MANAGED BY:
RABU
18 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 22 Juni 2018 08:59
Halalbihalal di Piala Dunia

PROKAL.CO, CATATAN: BAMBANG ISWANTO

PEMBUKAAN Piala Dunia 2018 di Rusia bersamaan dengan 1 Syawal 1439 H. Idulfitri. Saat umat muslim merayakan kemenangan dalam menahan hawa nafsu satu bulan penuh. Pemenang atas hawa nafsu akan menjadikan jiwanya kembali fitrah (suci). Seperti bayi yang baru lahir. Tanpa dosa karena telah dilebur selama Ramadan.

Ada tradisi unik di Indonesia yang tidak ditemukan di negara lain. Kala menyambut dan merayakan Lebaran. Yaitu halalbihalal. Menelaah makna halalbihalal tidak bisa dilihat dari kaidah bahasa. Meskipun halalbihalal sangat dekat dengan bahasa Arab, tetapi tidak ada penjelasannya secara leksikal dari kamus-kamus bahasa Arab. Orang Arab pun mungkin akan bingung menerjemahkan halalbihalal.

Halalbihalal tidak bisa dipahami secara kebahasaan. Harus dipahami dan dimaknai dari sisi kultural. Yakni, budaya saling mengunjungi ke rumah saudara dan kerabat untuk memohon dan memberi maaf yang diteruskan dengan saling berjabat tangan.

Istilah ini lahir dari pergumulan tradisi Indonesia dengan pengamalan ajaran Islam. Masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan budaya saling mengunjungi, dalam rangka menyambung persaudaraan dan kekerabatan sebelum Islam datang. Ketika Islam masuk ke Tanah Air, tradisi ini semakin kuat karena memiliki legitimasi yang kuat dalam ajaran Islam. Agama ini mengajarkan tentang keutamaan silaturahmi, memohon dan memberi maaf kepada orang lain sebagai syarat untuk mendapatkan ampunan Allah. Idulfitri dipilih sebagai momentum yang paling tepat untuk saling berkunjung dalam rangka saling memberi maaf satu sama lain.

SEJARAH HALALBIHALAL

Banyak versi sejarah tentang asal mula tradisi ini. Sejarah yang paling populer adalah mulai diselenggarakan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I yang lebih dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Ketika memimpin Surakarta. Suatu waktu dia mengumpulkan para perwira dan prajurit di balai istana untuk melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri setelah Idulfitri. Sejak saat itu, kunjungan terhadap orang yang lebih sepuh atau kepada orang yang lebih berkedudukan untuk memohon maaf saat Lebaran menjadi sebuah tradisi.

Setelah Indonesia merdeka, tradisi halalbihalal semakin mendapatkan tempat dalam budaya Indonesia. Pada 1948, para elite bangsa pernah mengalami ancaman disintegrasi. Mereka saling bertikai dan tidak ada yang mau mengalah. Di sisi lain, pemberontakan terjadi di mana-mana, antara lain DI/TII dan PKI Madiun. Pada pertengahan Ramadan tahun itu, Bung Karno selaku presiden meminta pendapat KH Wahab Chasbullah bagaimana cara merekonsiliasi politik komponen anak bangsa yang tidak sehat.

Kiai Wahab menyarankan digelar silaturahmi saat Idulfitri dengan mengundang seluruh komponen politik. Ternyata istilah silaturahmi dianggap oleh Bung Karno sebagai istilah biasa yang kurang gereget. Kiai Wahab menawarkan istilah halalbihalal dengan pertimbangan bahwa para elite tidak mau bersatu karena saling menyalahkan. Menurut beliau, saling menyalahkan adalah perbuatan dosa dan haram. Agar tidak dosa lagi maka yang haram (saling menyalahkan) harus dihalalkan.

Para elite politik harus duduk dalam satu forum untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Presiden Soekarno setuju menggunakan istilah halalbihalal sebagai pengganti silaturahmi. Meski memiliki makna yang hampir sama tetapi memiliki konteks masalah yang dihadapi dan latar sejarah yang sudah dilaksanakan pada masa pra kemerdekaan.

Presiden Soekarno atas saran Kiai Wahab mengundang semua tokoh politik ke istana untuk menghadiri halalbihalal. Para tokoh duduk satu meja, bersatu menyusun kekuatan dan persatuan bangsa. Sejak saat itulah, halalbihalal menjadi tradisi resmi instansi pemerintahan, yang selanjutnya diikuti oleh masyarakat secara luas.

HALALBIHALAL DI PIALA DUNIA

Kick-off pertama pertandingan antara Rusia versus Arab Saudi tepat terjadi pada 1 Syawal. Semua mata yang menyaksikan sejak awal hingga akhir pertandingan pasti melihat adegan saling bersalaman sebelum pertandingan dimulai. Begitupun ketika pertandingan usai. Kedua tim saling mendatangi untuk saling memohon maaf ketika pertandingan berlangsung. Jabatan tangan dan pelukan itulah simbol dari makna dan substansi halalbihalal. Dua bangsa sedang berhalalbihalal disaksikan miliaran mata seluruh dunia. Bahasa dan kulit mereka tidak sama. Tetapi, mereka disatukan dengan gestur tubuh menjabat tangan serta berpelukan yang mewakili sikap dan ucapan permohonan maaf satu sama lain.

Mohon maaf telah khilaf saling menendang, menjatuhkan, menyikut, bahkan mungkin tim Rusia mohon maaf sudah mengalahkan tim Arab Saudi dan membuat seluruh pemain dan pendukung mereka bersedih.

Bukan hanya pada awal dan akhir pertandingan, di tengah pertandingan pun tidak jarang kita melihat pemain lawan menjemput dan bersalaman serta membantu lawan yang sudah dibuatnya jatuh. Pengadil lapangan juga sering "meng-halalbihalal-kan" pemain yang berseteru dan ngotot belum mau memaafkan pemain yang dianggap sudah bersalah kepadanya. Di seluruh rangkaian pertandingan, jabatan tangan untuk memberi dan memohon maaf sudah menjadi SOP World Cup sebagai bagian dari penegakan fair play. Ada menang, kalah, dan seri, sudah biasa dalam pertandingan sepak bola.

Hasil akhir pertandingan boleh berapapun skornya, tapi ketika pertandingan selesai skor kebatinan dan kesalahan harus 0-0. Di sinilah salah satu letak indahnya permainan sepak bola. Dalam dunia nyata, sama seperti pertandingan sepak bola, ada kompetisi dalam kehidupan. Pasti ada salah dan khilaf, tapi harus ada momentum saat semua kompetitor saling memaafkan agar semua menjadi bersih dan tidak ada dendam dan terus berkompetisi secara sehat dan baik (fastabiqul khairat).

AGAMA DAN SEPAK BOLA

Ada fenomena menarik pada World Cup 2018. Sepak bola sering digiring menjadi sepak bola agama. Sepak bola dikotak-kotak dan dibawa ke dalam wilayah agama. Hal ini menjadi preseden negatif yang menjadikan sepak bola bisa kehilangan makna sebagai sarana pemersatu bangsa-bangsa dan golongan serta ras. Agama dicampur aduk dengan sepak bola. Hal ini analog dengan politisasi agama yang membawa agama ke ranah politik. Lihat saja ketika Rusia mengalahkan Arab Saudi 5-0, langsung bermunculan komentar masif di medsos, “wahabi dilumat komunis”. Saat Iran menang melawan Maroko, muncul pernyataan, “Syiah menang atas Sunni”. Iran diidentikkan dengan Syiah karena mayoritas penduduknya adalah Syiah, dan Maroko penduduknya mayoritas berteologi Sunni. Sepak bola diposisikan mengotak-ngotakkan bangsa dan aliran keagamaan. Tentu saja ini merupakan kemunduran dalam peradaban fair play sepak bola.

Sepak bola seharusnya menjadi pemersatu bangsa yang melampaui agama. Semua orang Indonesia tentu saja mendukung timnas mereka saat bertanding dengan negara lain. Tidak mau tahu, apakah di sana ada yang seagama atau tidak. Timnas mewakili bangsa, bukan mewakili agama tertentu. Sama halnya ketika kita menyaksikan tim Piala Thomas sedang bertanding dalam laga bulu tangkis, kita dipersatukan oleh tim Indonesia, bukan diwakili oleh agama pemain-pemainnya atau ras pemain.

Sikap terbaik ketika menghubungkan agama dan sepak bola adalah menjadikan sepak bola sebagai "agama". Hal ini tidak ada kaitannya dengan keimanan, hanya terminologi sosiologi yang tidak terkait dengan akidah. Dalam konteks civil religion, sepak bola bisa dijadikan sebagai alat pemersatu karena ada perasaan bersama dalam bingkai negara, bingkai benua. Ketika Jepang menang melawan Kolombia, orang Indonesia pasti merasakan senang meski Indonesia tidak menjadi kontestan. Orang Jepang dan Indonesia dipersatukan oleh kesamaan benua. Saya pribadi lebih menyukai Messi dibandingkan Ronaldo. Seandainya ada pertandingan antar-planet dan Ronaldo menjadi wakil penduduk bumi, saya pasti akan mendukung Ronaldo karena kesamaan menjadi penghuni bumi.

Belajar dari hal di atas, maka persatuan bangsa harus didahulukan sebagai kepentingan bersama. Sebentar lagi ada Pilgub Kalimantan Timur. Persatuan tetap harus didahulukan melampaui pilihan-pilihan kontestan. Silakan berbeda pilihan tetapi jangan merusak persatuan umat dalam bingkai ukhuwah islamiyah dan persatuan bangsa dalam bingkai ukhuwah wathaniyah. (far/k8)

(*) Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda

loading...

BACA JUGA

Selasa, 17 Juli 2018 09:14

Jamaah Terus Dibikin Menggantung

BALIKPAPAN – Ratusan orang berkumpul di Masjid Baitul Aman Mapolres Balikpapan, Senin (16/7).…

Selasa, 17 Juli 2018 09:05

Dua Bulan Lagi Didarati Boeing 737

SAMARINDA –Tarik ulur rencana penerbangan lintas provinsi di Bandara APT Pranoto Samarinda mulai…

Selasa, 17 Juli 2018 09:02

Coret Caleg Mantan Koruptor

SAMARINDA – Hari ini (17/7), menjadi batas terakhir pendaftaran calon legislatif (caleg) untuk…

Selasa, 17 Juli 2018 08:59

Mahfud Teratas Dampingi Jokowi

JAKARTA – Satu demi satu, nama-nama calon pendamping Presiden Jokowi dalam Pemilihan Presiden…

Selasa, 17 Juli 2018 08:57

Wujudkan Smart City, Minta Jangan Gagap Teknologi

Perlahan namun pasti, janji Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni dan Wakil Wali Kota Basri Rase terpenuhi.…

Senin, 16 Juli 2018 11:00
Pemilihan Rektor Unmul

Calon Rektor Unmul Adu Kuat di Pusat

Memang tak seheboh dan sepanas Pilkada Kaltim. Tapi, proses pemilihan Rektor Universitas Mulawarman…

Senin, 16 Juli 2018 10:00

Tiap Fakultas Beda Dukungan

AWAL tahun 2000, pertama kali Julinda Romauli Manullang memulai risetnya. Di antara semua penelitian,…

Senin, 16 Juli 2018 08:54

Les Bleus Bintang Dua

MOSKOW – Didier Deschamps mengulang memori indah 20 tahun lalu. Pada 1998, dia menjadi kapten…

Senin, 16 Juli 2018 08:47

Ubah Tradisi Sembilan Dekade

PEMINDAHAN jadwal Piala Dunia 2022 Qatar sudah diumumkan Presiden Gianni Infantino pada Kongres FIFA,…

Senin, 16 Juli 2018 08:42

Semangat Meriset Terbentur Dana

PENDIDIKAN, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Itulah tri dharma perguruan tinggi. Penelitian di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .