MANAGED BY:
SABTU
22 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 09 Juli 2018 11:00
Wawancara Ekslusif dengan Bakal Gubernur Kaltim, Isran Noor
“Saya Ini Bondo Nekat”
OPERASI SENYAP: Dua tahun terakhir Isran Noor bergerak dalam diam menyiapkan diri menghadapi Pilgub Kaltim. (MUHAMMAD RIZKI/KP)

PROKAL.CO, KONDISI ekonomi keluarga yang serba-kekurangan menatar mental Isran Noor. Keras, namun tetap hormat. Bagaimana mimpi ayah tiga anak itu untuk Kaltim lima tahun ke depan? Berikut wawancara eksklusif Kaltim Post di kediamannya di Sungai Kunjang, Samarinda, Jumat (6/7) malam.

Di kampung halaman, Anda terkenal mahir bikin sirap. Awalnya bagaimana?

Sejak SD itu. Karena bapak saya nyirap, saya ikut juga. Saya dulu penyirap. Mencari rotan, buat sirap.

Masih ingat ketika terjatuh dari pohon rambutan dan ditolong Muhammad Ali Ishak (saudara  kandung Isran Noor)?

Saya siup itu. Lama enggak bernapas. Saya enggak sadar, katanya saya siup.

Anda juga dikenal pandai menyelam…

Cari umpan pancing. Pumpun namanya. Menyelam di muara yang dalamnya enam meter.

Kalau sekarang masih sanggup?

(Sambil tertawa), sudah tidak bisa lagi.

Anda juga mendapat julukan si Komik karena suka baca komik. Apa komik favorit Anda?

Komik Kho Ping Ho. Suka karena isinya banyak menghayal. Saya suka pinjam, tidak bisa beli. Jadi kalau ada kawan yang baca atau menyewa, saya pepet-pepet. Biar bisa pinjam kalau enggak dibaca.

Semasa kuliah, Anda dikenal suka tidur di kelas, tetapi ketika dosen bertanya, selalu bisa menjawab. Pura-pura tidur?

Saya tidur tapi mendengar. Kuping saya menyimak. Kalau dosen bertanya, saya angkat tangan, saya bisa jawab. Kadang meja saya dipukul dosen, karena saya tertidur. Malamnya begadang. Ada kawan begadang, mahasiswa kehutanan. Hakim namanya, nakal. Sama saja sih nakalnya (Isran lalu tersenyum).

Selama menjabat bupati Kutim, Anda beberapa kali melayangkan gugatan ke pemerintah hingga ke perusahaan-perusahaan tambang. Dasarnya apa?

Banyak sekali uji materi, uji undang-undang. Dan tidak pernah ditolak. Ya dasarnya enggak benar, caranya dengan digugat. BPK saja pernah saya gugat. Belum ada bupati yang menggugat BPK.

Mengapa menggugat BPK?

Waktu itu (2009) belum ada klarifikasi dari saya. Lalu BPK mengumumkan LHP (Laporan Hasil Pemeriksaan) yang belum dikonfirmasi atau diklarifikasi, diumumkan di website. Akibatnya apa? Dimanfaatkan lawan politik. Ada masalah, seolah-olah ada korupsi. Ada temuan. Dan itu banyak mencelakakan wali kota/bupati. Tapi saya tidak ada urusan.

Menurut Anda?

Mestinya, LHP yang belum diklarifikasi jangan dipublikasikan di website. Itu masih bisa diperbaiki. Lawan politik itu bisa melaporkan. Makanya saya dianggap korupsi Rp 500 juta dana STAIS. Makanya saya gugat BPK.

Hasilnya?

Sejak gugatan itu, tidak ada lagi LHP yang belum diklarifikasi masuk ke website. Karena itu menjadi sumber fitnah.

Kenapa tidak memilih damai?

Saya mau damai sebenarnya. Tapi saya minta BPK menyampaikan ralat di media cetak, di koran. Isinya ada kekeliruan dari BPK. Ada sebuah hal yang keliru.

Tidak semudah itu. BPK melawan Anda kan?

Pejabat BPK RI datang ke sini (Samarinda). Katanya (BPK Perwakilan Kaltim) tidak boleh menyerah. Lanjutkan perkara, tidak ada damai. Saya mau damai, tapi ada ralat di media. Enggak apa-apa kecil, isinya kalau ada kekeliruan. Tapi BPK gengsi.

BPK sampai mendatangkan tujuh pengacara. Tambah satu dengan pengacara lokal, jadi totalnya delapan. Pengacara saya cuma Hamzah Dahlan. Sudah ada kira-kira lima kali sidang, saya diundang Hadi Purnomo, kepala BPK RI. Diundang bertemu di salah satu hotel di Surabaya, minta damai. Saya mau berdamai, tapi syaratnya bikin ralat. Selesai. Tapi BPK RI datang seolah tidak mau menyerah. Tapi akhirnya selesai.

Jelang Pemilihan Presiden 2014, Anda ikut konvensi di Partai Demokrat tapi gagal. Lalu menyeberang ikut konvensi rakyat. Mengapa mengincar kursi presiden?

Banyak sekali yang ingin saya lakukan. Sistem ketatanegaraan kita banyak yang perlu diubah. Kita belum dekat dengan Pancasila. Sila Ketuhanan yang Maha Esa, baru 60 persen, atau mungkin belum sampai. Sila Persatuan, kita belum. Keadilan apalagi.

Kebijakan negara membangun infrastruktur tertumpuk di Pulau Jawa. Lebih dari 50 persen anggaran pembangunan bertumpuk di Pulau Jawa. Sisanya itu dibagi dengan di luar Pulau Jawa. Kepala daerah tidak pernah membahas soal itu.

Banyak sekali sistem perundang-undangan yang perlu diubah. Saya pernah mengisi kuliah di Lemhanas, saya katakan, kita harus mengembalikan MPR ke posisinya. Sebagai lembaga tinggi negara untuk memilih presiden dan wakil presiden. Termasuk memberhentikan presiden dan wakil presiden. Mengapa? Karena beragamnya Indonesia. Dari segi populasi, orang Jawa yang banyak. Kalau misalnya seperti sekarang, maka tetap orang Jawa yang jadi presiden. Struktur MPR harus diubah. Bukan keterwakilan jumlah penduduk, melainkan keterwakilan wilayah. Jadi seimbang.

Contohnya?

Misalnya anggota DPD. Banyak atau sedikit jumlah penduduknya, keterwakilannya empat. Provinsi Jabar yang jumlah penduduknya 40 juta jiwa, wakilnya harus sama dengan Kaltim meski jumlah penduduknya hanya 4 juta jiwa. Sama dengan Kaltara yang jumlah penduduknya cuma 600 ribu jiwa. Wakilnya tetap empat orang.

Contoh lainnya seperti ini. Kalimantan memiliki lima provinsi. Jika keterwakilan ditetapkan sepuluh orang, maka ada 50 orang perwakilan Kalimantan di pusat. Beda tipis dengan Pulau Jawa. Di Pulau Jawa, provinsi hanya 6, jadi ada 60 orang. Bedanya cuma sepuluh. Sumatra ada sembilan provinsi, berarti ada 90 orang. Sulawesi ada enam provinsi, berarti ada 60 orang. Sama dengan Pulau Jawa. Jadi ada keseimbangan. Tidak ada lagi dominasi sukuisme. Itu saya sampaikan dalam kuliah umum di Lemhanas.

Banyak yang perlu diperbaiki. Kondisinya tidak bagus. Suka-suka presiden. Mestinya, harus berorientasi pada Pancasila dan Nusantara. Kepentingan satu jengkal tanah di Pulau Jawa sama dengan di luar Pulau Jawa. Kita jangan berorientasi membangun di mana orangnya banyak. Tidak boleh. Membangun kebangsaan, membangun negara. Jadi sebenarnya susah sekarang kalau orang luar Pulau Jawa jadi presiden. Biar orangnya pintar. Mestinya kembali ke MPR. Makanya keterwakilan MPR harus diubah. Strukturnya keterwakilan wilayah, bukan golongan. Banyak atau sedikit jumlah penduduknya, wakilnya sama.

Bagaimana hubungan Anda dengan Awang Faroek Ishak?

Saya menganggap Pak Awang Faroek sebagai orangtua saya. Tapi kalau soal kebijakan, tidak bisa. Bisa berbeda. Tapi kalau soal pergaulan pribadi, dia tetap sebagai orangtua saya. Dia kan guru saya dulu. Guru Pancasila di sekolah perawat hingga di Fakultas Pertanian. Sebenarnya, kondisi seperti ini karena terpaksa. Tidak bisa kita hindari, masyarakat, para wartawan pasti menunggu respons saya atas sikap Pak Awang. Pak Awang bagus, saya anggap sebagai orangtua sendiri, sebagai guru. Cuma biasanya, murid lebih pintar dari guru. Biasanya.

Mengapa?

Karena murid gurunya banyak. Rata-rata murid lebih pintar dari guru.

Mimpi Anda untuk Kaltim?

Bukan mimpi, tapi harapan. Harapannya, lebih baik kondisinya. Masyarakatnya sama dengan yang ada di daerah lain. Allah SWT telah memberikan sumber daya alam yang melimpah. Kalau sekarang belum baik, itu wajar. Karena masih jadi penonton. Makanya harus berdaulat. Berdaulat di bidang lingkungan. Jangan jadi penonton. Sumber daya alam kalau enggak dikelola dengan baik, nanti Kaltim akan jadi daerah yang miskin. Menyedihkan.

Anda begitu mendominasi di Pilgub Kaltim 2018. Dari sepuluh kabupaten/kota, unggul di lima daerah. Strateginya bagaimana?

Yakin. Itu saja. Saya tidak pernah memikirkan mendominasi. Yang saya pikirkan, saya berkeyakinan menang. Jauh sebelum saya mengikuti pilkada. Itu model saya. Saya berkeyakinan. Bukan karena yakin diusung partai, tapi saya yakin akan ada yang mengusung saya. Tidak tahu partai apa, yang jelas partainya partai politik.

Berapa lama persiapan Anda untuk bertarung di Pilgub Kaltim 2018?

Lebih dua tahun. Tapi persiapan saya tidak terlihat.

Apa yang memotivasi Anda yang dari keluarga serba-kekurangan hingga kini bakal jadi gubernur Kaltim?

Biasa-biasa saja. Saya seperti anak-anak lain, main logo, main layang-layang, main gasing. Motivasi mulai ada setelah akhir SMA. Lingkungan membentuk karakter saya. Kalau masih awal-awal SMA, ikut aja seadanya. Saya ini bonek, bondo nekat. Enggak suka mengeluh.

Sudah membentuk tim transisi?

Saya tidak bentuk tim. Jadi langsung saja. Ini saja sudah tersinggung Pak Awang Faroek, sama saja membayang-bayangi Pak Awang Faroek. Enam bulan ini dijalani saja.

Program apa yang masih Anda ingat selama jadi bupati Kutim?

Selama saya jadi bupati, saya bangun 31 jembatan sungai-sungai kecil. Padahal waktu itu saya “Bang Toyib”, tidak ada di tempat tapi dapat program langsung jalan. (tim kp)


BACA JUGA

Kamis, 20 September 2018 10:12

Literasi Keuangan (Jangan) Disepelekan

Literasi keuangan belum menunjukkan angka ideal. Realita yang rawan disalahgunakan oknum jahat, yang…

Kamis, 20 September 2018 09:53

Literasi Minim, Wanprestasi Menghantui

SEMENTARA tingkat penggunaan produk keuangan publik Kaltim mencapai 74,9 persen, level pemahaman terhadap…

Senin, 17 September 2018 09:18

Buku (Bukan Lagi) Jendela Ilmu

Dahulu buku jendela dunia. Namun, perlahan-lahan sang primadona mulai hilang pamor. Era digital disebut-sebut…

Senin, 17 September 2018 09:14

Ideal Baca 6 Jam Sehari

DUA pekan lalu menjadi hari penting bagi pecinta buku. Sebab 8 September ditetapkan sebagai hari literasi…

Senin, 17 September 2018 09:06

Koleksi Perpustakaan Daerah Belum Lengkap

BERBAGAI cara dilakukan untuk berkontribusi menambah literasi dari masyarakat lokal. Sejarawan lokal…

Senin, 17 September 2018 09:04

Menanti Inovasi Tenaga Pendidik

MEMBANGUN budaya literasi memang tak mudah. Tapi harus dilakukan serius, setahap demi setahap hingga…

Senin, 17 September 2018 09:01

Cerita Unta Bawa Kitab untuk Motivasi Membaca

TIDAK ada usaha yang mengkhianati hasil. Itulah yang menggambarkan sosok Rudini. Pria kelahiran Lampung,…

Senin, 17 September 2018 08:59

Menyentuh Angkasa dengan Buku

Oleh: Raden Roro Mira(Wartawan Kaltim Post (Juara 3 Duta Baca Kaltim 2018–2020) BENDA apa yang…

Jumat, 14 September 2018 08:48

Bergantung Anggaran yang Tak Tentu

PARIWISATA Samarinda kalah banyak dan kalah tenar ketimbang pertumbuhan perhotelan atau hiburan lainnya.…

Jumat, 14 September 2018 08:46

Pandangan Geologi dalam Potensi Wisata Alam Samarinda

OLEH: FAJAR ALAM(Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Timur) BUMI, sebagaimana…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .