MANAGED BY:
SENIN
19 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 14 Juli 2018 07:27
Diyakini Bertahan Hidup karena Ajaran Biksu Ekkapol

Drama Penyelamatan 12 Anak Tim Moo Pa yang Terjebak 17 Hari di Gua Thum Luang, Thailand (1)

PROKAL.CO, Saat 12 anak Moo Pa terjebak di gua, banyak orang menyalahkan Ekkapol Chantawong, asisten pelatih tim sepak bola itu. Namun, proses penyelamatan anak-anak yang begitu dramatis, membuat Ekkapol jadi pahlawan. Berikut, laporan wartawan Jawa Pos Ahmad Baidhowi dari Mae Sai, Thailand.  

 TANDA   peringatan itu terpampang jelas di depan mulut Gua Thum Luang. Dilarang masuk saat musim monsoon (hujan badai). Di Thailand, monsoon adalah periode curah hujan yang sangat tinggi. Hampir setiap hari turun hujan lebat. Biasanya berlangsung antara Juni-Agustus.

Ekkapol (baca Ekkapong), yang tumbuh besar di wilayah pegunungan Doi Nang Non, mestinya tahu dengan peringatan tanda bahaya itu. Tapi, papan larangan tersebut tak kuasa meredam jiwa petualang Ekkapol bersama 12 anggota klub sepak bolanya. “Mereka (Ekkapol dan anak-anak didiknya) memang gemar bertualang di pegunungan. Kadang bersepeda, kadang berlari,” kata Tilek Jana (14), pelajar kelas 8 di Prasitsart School, saat saya temui di sekolahnya, Kamis (12/7) lalu. 

Enam dari 12 anak yang terjebak di Gua Thum Luang, menimba ilmu di sekolah yang terletak 2 kilometer dari perbatasan Thailand dan Myanmar itu. Termasuk Duangphet Phromthep (13), sang kapten dan striker di tim Moo Pa. Tak percuma tim itu menyandang nama Moo Pa. Alias babi hutan liar. Atau, yang menurut bahasa kiasan orang Thailand artinya “Berbahaya dan Menakutkan”.

Thum Luang memang bukan tempat asing bagi tim Moo Pa. Mereka beberapa kali berlatih di lapangan sepak bola kecil di dekat gua yang panjangnya sekitar 10 kilometer itu. Setelah bermain sepak bola, Ekkapol terkadang mengajak timnya mandi di air terjun. Pegunungan dengan kontur mirip gadis yang tengah berbaring itu memang banyak memiliki air terjun dan gua.

Menurut Tilek, dia pernah mendengar teman satu kelasnya, Prachak Sutham (15 tahun), bercerita jika dia dan tim Moo Pa sudah beberapa kali masuk menjelajahi lorong-lorong gelap Thum Luang. “Beberapa orang menyebut Thum Luang adalah guanya Moo Pa,” ujarnya.

Tim yang didirikan Nopparat Khantawong sebagai pelatih kepala pada 2015 itu memiliki akademi sepak bola usia di bawah 13 tahun (U-13), U-15, dan U-19. Salah satu ritual inaugurasi untuk anggota tim itu adalah menjelajahi Thum Luang. Lalu, mengukir nama mereka di bebatuan dalam gua itu.

Maka, pada 23 Juni lalu, Ekkapol kembali mengajak 12 anggota timnya untuk menjelajahi Thum Luang. Mereka masuk begitu dalam. Hingga 4 kilometer. Lalu, hujan lebat datang. Air tumpah ke dalam gua. Menutup lorong-lorong gua yang konturnya naik turun. Menjebak Ekkapol dan 12 anggota timnya, dalam dingin dan gelapnya gua.

Hingga malam, hujan seakan tumpah dari langit, tak ada kabar dari mereka. Keluarga pun panik. Mereka menghubungi Nopparat Khantawong, sang pelatih, yang juga bingung karena tak bisa menghubungi asisten pelatih dan anak-anak didiknya.

Beruntung, ada satu anggota tim Moo Pa yang tidak ikut ke Gua Thum Luang. Dari dia, diketahui jika Ekkapol dan rekan-rekannya berencana pergi ke Thum Luang. Keesokan harinya, Nopparat bergegas menuju Thum Luang. Namun, dia hanya menemukan sepeda dan sepatu sepak bola mereka di mulut gua. Dengan mata nanar, dia melihat lorong gua yang tergenang air kecokelatan. Genangan air itu meninggi, seiring lebatnya curah hujan.

Dalam sebuah keterangan, tertulis tim Moo Pa yang dimuat beberapa media lokal Thailand di awal operasi pencarian, Nopparat menceritakan detik-detik mendebarkan itu. “Saya berteriak sekeras-kerasnya dari mulut gua, memanggil mereka. Ek…Ek…Ek.” Tapi, tak ada jawaban. Sepi senyap. “Saya langsung lemas. Keringat dingin membanjir,” katanya.

Operasi pencarian dan penyelamatan skala lokal pun dilakukan. Operasi itu berkembang menjadi skala nasional. Lalu, puluhan media berdatangan untuk meliput. Disusul ratusan media dari berbagai negara. Maka, operasi pencarian dan penyelamatan pun berkembang menjadi skala multinasional.

Ribuan tim penyelamat, tentara, dan polisi berkumpul. Jago-jago selam dari berbagai negara ikut bergabung. Namun, berbagai upaya menembus genangan air bercampur lumpur itu tak jua berhasil.

Hingga hari ke-9, pada 2 Juli, dua penyelam asal Inggris, John Volanthen dan Richard William Stanton, berhasil menyelam dan menemukan 13 anggota tim Moo Pa di kedalaman gua 4 kilometer. Dalam ruang gua yang agak tinggi, seluas sekitar 10 meter persegi. Semuanya dalam keadaan hidup.

Namun, proses evakuasi membawa keluar 13 anggota Moo Pa itu tak semudah membalik telapak tangan. Berbagai skenario disiapkan. Mesin pompa-pompa raksasa didatangkan dari Bangkok untuk menyedot air. Berbentuk silinder dengan panjang 8 meter dan diameter 60 sentimeter. Di ujungnya, terhubung mesin penyedot yang ukurannya sebesar mobil Agya/Ayla.

Tapi, itu pun tak cukup. Air yang disedot keluar digantikan oleh air hujan yang kembali menggenangi lorong-lorong gua. Bahkan, dalam proses upaya penyelamatan itu, seorang mantan anggota Navy Seal Thailand, Samarn Kunun, meninggal dunia karena kehabisan oksigen saat menyelam.

Hingga, pada 8 Juli, empat anak berhasil dievakuasi. Lalu, pada 9 Juli, empat lagi sukses dibawa keluar dari gua. Lalu pada 10 Juli, empat anak dan Ekkapol berhasil diselamatkan. Luar biasa.

Banyak orang menyebut penyelamatan itu sebuah keajaiban. Bagaimana mungkin, anak-anak usia 11 sampai 16 tahun, bisa bertahan hidup berhari-hari di dalam gua. Gelap gulita, sempit, pengap, dingin. Tanpa makanan. Hanya mengandalkan tetesan air di dalam gua.

Maka, semua mata pun tertuju pada Ekkapol Chantawong. Sang asisten pelatih tim Moo Pa. Satu-satunya orang dewasa dari 13 orang yang terjebak dalam gua itu. Pengalamannya selama sepuluh tahun menjadi biksu di Kuil Phrathat Doi Wao, disebut-sebut sebagai salah satu kunci dia dan 12 anggota timnya bisa bertahan hidup.

“Saya kenal Ek (sapaan Ekkapol) sejak dia awal menjadi biksu di kuil ini. Dia anak baik, suka menolong, dan pintar,” kata Tan Thaptim, seorang pemilik toko liontin di kompleks Kuil Phrathat Doi Wao saat saya temui pada Kamis (12/7).

Phrathat Doi Wao adalah kuil terbesar di Distrik Mae Sai. Letaknya di atas bukit. Persis di perbatasan Thailand dan Myanmar. Dari sisi utara kuil itu, bisa terlihat jelas sungai dengan lebar sekitar 4 meter yang menjadi batas dua negara. Bangunan pos pemeriksaan beratap biru tua yang menjadi jalur perlintasan antara Thailand dan Myanmar, juga tampak jelas dari situ.

Kompleks kuil yang luasnya sekitar 3 hektare itu banyak ditumbuhi pohon jati. Orang Thailand menyebutnya Mai Sak. Di kuil ini, cerita tentang masa kecil Ekkapol beredar luas. Berasal dari Suku Shan di Myanmar, Ekkapol sudah menjadi yatim-piatu di usia 10 tahun. Ketika itu, pada 2003, wabah penyakit menyerang desa tempat tinggalnya. Puluhan orang, termasuk ayahnya, ibunya, dan adik laki-lakinya yang berusia tujuh tahun meninggal.

Dari keluarga itu, hanya Ekkapol yang sanggup lolos dari sergapan maut akibat wabah penyakit mematikan itu. Dia lantas ikut bibinya menyeberang ke Thailand. Lalu, pada usia 12 tahun, dia dimasukkan ke Kuil Phrathat Doi Wao untuk menjadi biksu.

Setelah satu dekade, Ekkapol memutuskan untuk tak lagi menjadi biksu. Dia banting setir ke sepak bola. Menjadi asisten pelatih di tim Moo Pa, akademi sepak bola terbaik di Distrik Mae Sai. Namun, Ekkapol tak benar-benar meninggalkan kuil. “Dia masih bekerja di sini. Membantu mengurus operasional kuil dan ikut membimbing biksu-biksu remaja,” kata Tan Thaptim. 

Meski sudah 15 tahun tinggal di Thailand, hingga kini Ekkapol tidak memiliki kewarganegaraan. Dia tidak memiliki surat-surat resmi sebagai penduduk Thailand, tak juga menjadi penduduk Myanmar. Alias stateless. Di Mae Sai, ada ribuan orang yang bernasib sama seperti Ekkapol. Rata-rata dari suku minoritas Shan.

Mereka meninggalkan Myanmar menuju Thailand. Lari dari tekanan kemiskinan dan otoriternya kelompok militer. Berhari-hari, mereka mengendap-endap di lebatnya hutan pegunungan Doi Nang Non. Menghindari patroli tentara Thailand yang membangun pos-pos militer di perbatasan.

Rupanya, daya survival untuk bisa lolos dari maut dan melalui saat-saat sulit dalam hidupnya itu masih melekat dalam diri Ekkapol. Karena itu, menurut Tan Thaptim, dia yakin Ekkapol bisa bertahan hidup saat terjebak di dalam gua. “Ek pasti kuat dan bisa menguatkan anak-anak (anggota tim)-nya. Sebab, dia sudah terlatih di sini (kuil),” katanya.

Nah, apa saja yang dipelajari Ekkapol di Kuil Phrathat Doi Wao? dan bagaimana itu bisa membantu menyelamatkan nyawa 12 anggota tim Moo Pa? Simak kisahnya esok hari. (bersambung/rom/k11)


BACA JUGA

Sabtu, 17 November 2018 01:45

Dimakamkan di Samping Putri Pertama sang Kakek

Kabar duka menyelimuti keluarga Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto.…

Sabtu, 10 November 2018 06:56

Banyak Ingin Mengadopsi, Segudang Harapan untuk Abidah Nur Ghania

Nasib bayi yang terbuang selalu banyak yang menginginkan. Seperti itu pula pada buah hati yang ditemukan…

Sabtu, 10 November 2018 06:43

Enam Generasi Terisolasi, Kini Berkah Bertubi

Menjelang peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November, warga Desa Melintang, Kecamatan Kota…

Sabtu, 10 November 2018 06:11

Ingin Kenalkan Paser lewat Batik

Bermodal kegigihan, pembatik Paser Suliono berhasil menjadikan batik Paser sebagai suvenir khas daerah…

Sabtu, 03 November 2018 06:57

Sangat Nyaman Dilintasi, Teringat Jembatan Balikpapan-Penajam

Jembatan yang menghubungkan Hong Kong, Zhuhai, dan Makau, sudah diresmikan Presiden Tiongkok Xi Jinping,…

Kamis, 01 November 2018 10:11

Stop Makan Nasi, Kopi Jadi Sumber Energi

Tren minum kopi hitam tanpa gula semakin menjamur di Indonesia. Di Sangatta, Kutai Timur (Kutim), seorang…

Sabtu, 27 Oktober 2018 08:34

Jatuh Cinta dengan Majikan, Pemuda Ini Nikahi Janda 67 Tahun

 Ini kisah nikah beda usia yang terpaut jauh. Muhamad Idris, 20, pekerja di kebun cengkih, menikah…

Sabtu, 27 Oktober 2018 02:07

Awalnya 16 Kapal yang Melayani, Kini Tersisa Tiga

Tanpa digratiskan pun, Jembatan Suramadu sudah menggerus habis kejayaan penyeberangan Ujung (Surabaya)-Kamal…

Sabtu, 27 Oktober 2018 01:51

Media Efektif Tangkal Hoax di Sosmed

Kaltim Post menjadi salah satu media yang memiliki rubrik khusus meluruskan berita-berita hoax yang…

Minggu, 21 Oktober 2018 10:53

Pramugari Nyerah, Punya Suami yang Brutal di Ranjang

Mungkin Donwori, 31, berpikir jika Karin, 29, ini Dakota Johnson dalam film 50 Shades of Grey yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .