampai melibatkan penyair.

Orang Jepang memang selalu serius. Dalam banyak hal. Bahkan yang remeh-temeh. Mereka akan mengerjakannya sepenuh hati. Satu contoh serius dalam hal yang “receh” itu, saya pernah lewat di depan salah satu kantor. Di kawasan Ginza, Tokyo, Ramadan lalu. Di depan bangunan itu ada gantungan khusus untuk menaruh payung. Gantungannya saja mungkin biasa. Luar biasanya ini. Di tiap gantungan payung itu, ada gembok bernomor seri. Untuk keamanan. Enggak kepikiran ‘kan? Penitipan payung saja sampai segitunya. Jadi, pemilik payung yang berkantor di gedung itu tinggal menaruh peralatan tersebut di gembok miliknya. Putar-putar angka sandi di gembok, tinggal. Perangkat begitu pun tak hanya di satu kantor itu.

Ada "receh" lainnya. Tiap kita masuk gedung, setelah menggunakan payung yang basah, disiapkan peralatan khusus untuk membungkus payung. Alatnya setinggi pinggang. Diameternya sekira 20 sentimeter. Dari atas payung dimasukkan ke bagian tengah alat yang berlubang. Lantas tarik ke depan. Secara otomatis terbungkus. Plastiknya mirip pembungkus belanjaan yang akan ditimbang di Hypermart. Atau, kalau pernah masuk Masjid Nabawi di Madinah, seperti plastik untuk membungkus sandal atau sepatu yang dijaga anak-anak. Kalau kita, payung basah, tinggal diputar-putar saja untuk mengeringkannya, sebelum masuk rumah. Atau dikibas-kibas, sudah. Atau kalau tak mau ribet, payung yang masih terbuka, taruh saja di depan rumah. Nanti kering sendiri.  

Kembali ke soal makanan yang berbalur sejarah itu. Di negeri ini ada istilah shokuiku. Bahasa Indonesianya pendidikan makanan. Pendidikan makan ini mencakup menu, kandungan makanan, dan jenisnya. Yang diajarkan sejak di sekolah-sekolah dasar di Negeri Matahari Terbit itu.

Shokuiku ini juga ada hukum dasarnya. Dikaji oleh para profesor. Tahan napas Anda kalau sampai di sini sudah merasa njelimetnya menjelentrehkan makan siang. Saat di Jepang kala itu, saya mengikuti seminar tentang makanan dan nutrisi. Digelar Yakult. Mendatangkan profesor perempuan. Berambut sebahu. Naomi Iwaba, namanya.

Dia menjelaskan tentang shokuiku. Hukum dasar istilah ini mempromosikan kesehatan fisik dan mental. Membangun rasa syukur untuk makanan, dan pemahaman bahwa itu ialah suatu hal yang penting. Jadi, tak sekadar kenyang. Profesor Naomi mengkaji tentang makan siang, nutrisi, kandungan dalam makanan, hingga soal kesehatan.

Dalam literatur yang dibawakannya, makan siang di sekolah tak sekadar mengenyangkan perut. Lebih dari itu. Makan siang di sekolah adalah bagian dari pendidikan. Bahkan, ada diktatnya. Guru di tiap sekolah sampai membuat daftar menu. Makanan apa saja yang diberikan kepada anak didiknya. Apa kandungan nutrisi dan vitamin di dalamnya. Dari mana bahan-bahannya. Harus yang organik, tak banyak tersentuh zat kimia. Harus dari petani lokal. Harus mengutamakan bahan lokal.

Makan siang juga ada panduannya. Harus memperhatikan pentingnya diet. Harus bisa memberi pengaruh tak hanya kepada kesehatan tubuh, tapi juga pikiran. Harus bisa mengajarkan kepada anak-anak, untuk cerdas dalam memilih makanan. Dan harus yang lainnya, sebagai sarana edukasi kepada anak-anak untuk belajar bersyukur. Jadi, jangan heran, nyaris tak ada yang tersisa dari makan siang anak-anak di sekolah. Itu sempat saya lihat saat mengunjungi sekolah terpadu, SD-SMP Shibuya. Sekolah yang punya dua nutrisionis.

Betapa panjangnya sejarah makan siang di sekolah, lihat kronologi ini. Makan siang di sekolah sudah dikenal sejak 1889. Dimulai di Prefektur Yamagata. Makan siang yang diperkenalkan sejak tahun enggak enak itu adalah nasi, salmon asin, dan acar. Makan siang berkembang, dan mengalami perubahan. Pada 1927, menunya berubah; nasi putih, makarel, sup miso dengan sayuran. Kembali mengalami perkembangan dengan adanya tambahan susu skim (tanpa lemak) pada 1945. Ini sejarah makan siang, bukan sejarah perang dunia lho. Hehehe...

Karena "sekhusyuk" itu dalam menata menu dan makanan, tak heran, makanan khas atau olahan Jepang jadi favorit orang asing. Dan tak heran, jika Anda ke Jepang, menggunakan fasilitas transportasi umum, berjalan di pusat-pusat keramaian, bakal sulit menemukan pria yang berbadan gemuk. Atau berperut buncit. Percayalah, itu yang saya perhatikan saat di Jepang selama satu minggu. Betapa sulitnya melihat ada pria buncit yang naik kereta bawah tanah.

TAK TAHAN NAFSU        

Kesehatan berpelukan erat dengan kebersihan. Jadi tak heran, dua hal ini jadi poin penting yang bakal Anda kagumi di Jepang. Soal kebersihan, sebenarnya saya tak ingin mengulasnya di sini. Tapi saya tak bisa menahan nafsu untuk menulisnya. Nafsu yang semakin tak bisa terbendung setelah menyaksikan alunan suara merdu kepada suporter Jepang yang memunguti sampah di bangku penonton, setelah menyaksikan timnas mereka berlaga di Piala Dunia Rusia 2018. Kebiasaan yang mendapat pujian dunia. Tak awam terjadi di stadion sepak bola usai pertandingan. Jadilah video dan foto pungut-pungut sampah pria dan perempuan berjersey biru, warna kebanggaan Timnas Jepang, viral di jagat maya. Jadi pembicaraan. Banjir pengakuan.

O iya, kenapa saya harus menahan-nahan tulisan tentang kebersihan di Jepang. Sekali lagi, sekelebat info. Ada garis merah di Kaltim Post. Tak boleh dilanggar. Jika liputan ke Singapura atau Jepang, jangan menulis tentang kebersihan dua negara itu. Karena sudah awam. Sudah banyak orang Kaltim yang ke sana. Sehingga sudah berkurang nilai beritanya. Orang Kaltim ke Singapura itu seperti ke Surabaya. Atau seperti ke Tarakan, little Singapore-nya Borneo. Ke Bontang pun orang sudah berasa di Singapura, ada patung Merlion-nya juga. Jadi sudah sejak lama, ke Singapura itu bukan barang mewah lagi. Berobat pun para pejabat dan orang kaya di provinsi ini banyak yang ke Singapura. 

Begitu juga dengan Jepang. Tak hanya semakin banyak warga Indonesia yang melancong ke sana. Tenaga kerja juga kita ekspor ke negara itu. Jepang pun berasa biasa bagi warga Kaltim dan Indonesia. Karena semakin mudahnya berlibur atau bekerja ke sana.

Tapi saya tetap ingin menambahkan soal kebersihan dalam tulisan ini. Bagaimana merasakan hidup nyaman tanpa sampah. Tanpa polusi. Dan tanpa got yang kotor. Bagaimana membangun budaya bersih. Sadar dengan tidak mengotori lingkungan. Dan malu jika berlaku kotor. Kebersihan yang tak hanya di jalan utama. Tapi sampai ke jalan-jalan kecil di kompleks perumahan pinggiran kota.

Saat di Jepang satu minggu itu, mobilitas saya lebih banyak menggunakan sarana angkutan publik. Menumpang kereta bawah tanah. Kereta listrik di permukaan. Juga naik bus. Pakai kartu warna hijau yang tulisannya Suica. Seperti kartu transportasi umumnya di negara maju, si Suica ini bisa diisi ulang. Deposit mirip pulsa. Bisa digunakan di semua sarana angkutan massal. Habis, isi lagi di counter-counter yang mirip Automatic Teller Machine (ATM) di stasiun-stasiun.

Selama mobilitas antarstasiun, percayalah, sulit menemukan sampah.

Bagaimana kondisi stasiun bawah tanahnya, seperti kita masuk mal.

Lebih bersih dari stasiun kereta di Wina, Austria. Stasiun di Wina juga bersih. Beda tipis. Juga lebih bersih dari stasiun kereta di Munich, Jerman. Juga di Kingcross, London. Mungkin setara dengan Singapura. Stasiun-stasiun di negara-negara maju itu memang bersih-bersih. Bersih memang standar bagi kehidupan masyarakat maju dan beradab.

Saya pernah buang sampah. Pas ada petugas yang mengganti plastik sampah. Saya beri ke dia. Si pria senang. Tersenyum. Dan bilang arigato (terima kasih). Sesederhana itu. Menghargai siapa saja yang ikut menjaga kebersihan. Sehingga membuat orang senang melakukannya. Hal remeh yang sayang, masih sering kita abaikan. Padahal efeknya luar biasa.

Kenta Matsuzaki, warga Jepang yang menemani selama di Tokyo, menyebut ada kultur baik yang sederhana selalu dijaga warga Jepang umumnya. Yakni, "menyelesaikan" atau apa yang mereka mulai. Begitu juga dalam hal kebersihan. Jika kami, warga Jepang, kata dia, berada di satu tempat yang awalnya bersih, dan sempat mengotori, sebelum meninggalkan harus membuat tempat itu kembali seperti semula. Bersih seperti sedia kala. Dan budaya ini ditanamkan sejak kecil. Kenta mengalami itu. Hal inilah yang dipegang betul oleh semua warga Jepang. Dan hasilnya terlihat, kotanya bersih, lingkungannya sehat.

(*) Pemred Kaltim Post


BACA JUGA

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:05

Abstrak

TIGA tahun lalu, saya mengikuti pelatihan jurnalistik bagi pemimpin redaksi (pemred) se-Jawa Pos Group…

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:03

Inkubator untuk Korban Gempa

SELIMUT mural di badan bangunan kecil itu menyita perhatian. Didominasi warna kuning. Gambar tokoh-tokoh…

Rabu, 19 September 2018 08:58

Gaya Bebas dan Aturan yang Tak Perlu Ditaati

CATATAN: FAROQ ZAMZAMI (*) LOGIKA formalnya begini tentang eksekutif muda. Setelan hem, celana bahan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .