MANAGED BY:
KAMIS
18 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 30 Juni 2018 01:21
Pemkab Serius, Satu Pulau Butuh Rp 20 Miliar

Melihat Perjuangan Pulau di Gugusan Derawan Melawan Abrasi

AKIBAT ABRASI: Pulau Sambit terlihat seperti sebuah benteng setinggi 3 meter yang berdiri kukuh di atas permukaan laut, bukan hamparan pasir dan jajaran pohon kelapa.

PROKAL.CO, Tak hanya Pulau Balikukup dan Derawan yang terancam gerusan abrasi. Pulau Sambit, justru lebih dulu jadi sasarannya. Kini, dengan daratan yang tersisa seluas 0,18 kilometer persegi, Pulau Sambit sudah dikelilingi ‘benteng’ penahan ombak, untuk mempertahankan luasan daratan yang masih ada.  

ARIE PRAMANA-ARI PUTRA, Maratua

LETAK Pulau Sambit berada di laut Sulawesi, dan masuk wilayah administrasi Kecamatan Maratua. Di pulau kecil ini tak ada permukiman, hanya ada pos petugas navigasi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla), Kementerian Perhubungan, yang menjaga menara suar pelayaran.

Pulau ini sangat vital keberadaannya bagi pelayaran di perairan Berau. Karena menjadi titik nol pelayaran. Jika tidak ada pulau dan menara suar di sana, kapal-kapal bisa saja banyak yang karam.

Perjalanan dari Pulau Derawan menuju Pulau Sambit ditempuh selama 2 jam. Beruntung cuaca sedang cerah siang itu, tapi bergelombang di antara Pulau Maratua dan Bakungan. Perairan ini memang tempat pertemuan arus, sehingga wajar meski cuaca cerah, gelombang tetap tinggi. Sekitar 0,5 sampai 1 meter.

Sekitar 15 menit sebelum tiba, daratan Pulau Sambit sudah terlihat. Terutama keberadaan menara suar. “Itu yang namanya Pulau Sambit, sebentar lagi kita sampai,” kata Herman, motoris speedboat yang mengantar tim Berau Post, Kaltim Post Group Rabu (27/6).

Dari kejauhan, Pulau Sambit terlihat berbeda dibanding pulau lainnya. Tak terlihat hamparan pasir putih atau jajaran pohon kelapa di atasnya. Melainkan sebuah benteng setinggi 3 meter yang berdiri kukuh di atas permukaan laut.

Tak ada dermaga, speedboat yang ditumpangi hanya bisa tambat di depan benteng tersebut. Itu pun harus berjalan kaki lagi di air sekitar 50 meter ke bibir pantai. Pasalnya, siang itu air sedang surut. Jika speedboat merapat baling-baling mesin bisa rusak terkena karang-karang kecil.

Benteng-benteng yang berdiri kukuh itu adalah tumpukan beton berbentuk tetrapod yang jumlahnya mencapai ratusan ribu. Dikatakan Camat Maratua Marsudi, yang kebetulan ikut menemani tim, setiap unitnya berbobot 1,2 ton. Tumpukan beton itulah yang berfungsi sebagai penahan ombak untuk mencegah abrasi. Proyek tersebut dikerjakan tahun 2009-2010 dengan sumber dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sebelum memiliki benteng, abrasi di Pulau Sambit sangat parah. Bahkan menara suara harus berpindah dua kali, agar bisa tetap berdiri kukuh. Lokasi pertama yang dibangun orang Belanda tahun 1980-an sudah berada di atas air, menyisakan beberapa rangka tiang saja. Sementara lokasi kedua fondasi cor betonnya ambruk, terlihat di ujung pantai. Sehingga pada tahun 2005, menara suar kembali dipindah ke tengah pulau.

Persoalan abrasi di beberapa pulau, sebenarnya bukanlah hal baru di Kabupaten Berau. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau, Rahmad, didampingi Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air, Dahri, menyebut abrasi yang terjadi di beberapa pulau sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Namun, pengikisan pantai itu semakin parah sejak tahun 2010 di beberapa pulau yang masuk gugusan Kepulauan Derawan.

Pihaknya tak hanya tinggal diam. Dahri yang pernah mengunjungi Pulau Balikukup bersama Wakil Bupati Berau Agus Tantomo, mengatakan abrasi di Balikukup disebabkan permainan arus. Begitu juga yang terjadi di Pulau Derawan.

Untuk di Balikukup, DPUPR Berau telah mengalokasikan dana untuk melakukan survei investigasi dan Desain (SID), guna mencari tahu penyebab abrasi dan langkah penanganan yang cocok. “Abrasi ini tidak serta-merta bisa langsung ditangani. Harus ada pendekatan secara masif di lokasi yang terkena abrasi,” katanya.

Setelah SID dilaksanakan dan dilihat hasilnya akhir tahun ini, tahapan selanjutnya adalah menyusun Detail Engineering Design (DED) pada 2019. Dan apabila memungkinkan, bakal langsung dilanjutkan dengan pembangunan fisik.

Sementara untuk penanganan abrasi di Pulau Derawan, pria yang sebelumnya bertugas di Dinas Pendidikan Berau ini mengungkapkan, sudah pernah ada rencana penanganan pada 2015 lalu. Sayangnya, saat memasuki tahapan lelang, tidak ada kontraktor yang tertarik mengerjakan proyek tersebut. “Nilai proyeknya sebesar Rp 20 miliar. Tapi karena waktu untuk pengerjaan sedikit, jadi tidak ada kontraktor yang naksir paket itu,” ujarnya.

Setelah gagal dan uangnya dikembalikan, pihaknya kembali mengusulkan pendanaan proyeknya ke pemerintah provinsi menggunakan perencanaan yang sudah ada. Namun, defisit anggaran yang terjadi sejak beberapa tahun lalu, membuat proyek penahan ombak di Pulau Derawan tak kunjung terealisasi. Tapi akan kembali diusulkan pihaknya tahun depan. 

“Untuk satu pulau, anggaran yang diperlukan sekitar Rp 20 sampai Rp 25 miliar. Tinggal yang di Balikukup lagi. Kemungkinan membutuhkan waktu cukup lama juga, karena harus disusun DED-nya dulu,” tuturnya.

Rencananya, penanganan abrasi di Pulau Derawan dilakukan dengan mengalihkan arus sesuai perencanaan yang telah disusun. “Jadi nantinya pasir yang dibawa arus akan terkurung di tempat yang ditentukan. Sehingga pasirnya tidak terbawa jauh dari pulau,” jelasnya.

Ditemui terpisah, Wakil Bupati Berau Agus Tantomo menjelaskan, upaya penanganan abrasi di pulau-pulau yang ada di Berau, tahapannya telah dimulai. Pemkab Berau ujar Agus, telah menurunkan tim teknis sejak 2017 lalu, dan kini tengah menyusun perencanaan penanganan abrasi untuk Pulau Balikukup. “Tergantung dari hasil perencanaannya nanti, kalau butuh anggaran besar, kami akan perjuangkan ke pemerintah pusat,” jelasnya. (ndu/k18)


BACA JUGA

Selasa, 09 Oktober 2018 10:14
Mengunjungi Lokalisasi Tondo Pascagempa dan Tsunami

Para WTS Tetap Beroperasi, Tetapi di Indekos

Para germo menyebut mereka telah pulang kampung. Namun, sebagian masih berada di indekos.   RIDWAN…

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:47

Minum Air Mentah dari Sumur, Jalan 13 Km Cari Santri yang Hilang

Santri di Pondok Pesantren  Alkhairaat, Kampus Madinatul Ilmi Dolo, Sigi, tengah bersiap menunaikan…

Rabu, 26 September 2018 08:13

Semangat NKRI Adang Narkoba di Batas Negara

Peredaran narkoba dipastikan terkoordinir rapi. Pengedar, penjual, kurir sampai bandar, tak saling kenal.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .